[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 1 Rain Moment

a park near you

 

Title     : a Park near you: Ep. 1 Rain Moment

Author : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Cast     : OC and Park Chanyeol

Length : Episode

Genre  : Romance, Hurt/Comfort and other

Rating  : Parental Guide

 

Kutatap seorang namja bersurai kecoklatan yang tengah tertidur di sampingku. Wajahnya tertelungkup di atas meja kelas dan tangannya menutup sebagian wajahnya. Dia sudah tertidur sejak pelajaran terakhir tadi, dan sekarang seharusnya kami sudah pulang. Bel berbunyi 20 menit yang lalu. Alasan kenapa aku tidak membangunkannya adalah aku masih ingin menatapnya lebih lama.

“Hei, aku pulang duluan. Kau mau menunggunya bukan?” pamit salah seorang teman kelasku dan aku hanya membalasnya dengan sebuah senyum dan anggukan kecil. Tidak lama, dia melangkahkan kakinya keluar kelas sambil menelpon seseorang.

Sekarang tinggal aku dan dia di kelas ini. Suasana hening langsung menyelimuti dan hanya terdengar suara nafasnya yang tenang seperti bayi. Raut wajahnya tenang dan dia tampak nyenyak dengan tidurnya. Apa dia tidak sakit tidur dengan posisi seperti itu?

Kutelungkupkan wajahku sehingga wajah kami saat ini benar-benar sangat dekat. Aku menatap lekat wajahnya, tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menatap wajahnya dari jarak dekat. Jarang sekali aku mendapat kesempatan seperti ini. Aku selalu saja berdebar tidak karuan saat dia berada di dekatku. Padahal dia tidak melakukan sesuatu yang spesial padaku—terlepas bahwa kami adalah sepasang sahabat yang sudah berteman dari kecil.

Namanya Park Chanyeol. Rumahnya tepat berada di sebelah rumahku, hingga aku dan dia selalu bermain bersama. Dia mempunyai tubuh yang tinggi dan wajah tampan yang membuat banyak perempuan di sekolah ini yang tergila-gila padanya. Gara-gara itu, aku hampir di benci oleh seluruh perempuan di sekolah ini.

Ini bukan salahku, kan? Aku sudah sering untuk menjaga jarak dengannya di sekolah tapi, dia malah terus mendekat padaku. Bahkan dia mengambil tepat duduk kosong di sampingku sehingga saat ini aku duduk sebangku dengannya.

Hampir setiap hari aku dibuat berdebar olehnya. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh, tahu-tahu saja aku sudah mulai berdebar-debar saat dia dekat denganku. Aku tidak mencoba untuk menghapus rasa suka ini tapi, aku juga tidak bermaksud untuk mengungkapkan luapan perasaanku padanya.

Dia menyukai seseorang yang hampir tiap hari selalu di bicarakannya. Ketika dia membicarkan gadis itu, matanya berbinar-binar—sorot mata yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dia bilang gadis itu baik hati dan selalu tersenyum. Gadis itu bersemangat dan ceria. Aku yakin dia adalah gadis yang cantik, sayangnya aku tidak pernah melihatnya. Park Chanyeol tidak pernah mau memberitahuku, walau sudah kudesak.

Aku tahu, ini sakit sebenarnya. Aku selalu menampakkan senyumku saat dia berbicara. Senyum itu palsu tentu saja. Aku masih belum bisa benar-benar tersenyum saat dia membicarakan gadis itu. Aku belum sekuat itu. Tapi, aku harus berusaha tersenyum dengan tulus untuknya. Aku tahu, bahkan jika gadis itu tidak pernah ada, Chanyeol tidak akan pernah bersamaku. Itu semua terlalu mustahil.

Chanyeol menggerakkan matanya, dan perlahan dia membuka matanya. Aku langsung duduk tegap dan pura-pura memainkan ponselku. Dia tidak boleh tahu jika barusan aku memperhatikannya.

Dia duduk dan menggosok matanya dengan punggung tangannya. Terdengar suara lenguhan kecil. Aku yakin tubuhnya pasti pegal karena tidur dengan posisi seperti itu.

“Kau menungguku?” suara beratnya kembali terdengar. Ugh. Aku benar-benar menyukai suaranya itu.

“Bodoh, tentu saja aku menunggumu. Dari tadi kau kubangunkan tapi, kau tidak bangun-bangun juga.” Aku berbohong tentu saja. Jelas-jelas aku sama sekali tidak mencoba untuk membangunkannya.

Chanyeol menguap lalu meregangkan seluruh tubuhnya. “Benarkah kau membangunkanku? Aku sama sekali tidak merasakannya,” ujarnya sambil memasukkan buku-bukunya yang masih berserakan di meja. “Haah, sakit sekali tidur dengan posisi seperti itu,” gumamnya kecil yang membuatku tersenyum samar.

“Kau tertidur sangat nyenyak. Mana mungkin kau bisa merasakannya,” balasku yang lalu bangkit dari dudukku. Dia lalu mengikutiku dan mengiringi langkahku.

Kami berjalan dalam diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun sampai kami tiba di pelataran sekolah. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, aku sibuk menetralkan jantungku untuk tidak berdegup lebih kencang lagi.

“Hujan,” kataku kecil saat menatap tumpahan air yang berasal dari langit itu. Sekolah sudah sepi, dan mungkin tinggal kami berdua yang ada di sini. Aku sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi hujan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku.

“Kau bawa payung?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya yang sedang berjongkok sambil menatap air-air itu.

“Tidak, padahal aku sudah di suruh ibuku untuk membawanya,” jawabnya dengan wajah datar. Sepertinya kami harus menunggu di sini lebih lama lagi.

Aku tidak tahu sudah berapa lami kami menunggu hujan mereda tapi, yang jelas aku sudah benar-benar bosan. Oh ayolah, walaupun ada seorang Park Chanyeol yang dijuluki ‘Happy Virus’ tapi, kalau sedari tadi dia diam saja, sama saja bohong. Aku heran sebenarnya, tumben sekali seorang Park Chanyeol menutup mulutnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Entah karena dia masih terbawa ngantuk tadi, atau ada hal lain yang menyebabkannya menutup mulut.

Aku kembali menoleh ke arahnya yang sekarang sedang berjongkok dan tangannya terulur ke depan, merasakan tetes demi tetes air itu. Aku dapat melihat dia tersenyum samar, dan matanya seperti menerawang sesuatu. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Park Chanyeol?

“Mau berlari ke halte bus?” tawarnya membuka suara. Dia lantas bangkit dari posisinya dan menatapku. Senyum jenaka terpampang di wajah tampannya. Dan sekarang aku tahu apa yang dipikirkannya sejak tadi. Dia ingin bermain di bawah guyuran hujan yang semakin menderas.

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya, dia sudah berjalan ke arah guyuran hujan. Seketika itu juga hujan langsung membasahi tubuhnya. Dia lantas tertawa lepas saat merasakan guyuran hujan membasahi tubuhnya. Sepertinya dia menyukai hal ini.

“Uh… aku tidak bisa Chanyeol,” tolakku sambil mundur beberapa langkah saat Chanyeol mulai mencoba menarikku mengikutinya.

“Ayolah, ini sangat menyenangkan,” ajaknya lagi sambil merentangkan kedua tangannya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

Dan… tahu-tahu saja aku sudah berada di bawah guyuran hujan. Dia menarikku saat aku sedang sibuk memperhatikan sosok tampannya itu. “Yyyaaa! Kau bodoh? Sudah kubilang kalau aku tidak bisa, Chanyeol!” bentakku kesal dan langsung berteduh di tempat semula.

Chanyeol tidak menggubrisku dan malah menarikku lagi dan mengajakku berlari di tengah guyuran hujan. Tangan kanannya menggenggam erat tangan kiriku. Senyum itu masih terpampang di wajahnya. Seketika itu juga, aku langsung tidak dapat berpikir jernih. Jantungku kembali berlompatan saat merasakan tangannya menggenggam tanganku. Isi perutku terkocok saat melihat senyuman itu. Oh, kenapa aku harus kembali seperti ini? Berhentilah menyukai sahabatmu sendiri!

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah… semakin melangkah dengannya, aku semakin melupakan semua hal yang akan menghadangku di depan. Yang kurasakan hanyalah debaran jantung yang sangat kencang dan kebebasan.

Aku tahu, aku tahu, aku akan terkapar setelah ini tapi, aku tidak bisa menyangkal rasa yang menggebu-gebu yang tersimpan di dalam dadaku. Ini pertama kalinya aku bermain dalam guyuran hujan. Aku sangat lemah terhadap cuaca dingin dan air hujan. Jika terkena air hujan sedikit saja, bisa dipastikan aku langsung terkapar di rumah selama berhari-hari. Itulah sebabnya aku mengatakan hal seperti itu pada Chanyeol. Tunggu, tidakkah dia tahu kalau aku lemah terhadap cuaca dingin?

Tanpa sadar, aku terkena ‘Happy Virus’ yang di keluarkan Chanyeol. Senyum terkembang dengan lebar di wajahku. Jujur saja, walau kepalaku mulai terasa pening, aku merasa benar-benar sangat senang. Tidak tahu kenapa, padahal kami hanya bermain di bawah guyuran hujan. Mungkin, ini karena Chanyeol berada tepat di sampingku sambil tertawa lebar. Oh, Tuhan, kenapa aku benar-benar menyukainya?

Langkahku terhenti kala rasa pusing itu semakin menjadi. Dunia terasa berputar dan yang ingin kulakukan saat ini hanyalah berbaring di atas ranjangku yang hangat. Sangat kontras dengan apa yang kurasakan tadi. Senyum lebar yang terpasang di wajahku sedari tadi perlahan menghilang. Pegangan tanganku pada Chanyeol perlahan mengendur dan akhirnya terlepas. Tanganku memegang kepalaku yang terasa semakin berat. Tumpuan pada kakiku perlahan melemah, membuatku jatuh berlutut. Aku benar-benar tidak kuat lagi.

Chanyeol sepertinya baru menyadari bahwa orang yang sedari tadi bermain bersamanya tiba-tiba tidak terdengar suaranya. Dapat kulihat samar dia memutar tubuhnya dan kaget saat melihat keadaanku yang menyedihkan ini. Dia bergegas mendekatiku. “Kau baik-baik saja?” teriaknya khawatir.

“Ah, iya. Aku baik-baik saja,” jawabku dengan suara pelan dan berusaha tersenyum. Aku mencoba berdiri tapi, kakiku kehilangan tenaga dan dengan cepat dia membantuku berdiri. Dengan sigap dia langsung menahan tubuhku dan menggendongku di punggungnya. Semoga saja tubuhku ini tidak terlalu berat.

“Chanyeol-ah, turunkan aku. Aku tidak apa-apa. Sungguh,” ucapku sambil menahan rasa pusing itu lagi. Aku langsung memejamkan mataku saat merasa dunia kembali berputar. Dengan mata terpejam, aku masih bisa merasakan bahwa Chanyeol menggendongku dalam keadaan setengah berlari. Aku tidak tahu saat ini dia mengarah kemana. Aku hanya berharap kami berteduh. Mungkin dengan begitu, pusingku ini akan hilang dengan sendirinya.

“Sudah jelas kau tidak baik-baik saja. Seharusnya aku tidak menarikmu tadi. Maaf,” katanya dengan rasa bersalah. Ternyata dia cukup kuat, masih tetap bisa berbicara saat dia tengah berlari menggendongku seperti ini.

“Kau tenang saja, aku akan membawamu ke klinik terdekat,” lanjutnya dengan suara yang entah kenapa langsung bisa menghilangkan rasa sakitku sejenak. Aku semakin mengeratkan pelukanku pada lehernya dan membenamkan wajahku. Setidaknya, aku benar-benar merasa aman di sisinya, walau aku sedang sakit sekalipun.

Saranghae,” bisikku sepelan mungkin agar dia tidak dapat mendengarku. Jujur, walau aku berharap seperti itu, aku tahu di sudut hatiku aku berharap bahwa dia mendengar ucapanku itu. Cinta pertama memang selalu menyakitkan.

Advertisements

2 thoughts on “[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 1 Rain Moment

  1. Milky Twilight February 13, 2014 / 6:20 am

    keren… tapi percakapan nya engga banyak *plakk/?
    hahaha…

  2. Joe February 21, 2016 / 5:39 pm

    huhuhu, ngomong2 soal first love bner2 bikin aq baper deh 😥 #curhat
    tpi siapa cewek yg ditaksir sama Chanyeol? kasian deh ocnya klo cintanya gk terbalas… #baperlagi
    emang susah ya jatuh cinta itu #curhatlagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s