[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 2 Memory

a park near you

Title     : a Park near you: Ep. 2 Memory

Author : Rai Sha

Cast     : OC (You) and Park Chanyeol

Length : Episode

Genre  : Romance, Hurt/Comfort and other

Rating  : Parental Guide

 

Ep. 1 Rain Moment


Gara-gara aku kehujanan tempo hari, aku jadi berbaring seharian di rumah seperti ini. Ini membosankan, kau tahu. Dan tanpa sadar aku malah mengingat satu hal di masa lalu.

Saat itu, aku dan Chanyeol masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Aku sedang bermain di halaman rumahku saat sore hari dan Chanyeol lewat di depan rumahku. Langkahnya pelan, dan setelah kuperhatikan dia berjalan dengan langkah pincang. Aku yang heran karena dia baru pulang sesore ini dengan keadaan seperti itu langsung memanggilnya. Dia menoleh dan langsung tersenyum lebar tanpa menghiraukan lebam dekat bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Satu yang aku tahu pasti, dia baru saja berkelahi—atau mungkin dihajar.

“Yyaa! Kenapa keadaanmu seperti ini, eoh?” tanyaku sambil berjalan setengah berlari mendekatinya.

Dia tersenyum lebar sambil menggaruk belakang kepalanya. Setelah kuperhatikan, ternyata di beberapa bagian bajunya ada yang sobek dan bajunya terlihat kotor. Aku tidak bisa membayangkan ketika dia sampai dirumah dan dilihat oleh ibunya. Aku yakin dia pasti bakal diomeli habis-habisan. “Oh, aku baru saja menolong seorang anak perempuan yang ditindas oleh sekelompok preman sekolah di ujung gang sana,” jawabnya sambil menunjuk jalan yang tadi dilewatinya dengan asal.

“Dengan keadaan seperti ini aku yakin kau habis dihajar oleh orang-orang itu. Lagipula, kenapa kau berani sekali melawan mereka? Kau mau bertindak seperti pahlawan eoh?” Aku kembali memperhatikan sekujur tubuhnya. Celana jeans yang dipakainya saat itu sangat kotor dan compang-camping. Aku yakin, setelah ibunya melihat keadaan Chanyeol yang mengenaskan, pasti celana itu langsung dibuang dan tidak akan pernah dipakai lagi. Ransel yang ada dipunggungnya itu terlihat baik-baik saja, walau terlihat sedikit kotor. Mungkin saat itu dia melempar tasnya sebelum menolong anak perempuan itu.

“Aku tidak bisa melawan mereka sekaligus. Jumlah mereka banyak dan sedangkan aku sendiri. Tapi, untungnya anak perempuan itu baik-baik saja,” Chanyeol kembali tertawa. Ya, dia aneh memang. Masih bisa tertawa saat keadaannya mengenaskan seperti itu.

“Eo? Kau berhasil menolongnya?” kataku kaget. Sejujurnya, sampai saat ini pun aku masih heran bagaimana dia bisa menolong anak perempuan itu dari preman-preman sekolah itu.

Chanyeol mengangguk dengan wajah polosnya. “Eung. Setelah mereka menghajarku, mereka langsung pergi meninggalkan kami.” Memikirkan kenyataan satu ini, aku agak sedikit prihatin sebenarnya. Kalau sekarang aku bertemu dengan preman-preman sekolah yang dulu menghajar Chanyeol, mungkin aku akan membalas dendam dengan cara menghajar mereka juga. Tapi, kalau itu terjadi, aku yakin aku akan bernasib sama seperti Chanyeol kala itu. Atau mungkin lebih parah.

Aku mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, aku memperhatikan luka-luka yang ada di wajahnya. “Chanyeol-ah, apa itu tidak sakit?” tanyaku sambil menyentuh luka yang ada di sudut bibirnya. Luka itu sedikit berwarna kehitaman.

“Tentu saja sakit,” balasnya sambil menyingkirkan tanganku dengan pelan.

“Sebaiknya kau lekas pulang dan bersihkan luka-lukamu itu. Ini sudah sore dan aku berani bertaruh kau akan dimarahi ibumu.”

“Ah, benar. Aku harus pulang sekarang. Sampai ketemu di sekolah.” Chanyeol pamit dan langsung berlari ke rumahnya dengan muka panik. Aku yang melihat tingkahnya hanya tersenyum kemudian melangkah memasuki rumah.

Keesokan harinya, ketika pulang sekolah dia berlari menghampiriku dengan keadaan tergesa. Saat itu aku sudah setengah jalan menuju rumah dan berada di sebuah taman dekat rumah kami—taman itu masih ada sampai sekarang. Aku memang sengaja meninggalkannya karena waktu itu dia bilang ada janji dengan seseorang. Jadi, aku terpaksa pulang sekolah seorang diri dan meninggalkan Chanyeol—kuingat saat itu aku melakukannya dengan setengah hati.

“Tebak apa yang barusan saja kualami!” katanya dengan terengah. Sebelah tangannya menopah tubuhnya di lutut dan yang lainnya menyeka keringat yang ada di wajahnya.

Aku memutar badan dan melihatnya tersenyum lebar. Wajahnya terlihat ceria sekali. Sesungguhnya, saat itu aku bertanya-tanya apa yang membuatnya seperti ini. “Apa?”

“Anak perempuan yang kemarin kutolong ternyata satu sekolah degan kita! Kelasnya ada di sebelah kelasku,” ujarnya dengan bersemangat di tengah-tengah nafasnya yang memburu. Mendengar kata-katanya yang seperti itu, aku sama sekali tidak mendengar hal yang istimewa. Kecuali kalau dia menyukai anak perempuan itu—aku harap itu tidak terjadi.

“Lalu, kenapa kau terlihat begitu bersemangat?” tanyaku heran.

“Dia baru saja menyatakan cinta padaku! Ini pertama kalinya ada orang yang bilang seperti itu padaku!” Aku langsung terdiam mendengar jawabannya barusan. Aku tidak tahu kenapa aku merasa tidak nyaman. Aku hanya melihatnya dengan pandangan kosong, sedangkan dia masih terus saja mengoceh. “Wow! Bukankah itu hebat? Rasanya benar-benar mengagumkan!”

Aku tidak senang mendengarnya. Aku tidak senang ketika melihatnya begitu senang dengan hal seperti itu. Tapi, aku—yang saat itu masih kecil—sama sekali tidak mengerti dengan perasaanku ini. “Oh, ya, itu hebat. Kalau begitu, aku pulang duluan,” ucapku berusaha terdengar senang tapi, gagal. Rasa tidak senang itu terlalu mendominasiku hingga aku bersikap seperti itu.

“Hei, kau kenapa? Kita bisa pulang bersama-sama,” Chanyeol menyusulku dan mensejajarkan langkahnya denganku. Aku menunduk untuk menghindari kontak mata dengannya. Aku tidak ingin dia menyadari isi hatiku yang sebenarnya. Dadaku terasa sesak ketika memikirkan jika dia akan berpacaran dengan anak perempuan itu.

“Kau tahu, aku baru sadar jika aku ini termasuk orang yang tampan. Pantas saja anak perempuan itu menyatakan cintanya padaku. Tapi, setelah kupikir aku masih terlalu kecil untuk berpacaran jadi aku menolaknya. Hei, kau harusnya bangga bisa bersahabat dengan orang tampan sepertiku,” ocehnya dengan bersemangat. Dan ketika mendengar salah satu fakta bahwa dia tidak memacari gadis itu, aku benar-benar sangat lega. Rasanya seperti seluruh beban yang ada di bahuku terangkat.

Aku menegakkan kepalaku dan menyikutnya pelan. “Seperti biasa, kau terlalu narsis, Tuan Park Chanyeol.”

“Tch. Aku tahu bahwa kau sadar itu benar. Jadi, hati-hati kau akan jatuh ke dalam pesonaku, Nona Judes,” ujarnya dengan pede yang tiba-tiba berbicara bahasa formal denganku. Haah, aku tahu bahwa semua perkataannya benar. Bahkan sebelum dia berkata seperti itu, aku sudah mulai jatuh ke dalam pesonanya. Dan sekarang, aku benar-benar jatuh ke dalam pesonanya.

Dan itulah pertama kalinya dia memanggilku Nona Judes, dan sampai saat ini dia masih memanggilku seperti itu. Awalnya aku tidak menyukainya tapi, setelah semua yang kami lalui dan setelah aku terbiasa dengan panggilan itu, aku rasa aku mulai menyukai panggilan itu. Itu terasa seperti panggilan sayang dari Chanyeol untuk diriku. Mungkin aku terlalu percaya diri tapi, biarkan sajalah.

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 2 Memory

  1. Milky Twilight February 13, 2014 / 11:49 am

    huhu… keren keren

  2. Joe February 21, 2016 / 6:02 pm

    omong2 soal nama panggilan, jdi keinget sama doi deh o.o #curhatplusbaperlagi
    tpi sbenernya, chan suka gk sih sama si oc??? masih meraba2 (?) nih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s