[FF] EXO Love Story Series | Story 3: Come Back, Be Here (1st Shoot)

come back, be here

Title                 : Story 3: Come Back, Be Here (1st Shoot)

Author             : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Main Cast        : Oh Seorin [OC] and Kim Joonmyun [EXO]

Support Cast    : Han Yura [OC], Oh Sehun [EXO]

Length             : Two Shoot—Series

Genre              : Romance, Hurt/Comfort, and other

Rating              : PG-15

A/N                  : terinspirasi dari drama korea favorite saya, Boys Before Flower! Hehe drama itu udah sering banget saya tonton, tapi tetep suka. Apalagi lee min ho ganteng >.< hmm, kalo ada bagian yang lain yang mirip, itu hanya kebetulan semata. Karena selain dari bagian inspirasi itu, sisanya benar-benar murni dari otak saya yang sering ngadet ini hehe 😀

Ini idenya mainstream banget deh pokoknya. Banyak banget ff kyk gini beredar di pasaran (?). tp coba aja di baca, siapa tau pada suka /eh?

Oya, judul terinspirasi full oleh judul lagunya taylor swift, habisnya saya bingung mau kasih judul apa u,u. tapi, judul sama isi tetep nyambung kok, walau cerita ini beda bgt sama isi lagu itu.

ngomong-ngomong gimana tuh cover ff nya? lumayan kan yaa drpd yg kemaren-kemaren XD . yaah setidaknya lebih rapi walau yaah masih blm bagus-bagus banget. namanya juga masih belajar kan, jd wajar kalo blm profesional 😉

“APA? DIJODOHKAN?” pekik Joonmyun saat mendengar perkataan yang dilontarakan ibunya. Kedua matanya membelalak. Bahkan kedua tas yang ada di genggamannya tadi terlepas jatuh ke lantai. Bagaimana mungkin saat dia baru saja memasuki kamarnya untuk melepaskan penat, ibunya sudah berada di sana dan berkata bahwa dirinya akan dijodohkan? Tentu saja dia langsung memekik saat mendengar penuturan ibunya yang tiba-tiba seperti ini.

“Tidak, Bu. Aku tidak mau melaksanakan perjodohan ini,” lanjutnya lagi dengan gusar. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

“Tapi, Joonmyun, Ibu sudah merencanakan perjodohan ini sejak kau masih kecil. Ibu tidak bisa begitu saja membatalkannya,” jawab Nyonya Kim sambil mendudukkan dirinya di samping Joonmyun yang terlihat sangat kesal. Jarang sekali Joonmyun terlihat seperti ini. Selama ini dia selalu bersikap sopan dan sabar, tidak pernah sekalipun dia membantah perkataan orangtuanya. Tapi, kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.

“Ibu, bukankah Ibu sudah tahu kalau aku mempunyai pacar? Bisakah Ibu membatalkannya? Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya karena perjodohan ini,” ucap Joonmyun menahan kekesalannya. Biar bagaimanapun dia tidak mungkin meneriaki ibunya.

“Ibu tahu kalau kau sudah mempunyai pacar dan tidak bisa meninggalkannya begitu saja, tapi Ibu juga tidak bisa membatakan perjodohan ini begitu saja. Bagaimana kalau kau memberikan kesempatan untuk gadis itu?” tanya Nyonya Kim membuat penawaran.

Joonmyun menatap ibunya dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Pikirannya sudah cukup memusingkan saat ini, dan dia tidak punya tenaga lagi untuk mengatur raut wajahnya. “Baiklah, aku akan memberikan kesempatan untuk perjodohan ini tapi, hanya satu bulan. Biar bagaimanapun aku tidak mungkin menerima perjodohan ini,” putusnya setelah berpikir beberapa saat.

Nyonya Kim menyunggingkan senyumnya saat mendengar keputusan Joonmyun. Walau dia bilang tidak akan menerima perjodohan ini, setidaknya Joonmyun sudah memberi kesempatan. Soal perasaan dan urusan jatuh cinta, bisa dipikirkan belakangan. Lagipula, gadis yang akan dijodohkan dengan Joonmyun sangat cantik. Besar keungkinan Joonmyun akan jatuh cinta dengan gadis itu. “Oke, Ibu menerimanya.”

“Tapi, Ibu harus berjanji untuk tidak mengganggu keputusanku nanti,” kata Joonmyun cepat untuk memperingatkan ibunya.

“Ya, Ibu berjanji. Baiklah, kalau begitu sebaiknya kau lekas istirahat. Ini sudah larut.” Nyonya Kim menepuk pelan puncak kepala Joonmyun sebelum keluar dari kamar Joonmyun.

Sesaat setelah Nyonya Kim keluar, Joonmyun langsung merebahkan tubuhnya. Sebelah tangannya menutupi kedua matanya. “Semoga saja aku tidak melakukan hal yang salah,” gumamnya.

***

Dengan satu tangan bertumpu pada dagunya, Joonmyun memandang gadis di hadapannya yang sedang memakan sandwich yang dibawanya dari rumah sambil membaca majalah fashion. Gadis itu seakan tidak sadar—atau memang tidak sadar—bahwa sedari tadi Joonmyun memandangnya dengan serius, seperti tidak akan melihat gadis itu lagi.

“Oppa, bisakah kau berhenti menatapku? Aku sudah tidak bisa berpura-pura tidak tahu bahwa kau sedang menatapku,” tegur gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah. Dia bahkan masih sibuk mengunyah sandwich itu. Tak ayal ucapannya tadi setengah tidak jelas. Joonmyun saja harus berpikir sebentar sebelum memahami ucapan gadis itu.

“Seharusnya kau telan dulu makananmu lalu, kau bisa menegurku. Kau bisa tersedak kalau makan dengan cara seperti itu,” balas Joonmyun datar. Dia mengambil satu potong sandwich dan mulai memakannya. Sebenarnya dia dan gadis itu—Seorin—sudah tidak memiliki jadwal kuliah lagi untuk hari ini dan mereka bisa pulang tapi, sejak tadi Joonmyun menahan Seorin di café kampus dengan alasan ada yang ingin dibicarakannya. Namun, sejak tadi Joonmyun tidak mengatakan hal apapun yang penting. Yaah, tapi Seorin menikmati waktu seperti ini, waktu dimana mereka hanya berdua tanpa ada hal serius yang dibicarakan. Belakangan suasana seperti ini jarang terjadi karena kegiatan mereka mulai dipenuhi dengan jadwal dan tugas kuliah.

Seorin seperti tidak memperdulikan ucapan Joonmyun dan tetap memakan sandwich-nya dengan santai. Sejujurnya, dia melakukan hal itu untuk menutupi kegugupannya karena ditatapi terus oleh Joonmyun. Sungguh deh, kenapa Joonmyun terus menatap Seorin seperti itu? Apa di wajah gadis itu ada sesuatu yang aneh? Ada sisa makanan mungkin di pipinya? Atau jangan-jangan ada coretan lipstick di wajahnya?

Seorin buru-buru mengambil kaca di tas-nya saat memikirkan satu kemungkinan terburuk tersebut. Akan benar-benar memalukan jika hal itu benar-benar terjadi. Rasanya, tadi saat di toilet dia memang sempat memakai lipstick sebelum menuju café kampus. Tapi, sepertinya tidak mungkin Seorin pergi begitu saja dari toilet tanpa memeriksa penampilannya terlebih dahulu.

“Tidak ada apa-apa kok. Tidak ada yang aneh. Lalu, kenapa dia terus menatapku seperti itu? Apa di wajahku ada yang aneh?” gumam Seorin kecil sambil memandang pantulan wajahnya di cermin. Dia bahkan sempat memeriksa giginya. Sepertinya dia tidak sadar Joonmyun mulai menahan tawa saat melihat tingkahnya.

“Wajahmu tidak aneh, kok. Kau sangat manis. Aku memandangmu seperti itu karena aku suka. Tidak boleh?” kata Joonmyun yang langsung membuat Seorin diam seperti patung. Perkataannya tadi suskses membuat Seorin tidak bisa berpikir. Bahkan, untuk beberapa saat dia lupa caranya bernafas.

“Astaga! Ayo bernafas!” Seorin berucap dengan panic dan langsung menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan terburu-buru. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat sekarang. Dia memang sering berdebar-debar saat berada di dekat Joonmyun tapi, keadaan seperti ini jarang terjadi sehingga kata ‘berdebar-debar’ saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaannya. Itu seperti berdebar-debar dipangkatkan seratus atau seribu atau sepuluh ribu atau berapapun. Yang jelas saat ini Seorin benar-benar sangat gugup.

Joonmyun tertawa kecil saat melihat tingkah Seorin yang lucu. Sungguh sangat menyenangkan melihat gadis yang kau sukai melalukan perbuatan konyol yang menurutmu sangat manis, bukan? Dan Joonmyun benar-benar menyukai hal ini. Inilah salah satu alasan kenapa dia benar-benar mencintai Seorin. Gadis itu manis dan sungguh apa adanya—walaupun dia sering selalu ingin tampil cantik di hadapan Joonmyun. Padahal, Seorin tetap cantik walau tidak berdandan. Dia memiliki kecantikan alami.

“Oppa! Berhentilah menertawaiku! Tingkahmu itu benar-benar tidak menyenangkan,” gerutu Seorin sambil menyembunyikan wajahnya di balik majalah.

“Kau tahu kalau kau sangat manis bukan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat berada di dekatmu,” ujar Joonmyun sambil menarik majalah yang menyembunyikan wajah Seorin yang merah padam. Seorin sebenarnya merasa agak aneh dengan sikap Joonmyun yang berbeda dari biasanya tapi, dia cukup senang dengan tingkah Joonmyun saat ini—yaah, walau dia mengatakan hal sebaliknya tadi.

“Berhentilah mengatakan hal seperti itu. Jantungku tidak bisa berdetak normal kalau kau tidak berhenti. Apa kau mau aku mati muda gara-gara jantungku terus berdetak cepat, eoh?” ucap Seorin yang terlihat seperti gurauan daripada ucapan yang serius.

Joonmyun kembali tersenyum mendengar ucapan Seorin. “Baiklah, aku akan berhenti. Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu.” Joonmyun bangkit dari duduknya sambil menunggu Seorin yang mulai membereskan barang-barangnya. Niat awal Joonmyun mengajak Seorin kemari adalah untuk mengatakan hal yang dibicarakan dengan ibunya semalam namun, sepertinya Joonmyun tidak bisa melakukan hal itu sekarang. Suasananya tidak mendukung dan dia tidak ingin merusak suasana menyenangkan seperti ini. Joonmyun tidak ingin melihat senyuman di wajah Seroin digantikan oleh buliran air mata yang akan menyayat hatinya jika melihatnya.

Drrtt… Drrtt…

Joonmyun melirik nama panggilan yang tertera di ponselnya.

Ibu.

Tch, Joonmyun tidak akan mengangkatnya. Paling-paling ibunya menelpon hanya untuk mengatakan hal yang berhubungan dengan perjodohan. Biarlah Joonmyun menjadi anak pembangkang untuk sementara waktu.

“Kau tidak mengangkatnya, oppa? Dari siapa?” tanya Seorin sambil bangkit dari duduknya.

“Tidak penting. Aku akan balik menelponnya nanti. Ayo kita pulang,” jawab Joonmyun datar tanpa memperdulikan tatapan Seorin yang keheranan. Semakin aneh saja sikap Joonmyun, pikirnya.

“Angkat saja oppa. Tidak baik membuat orang menunggu. Kalau begitu aku akan menunggumu di depan ya,” ucap Seorin dan langsung melangkah pergi.

Joonmyun tersenyum kecut. “Gadis bodoh. Kau bilang tidak baik membuat orang lain menunggu tapi, kenyataannya kau membuat dirimu menunggu,” gumamnya kecil sambil menatap punggung Seorin yang menjauh.

“Yeoboseyo?”

“…”

“Maaf, Bu, ada yang harus kulakukan tadi. Ada apa?”

“…”

“Sekarang? Aku tidak bisa.”

“…”

Joonmyun terlihat menghela nafas dengan kesal. “Baiklah, aku akan sampai di sana dalam waktu satu jam.”

Ini tidak baik. Ibunya memaksa untuk melakukan pertemuan dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya. Tch. Joonmyun bahkan tidak tahu nama gadis dan rupa gadis itu. Ini semua benar-benar menyebalkan.

***

Oh Seorin POV

“Noona!” aku tersentak kaget saat mendengar suara cempreng (oke, suaranya tidak cempreng sih sebenarnya) milik adik laki-lakiku satu-satunya. Namanya Oh Sehun dan baru berada di tahun pertama sekolah menengah atas. Aku tahu, dia masih bocah bukan? Benar tapi, dia memiliki badan tinggi yang tidak menunjukkan umur sebenarnya. Bahkan Joonmyun oppa saja kalah tinggi darinya. Ugh. Anak nakal itu selalu mengolokku soal itu. Tapi, dia senang sekali minta ditraktir bubble tea atau ice cream dengan Joonmyun oppa. Dasar anak nakal!

“Yyaaaa! Kenapa kau mengagetkanku, bodoh? Cepat sana pergi! Kau menggangguku!” bentakku kasar (oh ya, aku sering memperlakukannya seperti itu jadi jangan heran) sambil mendorongnya keluar dari kamarku secara paksa. Agak memerlukan tenaga karena tubuh anak itu benar-benar besar. Bagaimana mungkin Ibu bisa melahirkan anak yang begitu besar setelah melahirkanku yang kecil ini?

“Noonaaa~” oh tidak, tatapan memelas itu lagi. Aku benci mengakui hal ini tapi, dia benar-benar sangat imut jika melakukan hal seperti itu. Aku kadang tidak percaya dia adalah siswa paling tampan dan cool di sekolahnya, mengalahkan senior-seniornya dengan sekali tendang. Sulit dipercaya. Anak yang cerewet dan menyebalkan ini menjadi anak yang keren saat disekolah? Aku tidak akan mempercayai hal itu.

“Aku tidak akan terpengaruh dengan tatapanmu itu! Sana pergi!” aku menendang pantatnya agar dia bisa keluar dari kamarku secepatnya.

“Noona, dengarkan permintaanku ini satu kali saja, ya? Aku mohoon…” dia masih saja mengeluarkan tatapan itu saat sebelum aku menutup pintu di depan wajahnya.

“Tidak akan, Oh Sehun. Aku tahu kau akan menjebakku lagi,” kataku lalu menutup pintu kamarku dan menguncinya.

“Noona, aku tidak meminta apapun darimu kok. Aku hanya ingin noona menemaniku ke kedai ice cream yang baru buka. Aku janji aku akan bayar sendiri dan mentraktir noona.” Oke, ada yang terdengar aneh di sini. Tidak biasanya anak itu menggunakan bahasa formal denganku. Dan bahkan dia ingin mentraktirku? Aku yakin ada maksud dibalik semua sikapnya yang aneh itu.

Kubalikkan badanku dan memutar kunci lalu membuka pintu. Kulihat dia tersenyum senang saat melihatku membuka pintu. “Aku mendengar ada yang tidak beres di sini. Kenapa kau bersikap aneh?” tanyaku curiga sambil menyipitkan mataku, mencoba mengintimidasi bocah nakal itu.

“Ti, tidak kok. Aku hanya bersikap baik pada noona-ku tersayang,” rayunya yang langsung membuatku mencibir.

“Kenapa, sih? Bukannya kau bisa pergi sendiri ke kedai ice cream di depan sana? Untuk apa lagi aku menemanimu ke sana? Kau kan bukan anak kecil lagi.”

Dan aku melihatnya mengeluarkan cengiran sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. “Hehehe kedai ice cream itu agak jauh dari sini. Aku tidak bisa jalan kaki ke sana dan terlalu mahal kalau naik taksi.” Aku tahu itu, pasti ada permintaan di setiap sikap baiknya.

“Jadi, intinya kau ingin aku mengantarmu ke sana? Kau sepertinya memang tidak pernah melakukan sesuatu dengan ikhlas. Lagipula, kenapa harus kedai ice cream itu sih? Kedai ice cream yang biasanya memang kenapa?” kataku sambil mengambil kunci mobil di atas meja belajarku. Aku tidak punya pilihan lain selain mengantarkan bocah itu. Lagipula, ditraktir ice cream olehnya enak juga. Dan aku juga suntuk di rumah karena tidak ada yang dilakukan lagi setelah aku diantar pulang oleh Joonmyun oppa tadi. Tapi, ngomong-ngomong, sepertinya tadi dia buru-buru sekali. Ada apa, ya?

Sehun tersenyum semakin lebar saat melihatku mengambil kunci mobil. “Aku ingin mencoba kedai ice cream yang baru. Kudengar ice cream di sana lumayan terkenal dan mereka juga menjual bubble tea yang terdengar enak.”

“Dasar bocah! Aku tidak tahu bagaimana reaksi siswa-siswa di sekolahmu jika mereka mengetahui sifat aslimu yang seperti ini.”

“Bukankah noona juga sama sepertiku? Terlihat dewasa dan lembut jika dihadapan dengan teman-temanmu tapi, menjadi kasar saat berhadapan denganku. Untung saja Joonmyun hyung tahu sifat noona yang seperti ini.” Aissh! Anak ini menyebalkan. Selalu saja berhasil membalik kata-kataku.

“Kau mau kutinggal atau bagaimana? Ayo cepat pergi!” perintahku dengan kesal sambil berjalan menuruni tangga.

***

“Vanilla chocochip.” Aku mengatakan dengan singkat pada Sehun sebelum pergi meninggalkannya dan mencari tempat duduk. Ternyata café ice cream yang  dia sebutkan tadi tidak begitu jauh, hanya di taman sungai Han. Dasar pembohong. Bilang saja kalau dia tidak mau bercapek ria dengan besepeda kemari. Padahal jika dia ingin berolahraga sedikit, dia bisa sampai di sini dengan waktu 15 menit menggunakan sepeda. Kalau aku tahu, aku tidak akan mengantarnya sampai ke sini. Dan aku tidak perlu bersusah payah membawa mobil.

Tidak banyak yang kulihat di sini. Hanya ada satu orang yang memakai kostum pororo sambil menawarkan balon, dan selebihnya aku hanya melihat orang-orang berseliweran di depanku. Beberapa hanyalah anak kecil yang sedang bermain bola, dan yang lain para pasangan. Melihat ini membuatku sedikit iri. Sudah lama sekali aku tidak berkencan dengan Joonmyun oppa. Yang lain pergi kemari dengan pacarnya, dan aku malah pergi dengan adikku yang nakal itu. Haah, benar-benar tidak pantas.

Sehun menyodorkan satu cone ice cream vanilla chocochip ke hadapanku. Aku lihat dia menggantung satu kantong kresek—kupikir itu isinya bubble tea—di tangan kanannya dan membawa dua cone ice cream di masing-masing tangannya.

Aku memandang cone ice cream itu dan menyambut ice cream yang diserahkannya padaku. Sepertinya dia membeli yang rasa strawberry. Anak itu benar-benar menjadi cowok yang berbeda jika berhadapan dengan teman-temannya. Aku jamin dia tidak akan mau membeli ice cream rasa strawberry jika dia bersama temannya. Dasar muka dua!

Kami memakan ice cream kami dalam keheningan. Aku malas mengucapkan apapun dan hanya ingin menikmati ice cream vanilla chocochip gratisan dari adikku yang menyebalkan ini. ngomong-ngomong, rasa ice cream ini lebih enak dari rasa ice cream yang biasanya. Mungkin benar kata Sehun tadi, bahwa café ice cream yang ini memang enak. Atau mungkin juga karena ini adalah ice cream traktiran Sehun yang jarang sekali mentraktirku. Aku rasa memang di situlah letak penyebab kenapa ice cream ini terasa enak. Semua yang gratisan memang enak.

“Noona, ini aku yang salah lihat atau itu memang Joonmyun hyung?” tanyanya memecah keheningan sambil menunjuk pasangan yang sedang berjalan bergandengan. Lebih tepatnya sang gadis yang menggandeng lengan pria yang kata Sehun adalah Joonmyun oppa itu.

Dan memang setelah kuperhatikan itu memang Joonmyun oppa.

Tunggu sebentar, kenapa dia bersama gadis itu?

Dan kenapa gadis itu menggandeng gadis itu dan Joonmyun oppa membiarkannya saja?

Joonmyun oppa berselingkuh?

Aku tidak percaya ini!

“Noona! Jangan melakukan hal bodoh!” sempat kudengar Sehun berteriak tapi aku tidak memperdulikannya. Aku membuang begitu saja ice creamku yang tersisa dan melangkahkan kakiku dengan terburu ke arah mereka.

“Oppa!” panggilku sambil mencoba menahan rasa cemburuku dan menghentikan langkahku saat jarak kami sekitar 5 meter.

Joonmyun oppa menoleh dan terlihat terkejut saat melihatku. Sekarang kau baru terkejut hah? Dasar cowok playboy! Aku pikir dia berbeda, tapi ternyata sama saja jika bertemu dengan gadis secantik itu.

“Seorin-ah…” lirihnya. Aku memang tidak mendengar suaranya tapi, aku bisa membaca gerakan bibirnya. Bahkan mungkin, gadis cantik disampingnya saja tidak bisa mendengar suara Joonmyun oppa barusan.

Aku tersenyum. Senyum yang mengandung makna yang dalam. Dia pasti mengerti dengan arti senyum itu. Dan aku yakin sekali gadis itu tidak dapat menangkap makna dibalik senyumku ini.

Gadis cantik itu menatap Joonmyun oppa dengan tanda tanya besar di wajahnya. Kemudian dia tersenyum manis. Astaga, aku benar-benar kalah jika dibandingkan dengannya. Bahkan jika aku ini seorang lelaki, aku pasti mengencaninya juga.

“Dia kenalanmu? Kita datangi saja, bagaimana?” kudengar gadis itu berkata tanpa rasa beban. Dia kemudian menghampiriku yang masih berdiri mematung sambil menarik tangan Joonmyun oppa.

Kutatap tangan mereka yang saling bergandengan dan Joonmyun oppa dengan cepat menarik tangannya saat melihat arah pandangku.

“Kau temannya Joonmyun, ya? Salam kenal ya. namaku Han Yura, ah tapi kau bisa memanggilku Yura. Hmm, bisa dibilang aku adalah calon tunangannya,” katanya ramah sambil tersenyum lebar dan menggandeng lengan Joonmyun lebih erat. Aku bahkan tidak tahu bahwa Joonmyun oppa mempunyai calon tunangan. Aku tidak mengerti dengan situasi ini.

Aku kembali tersenyum. “Aku baru tahu jika Joonmyun oppa mempunyai calon tunangan,” kataku masih dengan senyum riang palsu di wajahku. “Ah ya, namaku Kang Seorin. Aku teman ‘dekat’ Joonmyun oppa. Salam kenal.” Aku menekankan kata ‘dekat’ hanya untuk membuat Joonmyun oppa sadar dengan situasinya. Entah kenapa aku tidak memilih untuk menjelaskan bahwa aku adalah kekasih Joonmyun oppa.

“Ke… kenapa kau ada di sini?” katanya dengan suara tercekat. Aku mendengar nada takut dan cemas dalam suaranya.

“Kenapa memangnya? Apa dia tidak boleh ke sini? Ayo, kita pulang,” jawab Sehun dingin yang tiba-tiba sudah berada di sampingku dan menarikku pergi. Aku sekarang bisa merasakan pancaran aura Sehun yang biasa dikeluarkannya saat di sekolah. Sepertinya inilah yang membuat Sehun digilai banyak gadis di sekolahnya. Dia benar-benar terlihat tampan dan dewasa saat ini. Dan saking kacaunya, aku sampai mengatakan hal yang tidak jelas.

Aku sempat mendengar suara gadis itu mengucapkan: “Siapa pria itu? Mereka berpacaran? Mereka terlihat cocok,” sebelum aku ditarik menjauh oleh Sehun. Kulihat untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, Joonmyun oppa terlihat menghela nafas dan menunduk dalam. Setelah itu, aku benar-benar pergi tanpa berbalik lagi.

***

“Noona…” aku mengangkat kepalaku saat mendengar suara Sehun. Dia ada di ambang pintu kamarku dengan wajah yang terlihat… sedih? Aku tidak tahu kenapa aku sampai berpikiran seperti itu. mana mungkin Sehun terlihat sedih saat melihatku dengan keadaan yang sangat menyedihkan ini.

“Apa?” tanyaku dengan suara serak sehabis menangis dengan mata yang kurasa sudah sembab sejak tadi. Sejak pulang dengan keadaan ngebut tadi, aku langsung masuk kamar dan tidak memperdulikan teriakan Ibu sata melihatku dengan air mata membanjir. Sehun sendiri sepertinya tidak mengucapkan apa-apa pada Ibu tentang kejadian barusan. Ibu sempat mengejarku sampai ke kamar tapi, sepertinya Sehun menahan Ibu dan membawanya keluar kamarku. Aku harus berterima kasih pada Sehun atas perlakuannya yang menyelamatkanku dari pertanyaan Ibu.

Kemudian, aku melihat sosok Joonmyun oppa yang sedari tadi berdiri di belakang Sehun yang memang lebih tinggi darinya. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah yang mendalam dan seketika itu juga emosiku yang tadi sudah mulai stabil terlonjak kembali.

“Kenapa dia ada di sini? Kenapa kau membiarkannya masuk?” tanyaku dingin pada Sehun sambil menatap Joonmyun oppa dengan pandangan tajam. Kurasa aku bisa akan mengeluarkan seluruh amukanku padanya, karena saat di Taman Sungai Han tadi aku terus menahan emosiku. Aku bahkan menahan diriku untuk tidak menampar Han Yura yang tidak tahu apa-apa.

“Noona, aku rasa kau perlu mendengar penjelasannya. Sepertinya kau hanya salah paham,” kata Sehun tapi tidak kuperdulikan. Yang tadi itu bukan salah paham belaka, aku yakin. Aku hanya mempercayai apa yang kulihat, bukan apa yang kudengar. Karena itu aku tidak akan mendengar apapun penjelasan Joonmyun oppa sampai aku meliat kenyataannya.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Sehun. Yang ada di depan mataku tadi adalah kenyataan,” balasku sambil bangkit dari duduk. Aku mengambil beberapa langkah sampai jarakku dan jarak Joonmyun oppa hanya di pisahkan jarak sekitar selangkah. Aku dapat merasakan Sehun menatap kami berdua dengan pandangan takut. Mungkin dia tahu apa yang akan aku lakukan.

“Aku muak melihat wajahmu. Pergi dari sini!” bentakku dengan nada rendah. Masih kutatap tajam wajahnya. Dan dia hanya menatapku dengan pandangan minta maaf. Sesungguhnya aku ingin menangis dan kembali ke pelukannya dan mendengar semua penjelasannya tapi, aku tidak ingin seperti itu. aku harus menjadi cewek kuat yang tegar.

“Seorin…” gumamnya. Sepasang mata itu mulai berkaca-kaca menatapku, membuatku dapat meliaht pantulan wajahku yang terlihat dingin di bola mata yang jernih itu.

Tidak. Aku tidak boleh begini lemah. Aku harus bertekad kuat. Kalau aku memang mencintai Joonmyun oppa, aku harus mencari bukti yang kuat bahwa Joonmyun oppa tidak bersalah. Aku tidak mau hanya mendengar dari mulutnya, aku harus butuh bukti yang kuat agar diriku sendiri benar-benar yakin.

“Baiklah, kalau kau tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi. Aku tidak ingin melihatmu.”

Aku berjalan melewatinya tanpa memperdulikan gumaman Sehun untuk menahanku sebentar lagi. Tapi, aku tidak mendengarkannya. Setidaknya berikan aku waktu berpikir.

“Seorin!”

“Aku bilang aku tidak ingin melihat wajahmu! Biarkan aku pergi! Aku harap aku tidak mengingatmu lagi untuk selamanya agar aku tidak merasakan sakit hati saat melihatmu!” pekikku marah saat merasakan tanganku berada dalam genggaman tangan Joonmyun oppa. Aku sampai tidak sempat menahan lidahku untuk tidak mengucapkan sesuatu yang buruk. Dan dengan kasar menghempaskan tanganku sampai tangannya melepaskan genggamanku.

Kulangkahkan kakiku dengan terburu menuruni tangga. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah Joonmyun oppa untuk saat ini. melihat wajahnya saja sudah membuatku menangis. Aku hanya takut tidak sanggup menahan emosiku saat mendengar penjelasannya dan nantinya malah akan menangis tersedu-sedu.

“Seorin!” aku mendengar samar-samar teriakan Joonmyun oppa sebelum aku menyadari bahwa sekakarang aku telah jatuh bergulung di tangga. Setelah itu, aku benar-benar tidak ingat lagi dengan semuanya. Siapa sangka, perkataan amarahku tadi benar-benar menjadi kenyataan. Aku melupakan semuanya.

To Be Continued…

Advertisements

2 thoughts on “[FF] EXO Love Story Series | Story 3: Come Back, Be Here (1st Shoot)

  1. Nnissa Dewi February 3, 2014 / 7:58 pm

    Next dong thor aku jdi penasaran nih sama kelanjutan ceritanya 🙂

    • raishaa February 3, 2014 / 8:17 pm

      hohoho oke oke, gomawo udah baca ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s