[FF] EXO Love Story Series | Story 2: Stay With Me

stay-with-me

Title                 : Story 2: Stay With Me

Author             : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Main Cast        : Park Yunmi [OC], and Byun Baekhyun [EXO]

Support Cast    : Park Chanyeol [EXO], Kim Eunbi [OC], Jung Hyemin [OC], Lu Han [EXO], and other

Genre                : Romance and other

Length             : One Shoot—Series

Rating              : PG-15

Disclaimer       : all cast(s) is belong to themselves. OC and the story is mine! Ah, Luhan is mine too of course #plakk XD

Park Yunmi POV

Aku tidak suka dengan pria.

Tunggu, kalian jangan pernah berpikir bahwa aku ini seorang pecinta sesama jenis atau apa. Aku hanya agak anti dengan makhluk yang bernama pria. Entah kenapa, dalam pikiranku pria itu adalah makhluk pembohong bermuka dua. Perkataan dan kelakuannya berbeda.

Oke, aku ngomong seperti ini bukan karena aku trauma dengan pria atau aku pernah di sakiti. Aku hanya melihatnya dari pengalaman. Lihat saja Hyemin saat ditinggal Luhan oppa, kelakuannya jadi sangat berbeda dengan sifat aslinya. Gara-gara itu aku hampir setiap hari merasa cemas dibuatnya.

Aku juga agak menjauhi pria karena aku ingin sekali menjadi diplomat. Karena aku ingin menjadi diplomat, aku harus menjadi orang yang pintar dan nilai-nilaiku harus baik. tentu saja aku lebih memilih nilai daripada makhluk yang bernama pria. Nilai-nilaiku bisa sangat turun jika aku memikirkan pria atau cinta (kalian jangan pernah berpikir bahwa aku pernah jatuh cinta).

Tapi, kedatangan seorang pria bernama Byun Baekhyun benar-benar merubah asumsiku terhadap pria. Dia perhatian, pengertian, lembut, bahkan dia orang yang pintar. Aku senang dengannya (ingat senang, bukan suka). Sejujurnya, Baekhyun oppa—dia lebih tua 2 tahun dariku—adalah teman pria pertamaku. Oke, bukan teman pria pertama, tapi teman dekat pria pertama (entah kenapa kata-katanya jadi membingungkan). Dan, aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku bahkan kadang merasakan serangan listrik yang dapat menggelitik perutku atau membuat jantungku berdetak lebih cepat. Kata orang-orang, itu adalah tanda-tanda orang jatuh cinta. Dan ya ampun, apakah aku baru saja bilang bahwa aku sedang jatuh cinta? Dan pria itu adalah Baekhyun oppa?

Tidak, tolong kalian abaikan perkataanku barusan. Aku benar-benar merasa aneh jika berdekatan dengannya. aku mulai sering memikirkannya dan kurasa terkadang aku sering tersenyum sendiri. Aku juga mulai menyadari bahwa nilaiku menurun dan aku bahkan mulai malas belajar. Apa mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada Baekhyun oppa?

Arrghh! Tidak, bahkan aku mengucapkan kata-kata itu lagi! Ya Tuhan, kenapa aku sampai melakukan hal seperti ini? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Bisa-bisa nilaiku tambah anjlok. Pikiran-pikiran seperti itu bisa benar-benar membuatku stress.

“Kau melamun?” tegur Hyemin yang menyadarkanku dari lamunan. Sekarang aku sedang berada di apartemennya, merayakan hari kembalinya Luhan oppa dari luar negeri. sepertinya sosok Hyemin yang telah lama hilang akan kembali seiring dengan datangnya Luhan oppa.

Aku menatapnya sekilas. “Tidak, aku tidak sedang melamun. Kenapa kau ada di sini? mana Luhan oppa?”

Hyemin mengedikkan bahunya. “Kurasa dia sedang pergi bersama Baekhyun oppa mencari sesuatu.”

Aku hanya mengangguk kecil, tidak ingin mengucapkan apapun lagi. Aku masih terlalu bingung dengan perasaanku sekarang. Aku sama sekali tidak pernah jatuh cinta, jadi aku sama sekali tidak tau rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Tidak tau ciri-ciri jatuh cinta itu seperti apa.

“Rasanya jatuh cinta itu gimana sih?” Awalnya kupikir itu adalah suara Hyemin, tapi sepersekian detik kemudian, aku baru menyadari bahwa itu suaraku. Sepertinya tanpa sadar aku malah melontarkan pikiranku sendiri.

“Mwo? Jangan-jangan kau sedang jatuh cinta?”—dia menatapku lekat dengan pandangan tak percaya—“ah, pasti orang itu Baekhyun oppa bukan?” tebaknya dengan seringai yang membuatku bergidik.

“Kau ini bilang apa? Aku hanya penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta,” elakku sambil berusaha tetap tenang—hal yang menurutku sangat sulit.

Alis sebelah kirinya naik dan menatapku seolah aku ini sedang berbohong—oke, aku memang berbohong, tapi itu tidak sepenuhnya berbohong. Aku benar-benar ingin tau rasanya jatuh cinta. “Jika kau merasakan ada serangan listrik pada seluruh tubuhmu ketika berdekatan dengan Baekhyun oppa, berarti kau memang sedang jatuh cinta,” ujarnya datar.

“AKU BILANG AKU TIDAK JATUH CINTA DENGAN BAEKHYUN OPPA!” teriakku kesal sambil mendelik pada Hyemin. sudut sebelah kanan bibirnya tertarik ke atas.

Dan pada saat itu, aku baru sadar bahwa ada Baekhyun oppa di sana—di depan pintu masuk—mendengar ucapanku barusan. Di belakangnya ada Luhan oppa yang seolah menunjukkan ekspresi kau-bilang-apa-padahal-Baekhyun-menyukaimu.

Oke, suasana ini terlalu awkward. Canggung. Dan yang lebih parah, sekarang seluruh pasang mata tertuju padaku.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanyaku santai, seolah tidak terjadi apapun. Sejujurnya, aku benar-benar malu.

“Tidak apa-apa. Ayo, bukankah kau ingin makan ddukboki, Hyemin?” kata Luhan oppa yang sepertinya juga ingin mencairkan suasana aneh ini. Lalu, Luhan oppa mendekati kami—tepatnya Hyemin—dan menyerahkan bungkusan berisi ddukboki itu pada Hyemin.

Hyemin tersenyum kecil. “Gomawo, oppa.” Hyemin meraih bungkusan ddukboki itu dan membawanya ke dapur. Luhan oppa mengekor di belakangnya.

Sekarang, yang ada hanya aku dan Baekhyun oppa. wajahnya datar, tidak menunjukkan perasaannya saat ini. Sejauh yang kutau, Baekhyun oppa merupakan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya.

“Ini, aku membelikan ddukboki untukmu,” ucapnya sambil menyodorkan ddukboki itu padaku. Walaupun wajahnya datar dan suaranya tenang, tapi aku dapat merasakan nada dingin pada suaranya.

“Gomawo,” kataku kecil sambil menundukkan kepalaku. Ia hanya mengangguk sekilas dan menyusul Hyemin dan Luhan oppa ke dapur. apa dia marah?

Tunggu, kenapa dia harus marah kalau dia tidak menyukaiku?  Sepertinya pikiranku terus bertambah kacau.

***

Bodoh adalah satu-satunya kata yang bisa menggambarkanku saat ini. Bagaimana tidak bodoh kalau sampai saat ini aku membiarkan Baekhyun oppa salah paham?

Dia tidak menjauhiku sebenarnya. dia tetap bersikap seperti biasa padaku, tapi satu hal yang kusadari bahwa Baekhyun oppa membangun jarak diantara kami. Dia masih bersikap baik dan ramah, tapi aku merasa ada sesuatu yang berubah.

Apakah aku harus menjelaskan yang sebenarnya? tidak, kurasa itu hal yang memalukan. Aku tidak ingin dia mengetahui aku menyukainya—aku sudah mengakui pada diriku bahwa aku memang menyukainya. Lagipula, dia tidak mungkin menyukaiku. Buat apa aku menjelaskan yang sesungguhnya kalau dia tidak menyukaiku bukan?

Tunggu, di sana itu, bukankah Baekhyun oppa? sama siapa dia? Itu yeoja bukan? Kenapa dia dengan yeoja itu? yeoja itu siapa-nya dia? Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Apa mereka berpacaran? Kenapa selama ini aku tidak tau kalau Baekhyun oppa punya pacar? Ah, terlalu banyak pertanyaan tentang Baekhyun oppa. dia benar-benar orang yang tidak bisa di tebak.

Sepertinya yeoja itu seorang noona. Harusnya aku tau kalau Baekhyun oppa menyukai seorang noona. Mana mungkin dia suka dengan gadis membosankan seperti aku. Selama ini dia hanya menganggapku sebagai adiknya, tidak lebih. Aku memang tidak pernah berpikir bahwa Baekhyun oppa mendekatiku karena dia menyukaiku. Tapi, jika memikirkan selama ini dia dekat denganku hanya sebatas seorang sahabat, aku sedikit kecewa. Selama ini aku terlalu tergoda dengannya dan pada akhirnya aku jatuh di lobang yang telah dibuatnya. Aku rasa aku tidak bisa keluar dari lobang ini, kecuali jika seseorang menolongku.

Tanpa kusadari, aku malah melangkahkan kaki mendekati mereka. Aku tentu saja tidak bisa tiba-tiba pergi dari sana karena mereka sekarang telah melihatku. Bahkan Baekhyun oppa melambaikan tangannya padaku. Jika aku lari sekarang, itu akan memperjelas bahwa aku memang menyukainya.

“Yunmi-ah! Kau darimana saja? Aku mencarimu dari tadi,” panggil Baekhyun oppa sambil tersenyum lebar. Aku sangat suka senyum itu. sayangnya, dia tersenyum lebar seperti itu karena ada yeoja ini di sini.

Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan rasa kecewaku dalam-dalam. “Oppa! siapa dia? Pacarmu yaa?” kataku dengan nada ceria yang dibuat-buat. Aku berharap tidak ada yang menyadarinya.

Baekhyun oppa tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ah, ani. Dia bukan pacarku,” sangkalnya sambil tertawa. Aku rasa dia bersikap seperti itu karena gugup. Yeoja itu hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Baekhyun oppa barusan.

“Lalu dia siapa? calon pacarmu? Kenapa oppa tidak mengenalkannya padaku sedari dulu?”

Baekhyun oppa tertawa kecil. “Dia sunbae-ku saat aku masih SMA dulu. Aku sudah lama sekali tidak melihatnya dan tiba-tiba saja kami bertemu di sini.” Tidak ada penyangkalan dalam ucapannya barusan, dan berarti yeoja itu memang calon pacarnya. Sepertinya aku harus siap-siap sakit hati, walau sekarang aku sudah sakit hati.

“Ahaha, kalau begitu aku pergi dulu oppa. bersenang-senanglah. Aku mendukungmu,” ujarku tanpa menatap matanya, takut aku tidak kuat menahan air mataku ketika melihatnya tersenyum senang untuk yeoja lain. Aku lalu menepuk bahunya sekilas dan berlalu pergi.

***

Senyum lembut, wajah manis, dengan surai emas membingkai wajahnya yang berseri. Aku tak bisa menyangkal yeoja itu memang sangat cantik. Pantas saja Baekhyun oppa menyukainya. Dia yeoja yang lembut kurasa, bukan tipikal aku banget.

“Park Yunmi! Kenapa kau melamun di sini, eoh?” suara seseorang mengejutkanku, membuatku melepaskan pandangan dari yeoja yang ada tidak jauh dari hadapanku. Aku mengalihkan pandanganku dan berbalik, ingin mencari tau siapa orang itu.

Tiba-tiba saja, aku hanya melihat dada seseorang—sepertinya orang itu sangat tinggi. kudongakkan kepalaku dan di sambut dengan senyuman lebar milik seorang namja yang sudah lama tidak kujumpai.

“Anyeong Yunmi-ah! Sepertinya kau bertambah pendek saja ya?” ejeknya, masih dengan senyum lebar yang sama. Aku hanya mendengus mendengar ejekannya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” aku melangkahkan kakiku tanpa repot-repot memastikan apakah anak itu mengikutiku atau tidak, karena aku tau pasti bahwa namja tengik itu pasti mengikutiku.

“Aku disuruh ahjumma untuk menjemputmu. Lagipula, aku ingin melihat-lihat universitasmu,” jawabnya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Kuharap dia tidak terlihat seperti seorang kampungan, walau selama ini dia tinggal di Amerika.

“Bersikaplah seperti biasa. Kau terlihat seperti orang kampung,” desisku tanpa menatapnya.

Kudengar dia mendengus kesal lalu mempercepat langkahnya sehingga saat ini langkah kami sejajar. “Tch. Aku hanya penasaran dengan universitasmu. Lagipula, aku sudah lama tidak ke Korea.”

Aku hanya memutar kedua bola mataku, malas untuk melanjutkan percakapan tidak bermutu ini.

“Ngomong-ngomong, kok aku tiba-tiba merasakan hawa membunuh ya? apa kau punya musuh, eoh? Dasar nappeun yeoja!” dia lalu bersiap untuk menjitak kepalaku, tapi aku dengan sigap menangkap tangannya.

“Dasar bodoh! Tidak mungkin ada hawa membunuh di sekitar sini.” aku mencibir sambil melirik sinis padanya.

Dia tidak menghiraukan ucapanku dan malah mengedarkan pandangannya. Mungkin mencari-cari asal hawa membunuh itu. bodoh. “Tidak, aku serius. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini. ayo!” dia lalu menarik tanganku tanpa aba-aba, yang membuat berteriak kesal padanya.

“Yyaaa! Park Chanyeol! Lepaskan tanganku!” jeritku tertahan dengan nada kesal. Tapi cowok itu tidak menggubrisku dan tetap menarikku dengan paksa.

***

Belakangan baru kuketahui nama yeoja yang akhir-akhir ini dekat dengan Baekhyun oppa adalah Kim Eunbi. Aku selalu tak bisa melepas pandanganku dari mereka—Baekhyun oppa dan Kim Eunbi—saat mereka tertangkap oleh penglihatanku. Bodoh memang. Dengan melihat mereka seperti itu malah membuatku tambah sakit hati. Tapi, bagaimanapun aku mencoba untuk tidak melihat mereka, pandanganku selalu saja kembali untuk memperhatikan mereka.

Kuakui, mereka benar-benar pasangan yang serasi. Kim Eunbi benar-benar bisa menyamai kilauan cahaya yang dikeluarkan Baekhyun oppa. apalagi ternyata mereka sama-sama memiliki hobi bernyanyi. Pasti mereka sering bernyanyi bersama—entah dulu atau sekarang. Dan kudengar suara Kim Eunbi benar-benar dapat memukau seseorang yang mendengarnya. Aku yakin Baekhyun oppa sangat mengagumi suaranya itu.

“Park Yunmi! Kau tidak apa-apa? Kau kelihatan tidak baik-baik saja.” Lamunanku buyar tatkala Hyemin menegurku. Aku meliriknya sekilas dan berusaha bersikap biasa.

“Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja,” elakku dan mengalihkan pandangan dari Baekhyun oppa dan Kim Eunbi. Entah kenapa mereka selalu ada dalam jarak pandanganku. Aku benci itu, tapi apa yang bisa kulakukan sih?

“Kau jangan berbohong padaku, Yunmi-ah. Aku tau kalau kau sedang memperhatikan mereka, bukan?” tebaknya sambil mengarahkan pandangannya pada Baekhyun yang sedang tersenyum lebar, sedangkan Kim Eunbi tertawa sambil memukul pelan Baekhyun oppa. mungkin Baekhyun oppa baru saja menggodanya.

“Untuk apa aku memperhatikan mereka? Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti itu. lebih baik aku mengejakan essai-ku yang belum selesai,” aku masih tetap menyangkal dan membuka buku-buku kuliahku.

“Terserah kau sajalah. Ngomong-ngomong, yeoja itu manis juga, ya. Kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya,” katanya dengan enteng lalu menyeruput es teh-ku. Tch. Dia itu sudah mengolokku dan sekarang ia malah dengan sengaja menghabiskan minumanku? Dasar!

“Yyaa! Kau tidak perlu mengejekku seperti itu! Dan kau menghabiskan minumanku! Jung Hyemin!” bentakku pada Hyemin. hyemin hanya mengangkat kedua bahunya, seolah itu bukan masalah besar. Yaah, memang sih itu bukan masalah besar. Aku saja yang terlalu sensitive hari ini—belakangan itu sering terjadi.

“Haah, kau ini berlebihan sekali. Sudah ya, aku pergi dulu. Aku ada janji dengan Luhan oppa,” ujarnya lalu pergi begitu saja. Dia memang selalu seperti itu sejak Luhan oppa kembali. aku sedikit kesepian sebenarnya. Hyemin sibuk dengan Luhan oppa, sedangkan Baekhyun oppa sendiri sudah mempunyai yeoja yang ingin di dekati. Kedatangan namja berisik bernama Park Chanyeol sebenarnya membuatku terhibur. Yaah, namja itu terlihat tidak punya beban hidup sama sekali.

“Omo! Kau mengagetkanku! Apa yang kau lakukan lagi di sini, eoh? Belum puas kemarin melihat-lihat?” seruku saat namja berisik itu tau-tau sudah duduk di hadapanku—dengan cengiran lebar khas dirinya.

“Tidak apa-apa. Aku bosan di rumah. Bagaimana kalau kau menemaniku keliling Seoul?” tawarnya yang masih dengan cengiran lebar. Aku tidak menggubrisnya dan malah menatap Baekhyun oppa dari balik bahunya. Tanpa sadar aku malah tersenyum saat melihat Baekhyun oppa tertawa lepas. Tawa yang kurindukan.

“Apa yang kau perhatikan?” Chanyeol membalikkan badannya untuk melihat siapa yang sedang kuperhatikan. Aku langsung mengalihkan pandanganku pada buku yang terbuka di hadapanku.

“Tidak ada,” jawabku. Tapi, Chanyeol tidak mendengarku dan sepertinya dia tau bahwa aku baru saja memperhatikan Baekhyun oppa.

“Oh, aku tau. Kau pasti menyukainya bukan?” tebaknya dengan cengiran lebar yang muncul kembali. tch. Apa aku semudah itu untuk ditebak? Kenapa semua orang bisa tau kalau aku menyukai Baekhyun oppa? apa di jidatku ada tulisan ‘aku menyukai Baekhyun oppa’ sehingga orang-orang dengan mudahnya mengetahui perasaanku?

Chanyeol lalu bangkit dan mendekati Baekhyun oppa—jangan lupakan Kim Eunbi karena dia masih ada di sana. apa yang dilakukannya? Dia pasti ingin mempermalukanku. Aku harus menghentikannya.

“Kau temannya Yunmi, bukan? Kenalkan, aku ini…” ucapan Chanyeol terputus ketika aku langsung memukul beakang kepalanya dengan buku yang kugulung.

“Apa yang kau lakukan? Tidak usah berbicara yang aneh-aneh!” kataku dengan sedikit membentak dan lalu mengalihkan pandanganku pada Baekhyun oppa yang sedang menatap kami dengan pandangan—uhm, aneh mungkin.

“Mwo? Aku bahkan belum berbicara apapun!” sungutnya sambil mengelus-elus kepala yang kupukul tadi.

Aku hanya meliriknya dengan tajam dan tersenyum canggung pada Baekhyun oppa dan Kim Eunbi. Tentu saja aku malu. “Uhm, maaf oppa, anak ini menganggu. Aku pergi dulu,” ujarku lalu menarik Chanyeol dengan paksa.

“Ayo pergi! Kau ini merepotkan saja!” desisku saat kami sudah pergi meninggalkan mereka.

“Apa? Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh,” balasnya sambil melepaskan tangannya yang kucekal kuat. “Geunde, kau benar-benar menyukainya bukan?”

“Aku harus bilang berapa kali kalau aku tidak menyukainya! Aku sama sekali tidak menyukainya! Dia bukan apa-apa bagiku! Kau mengerti?” bentakku lalu berjalan pergi meninggalkan Chanyeol begitu saja. Aku terlalu kesal untuk menahan lidahku. Aku bahkan teralu kesal untuk berpikir dengan kepala dingin.

***

Aku tidak percaya. Kini baekhyun oppa berada tidak jauh di hadapanku, melangkahkan kakinya ke arahku. Bukan itu yang membuatku terkejut tentu saja. Yang membuatku kaget adalah dia sendirian tanpa Kim Eunbi. Padahal biasanya mereka selalu berdua—gara-gara itu aku jadi sendirian.

“Anyeong op… pa?” senyum yang sudah kupasang lebar tiba-tiba hilang saat Baekhyun oppa tidak menghiraukanku dan malah berjalan melewatiku begitu saja. Dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. sikapnya dingin dan mengeluarkan aura aneh. Ada apa dengannya? kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan padanya—mungkin.

“Oppa?” panggilku ragu sambil berbalik dan hanya dapat menatap punggungnya yang bergerak menjauh. Dia mengacuhkanku—lagi.

“Oppa!” panggilku dengan lebih kencang sambil berlari mendekatinya.

“Oppa,” aku menepuk bahunya pelan. Dia lalu berhenti dan berbalik menghadapku. Wajahnya datar—seperti biasa—dan dingin—ini yang tidak aku mengerti. Selama ini Baekhyun oppa tidak pernah mengeluarkan aura dingin. Ada yang aneh.

“Oh, kau memanggilku?” responnya dingin. Aku hanya terdiam dengan sikapnya yang semakin aneh. Dia seperti robot.

Dan sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, dia berlalu pergi tanpa mengucapkan apapun. Oh Tuhan, sekarang apa lagi? Dia mengacuhkanku? Tidak cukupkah dia hanya menyukai orang lain? Dia membenciku untuk alasan yang bahkan diriku sendiri tidak mengetahuinya.

Mataku memanas dan perlahan air mata itu tumpah. Aku tidak sanggup menahan air mata ini lebih lama lagi. Aku baru tau jika rasanya dibenci oleh orang yang disukai itu benar-benar sakit. Pertahanan yang selama ini kubangun benar-benar hancur lebur tak bersisa.

***

Nilai-nilaiku benar-benar anjlok.

Bagaimana mungkin aku bisa berkonsentrasi dalam belajar jika keadaanku begini? Aku hancur. Benar-benar hancur. Ini gara-gara Baekhyun oppa yang membenciku tanpa alasan. Berkali-kali aku mencoba untuk menanyakannya, tapi entah kenapa saat aku sudah ingin bertanya, aku takut. Aku takut dia akan mengacuhkanku lagi. Aku takut jika dia benar-benar membenciku.

Belakangan baru kuketahui bahwa Baekhyun oppa dan Kim Eunbi bermain dalam drama musical yang diadakan kampus kami. Dan kudengar mereka berdua adalah pemeran utamanya. Yang lebih parahnya lagi, itu adalah drama musical romantis. Aku tau aku pasti akan cemburu saat menonton pertunjukkan mereka nanti. Aku tidak sanggup melihat adegan percintaan mereka.

Aku tersenyum kecut saat memandang kartu ucapan berwarna putih bertuliskan ‘Oppa, Fighting!’. Setidaknya aku ingin memberinya semangat walau kemungkinan dia tidak akan menyentuh kartu ini. setelah menyerahkan kartu ini, aku akan pergi. Aku tidak mau melihat Baekhyun oppa memerankan adegan romantis di hadapanku. Aku tau aku egois, tapi ini sudah menjadi sifatku dan tidak bisa di rubah begitu saja.

“Kau benar-benar tidak ingin menonton ini?” tanya Hyemin. Aku mendongak dan tersenyum kecil. Dia tentu saja akan menonton karena Luhan oppa sudah memaksanya.

“Kalau kau jujur dari awal pasti tidak akan seperti ini kejadiannya,” sahut Luhan oppa yang lalu mengambil kartu ucapan itu dari tanganku. “Bahkan kau pura-pura kuat di hadapannya. Kau selalu membohongi dirimu sendiri, Yunmi.”

Hhh, aku tau kalau akan seperti ini jadinya. Walau aku berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan perasaanku, tetap saja mereka sadar. Aku ingin mengakhiri kepura-puraan ini. Aku akan mengakui bahwa aku menyukai Baekhyun oppa, walau Baekhyun oppa sendiri tidak mengetahuinya. Setidaknya, aku akan mengaku kepada mereka berdua dahulu.

“Oppa, aku hanya tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Jika aku melakukan itu, semua ini akan menjadi tambah rumit,” jawabku sambil menunduk. Suaraku parau, mungkin karena terlalu banyak menangis.

“Kau terlalu banyak menyangkal, Yunmi-ah. Setidaknya dulu kau harus bilang padaku jika kau menyukainya,” kata Hyemin. Nadanya terdengar kecewa. Aku tau, aku tau, aku ini memang sangat bodoh. Gara-gara ini aku banyak menyesal. Harusnya aku tau, walau aku menyesal beribu-ribu kali pun, itu semua tidak akan ada gunanya.

“Sudahlah, menyesal juga tidak ada gunanya,” aku tersenyum kecil. “Oppa, aku titip kartu ini, ya. kau bisa memberikannnya pada Baekhyun oppa bukan?”

“Kenapa tidak kau berikan sendiri saja? Aku malas,” ucapnya malas lalu memberikan kartu ucapan itu padaku secara paksa. Sepertinya aku ini benar-benar orang yang hanya bisa merepotkan orang-orang di sekitarku.

“Aku melakukan ini untuk memperbaiki hubungan kalian. Jika kau benar-benar ingin hubungan kalian kembali seperti dulu, kau harus berusaha karena kami berdua tidak akan membantumu. Ini semua terjadi karena dirimu sendiri, Yunmi-ah,” lanjutnya dengan suara tegas. Perkataannya tadi sukses membuatku tertunduk dalam, memikirkan kata-katanya barusan.

“Maafkan aku Yunmi, tapi yang diucapkan Luhan oppa memang benar dan aku tidak bisa membantumu. Jeongmal mianhae.” Aku mengangguk lemah saat mendengar ucapan Hyemin. ini semua memang karena kebodohanku.

“Kajja kita pergi. Sebentar lagi pertunjukkannya di mulai.” Luhan oppa langsung pergi sambil menarik tangan Hyemin, meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus ini.

Setelah mereka pergi, suasana benar-benar menjadi sepi. Hanya ada satu-dua orang yang berlalu lalang di sekitar sini. semua orang mungkin sedang menonton pertunjukan drama itu. kurasa hanya diriku yang tidak menontonnya.

Kutatap lagi kartu ucapan itu. pandanganku mulai buram. Aku akan menangis lagi sepertinya.

Tidak, aku tidak mau menangis lagi. Aku harus kuat. Aku dilahirkan untuk menjadi perempuan yang kuat bukan? Kutepuk kedua pipiku dan kulebarkan kedua mataku untuk menghilangkan air mata yang menggantung di kedua pelupuk mataku.

“Aku kuat, aku kuat,” bisikku pada diri sendiri sambil tersenyum mencoba menguatkan diriku sendiri.

Tidak berguna. Walau aku mencoba untuk sekuat apapun, hatiku sudah hancur. “Kenapa aku harus selemah ini?” lirihku sambil tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan seluruh air mataku yang tumpah ruah. Aku menangis lagi.

“Maaf,” suara seseorang menginterupsiku. Aku lekas menghapus air mataku dan berbalik. Tapi, sebelum aku sempat melihatnya, dia langsung menutup mataku dengan kedua tangannya.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan untuk membuatmu berhenti menangis, tapi kumohon, berhentilah menangis. aku benar-benar merasa sangat bersalah jika melihatmu seperti ini,” bisiknya tepat di telingaku. Aku tidak dapat mengenali suaranya karena dia hanya berbisik.

“Oppa, maafkan aku,” aku berbisik tanpa sadar, tidak mengerti untuk siapa kata-kata itu ditujukan. Air mata yang sejak tadi kutahan mulai menetes satu persatu. Aku tidak mengerti kenapa aku menangis semakin deras saat orang itu mulai merengkuh bahuku dari belakang. Pelukannya hangat dan langsung membuatku tersadar bahwa orang ini Baekhyun oppa.

“Oppa, kenapa kau ada di sini? kau tidak bersiap ke pentas?” aku melepaskan tangannya yang menutup mataku dan segera menjauh, sekadar untuk memastikan bahwa itu memang Baekhyun oppa.

And yeah, itu memang Baekhyun oppa. entah kenapa, air mata yang tadi tidak mau berhenti ini langsung berhenti saat melihat wajahnya. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tidak melihat wajahnya itu. beberapa hari belakangan ini dia selalu menghindarku dan mengacuhkanku. Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu. aku tidak merasa telah melakukan suatu kesalahan. Tapi… mungkin aku memang selalu salah dimatanya.

Baekhyun oppa tertunduk dalam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Alih-alih menjawab pertanyaanku tadi, dia malah duduk di bangku yang kududuki tadi dan menarikku untuk duduk di sampingnya. Kemudian yang paling membuatku berdebar adalah, dia meraih tanganku dan menatapku dalam. “Aku tidak bisa melakukan adegan romantic selain denganmu.” Dan perkataannya barusan hampir membuatku kehilangan kesadaran diri.

“Oppa, bukankah kau menyukai Kim Eunji?” tanyaku hati-hati. Bukan, aku tidak bermaksud untuk mengusik hal pribadi seseorang. Aku hanya ingin memastikan keadaan yang sebenarnya.

“Kenapa kau ingin tau? Bukankah aku bukan apa-apa bagimu,” sahutnya sinis yang membuatku menganga. Astaga. Jadi dia mendengar percakapanku dengan Chanyeol yang lalu?

“Tidak, kau salah oppa. itu tidak seperti keliatannya. Aku, aku hanya…” tanganku yang berda di genggamannya bergetar hebat membuatku tidak melanjutkan kata-kataku barusan. air mata yang tadi menghilang kembali menyeruak.

“Kau tau kenapa aku menghindarimu belakangan ini?” aku mendongak dan langsung disambut dengan tatapan hangat Baekhyun oppa.

“Aku cemburu melihatmu akrab dengan pria tinggi tempo hari yang bersamamu. Aku juga kesal mendengarmu berkata bahwa aku tidak berarti apa-apa bagimu. Dan yang paling membuatku menghindarimu adalah aku selalu marah ketika melihatmu. Saat aku melihatmu, aku selalu ingin menarikmu dan membawamu pergi dan meminta penjelasan atas semua sikapmu padaku. Apa kau tidak sadar bahwa selama ini aku mencintaimu?”

Mataku seakan ingin meloncat keluar saat mendengar ucapannya. Aku tidak percaya bahwa selama ini dia mencintaiku. Aku bahkan tidak tau apa lagi yang harus kupikirkan.

“Yunmi-ah, kali ini kuperjelas padamu bahwa aku mencintaimu dan aku tau dengan jelas bahwa kau mencintaiku. Apa aku perlu menjelaskan semuanya?”

Aku menggeleng cepat. “Jangan sekarang. Aku tidak bisa berpikir apapun dengan jernih untuk saat ini. aku bahkan terlalu bingung dengan semua kesalahpahaman ini.”

Baekhyun oppa tertawa singkat dan mengacak-acak rambutku. “Kau ini ada-ada saja. Jadi?”

“Jadi apanya?”

“Jadi kurasa, kita sekarang adalah sepasang kekasih bukan?” Baekhyun oppa tersenyum hangat dan menarikku kembali dalam rengkuhannya.

Story 2 End.

Advertisements

2 thoughts on “[FF] EXO Love Story Series | Story 2: Stay With Me

  1. bubble tea November 27, 2013 / 8:35 pm

    Kerenn..sweet bngt..keep writing thor

    • hanahanazing November 27, 2013 / 8:54 pm

      hehehe makasih yaaa. siaapp, tunggu karya saya berikutnya ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s