[FF] Just One Month

Title                 : Just One Month

Author             : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Cast                 : Shin In Jung and Cho Kyuhyun

Length             : One Shoot

Genre              : Romance, Fluff (mudahan ceritanya sweet ya ^^)

Rating              : Teen

 

“Aku berharap dengan perjanjian ini, kita bisa bersama selamanya.”—Kyuhyun.

Sebagai permulaan, aku nyoba nge-posting ff gaje. Ini ff udah lama, tapi nggak lama-lama banget sih. Intinya, coba baca aja dulu yaaa 😉

Injung POV

“Apa-apaan ini? Kenapa kau duduk di sini?” ucapku jutek bercampur heran ketika mendapati Kyuhyun, cowok yang luar biasa dingin, sudah duduk di samping bangkuku. Tapi itu harusnya kan bangkunya Youngra!

“Hah? oh, kau sudah datang rupanya. Kebetulan, ada yang ingin kukatakan padamu,” balasnya santai tanpa memperdulikan ucapanku tadi. Ugh. Memang sih dia itu mempunyai wajah yang tampan, tapi kelakuannya yang misterius itu membuat orang-orang di sekitarnya menjauh dan dia sepertinya sama sekali tidak memperdulikan itu. tunggu dulu, kenapa aku malah memikirkan hal-hal aneh macam itu. oke, focus Injung, focus.

“Tunggu sebentar, itu bangkunya Youngra. Kau tidak boleh duduk di situ!” kataku masih dengan suara jutek.

“Youngra belum datang juga, bukan? Oh ya, aku ingin duduk di sini. hanya untuk satu bulan. Kau tidak bisa protes.” Hah? dia ingin duduk di sini? enak saja! Emang dia siapa sampai ingin duduk di situ? Lagaknya seperti tuan muda saja!

“Apa? Tidak bisa! kau tidak boleh duduk di sini!” aku menggebrak meja di depannya, bermaksud untuk menggertaknya.

Braaaakk!

Apa yang kalian pikirkan? Apa kalian berpikir dia juga ikutan menggebrak mejaku? Yah, jawabannya tidak jauh dari situ sih. dia bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja dengan kedua tangannya. ekspresi mukanya datar namun mataya menatap tajam wajahku. lalu, tanpa berkata apapun dia keluar kelas. Meninggalkanku sendiri dalam kebingungan dan keheranan dengan sikapnya.

***

Terjebak dengan cowok dingin selama sebulan? Kurasa itu sama sekali bukan hal yang mudah! apalagi cowok dingin itu sama sekali tidak ada mengajakmu berbicara atau apapun! Kurasa aku tidak akan sanggup menghabiskan waktu sebulan duduk dengannya. apalagi ini baru berjalan seminggu, tapi aku rasa aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku. Kurasa aku sudah tidak sanggup lagi.

Aku juga tidak mengerti kenapa cowok ini tiba-tiba ingin duduk denganku. Aku bahkan belum pernah mengobrol ataupun berinteraksi dengannya! hhh, dasar cowok aneh. Berasa raja saja dia nyuruh ini-itu. apa dia kira aku tidak muak dengan sikapnya yang sombong itu? walaupun dia tampan, tetap saja aku tidak bisa tahan dengan sikapnya. Dipikirnya aku ini hanya semacam udara yang tidak terlihat begitu? Ugh. Menyebalkan.

“Baiklah, bentuk kelompok bersama teman sebangku kalian, lalu kalian buatlah soal sebanyak 10 soal beserta jawabannya. Hari ini dikumpul,” kata Kim sonsaengnim, sang guru matematika, yang langsung membuatku tersadar dari lamunan. Apa aku salah dengar tadi? buat kelompok dengan teman sebangku? Mimpi apa aku semalam bisa sesial ini?

Aku melirik Kyuhyun. Wajahnya datar, tak menampakkan ekspresi apapun. Dia juga tidak mengucapkan apapun. Dia hanya membuka-buka buku paket dihadapannya dan mulai menghitung. Tak berapa lama kemudian, dia telah mendapatkan satu soal beserta jawabannya. benarkah dia sepintar ini? Kenapa aku tidak tau kalau dia sangat jago di bidang matematika? Berbeda sekali denganku yang sangat tidak menyukai pelajaran itu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Dia masih sibuk menghitung angka-angka yang tidak kumengerti itu.

“Tidak apa-apa. Apa kau tidak membiarkanku membantumu?” kataku basa-basi sambil mulai membuka buku paket matematika dihadapanku yang daritadi sama sekali belum kusentuh itu.

“Tidak perlu. Biarkan aku sendiri yang mengerjakannya. Lagipula, aku tidak yakin kau bisa mengerjakannya,” jawabnya santai tanpa beban. Aku tau dia pintar tapi kenapa dia harus semenyebalkan ini? Dia terlalu meremehkan!

“Tch. Terserahmu saja. Yang penting aku mau mencobanya juga,” balasku sambil menulis beberapa angka dan menghitungnya.

Tapi, setelah mengotak-atik angka selama beberapa saat, aku juga tak kunjung menemukan jawabannya. Angka-angka ini membuatku semakin pusing. Aku rasa aku sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Oke, aku akui kalau aku kalah kali ini.

Kulirik Kyuhyun yang ternyata sedang memperhatikanku. Terhias senyum meremehkan di wajahnya, matanya juga memandangku rendah. Hei, kenapa dia harus sesombong ini? Aku muak dengannya!

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu hah?” kataku kasar dengan suara rendah, tentu saja untuk menghindari teguran Kim sonsaengnim.

Dia menatapku masih dengan senyum meremehkan di wajahnya. “Aku sudah bilang bukan kalau kau tidak akan bisa mengerjakannya. Sudahlah, biarkan aku kerja sendiri.”

“Kau menyebalkan!” desisku sambil meliriknya tajam. Kyuhyun hanya menatapku sekilas lalu kembali mengerjakan soalnya, tidak menanggapi ucapanku barusan.

***

Author POV

Bukit belakang sekolah merupakan tempat paling pas untuk melihat matahari terbenam. Pemandangannya indah dan tempat ini begitu tenang karena hanya sedikit saja orang yang datang kemari. Dari dulu, ini merupakan tempat favorit Injung untuk melepaskan penat atau mencari inspirasi. Tempat ini juga merupakan tempatnya kabur dan menangis sepuasnya saat dia sedang merasa sedih.

Injung melangkahkan kakinya perlahan menanjaki bukit itu. dia mendekati salah satu pohon yang rindang dan duduk di bawahnya sambil mulai memandangi pemandangan kota Seoul yang terlihat sangat cantik di bawah naungan langit yang berwarna keemasan. Dia memang berencana untuk melihat matahari terbenam sambil melupakan sejenak semua yang terjadi belakangan ini. Dia hanya ingin menikmati matahari terbenam dengan tenang.

Injung memejamkan matanya, merasakan semilir angin hangat yang menghusap lembut wajahnya. Beberapa rambutnya yang sengaja ia biarkan tergerai berkibar di tiup angin. Dia begitu menikmati saat-saat seperti ini.

“Hmm, sepertinya kau sangat menikmatinya,” ujar suara seorang namja yang membuat Injung membuka matanya. Dia menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati Kyuhyun yang sekarang sudah duduk tidak jauh di sampingnya.

Injung menoleh sekilas dan memejamkan matanya lagi, dia malas untuk mencari masalah dengan cowok ini. Dia ke sini untuk mencari ketenangan, bukan untuk berdebat hal yang tidak penting.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Injung tenang masih dengan mata terpejam.

“Aku biasa kemari saat sore hari seperti ini,” jawab Kyuhyun sambil mengeluarkan kamera LSR dari dalam tasnya. Dia mulai mengatur kameranya dan mulai membidik pemandangan yang ada dihadapannya dengan kameranya. Dia memang menyukai dunia fotografi dan tidak ada satupun orang yang mengetahuinya.

Dia mengalihkan kameranya ke arah Injung yang masih dalam posisinya, duduk diam di bawah pohon sambil terpejam menikmati semilir angin kecil yang menyapu wajah manisnya. Dia memfokuskan kameranya pada Injung dan mulai mengambil beberapa gambar dengan Injung sebagai modelnya, tentu saja Injung tidak tau akan hal itu.

Kyuhyun kemudian melihat hasil gambarnya tadi dan tersenyum kecil, sangat puas dengan gambar yang diambilnya tadi. “Cantik,” gumamnya kecil.

“Apa kau sering kemari?” tanya Kyuhyun memecah keheningan diantara mereka berdua. Berbasa-basi. Tentu saja dia tau bahwa Injung sering kemari, karena setiap dia di sini, dia selalu melihat Injung. Saat pertama kali melihat Injung pun, dia melihatnya di sini, menangis sendirian, di bawah pohon yang biasa ia duduki. Kyuhyun tersenyum kecil ketika mengingat kenangan itu.

Injung membuka matanya dan matanya langsung dapat menangkap pemandangan indah dihadapannya. “Ya, aku sering kemari saat sore hari seperti ini,” jawabnya sambil tersenyum samar.

Injung kembali terdiam dan suasana sepi kembali menyelimuti. Sesungguhnya, dia kaget kenapa Kyuhyun bisa bersikap setenang ini. Padahal Kyuhyun selalu bersikap menyebalkan—menurutnya.

“Kau menyukai fotografi?” tanya Injung heran ketika melihat Kyuhyun kembali membidik pemandangan-pemandangan yang ada di sekitarnya.

“Ya, aku menyukainya. Ini bisa membuatku lebih tenang,” jawabnya masih tetap focus dengan kameranya.

Injung hanya mengangguk-angguk mengerti, tidak tau apa lagi yang harus diucapkannya. Suasana ini terlalu canggung.

Drrtt…. Drrrtt…

Ponsel Injung bergetar.

“Ng? Wae eomma? Oh, ne, aku pulang sekarang,” kata Injung lalu memutuskan sambungan telepon itu.

“Kyuhyun-ssi, aku pergi dulu,” pamit Injung yang tidak biasanya menggunakan bahasa formal pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya memperhatikan Injung yang mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuruni bukit.

Sekali lagi, Kyuhyun mengambil foto Injung dari belakang. Foto itu terlihat cantik dengan focus Injung yang terlihat dari belakang, rambutnya berkibar-kibar diterpa angin dengan warna langit keemasan menghiasi foto itu, membuatnya terlihat semakin bagus.

“Sangat cantik,” gumam Kyuhyun sambil memperhatikan foto itu. dia pun bangkit dari duduknya dan mulai pergi.

***

Injung terlihat kesal dengan soal matematika di hadapannya. Digaruknya tengkuknya, bingung bagaimana mengerjakan soal-soal itu. dia memang sangat tidak menyukai matematika, hasilnya dia tidak pernah memperhatikan penjelasan guru dan akhirnya bingung sendiri ketika mengerjakan soal.

“Wae? Kau tidak mengerti?” tanya Kyuhyun sambil meletakkan pulpennya dan melihat Injung yang terlihat kebingungan dan kesal. Diliriknya kertas Injung yang masih polos, tidak ada satupun jawaban yang menghiasi kertas itu. padahal waktu tinggal 15 menit dan ulangan akan berakhir.

Injung menoleh, menatap Kyuhyun. Dia lalu mengangguk lemah, matanya sudah berair, dia benar-benar mau menangis sekarang.

“Ini, kau bisa lihat punyaku.” Kyuhyun menyodorkan lembar jawabannya dengan pelan dan hati-hati agar Kim sonsaengnim tidak mengetahuinya.

Injung menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya. “Kau serius?”

Kyuhyun mengangguk. “Ne, cepatlah. Sebentar lagi waktu habis.”

Dalam waktu 10 menit, Injung berhasil menyalin jawaban Kyuhyun. Tentu saja dengan perubahan sedikit agar tidak dicurigai oleh Kim sonsaengnim. Dia juga menyalahkan 3 soal dari 10 soal tadi.

“Gomawoyo, kau telah membantuku,” bisik Injung kecil sambil menggeser lembar jawaban milik Kyuhyun dengan pelan.

Kyuhyun tersenyum kecil. “Sepertinya kau benar-benar tidak mengerti matematika. Kurasa aku harus mengajarimu,” gurau Kyuhyun dengan suara kecil.

“Aku tidak yakin kau bisa mengajariku, soalnya aku benar-benar tidak menyukai matematika,” balas Injung sambil tersenyum.

“Yang jelas, selama kau duduk denganku, nilai matematikamu harus membaik,” ucap Kyuhyun tegas yang langsung membuat Injung manyun.

“Kau itu seenaknya saja. Tapi, baiklah, tidak buruk juga kalau kau menjadi guru matematikaku untuk sementara waktu,” ujar Injung sambil berpikir apa yang akan terjadi kalau dia lebih dekat dengan Kyuhyun, si cowok dingin dan misterius. Memang semenjak kejadian sore hari kemarin, Injung perlahan-lahan merubah pendapatnya tentang Kyuhyun.

***

Tidak terasa, tersisa 3 hari lagi dari waktu perjanjian. Yaah, 3 hari lagi, Kyuhyun tidak akan duduk sebangku lagi dengan Injung. Memang sangat disayangkan karena beberapa minggu terakhir, mereka mulai terlihat dekat. Bahkan, orang-orang disekitar mereka menyangka mereka berpacaran.

“Kau tau, aku sangat suka pemandangan di sini,” kata Injung membuka percakapan saat mereka menikmati semilir angin sore hari di bukit belakang sekolah. Tempat favorit mereka akhir-akhir ini.

“Hmm, yeah, aku juga suka. Di sini begitu tenang,” ucap Kyuhyun menyetujui perkataan Injung barusan. Dia lalu berbaring di samping Injung dan menatap langit sore. Langit memang terlihat lebih indah jika dilihat dari posisi itu.

“Sejujurnya, aku selalu penasaran dengan hal ini,” ujar Injung memutus kalimatnya, agak terdengar tidak yakin dengan perkataan yang akan dilontarkannya.

“Apa?”

“Ng, kenapa kau mau duduk sebangku denganku? Bukankah kita sebelumnya tidak pernah berbicara satu sama lain?” tanya Injung ragu, tapi dia benar-benar penasaran dengan hal ini.

Kyuhyun menghela nafas dan mengambil posisi duduk. Dia bingung mau menjawab seperti apa pertanyaan Injung ini.

“Aku bingung menjelaskannya,” ucap Kyuhyun lirih.

“Jelaskan seperti apa adanya saja.” Injung tersenyum. Senyum yang mampu menggetarkan hati Kyuhyun.

“Eo? Ada kotoran di rambutmu. Pasti gara-gara kau berbaring sembarangan tadi.” Injung membersihkan kotoran yang ada di rambut Kyuhyun sambil menguatkan hatinya. Sejujurnya, dia sangat gugup dan tanpa sadar dia malah menciptakan suasana romantis seperti ini.

“Injung-ah,” panggil Kyuhyun kecil sambil meraih tangan Injung yang sekarang sedang sibuk membersihkan rambutnya yang sedikit kotor. Matanya menatap tepat ke manik mata milik Injung. Injung mengalihkan pandangannya, menolak untuk membalas tatapan Kyuhyun. Dia gugup.

“Injung-ah,” panggil Kyuhyun lagi. Matanya masih tetap menatap tajam Injung.

Injung perlahan balas menatap tatapan Kyuhyun. Darahnya berdesir, debaran jantungnya semakin cepat, perutnya terasa bergejolak. Dia benar-benar gugup menghadapi sosok Kyuhyun yang seperti ini.

“Ne? waeyo?” tanya Injung sekuat tenaga sambil menahan rasa gugupnya itu. apa dia mulai menyukai Kyuhyun? Ah, tidak, dia memang sudah menyukai Kyuhyun.

“Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa kau akan percaya?” ucapan Kyuhyun sontak langsung membuat Injung membelalakkan matanya. Kenapa Kyuhyun tiba-tiba berkata seperti ini?

“Dwaesseo. Lupakan saja perkataanku barusan. Ayo kita pulang,” kata Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Injung dan langsung bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan Injung sendirian yang terdiam dalam keterpakuannya.

***

Semenjak hari itu, Kyuhyun tidak lagi duduk dengan Injung. Sikapnya kembali ke awal, tidak memperdulikan sekitar dan menjadi cowok dingin kembali. padahal, semenjak mulai dekat dengan Injung, sikap Kyuhyun sediit berubah. Dia tidak semisterius dulu. Tapi sekarang semuanya kembali ke awal. Dia bahkan tidak ada menegur Injung lagi. Semuanya benar-benar kembali seperti semula. Semuanya.

Injung benar-benar sadar dengan perubahan sikap Kyuhyun yang begitu kontras. Tidak hanya Injung yang menyadari perubahan sikap Kyuhyun, tapi semua orang pun menyadarinya. Kemana perginya Kyuhyun yang sempat terlihat hangat itu? mereka bahkan tidak pernah melihat Injung dan Kyuhyun bersama lagi. Jangankan terlihat bersama, bertegur sapa atau sekedar saling bertatapan saja sudah tidak pernah.

Injung juga bingung dengan pernyataan suka Kyuhyun tempo hari. itu bahkan tidak bisa di sebut pernyataan suka karena Kyuhyun sendiri mengatakan untuk melupakan hal itu. tidak bisa dipastikan perkataan Kyuhyun itu serius atau hanya main-main.

“Sialan!” umpat Injung kecil sambil melempar kaleng minuman yang ada di dekatnya ke bawah bukit.

“Aduh!”

Injung tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara seseorang mengaduh kesakitan. Dia melongokkan kepalanya sedikit untuk dapat melihat siapa yang telah terkena lemparan kalengnya tadi.

“Apa kau tidak mengerti kalau buang sampah sembarangan itu tidak baik, eoh?” kata Kyuhyun sinis sambil memegang kaleng yang tadi di lempar Injung di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap-usap dahinya yang sedikit memerah. Sepertinya bagian itu yang terkena lemparan tadi.

“Eo? Kyuhyun? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Injung kaget ketika melihat Kyuhyun berjalan mendekatinya dan akhirnya duduk tepat di sampingnya. Benar-benar tepat di sampingnya. Bahkan kedua bahu mereka hampir bersentuhan.

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku suka kemari? Apa kau lupa?” tanya Kyuhyun balik sambil memandang Injung penuh arti. Injung yang salah tingkah karena dipandangi Kyuhyun seperti itu hanya pura-pura tidak menyadari tatapan itu dan mengalihkan pandangannya. Menolak untuk berkontak mata dengannya.

“Injung-ah,” panggil Kyuhyun sambil meraih salah satu tangan Injung. Lagi-lagi dia melakukan hal seperti ini dan kali ini dia berjanji dalam hatinya bahwa dia tidak akan merusaknya.

“Apa?” Injung menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun, dia tidak mau terjebak dalam perangkap yang sama lagi untuk kedua kalinya. Wajahnya menatap lurus ke depan.

“Dengar, maafkan aku tentang kejadian tempo hari,” ucap Kyuhyun tulus dan meraih kembali tangan Injung. Kali ini dia serius.

Injung memejamkan matanya erat-erat, dia benar-benar gugup. Jantungnya berdebar sangat cepat dan rasanya seperti akan melompat keluar. Dia hanya berharap bahwa debaran jantungnya tidak terdengar oleh Kyuhyun.

“Dan juga, perkataanku tempo hari itu benar. Aku menyukaimu. Tolong jangan ragukan perkataanku kali ini dan aku mohon kau harus percaya,” ucap Kyuhyun lagi dengan tegas. Tidak terdengar sedikitpun nada ragu dalam suaranya.

Injung sontak menoleh dan langsung menatap mata Kyuhyun, mencari kejujuran ucapannya barusan. Memang, ucapan itu memang tulus dan jujur dari lubuk hati Kyuhyun. Tanpa menatap matanya pun Injung sendiri sudah tau kalau ucapan Kyuhyun barusan memang tulus dan jujur.

“Apa kau serius?” tanya Injung memastikan. Jantungnya berdegup kencang tak bisa ditahan. Terasa pipinya memanas dan semburat kemerahan mulai menghiasi pipinya. Dia benar-benar menyukai cowok dingin ini rupanya.

“Kau tak percaya? Kemarilah.” Kyuhyun langsung menarik Injung dalam dekapannya dan membuat Injung bungkam seketika. Terdengar suara jantung Kyuhyun berdetak cepat, Injung dapat mendengarnya dengan jelas.

“Kau mendengarnya? Apa kau masih tidak percaya kalau aku memang menyukaimu?” kata Kyuhyun yang langsung membuat Injung yakin bahwa cowok ini benar-benar menyukainya. Ah, bukan, lebih tepatnya, mencintainya.

“Debaran jantungmu benar-benar terdengar jelas,” ucap Injung kecil sambil mendongak, menatap Kyuhyun. Dia masih dalam dekapan Kyuhyun. “Apa kau tidak mau tau jawabanku?” lanjutnya lagi.

“Aku tidak perlu tau jawabanmu karena aku sudah mengetahuinya. Kau juga menyukaiku bukan? Aku sudah tau itu. tidak ada orang yang bisa menolak pesonaku,” ujar Kyuhyun pede.

Injung langsung melepaskan dirinya dari dekapan Kyuhyun dan menatap Kyuhyun sinis. Pede sekali dia, pikirnya.

“Kau terlalu pede,” kata Injung sinis sambil mendelik.

“Wae? Aku memang tampan bukan? Lagipula, kau memang menyukaiku. Kau tidak perlu membantahnya karena itu memang benar,” balas Kyuhyun sambil menarik Injung kembali dalam rangkulannya. Akhirnya Injung pasrah dan membiarkan dirinya dalam rangkulan Kyuhyun.

“Benar. Sepertinya aku memang menyukaimu, Kyuhyun-ssi,” aku Injung sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Kyuhyun.

“Jadi, aku masih belum mengerti dengan sikapmu belakangan ini. Tolong jelaskan padaku,” pinta Injung sambil sedikit melirik Kyuhyun yang sekarang sedang memandangnya.

“Kau ingat dengan perjanjian sepihak dulu? Saat aku memaksa untuk duduk sebangku denganmu selama sebulan?” tanya Kyuhyun, Injung hanya mengangguk. “Sebenarnya aku melakukan perjanjian bodoh dengan Youngra.”

“Perjanjian apa? Kenapa Youngra tidak memberitauku?”

“Karena aku yang memintanya untuk merahasiakannya darimu. Aku tidak sengaja mengetahui suatu rahasianya. Lalu, aku meminta padanya untuk bertukar tempat sebentar denganku. Awalnya dia tidak mau, tapi setelah ku ancam, dia akhirnya menurut. Hehehe.” Kyuhyun terkekeh ketika mengingat hal itu.

“Mwo? Kau benar-benar licik,” sindir Injung. “Tapi, tunggu dulu, berarti sebenarnya kau sudah menyukaiku dari lama?”

Kyuhyun mengangguk. “Ya dan selama ini kau tidak pernah menyadarinya. Tidakkah kau sadar kalau aku selalu memperhatikanmu dari jauh ketika kau duduk sendirian di sini?”

“Hah? kau selalu memperhatikanku?”

“Eung, dan kau bahkan tidak pernah menyadarinya. Tidak sekalipun. Aku lebih dulu menyukaimu jadi kau tidak perlu ragu akan perasaanku terhadapmu.” Kyuhyun menatap Injung lagi lalu mengusap lembut puncak kepalanya.

“Kau tau kenapa aku selalu menghindarimu beberapa hari belakangan ini dan tidak duduk di sampingmu lagi padahal masih tersisa beberapa hari?” tanya Kyuhyun sambil menerawang.

Injung menggeleng. “Tidak. Sikapmu itu membuatku kesal.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak duduk di sampingmu lagi karena aku ingin memperpanjang hubungan kita. Aku tidak ingin kita hanya berhubungan selama sebulan dan pada akhirnya perjanjian itu berakhir. Kalau aku duduk kembali sebangku denganmu, otomatis perjanjian sebulan itu habis. Biarkan saja perjanjian itu tidak terisi penuh satu bulan, dengan begitu perjanjian sebulan itu tidak akan pernah berakhir karena aku tidak akan duduk sebangku lagi denganmu, dan perjanjian itu akan ada selamanya. Kau mengerti maksudku, bukan?”

Injung terlihat berpikir. “Dengan kata lain, kau tidak mau mengakhiri perjanjian itu dan membiarkannya menggantung begitu saja agar perjanjian itu tidak berakhir?” kata Injung mengambil kesimpulan.

“Bisa di bilang seperti itu. yang jelas, aku ingin selalu bersamamu selamanya,” ujar Kyuhyun sambil ikut menyender di kepala Injung yang masih menyenderkan kepala di bahunya.

“Saranghaeyo, Injung-ah,” ucap Kyuhyun lagi sambil mengecup puncak kepala Injung.

Injung tersenyum sambil memejamkan matanya, menikmati semilir angin lembut yang menyapu lembut wajahnya dan merasakan kecupan Kyuhyun di puncak kepalanya. Ini semua benar-benar sayang kalau tidak dinikmati.

“Nado saranghae, Kyuhyun-ah.”

End.

Advertisements

4 thoughts on “[FF] Just One Month

  1. rin shi November 21, 2013 / 4:14 pm

    Bagussssss!

  2. F_Morata January 27, 2014 / 11:54 pm

    Dapet banget romance nyaa.. :”)
    Pen juga di perhatiin ama kyu *geplak–”
    Boleh saran gak thor?? Menurut ane konflik di awal ceritanya itu masih kurang thor jd kurang apa gitu ‘-‘v hihi mianhaeyo.. :’)
    But secara keseluruhan keren kok thor, feelnya jugak dapat ‘-‘b
    Keep writing thor! Fighting ‘-‘)9

    • raishaa January 28, 2014 / 6:20 am

      Huhuhu makasih yaa udah baca dan komen 😀
      Hehe iya, waktu bikin cerita itu ide nya muncul dadakan, jd yaa begitu deh. Acakadul/?
      Gomawoyo ya udah ngasih saran ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s