[FF] EXO Love Story Series | Story 1: Sweet Memories

sweet-memoriesTitle                 : Story 1: Sweet Memories

Author             : Rai Sha a.k.a Rini Amini Raisa

Main Cast        : Jung Hyemin [OC] and Lu Han [EXO]

Support Cast    : Park Yunmi [OC], Byun Baekhyun [EXO], Oh Seorin [OC], Kim Joonmyun [EXO], and other

Genre              : Romance and other

Length             : One Shoot—Series

Rating              : PG-15

Disclaimer       : semua cast milik Tuhan, keluarga, dan SME, kecuali OC. Alur dan cerita murni milik saya!

Note                : Terinspirasi dari lagunya Miley Cyrus yang judulnya goodbye dan beberapa lagunya Taylor Swift. Semoga nggak gaje, karena pas saat saya buat, saya lagi ujian kenaikan kelas -_- pokoknya happy reading yaa ^^

Jung Hyemin POV

Sudah beberapa bulan berlalu dan sampai saat ini pun aku tidak bisa melupakannya. Bahkan dia masih sering mengunjungiku dalam mimpi. Dia benar-benar tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku tidak menyangka bahwa aku masih benar-benar mencintainya. Padahal sekarang, mungkin saja dia sudah mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku.

Tiga tahun itu bukan waktu yang singkat dalam sebuah hubungan. Ya, aku dan dia sudah berkencan selama tiga tahun dan pada suatu hari tiba-tiba saja dia meninggalkanku. Tidak ada alasan yang pasti kenapa dia meninggalkanku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya begitu saja dalam waktu yang begitu singkat? Aku mencintainya. Sangat-sangat mencintainya. Aku tidak bisa begitu saja melupakan seluruh kenangan manis yang telah kami lalui bersama. Bukankah dia benar-benar jahat? Dia membuatku benar-benar tergila-gila padanya dan pada akhirnya dia dengan mudah pergi meninggalkanku begitu saja. Ironis.

Aku bahkan masih benar-benar mengingat gestur wajahnya dengan jelas. Aku masih ingat senyumannya yang dapat menenangkanku. Aku masih ingat suaranya yang merdu ketika bernyanyi. Aku masih ingat ketika aku berdansa dengannya tanpa music yang mengiringi kami. Bukankah itu semua terlalu disayangkan jika aku melupakannya begitu saja? Tapi, semakin aku mengingat semua kenangan manis itu, dadaku benar-benar sesak. Satu-satunya yang ingin kulupakan hanyalah kata-kata perpisahan yang diucapkannya.

Kuraih bingkai foto yang terdapat fotoku dengan fotonya saat kami ada di sebuah pesta perpisahan saat aku lulus SMA. Saat itu aku benar-benar ingat dia menarikku ke lantai dansa dan memaksaku berdansa waltz dengannya. padahal dia sendiri benar-benar tau bahwa aku sama sekali tidak bisa berdansa, tapi demi dirinya aku rela melakukannya. Terlalu banyak kenangan manis yang telah kami lewati dan aku tidak bisa melupakannya.

Ku basuh wajahku dengan air dingin untuk menenangkan pikiranku. Tidak baik memikirkan hal-hal yang menyedihkan pagi-pagi seperti ini. Ya, aku hampir saja menangis lagi ketika mengingatnya.

Drrrtt… drrrttt…

“Wae Yunmi-ah? Ini masih pagi, kenapa kau sudah merecokiku?” ucapku  dengan suara serak ketika mengangkat telepon dari Yunmi, sahabatku sedari kecil.

“Tidak, aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Kau baik-baik saja bukan?” tanyanya di sebrang sana dengan cemas. Dia memang selalu mengkhawatirkanku sejak aku putus dengan Luhan, pria yang sangat aku cintai itu.

“Sudah berapa kali kubilang kalau aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku,” jawabku dengan malas sambil berjalan ke dapur, menyiapkan sereal untuk sarapanku.

“Baiklah. Kau kuliah bukan pagi ini? Mau kujemput?” tanyanya lagi, masih terdengar nada cemas dalam suaranya.

Aku menghela nafas kecil sambil menuangkan segelas susu cair ke dalam mangkok dengan satu tangan. “Tentu saja aku kuliah. Kau tidak perlu menjemputku. Aku bisa pergi sendiri.”

“Tapi sekarang sedang hujan, apa kau yakin?”

Kulirik jendela di sampingku. Sekarang memang sedang hujan tapi tidak terlalu deras. “Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri.”

Kudengar Yunmi menghela nafas di sebrang sana. “Baiklah. Tapi kau harus berjanji kau akan pergi kuliah. Kau sudah sering tidak masuk. aku benar-benar mencemaskanmu.”

“Ne, kau tidak perlu khawatir,” ucapku lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja. Aku masih agak malas menanggapi Yunmi pagi-pagi seperti ini. Dia selalu saja seperti ini, sampai membuatku bosan. Lalu aku duduk dan mulai memakan serealku sebelum bersiap-siap untuk pergi kuliah.

***

Kupercepat langkah kakiku menuju halte bus terdekat untuk menghindari gerimis yang mulai menderas. Sejujurnya aku malas turun hari ini karena sepertinya hari ini akan hujan seharian. Cuaca seperti ini lebih enak digunakan untuk bermalas-malasan di apartemen-ku daripada kuliah. Tapi, aku sudah terlanjur berjanji pada Yunmi untuk kuliah hari ini. Sepertinya aku sudah terlampau sering membuatnya khawatir padaku.

Hujan semakin menderas dan bus yang kutunggu sejak 10 menit lalu itu pun tidak kunjung terlihat. Oh, ayolah, apa aku harus sesial ini? Aku sudah bosan menunggu di sini dalam keadaan kedinginan dan sendirian. Andai saja ada orang yang juga sedang menunggu di sini, dengan begitu aku tidak akan sebosan ini.

Hujan. Halte.

Tidak. Dua kata itu benar-benar membuatku sesak. Benar-benar membuatku ingin menangis. benar-benar membuatku mengingatnya. Tolong, biarkan aku lepas dari semua ini untuk sebentar saja. Ingatan-ingatan itu semakin membuatku ingin lari dari kenyataan. Tolong aku.

-Flashback- (Author POV)

Hyemin menghela nafas dengan kesal ketika hujan semakin turun dengan derasnya. Dia terjebak di halte ini sendirian. Bahkan sepertinya jadwal bus hari ini sudah selesai untuk hari ini. Oh, benar-benar sial sekali nasib Hyemin kali ini.

“Hujannya benar-benar lebat ya?” Hyemin tersentak ketika tiba-tiba mendengar suara lembut seorang namja tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Rambut dan bajunya terlihat agak basah. Mungkin dia sempat kehujanan sebelum berteduh di sini.

Hyemin menatap namja itu penuh tanda tanya juga terpesona oleh senyumannya. Namja di hadapannya ini benar-benar tampan. Dengan rambut berwarna kecoklatan, kulit putih mulus, hidung yang mancung dan senyum yang sangat manis, namja ini mampu membuat Hyemin langsung kehilangan pikirannya.

“Kau sudah lama menunggu di sini?” tanyanya. Senyum manis masih terukir di wajah tampannya itu.

“Ah, tidak, aku baru saja menunggu di sini. sepertinya sudah tidak ada bus lagi yang melewati daerah ini,” jawab Hyemin sambil menutupi rasa gugupnya dengan menatapi satu persatu air hujan yang turun di hadapannya kini.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar tetes-tetes air hujan yang meramaikan suasana. Namja yang ada di samping Hyemin itu pun mengikuti apa yang dilakukan Hyemin sekarang, menatapi tetes-tetes air hujan itu.

Tiba-tiba namja itu mengulurkan tangannya ke arah Hyemin dengan senyuman merekah di bibirnya.

“Aku Luhan. Namamu siapa?”

-Flasback End-

***

“Kau baik-baik saja?” tegur Baekhyun sambil mengambil duduk di samping Hyemin yang terlihat sedang melamun di perpustakaan. Dia sendirian.

Hyemin melirik sekilas ke arah Baekhyun. “Berhenti mengatakan hal itu. kenapa semua orang selalu mengucapakan itu?” kata Hyemin sedikit kesal. Baekhyun tertawa kecil sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau itu terlihat seperti mayat hidup. Tidak heran banyak orang yang menanyakan hal itu padamu,” jawab Baekhyun santai. Sebenarnya dia sungguh tau penyebab Hyemin seperti mayat hidup akhir-akhir ini, Luhan meninggalkannya begitu saja. Oh, tentu saja dia tau, bukankah dia sahabat dekatnya Luhan?

Hyemin melirik tajam ke arah Baekhyun, tapi Baekhyun mengacuhkannya begitu saja. Dia sungguh tidak mempan dengan tatapan seperti itu. “Tidak bisakah kau kembali ceria seperti dulu? Aku bosan melihatmu selalu bersikap seperti ini.”

“Bukankah temanmu sendiri yang membuatku menjadi seperti ini, oppa?” balas Hyemin kecil sambil merapikan buku yang diambilnya tadi dan bangkit dari duduknya, bermaksud ingin mengembalikan buku yang sama sekali tidak dibacanya itu ke tempat semula.

“Kau masih mencintainya?” tanya Baekhyun sambil mengekor di belakang Hyemin.

“Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang kau sendiri sudah mengetahui jawabannya,” kata Hyemin dingin dan langsung berlalu pergi, meninggalkan Baekhyun yang masih bersandar di salah satu lemari sambil memperhatikan punggung Hyemin yang berjalan menjauhinya. Lalu dia tersenyum samar dan melangkah pergi dari sana.

***

-Flashback (Jung Hyemin POV)

“Hyemin-ah! Kajja! Kau lambat sekali,” ucap Luhan oppa sambil menarikku agar jalan bersisian dengannya. memang, sedari tadi aku sengaja melambatkan langkah kakiku, agar bisa melihat dengan jelas Luhan oppa tanpa khawatir dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya. Yaah, memang tidak ada yang menarik dari punggung seorang namja, tapi entah kenapa aku selalu merasa tertarik dan senang memperhatikan Luhan oppa dari sisi manapun. Dia memang benar-benar orang yang mempesona. Bahkan sampai saat ini aku tidak percaya bahwa aku mencintai dan dicintai oleh namja ini. Semua diluar dugaanku.

Hanya gara-gara kami tidak sengaja bertemu dan berkenalan saat hujan kala itu, dan aku juga tanpa sadar sudah mulai menyukainya, kami jadi semakin dekat dan pada akhirnya kami berpacaran. Ini sungguh sebuah berkah yang sangat-sangat patut disyukuri. Dalam hati aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah melepaskan Luhan oppa yang menurutku benar-benar sempurna. Aku kadang sampai berpikir bahwa Luhan oppa itu terlalu sempurna, terlalu baik, terlalu istimewa hanya untuk disandingkan denganku.

Pernah suatu ketika aku mengungkapkan hal ini padanya, dan dia malah berkata seperti ini padaku, “Kau ini bicara apa? Bukankah kau yang terlalu baik untukku? Kau itu cantik, pintar, mandiri, lembut dan menggemaskan. Kau jangan mengucapkan hal seperti itu lagi karena aku benar-benar mencintaimu apa adanya. Lagipula, aku tidak sesempurna yang kau pikirkan, chagi,” ujarnya saat itu yang selalu sukses membuatku tersipu malu jika mengingatnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Luhan oppa yang menyadarkanku dari lamunan yang membuatku tersenyum-senyum sendiri.

“Aniya, aku tidak memikirkan apapun, oppa,” jawabku cepat sambil melihat padanya dan langsung mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa aku sedang dipandanginya dengan tatapan lembut yang selalu berhasil membuatku meleleh.

“Benarkah? Bukankah kau sedang memikirkanku?” tanyanya lagi sambil menggodaku. Aku tidak menjawabnya dan hanya menunduk dalam karena aku benar-benar tau bahwa saat ini mukaku memerah karena malu.

Lalu, Luhan oppa mengambil tempat dan berdiri di hadapanku yang langsung membuatku menghentikan langkah. “Kau benar-benar menggemaskan, chagiya,” ujarnya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas.

“Yyaa! Oppa! lepaskan tanganmu dari wajahku. tidakkah kau tau bahwa cubitanmu itu sangat keras?” kataku kesal sambil melepaskan kedua tangannya yang sedang mencubit kedua pipiku dengan paksa. Dia hanya tertawa renyah sambil mengacak-acak rambutku.

“Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku jengah karena dipandangi terus-menerus oleh Luhan oppa.

Luhan oppa tersenyum dan langsung memelukku. “Saranghae, Jung Hyemin,” bisiknya kecil tepat di telingaku yang langsung dapat membuatku berdiri mematung. Aku tidak membalas bisikannya ataupun membalas memeluknya, aku benar-benar membeku. Bisikannya itu membuatku seperti kehilangan duniaku dan hanya menyadari bahwa hanya ada aku dan dia di dunia ini.

***

Diantara kebisingan pesta, aku menyelinap keluar setelah acara inti selesai, dan berusaha mencari ketenangan. Aku memang tidak terlalu suka tempat yang ramai, apalagi harus berdesak-desakkan seperti tadi. itu semua bisa membuatku marah-marah sendiri.

Aku sekarang memang lagi berada di villa pinggir pantai milik temanku—Seorin—yang sedang mengadakan pesta ulang tahunnya. Karena kebetulan villa ini agak jauh dari Seoul, aku bersama Luhan oppa, Yunmi, dan Baekhyun oppa terpaksa menginap di sini. untungnya temanku itu cukup dekat dengan kami berempat.

Kulangkahkan kakiku menuju pantai dan duduk di hamparan pasir putih yang terasa lembut di kaki telanjangku. Hanya terlihat beberapa orang di pantai itu. mungkin karena ini sudah agak larut dan juga kebanyakan orang-orang sedang menikmati pesta di dalam sana.

Aku sendirian karena aku dengan sengaja meninggalkan Luhan oppa ketika dia pergi ke toilet. Aku juga telah kehilangan Yunmi sejak tadi, dan sepertinya sekarang dia sedang bersama Baekhyun oppa. Mereka memang tidak sengaja menjadi dekat karena hubunganku dengan Luhan oppa.

Suara deburan ombak dapat terdengar jelas walaupun masih terdengar samar-samar suara music mengalun dari arah villa. Kupejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam, jarang sekali aku bisa menikmati suasana tenang seperti ini. Dapat kurasakan semilir angin—yang terasa agak sedikit dingin—menyapu halus wajahku dan beberapa helai rambutku berkibar karena tertiup angin.

“Kau di sini rupanya. Aku mencarimu dari tadi,” ucap sebuah suara yang langsung membuatku membuka mata. Dari suaranya, sepertinya itu suara milik Luhan oppa.

Luhan oppa langsung ikut duduk di sampingku dan melepas sepatunya untuk dijadikan alas duduk—seperti yang kulakukan—lalu, menyilangkan kedua kakinya.

“Aku hanya tidak suka berdesak-desakkan di dalam sana. lagipula, bulan lebih terlihat indah dari sini,” kataku dan mulai bersandar pada bahunya.

“Di Seoul kau juga bisa melihat bulan,” balas Luhan oppa santai.

“Tapi aku tidak pernah melihat bulan seindah ini di Seoul. Aku juga jarang sekali mendapatkan suasana tenang seperti ini di Seoul,” ujarku masih tetap bersandar di bahunya, sedangkan dia mulai memainkan pasir-pasir diatas tangannya. Dia mengambil segenggam pasir lalu ditiupnya pelan.

“Menurutku semua tempat itu sama saja karena duniaku hanya dirimu.” Sontak aku langsung duduk kembali seperti semula dan menatapnya. Tidak, dia tidak sedang menatapku sekarang. Pandangannya terarah lurus ke depan dan dapat kulihat sebuah senyum samar tersungging di sana. aku hanya memandanginya, menikmati sosoknya yang tampan dari arah samping.

Samar-samar dapat kudengar suara music yang dimainkan oleh seorang DJ tadi, berganti menjadi sebuah alunan lagu mellow yang menciptakan suasana romantis. Aku rasa di dalam sana banyak orang yang mulai berdansa. Untung saja aku tidak ada berada di sana. mungkin kalau aku ada di sana, Luhan oppa bakal mengajakku berdansa, seperti yang sudah-sudah.

“Kau dengar itu?” ucap Luhan oppa membuka suara. Aku menoleh ke arahnya, tidak mengerti apa maksud perkataannya barusan.

“Maksudku suara music di dalam. Sepertinya orang-orang di dalam sana mulai berdansa,” lanjut Luhan oppa yang langsung membuat perasaanku sedikit tidak enak.

“Lalu… kenapa?” tanyaku ragu.

Luhan oppa kembali tersenyum, walau hanya dapat kulihat samar karena penerangan hanya dari cahaya bulan purnama dan sinar lampu dari arah villa.

“Oppa, jangan bilang kau…” ucapanku terputus karena aku sudah langsung ditarik olehnya. Lalu, dia mulai merengkuh pinggangku, seperti orang sedang berdansa.

“Harusnya kau menaruh tanganmu di sini,” kata Luhan oppa dan mulai meraih kedua tanganku dan menaruhnya di pundaknya, sedangkan dia kembali memeluk pinggangku.

“Tapi, oppa, di sini tidak ada music,” ucapku sambil menatapnya memelas. Sejujurnya, aku memang sangat tidak bisa berdansa, berbeda sekali dengannya yang mahir sekali dalam bidang itu.

“Lalu kenapa? Aku tidak perduli ada music atau tidak,” balasnya santai sambil menatapku lembut. Senyumannya kembali tersungging.

“Hhh, kenapa kau senang sekali berdansa?” tanyaku sambil melihat laut yang sekarang tepat berada di belakang Luhan oppa, sengaja tidak membalas tatapannya karena—sejujurnya—aku sangat gugup.

“Karena dengan begini aku bisa memelukmu lebih lama,” bisiknya tepat di telingaku. Aku kembali menatapnya yang masih menatapku lembut dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Dapat kurasakan wajahku memanas dan mulai merona. Untungnya dia tidak dapat melihat wajahku dengan jelas.

Aku menurunkan tanganku dari bahunya dan langsung meraih salah satu tangannya yang sedang memeluk pinggangku. Kugandeng tangannya dan membawanya ke pinggir laut. Dia tidak menolak perlakuanku barusan dan hanya mengikutiku.

“Dingin,” ucapku kecil saat merasakan air laut menyentuh kakiku.

“Tentu saja dingin, kau pikir ini bulan apa?” Luhan oppa pun menarikku agar sedikit menjauhi air, walau kami masih berada di bibir pantai. Yaah, setelah kupikir, ternyata ini bulan Oktober, pantas saja airnya terasa dingin.

Luhan oppa menggenggam tanganku erat dan berjalan menyusuri pantai. Aku mengekor di belakangnya walau tangan kami masih bergandengan. Dia tidak mengucapkan apapun lagi dan hanya diam.

“Luhan-aahh! Hyemin-aaah! Kemarilah! Sebentar lagi pesta barbekyu dimulai!” kudengar suara Baekhyun oppa memanggil kami berdua di tempat aku dan Luhan oppa duduki tadi. Terlihat sosok Yunmi di samping Baekhyun oppa ikut melambai-lambai pada kami. Kenapa dia harus seheboh itu?

“Kajja! Sepertinya barbekyu enak juga,” ujar Luhan oppa sambil melihat ke arahku. Aku hanya menangguk sambil membalas senyumannya. Lalu, tanpa melepaskan pengangan tangannya, dia berlari kecil diikuti olehku dibelakangnya.

***

Suasana hingar bingar pesta sudah mereda dan seluruh tamu undangan sudah pulang. Hanya tersisa aku, Luhan oppa, Yunmi, Baekhyun oppa, Seorin—temanku yang mengadakan pesta ulang tahun, dan Joonmyun oppa—pacarnya Seorin. Entahlah, tanpa disadari kami semua seperti sedang liburan bersama pacar masing-masing.

Oke, oke, hubungan antara Yunmi dan Baekhyun oppa memang tidak jelas. Aku sendiri tidak mengerti dengan mereka berdua. Mereka itu terlihat sangat dekat, bahkan terlihat seperti pasangan. Tapi, saat kutanyakan hal ini pada Baekhyun oppa ataupun Yunmi, mereka bilang tidak ada hubungan khusus—hanya sebatas sahabat, tidak lebih.

Tapi, kurasa Baekhyun oppa memang menyukai Yunmi, terlihat sangat jelas dari sikapnya. Entah Yunmi yang pura-pura tidak menyadarinya, atau dia memang sama sekali tidak sadar atas perlakuan Baekhyun oppa.

Yunmi, dari dulu sama sekali tidak pernah memikirkan seorang pria karena menurutnya pria adalah makhluk yang merepotkan dan hanya merusak nilai-nilainya. Yaah, Yunmi memang termasuk anak yang sangat perduli pada nilai-nilai dan masa depan. Dia bercita-cita sebagai seorang diplomat, karena itu dia sangat memperhatikan nilai-nilainya. Dia anak yang rajin dan juga pintar. Oleh karenanya, dia tidak ingin nilai-nilai dan masa depannya terganggu hanya karena masalah cinta. Kurasa, dia termasuk orang yang merepotkan.

“Hyemin-ah, kita tidur di kamar atas, sama Seorin,” tegur Yunmi saat aku sedang melamun di teras belakang villa yang menghadap pantai. Dia lalu duduk di sampingku sambil membawa minuman. Aku rasa itu susu coklat, minuman kesukaannya.

“Hmm, ne. kau kemana saja tadi?” tanyaku sambil kembali meminum cappuccino yang sedari tadi kupegang.

“Aku, aku tidak kemana-mana tadi,” jawabnya agak tersendat. Dia tidak membalas tatapanku. Aku rasa ada yang disembunyikannya dariku.

“Kau tidak menyembunyikan apapun dariku bukan?”

“Tidak!” ucapnya cepat dan terkesan gugup dan panic. Patut dicurigai. Tapi, biarkan sajalah. Lebih baik aku pura-pura tidak menyadarinya saja.

“Hei, kalian. Aku tidur duluan ya. aku sudah benar-benar ngantuk,” ujar Seorin yang tau-tau sudah ada di ambang pintu yang menghubungkan teras belakang dan villa. Wajahnya terlihat lelah. Wajar sih, kan dia tuan rumah pesta tadi, tentu saja tadi dia sibuk.

“Kalau begitu, aku ikut denganmu. Kau ikut dengan kami?” tanya Yunmi yang bangkit dari duduknya sambil menatapku—pura-pura tenang.

“Tidak, aku masih ingin bersamanya,” sahut Luhan oppa yang tau-tau sudah ada di sini. dia lalu mengambil tempat yang diduduki Yunmi tadi.

“Mwo? Kau ini sudah seharian bersamanya. Masih belum cukup, eoh? Aissh! Jinjja!” gerutu Baekhyun oppa yang tadi ternyata mengikuti Luhan oppa.

“Wae? Kenapa kau yang sewot? Aku hanya ingin bersamanya lebih lama!” balas Luhan oppa yang berhasil membuatku tertunduk dalam. Lagi-lagi dia berhasil membuatku berdebar-debar.

“Aish! Jinjja. lebih baik kau ikut denganku tidur saja. Kajja!” ajak Jonnmyun oppa yang baru muncul dan langsung menarik Baekhyun oppa pergi.

“Mwo? Kenapa kau memaksaku? Yyaa! Joonmyun-ah!” bentak Baekhyun oppa yang terlihat kesal karena ditarik paksa oleh Joonmyun oppa, namun Joonmyun oppa tidak menggubrisnya.

“Aku tidur dulu, chagi. Besok siang kita kembali ke Seoul,” ujar Joonmyun oppa lagi pada Seorin yang masih berada di ambang pintu. Seorin hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Sebaiknya kita tidur juga. Oya, Hyemin, pintu kamar tidak dikunci, jadi kau bisa langsung masuk,” kata Seorin kembali menatapku, lalu pergi yang diikuti Yunmi yang tiba-tiba menjadi diam saat Baekhyun oppa muncul tadi.

Suasana kembali hening saat mereka kembali ke kamar tadi. aku kembali menyeruput cappuccino-ku yang sudah mulai dingin.

“Kenapa kau belum tidur? Ini sudah hampir tengah malam. Apa kau tidak lelah?” tanya Luhan oppa membuka percakapan. Matanya memandang pantai yang terlihat sangat jelas dari sini.

“Bukannya kau yang menahanku di sini tadi?” balasku sambil mulai merapatkan jaketku. Udaranya terasa semakin dingin.

“Hahaha, mian. Aku hanya ingin bersamamu lebih lama,” katanya lalu melihat ke arahku. Sepertinya dia menyadari bahwa aku mulai kedinginan. “Kau kedinginan? Sebaiknya kita masuk saja. Kajja, aku akan mengantarmu ke kamar,” lanjutnya sambil meraih lenganku.

Kuletakkan cangkir cappuccino yang isinya sudah habis kuminum itu di atas nakas yang terletak tidak jauh dari pintu. lalu, aku mendekati Luhan oppa yang sedang menungguku.

Suasana kembali hening saat aku dan dia menuju lantai atas. Hanya terdengar suara deburan ombak yang tidak terlalu jelas.

“Oppa, gomawo,” ucapku saat kami berdua sudah berada di depan kamar yang akan kutempati untuk malam ini. Luhan oppa hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Bagaimana kalau besok pagi kita lihat matahari terbit? Posisinya sangat pas untuk melihat matahari terbit,” ajak Luhan oppa sambil menyelipkan rambutku yang berantakan kebelakang telinga.

“Eung, sepertinya itu ide bagus. Kalau begitu aku tidur dulu oppa,” jawabku sambil berbalik, hendak membuka pintu kamar.

“Tunggu sebentar,” tahan Luhan oppa membalikkan tubuhku lagi agar berhadapan dengannya.

“Apa lagi op…”

Sejenak otakku berhenti berpikir dan tidak merespon apa yang sedang terjadi. Setelah beberapa saat, barulah aku menyadari ada sesuatu yang menggelitik perutku. Bibirnya menyentuh lembut bibirku yang membuatku merasakan sensasi luar biasa—antara senang, gugup, dan kaget. Bibirnya terasa dingin, tapi disaat bersamaan aku dapat merasakan rasa manis pada bibirnya—membuatku merasa ketagihan. Sejujurnya, kami jarang sekali ciuman (mungkin ini baru yang ketiga kalinya), sehingga membuatku tidak terbiasa ketika merasakan bibirnya menempel pada bibirku.

Selang beberapa detik, Luhan oppa membuka matanya dan melepaskan bibirnya yang sedang menyentuh lembut bibirku. Dia tidak menjauhkan wajahnya, sehingga jarak antara wajah kami sangat dekat. senyum manisnya kembali tersungging.

“Bibirmu rasa cappuccino,” katanya singkat yang langsung membuat rona merah di sekitar wajahku. Pipiku mulai terasa hangat gara-gara sikapnya barusan.

“Tidur yang nyenyak. Selamat malam, chagi,” lanjutnya lagi lalu mengecup singkat keningku dan berlalu pergi. Kupegang bibirku yang masih dapat kurasakan sensasi yang diciptakan oleh ciuman tadi. Saat punggung Luhan oppa sudah tidak terlihat, aku masuk ke kamar dan menuju tempat tidurku.

-Flashback end-

***

Perlahan kubuka mataku saat merasakan sinar matahari menimpa wajahku. kulirik gordyn yang ternyata sudah terbuka sepenuhnya. Apa aku mengigau? Aku rasa tadi malam sudah menutup rapat gordyn itu. lalu, siapa yang membuka gordyn itu? maling?

Hhh, aku rasa tidak mungkin ada maling. apartemenku berada di lantai 11, sehingga tidak mungkin ada orang bisa memasuki lewat balkon. Lewat pintu juga tidak mungkin karena pintuku dilengkapi dengan pengaman kata sandi. Yang mengetahui sandinya hanya aku, orangtuaku, Yunmi, dan… Luhan oppa.

Samar-samar aku dapat mendengar suara orang sedang memasak dari arah dapurku, di susul dengan wangi harum masakan. Mungkin itu Yunmi. Dia sudah biasa datang pagi-pagi ke sini dan menyiapkan sarapan untuk kami berdua.

Aku melangkahkan kakiku ke toilet tanpa repot-repot melongok untuk tau siapa yang sedang ada di dapurku. Kubasuh wajahku dengan air dingin untuk menyegarkan wajahku, lalu menyikat gigiku.

Usai menyelesaikan seluruh aktifitas pagiku dalam toilet, kutatap lekat pantulan wajahku di cermin. Terlihat dengan jelas di sana, seorang cewek dengan rambut panjang yang diikat kuda asal-asalan, wajah lesu dan kantung mata yang semakin hitam. Akhir-akhir ini aku selalu susah tidur, beban pikiranku semakin banyak. Ditambah lagi, aku masih sering memikirkan Luhan oppa. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya? Semenjak email darinya yang berisi ‘maafkan aku, tapi aku harus pergi. Jangan mencariku’ itu, dia sama sekali tidak terlihat. Bahkan mengetahui kabarnya atau keberadaannya saja aku tidak tau. Aku rasa Baekhyun oppa tau dimana keberadaannya, namun aku tak pernah menanyakannya dan kupikir Baekhyun oppa sendiri tak ingin memberitauku.

Kutatap heran makanan-makanan yang tertera di meja. bukan kaget kenapa makanannya terlihat seenak ini, tapi kaget karena jumlahnya terlalu banyak untuk porsi dua orang. apa dia pikir kami berdua sanggup menghabiskan semua ini?

“Yunmi-aaahh!” panggilku dengan nyaring sambil mengambil sepotong ayam goreng. Keliatannya lezat sekali.

“Jangan makan duluan. yang lain belum datang,” ucap sebuah suara sambil memukul tanganku sehingga otomatis aku langsung melepaskan potongan ayam goreng itu. sepersekian detik kemudian, aku baru menyadari bahwa itu bukan suara Yunmi. Bahkan itu bukan suara seorang perempuan!

Kudongakkan kepalaku untuk melihat siapa orang itu. butuh waktu beberapa detik untuk menyadarkan diriku. Bagaimana mungkin orang yang meninggalkanku begitu saja sekarang sudah berada dihadapanku?

“Lu… han oppa?” ucapku dengan suara tercekat dengan mata membelalak. Dia tersenyum lembut, senyum yang masih sama dan tetap membuatku meleleh. Senyum yang kurindukan selama beberapa bulan terakhir.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” lanjutku cepat sambil mundur satu langkah menjauhinya.

“Tentu saja untuk menemuimu. Kau pikir untuk apa lagi?” jawabnya masih sambil tersenyum lalu maju satu langkah mendekatiku.

“Bukannya kau sudah mengakhiri hubungan kita? Untuk apa lagi kau menemuiku?” tanyaku sambil menatapnya nanar.

Luhan oppa kembali maju satu langkah, membuat jarak kami saat ini sangat dekat, sehingga aku harus mendongakkan kepalaku untuk menatapnya.

“Kapan aku bilang aku mengakhiri hubungan kita?”

“Maksudmu apa? Bukankah kau bilang bahwa kau harus pergi? Bukankah itu kata lain dari putus?”

“Kau tidak mengerti maksudku? Maksudku, aku hanya pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan selama beberapa bulan. Aku bilang seperti itu agar kau tak khawatir padaku. Baekhyun tau semuanya, tapi aku menyuruhnya diam,” jelas Luhan oppa yang membuatku menganga.

“Pengobatan? Apa kau sakit?”

Luhan oppa kembali memamerkan sederet gigi putihnya. “Ya, selama ini aku memang mempunyai penyakit. Tapi kau tenang saja, aku sudah melakukan perawatan dan kupikir sekarang aku sudah sembuh total.”

Aku kembali terdiam, sulit mencerna sesuatu yang tiba-tiba ini. Perasaanku kacau. Rasa senang dan kaget menjadi satu. Setidaknya, selama ini aku hanya salah paham.

“Hyemin-ah, kau tau, aku benar-benar merindukanmu,” bisiknya pelan sambil memelukku dan menaruh dagunya di bahuku.

“Kau tau betapa sedihnya aku saat kau pergi menghilang begitu saja? Bagaimana mungkin kau pergi meninggalkanku dalam kesalahpahaman? Apa kau tau berapa banyak air mata yang kuhabiskan untuk menangisimu?” kataku pelan sambil berusaha menahan air mataku yang mau menyeruak keluar. Tapi, walau kutahan sekuat mungkin, air mata itu tetap saja lolos dari mataku.

“Aku tau semuanya tentangmu dari Baekhyun. Aku mohon maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir,” ujarnya pelan sambil melepaskan pelukannya. “Kau sudah terlampau sering menangis karenaku dan sekarang berhentilah menangis. aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Sekarang aku ada di sini, behentilah menangis,” lanjutnya sambil menghapus air mataku dengan kedua tangannya.

Luhan oppa kembali menatapku dalam, yang membuatku gugup untuk kesekian kalinya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal ini dan aku menikmatinya. Dia mendekatkan wajahnya, sehingga jarak antara wajah kami sudah semakin menipis yang membuatku menahan nafas karena gugup yang luar biasa. Biasanya dia tidak pernah menciumku seperti ini, dia selalu menciumku secara tiba-tiba.

“Kami dataaaaaang!” pekik suara seorang cewek yang membuat Luhan oppa menjauhkan wajahnya dariku dan bersikap normal. Kulirik orang yang merusak suasana kami, dan ternyata itu Yunmi dan Baekhyun.

“Astaga. Ternyata kami merusak momen kalian,” ucap Baekhyun oppa santai sambil melihat kami berdua dengan senyum tertahan di bibir. Dapat kurasakan wajahku memanas dan memerah. Mereka berdua memang benar-benar merusak suasana kami.

“Kalian datangnya terlalu cepat,” sungut Luhan oppa. wajahnya terlihat kesal, tapi dimataku dia malah terlihat imut.

“Bagaimana Hyemin-ah? Apa kau senang Luhan oppa telah kembali?” tanya Yunmi sambil menggodaku. Jadi, selama ini dia tau semuanya?

“Kau tau semuanya? Kenapa kau tidak memberitauku?” geramku sambil memberikan death glare untuk Yunmi.

“Aniya, aku baru tau tadi pagi saat Baekhyun oppa menjemputku,” jawabnya cepat.

“Aah, jadi sekarang kalian sudah jadian? Kenapa tidak memberitau kami, eoh?” sahut Luhan oppa yang kembali memasang senyum, namun senyum itu berbeda dengan senyumnya yang biasanya.

“Ani, kami belum jadian!” ujar dua sejoli itu serempak yang membuat mereka saling bertatapan. Aku dan Luhan oppa tertawa saat mendengarnya. Mereka berdua benar-benar serasi dan cocok.

“Belum jadian? Omo! Berarti sebentar lagi kalian akan menjadi pasangan?” goda Luhan oppa lagi sambil menahan tawanya.

“Sudahlah, sebaiknya kita makan. Kajja!” kata Baekhyun oppa mengalihkan pembicaraan. Wajahnya memerah dan dia terlihat salting. Aku hanya menahan tawa sambil mendekati Yunmi yang terlihat gugup dan malu.

Aku tersenyum penuh arti pada Yunmi dan berkata, “Kau harus menceritakan semuanya padaku, Yunmi-ah.”

Story 1 End.

Advertisements

3 thoughts on “[FF] EXO Love Story Series | Story 1: Sweet Memories

  1. yusfaiswinda November 30, 2013 / 8:59 pm

    heheh sori yee baru kasih koment sekrang.., soalnya baru bsa buka , nihh FF kece badai, kereeennn, dikira Luhan bikin tuhh cewek mati bengong, ehh ternyata balik lagi, sip sip, di tunggu ya yg castnya my bias *lirik duizhang 🙂

    • raishaa November 30, 2013 / 9:33 pm

      hahaha mati bengong? apaan tuh mati bengong XD hehe oke oke, tunggu aja ya yang cast nya kris. ntar pasti kubuat, udah ada ide kok 😀

      • yusfaiswinda December 21, 2013 / 3:15 pm

        sippp itu dah yang ku tunggu” hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s