[FF] Not a Simple First Love Story

not a simple first love story

Title     : Not a Simple First Love Story

Author: Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Cast     : Kang Minra [OC], Park Chanyeol [EXO], and Go Ahra [OC]

Genre  : Romance, Hurt/Comfort, and other

Length: One Shoot

Rating  : teen

 

Kang Minra POV

Hari ini akan ada pensi, jadi seharian penuh kita nggak ada belajar. Yeeeesss! Itung-itung refreshing dari hari-hari yang di penuhi belajar dan bimbel. Maklum, kami sudah kelas 12 dan harus menghadapi ujian beberapa bulan yang akan datang. Lumayanlah, daripada sama sekali nggak ada hiburan kan?

Tapi sayangnya, anak kelas 12 dilarang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Anak kelas 12 hanya boleh menikmati acara ini. Yasudahlah, nggak papa, yang penting ada hiburan di sela-sela semua kemumetan ini.

Agaknya, aku sedikit penasaran dengan pementasan klub teater. Kudengar, mereka akan membawakan drama Snow White. Ya ampun, kita ini sudah SMA, tapi kenapa masih juga bawain drama Snow White? Memang sih, ceritanya keren banget dan aku sangat suka dengan alurnya, tapi itu ketika aku masih kecil. Sekarang sih, aku biasa saja dengan Snow White itu. masa ada sih orang sembuh gara-gara sebuah ciuman dari seorang pangeran tampan? Itu kan sangat nggak mungkin. Well, semua cerita dongeng seperti itu berakhir dengan bahagia, padahal faktanya adalah nggak semua orang bisa berakhir happy ending seperti Snow White. Contohnya ya, diriku sendiri, sudah lama aku memendam rasa pada Chanyeol, tapi cintaku ini tak kunjung berbalas. Padahal Ahra sudah mendukungku, tapi tetap aja aku apes. Yah, dibandingkan diriku, Ahra memang lebih dekat dengan Chanyeol. Fakta yang menyakitkan. Aku kadang curiga, jangan-jangan mereka memang ada hubungan apa-apa. Eh, tapi setelah kupikir sih itu nggak mungkin.

Ngomong-ngomong, sepertinya Chanyeol tau tentang perasaanku. Tapi, dia nggak pernah sih menanyakannya langsung padaku. Untunglah. Kalau dia sampai dia menanyakannya padaku, aku rasa aku bakal mati konyol dengan muka memerah seperti kepiting rebus dan mulut menganga selebar daun kelor. Tapi, aku juga bingung sih Chayeol tau aku suka sama dia itu darimana. Nggak mungkin kan Ahra yang membocorkannya? Aku percaya padanya kok. Untungnya lagi, sepertinya Chanyeol tidak ilfil padaku, malah dia terkesan ngasih harapan padaku. Aah, aku nggak boleh terlalu berharap, nanti jatuhnya pasti sakit banget.

“Ahra, kita keliling yuk,” ajakku pada Ahra yang sedang telungkup di bangkunya. Anak ini kenapa sih? Dari tadi pagi aneh begini. Emangnya dia lagi patah hati?

“Mianhe. Aku agak sedikit pusing. Kau bisa pergi keliling sendiri, kan?” tolaknya masih dengan kepala menelungkup di meja.

“Oh, ne, kau istirahat saja di sini. Aku pergi ya,” ujarku sambil mengangkat bahu. Heran, tiba-tiba anak itu jadi berubah gini. Ada apa ya? Apa dia punya masalah baru-baru ini?

Haah, sudahlah, cepat atau lambat nanti dia pasti akan cerita padaku. Aku tahu kalau dia anaknya tidak bisa memendam lama-lama sendirian.

Eh? Jam berapa ini ya? ya ampun! Sudah jam 11! Bentar lagi teater mau mulai. Aduh! Di mana lagi mereka mentasnya? Ah, kayanya di aula deh. Ya sudah, aku ke sana aja dulu.

Aku nyelempit di antara desakan orang-orang yang juga ingin menonton pertunjukan drama. Semuanya ingin menonton di barisan depan. Ah, dengan tubuhku yang pendek ini pasti gampang aja nyelempit diantara ratusan orang itu. Ternyata banyak juga yang tertarik nonton pentas drama. Aku kira sedikit aja. Yah, mungkin gara-gara yang memerankan tokoh Snow White-nya itu cantik dan inceran hampir seluruh cowok di sekolah ini.

“Minra, pertunjukkannya belum mulai kan?” bisik seseorang tiba-tiba yang langsung membuatku kaget. Orang itu memegang pergelangan tangan kiriku.

Aku menoleh, ternyata itu Chanyeol. Bikin kaget aja. Tapi, wajahnya terlalu dekat denganku. Aduh, jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat. Ah, ini jantung kok nggak bosan-bosannya sih berdetak lebih cepat? Bikin aku keringat dingin tau. “Eh, belum kok. Kau ingin nonton juga?”

Chanyeol mengangguk sambil memperlihatkan senyum tipisnya. “Ne, sepertinya ini aja yang menarik perhatianku. Oya, mana Ahra?”

“Oh, Ahra, dia di kelas tadi. Sepertinya lagi sakit,” jelasku. Kulihat dia hanya mengangguk-angguk cuek sambil tetap melihat panggung. Kenapa lagi dengan dia?

“Eh, pertunjukkannya udah mau mulai tuh,” ucap Chanyeol yang tau-tau melihat ke arahku sambil tersenyum lebar. Lagi-lagi aku ketangkap basah karena sudah memperhatikannya.

“Waeyo? Kau terpesona akan ketampananku ya?” gurau Chanyeol. Ya ampun, ternyata aku belum melepaskan pandanganku darinya.

“Ih! Males banget,” kataku sambil memutar kedua bola mataku dan mengalihkan pandanganku darinya.

 

***

 

“Yyaa! Pertunjukkannya itu belum selesai, kenapa kau malah menarikku keluar?” protesku saat Chanyeol menarikku keluar dari aula ketika pementasan drama belum kelar. Padahal itu lagi puncak-puncaknya, saat Snow White pingsan dan datang pangeran tampan untuk membangunkannya!

“Buat apa? Bukankah kau sudah mengetahui akhirnya?” Chanyeol malah berkata santai tanpa dosa. Enak saja dia bilang begitu!

“Ah! Kau benar-benar orang yang paling mengesalkan sejagad raya!” bentakku dan langsung ngacir pergi. Dia sangat berhasil untuk menghacurkan mood-ku hari ini.

“Minra, jangan ngambek dong.” Chanyeol menahan pergelangan tanganku dan membalikkan tubuhku, mencoba membuatku berhadapan dengannya. Jantungku lagi-lagi berdetak lebih cepat karena ulahnya ini.

“Apa lagi sih?” ucapku pura-pura kesal untuk menutupi detak jantungku yang berdebar 1000 kali lebih cepat.

“Aku kan cuman mau bilang,” Chanyeol tidak menyelesaikan ucapannya tapi malah mendekatiku dan membisikiku, “I love you, would you be my girl?”

Tunggu dulu, aku tidak sedang bermimpi kan? Atau aku tiba-tiba jadi berhalusinasi gara-gara terlalu menyukainya? Tidak, sepertinya ini nyata dan Chanyeol baru saja nembak aku. N-E-M-B-A-K. Walaupun Chanyeol hanya menembakku hanya dengan delapan kata, tapi delapan kata itu mampu membuat duniaku terguncang.

Hei, c’mon! Minra! wake up!

“Mwo? Kau bilang apa tadi?” ucapku setelah terbangun dari lamunan.

“Aku sangat yakin kau mendengarnya tadi. Atau kau ingin aku mengulanginya sekali lagi?” tanyanya dengan wajah yang sungguh manis. Ya ampun, kalau aku beneran jadi pacarnya, bisa-bisa aku selalu meleleh ketika berada di dekatnya. Yaah, ibaratnya dia adalah matahari dan aku adalah es krim yang selalu meleleh kalau terkena cahayanya.

“Aku hanya ingin memastikan pendengaranku. Aku tidak mau kalau ternyata aku salah denger,” gumamku dengan wajah menunduk. Aku baru ingat, pasti sedari tadi mukaku memerah.

“Kalau begitu, aku akan mengulanginya sekali lagi untuk meyakinkanmu. Minra, maukah kau menjadi yeojachingu-ku?” Perkataannya seolah mempertegas ucapannya yang tadi. Nggak diragukan lagi, pasti aku menerimanya.

Akhirnya aku mengangguk dengan wajah tersipu-sipu dan memerah. Chanyeol tersenyum lebar dan mengelus-ngelus puncak kepalaku. Haaah, dream comes true.

 

***

 

“Ahra, akhirnya, akhirnyaaa…” pekikku ketika masuk ke kelas dan mendapati Ahra sedang menunduk.

“Akhirnya, aku jadian juga dengan Chanyeol. Lho? Kamu nangis? Wae? Neo gwenchana? Ada masalah?” saat aku mendekatinya, aku baru sadar kalau ternyata Ahra sedang menangis.

“Gwenchana. Hanya masalah spele.” Tentu saja aku tidak mempercayai ucapannya. Lihat saja, matanya itu sembab seperti habis menangis semalaman. Tunggu, apa mungkin dia memang habis menangis semalaman? Aku baru ingat bahwa dari tadi pagi, Ahra memang sengaja menghindari kontak mata denganku dan bodohnya aku malah tidak sadar.

“Spele gimana? Aku yakin ini bukan masalah ringan. Kau bisa ceritakan apapun padaku,” kataku sedikit menenangkannya.

Ahra menggeleng. “Aniya, aku bisa nyeleseinnya sendiri. Lagian, ini masalah pribadiku. Mianhe. Suatu saat nanti kau akan mengetahuinya.”

Aku hanya mengangguk dan kembali ingat tentang kejadian tadi dan langsung nyerocos panjang lebar tanpa memberi sedikitpun waktu untuk Ahra bertanya.

 

***

 

Sudah seminggu hubunganku berjalan dengan Chanyeol dan semuanya terasa baik-baik saja. Sikapnya selalu manis dan lembut padaku membuatku selalu meleleh. Aku masih belum terbiasa dengan ini semua.

Aku sering ke kantin bareng dengannya sambil ngobrol tentang banyak hal. Kadang aku berpikir, apa kami ini terlihat seperti pasangan? Hush! Nggak usah mikir yang aneh-aneh ah.

Oya, sampai mana tadi? oh ya aku baru ingat. Nah, jadi kami sering jalan ke kantin berdua. Aku sering mengajak Ahra juga namun dia selalu menolak dan ketika aku melihat ke arahnya, dia hanya mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh arti. Aku mengerti arti senyum itu. dia tau saja kalau aku ingin berdua saja dengan Chanyeol.

Sekarang, aku sedang berjalan pulang sendirian. Chanyeol sedang ada urusan di klub basketnya, sedangkan Ahra, dia ingin ke perpustakaan sebentar, mengembalikan buku katanya. Sudahlah, karena mereka ada urusan, aku pulang duluan saja. Eh, tapi kan ngembalikan buku itu cuman sebentar, berarti aku bisa menunggu Ahra sebentar di gerbang. Akhirnya, kuputuskan untuk menunggu Ahra di gerbang daripada aku pulang sendiri.

“Chanyeol-ah! Kau kenapa bersikap seperti ini padaku? Kau dulu tidak seperti ini. Ada apa? Apa aku punya salah padamu? Kau berubah!” teriak seseorang dari dalam sekolah. Suaranya bergetar seperti menahan tangis. Sepertinya, dia tidak jauh dari tempat aku menunggu sekarang. Eh? Dia bilang apa tadi? Chanyeol???

“Berubah? Berubah apa? Aku tidak ada berubah,” balas suara seorang cowok yang sepertinya itu Chanyeol. Nadanya terdengar dingin dan ketus. Aku penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan Chanyeol? Aku akhirnya mengintip sedikit dan kaget karena suara yang tadi berteriak adalah milik Ahra. Sebenarnya ada apa?

“Hah? Kau bilang, kau tidak ada berubah? Kau hanya menegurku kalau di depan Minra, sedangkan kalau tidak ada dia, kau bahkan menganggapku tidak ada!” Ahra terdengar frustasi. Kenapa pula dia nyebut-nyebut namaku?

“Bukankah itu yang kau mau? Menganggapmu tidak ada dan berpacaran dengan Minra? Sekarang kau puas, hah?” Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap Ahra dengan tajam. Jadi, selama ini aku hanya dipermainkan? Ironis banget nasibku. Sepertinya di dunia ini tidak ada seorangpun yang perduli padaku kecuali keluarga terdekatku.

Aku mencoba untuk keluar dari persembunyianku, namun kakiku tidak ingin menuruti perintah otakku. Tiba-tiba, terdengar suara petir dan langit yang awalnya hanya sedikit mendung menjadi semakin gelap. Pas banget sama keadaanku saat ini.

“Aniya, aku sama sekali tidak puas dengan semua ini. Aku tau aku salah, tapi bisakah kau tidak bersikap seperti ini padaku?” air mata Ahra mengalir deras, begitupun dengan air mataku. Sama sekali tidak bisa ditahan.

“Kenapa memangnya? Bukankah aku tidak penting bagimu? Bukankah kau tidak menyukaiku seperti aku menyukaimu? Kalau memang seperti itu, kenapa kau harus peduli dengan sikapku?” balas Chanyeol masih ketus. Hujan mulai turun dan menjadi semakin deras. Kenapa keadaannya begini? Benar-benar seperti drama! Aku nggak kuat lagi menghadapi kenyataan selanjutnya.

Ahra menggeleng kencang. “Aku sebenarnya menyukaimu,” ucap Ahra dengan suara yang lebih pelan ketimbang tadi dan ucapannya tambah membuat kenyataan ini semakin pahit. “Aku memintamu untuk jadian dengannya karena aku tau kalau Minra juga menyukaimu. Aku hanya mencoba untuk tidak bersikap egois.”

Akhirnya aku keluar ke hadapan mereka sambil mencoba menahan gejolak emosiku yang meluap-luap. Betapa bodohnya aku selama ini, tidak menyadari mereka kalau mereka itu saling mencintai. aku terlalu buta untuk melihatnya.

“Hanya mencoba untuk tidak bersikap egois? Hah! pembohong! Kalian benar-benar hebat untuk menipuku selama ini, ya? Sudah berapa lama kalian melakukan ini?” kataku sinis, walaupun terlihat tidak cocok karena aku sedang menangis, tapi sekarang kan lagi hujan, jadi tidak ada yang tau kalau aku menangis.

“Minra, aku bisa menjelaskan semuanya,” kata Ahra yang kaget karena aku tiba-tiba berada di sana.

“Cukup! Sudah cukup kalian membohongiku dan aku tidak mau tambah di bohongi oleh ucapanmu! Perkataan kalian sudah menjelaskan semuanya!” teriakku. Untungnya sekolah sudah sepi dan tidak ada yang mendengar ini semua.

“Aku tidak bohong. Jebal, kau harus percaya sama aku,” ujar Ahra sambil menangis.

Aku memejamkan mata sebentar, menahan kemarahanku. “Mian, tapi aku tidak mau di bohongi terus-menerus.” Aku lalu membalikkan badan, bermaksud untuk pergi dari sana secepat mungkin.

“Kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasannya? Kau tau? kau itu egois! Gara-gara kau, aku dengan Ahra tidak bisa bersama. Ini semua salahmu! Aku—”

“Chanyeol! Cukup! Kau tidak perlu berkata sekasar itu!” sela Ahra yang ingin menghentikan Chanyeol.

“Aku belum selesai! Biarkan aku menyelesaikan ucapanku,” kata Chanyeol yang membungkam mulut Ahra. Aku tidak pernah menduga kalau Chanyeol bisa bersikap sekasar ini.

Chanyeol kembali menatapku dengan tajam. “Aku tidak habis pikir kenapa kau malah berbuat seperti ini. Dan sekarang, ketika Ahra menyerahkan cintanya padamu, kau malah marah dan bersikap seperti ini? Aku tidak menyangka kalau kau itu benar-benar orang yang egois!” perkataan Chanyeol menohokku. Ya, aku emang egois, tapi kalianlah yang membuatku menjadi egois.

“Heh, asal kau tau ya, aku bersikap seperti ini karena kalian. Kalau saja dari dulu Ahra mengatakan kalau dia suka padamu, aku pasti akan merelakanmu dengannya. Tapi, kau malah sengaja mempermainkanku hanya untuk menuruti permintaan Ahra? Siapa yang tidak marah kalau dirinya dipermainkan? Kau sadar dong, gimana rasanya. Kau tidak pernah kan berada di posisiku? Sakit! Kalianlah yang membuatku egois! Dan satu lagi, kau itu ternyata orang yang benar-benar labil! Tadi, kau marah pada Ahra tapi sekarang kau malah membelanya? Dasar labil! Kenapa aku bisa suka sama orang yang labil sepertimu? Hah! aku menyesal sudah pernah menyukaimu dan pernah menjadi teman kalian berdua! Aku tidak akan pernah menganggap pertemanan kita! Tidak akan pernah!” balasku sambil teriak. Tidak ada satupun dari mereka yang menanggapi ucapanku, mereka hanya diam dengan ekspresi terkejut karena perkataanku yang kasar itu. Terlebih muka Ahra yang terlihat sedih dan sakit hati. Biarkan saja, aku sudah tidak peduli pada mereka.

“Selamat! Aku sudah pergi dan kalian bisa jadian. Aku tidak akan ganggu kalian berdua lagi!” lanjutku dan langsung berlalu pergi sambil menangis deras.

Inilah akhir kisah cinta pertamaku, sangat tragis memang. Cowok yang kusuka malah menyukai sahabatku sendiri dan parahnya, sahabatku juga menyukainya. Sudahlah, aku tidak ingin mengingat kejadian ini lagi. Akhirnya, aku patah hati karena cinta pertamaku dan aku bertengkar dengan sahabat terbaikku. Ironis? Memang.

Advertisements

4 thoughts on “[FF] Not a Simple First Love Story

  1. febby_rezza♡kyu November 24, 2013 / 4:27 pm

    huhuiii.. first…

    • hanahanazing November 24, 2013 / 4:57 pm

      haha masih sepi sih soalnya, jd km yang pertama 😀

  2. wisnu03 November 24, 2013 / 4:55 pm

    whoa,, wordpress mu kah ini mi? hahaha XD

    • hanahanazing November 24, 2013 / 4:58 pm

      hush nggak usah ketawa wis -_- aku baru belajar ini, lagian kan aku hanya menyalurkan tulisanku u,u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s