[FF] EXO Planet Era (Chapter 3)

exo planet era

 

Title                 : EXO Planet Era [Chapter 3]

Author             : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Main Cast        : All Member Exo

Support Cast    : Other Cast

Genre              : Fantasy, Brothership, Action

Rating              : Parental Guide

Length             : Chaptered

Disclaimer       : member Exo milik Tuhan, orangtua, dan SME. Kecuali Luhan punya saya XD #plakk seluruh alur dan cerita punya saya!

 

Kim Jongdae—Chen—meronta saat dia tertangkap sedang mengintip keadaan istana.

Saat itu dia sedang mencari kalajengking-nya yang lepas dan masuk ke dalam halaman istana. Bisa di bilang kalajengking itu sangat berbahaya, karena racunnya sangat mematikan dan dapat menyebabkan kematian jika telat ditangani. Saat sedang mencari-cari kalajengking-nya, dia malah dituduh mengintip dan ingin mencuri.

“Lepaskan aku! aku bukan maling!” Chen terus meronta saat kedua tangannya di cekal oleh pengawal istana. Tapi, karena badannya kecil, rasanya percuma saja dia melakukan perlawanan. Itu sama sekali tidak berpengaruh pada kedua pengawal yang sedang mencekalnya.

“Diam! Kau ikut kami!” bentak salah satu pengawal karena merasa risih dengan sikap Chen yang tidak bisa diam dan terus melawan.

“Aku bilang aku bukan maling! Aku sedang mencari kalajengking-ku yang menghilang di halaman istana!” balas Chen, tapi tidak ada satupun pengawal yang menghiraukan ucapannya.

“Aku bilang lepaskan aku! apa kau mau keluarga kerajaan tersengat kalajengking-ku?” kata Chen berteriak. Suaranya melengking tinggi, seperti petir (ceileh lebay >.<).

Sepersekian detik kemudian, terdengar suara petir menggema nyaring. Bahkan cahayanya sangat terlihat dari tempat mereka berdiri. Semua orang yang ada di sana kaget, bahkan termasuk Chen. Sejujurnya, ini sudah biasa terjadi ketika dia berteriak emosi, tapi dia merasa itu hanya kebetulan. Kebetulan yang terjadi bekali-kali.

“Kenapa ada petir? Padahal cuacanya cerah,” gumam salah seorang pengawal sambil memandang langit malam yang cerah, bahkan ada beberapa bintang yang terlihat.

“Tunggu dulu, Pangeran Do di mana?” tanya Chen tiba-tiba, sambil mengedarkan pandangan. Kedua lengannya masih di cekal oleh pengawal istana.

Salah satu pengawal itu melirik Chen dengan sinis. “Untuk apa kau perlu tau urusan Pangeran? Dia sedang sibuk!”

Chen tidak menghiraukan ucapan pengawal itu dan menurut ketika dirinya kembali di seret. Bukan karena dia menyerah begiu saja dan membiarkan dirinya di tahan di sel istana. Bukan, tentu saja bukan itu. dia hanya ingin memastikan keadaan Pangeran Do, karena entah kenapa dia merasa Pangeran Do dalam bahaya. Hal yang aneh memang karena dirinya sama sekali belum pernah bertemu atau kenal dengan Pangeran Do, putra mahkota Kerajaan Camelot. Dia hanya pernah melihat Pangeran Do dari jauh.

“Dengarkan aku. sekarang Pangeran dalam bahaya. Dia tersengat kalajengkingku!” Chen kembali mencoba melepaskan lengannya. Namun, tidak ada seorangpun yang mendengarkan ucapannya. Dia geram dan mencoba melepaskan cekalan itu dengan lebih keras.

Dia berhasil dan langsung berlari. Entah kemana kakinya melangkah karena dia sama sekali tidak pernah memasuki istana—istana merupakan wilayah terlarang bagi mereka yang tidak punya kepentingan. Tapi, omong kosong dengan semua itu! Sekarang dia mencemaskan kalajengkingnya yang sedang keliaran di wilayah istana, dan perasaannya mengatakan bahwa kalajengkingnya telah menyengat Pangeran Do!

Ketika 10 menit mencari di halaman istana—yang luasnya minta ampun—sambil dikejar-kejar oleh pengawal istana, dia menemukan Pangeran Do terduduk lemas. Wajahnya sangat pucat dan terlihat bekas sengatan di kaki telanjangnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, terlihat kalajengkingnya yang berwarna hitam.

“Shit! Bukankah aku sudah bilang pada kalian?” Chen menggeram sambil mendekati Pangeran Do. Sekitar kakinya mulai terlihat membengkak. Sedangkan para pengawal istana yang tadi mengejar Chen hanya terdiam di sana, kaget karena perkataan lelaki itu sangat benar.

“Pangeran, Anda tidak apa-apa? Sengatan ini harus segera di bersihkan dengan air mengalir dan di beri kompres dingin. Lalu di beri penawar racun,” ujar Chen sambil mengamati kaki Pangeran Do.

Pangeran Do membuka matanya, dan memperhatikan lelaki itu. dia kaget tentu saja. Dia sama sekali tidak mengenal lelaki itu, tapi lelaki itu sepertinya sangat khawatir dengan keadaannya.

“Kau siapa? aku tidak mengenalmu.” Pangeran Do mencoba mengakkan tubuhnya, tapi ditahan oleh Chen.

Chen tersenyum kecil, merasa bersalah. “Maaf, Pangeran. Karena saya kehilangan kalajengking kepunyaan saya, Anda jadi terkena sengatannya.”

“Tolong kalian tangkap kalajengking itu sebelum dia hilang lagi. apa kalian mau keluarga kerajaan tersengat lagi?” tegur Chen dengan dingin saat melihat kedua pengawal yang masih diam di tempatnya. “Ah, satu lagi, tolong salah satu dari kalian mengambil kompres dingin dan beberapa tanaman penawar racun,” lanjutnya lagi kepada pengawal itu. pengawal itu kemudian mengangguk dan salah satu dari mereka melesat pergi.

“Tidak, ini bukan salahmu. Aku memang sering keliaran di halaman tanpa alas kaki, jadi ini juga salahku. Ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Ah, saya dilahirkan dengan nama Kim Jongdae, tapi orang-orang biasa memanggil saya Chen, Pangeran.”

“Kau tidak perlu seformal itu. keliatannya kita seumuran. Kau bisa memanggilku Dio atau Kyungsoo saja.”

“Ah, yee, saya ah maksudku, aku mengerti, Dio. Ayo, di sana ada keran air. Sengatan ini harus segera di bersihkan sebelum racunnya menyebar dan semakin parah,” ucap Chen sambil membantu Pangeran Do—Dio—berdiri dari duduknya. Chen kemudian membantu memapah Pangeran Do menuju keran air itu dan membersihkannya sambil menunggu penawar racun.

 

***

Sudah lewat beberapa hari, tapi Dio belum juga sembuh dari sengatan kalajengking itu. Chen—yang akhir-akhir ini menjadi teman dekat Dio—merasa bersalah padanya. Dia hampir saja ditahan di sel istana, jika saja Dio tidak membelanya. Raja dan Ratu memang merasa geram dengan Chen, tapi kemudian mereka sadar bahwa itu bukan salah Chen juga. Itu akibat kebiasaan Dio yang jarang sekali memakai alas kaki—dia sangat suka ketika tanah menyentuh kakinya secara langsung—dan juga akibat pengawal istana yang tidak mempercayai ucapan Chen.

“Dio, aku sungguh minta maaf. Sudah beberapa hari, tapi kau belum sembuh juga. Bahkan semakin parah,” kata Chen murung saat dia kembali mengunjungi Dio. Dia membawa beberapa tanaman penawar racun dan meramunya.

Dio tersenyum, menunjukkan dia sama sekali tidak marah pada Chen. “Sudah kubilang kalau kau sama sekali tidak bersalah, Chen. Kau tenang saja.”

“Sudah banyak tabib yang mencoba menyembuhkanmu, tapi tidak ada yang berhasil. Aku tidak menyangka jika racunnya sangat mematikan. Maksudku, aku tau jika racunnya sangat kuat, tapi aku tidak pernah menyangka jika reaksinya akan sampai seperti ini,” ujar Chen tanpa mengalihkan pandangannya. Dia sibuk berkutat dengan tanaman-tanaman penawar racun dihadapannya.

“Yeah. Aku harus bersyukur aku masih hidup sampai sekarang,” gurau Dio sambil mencoba merubah posisinya menjadi duduk. Kemudian dia menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang.

“Mungkin ini semua gara-gara terlambat di beri penawar racun dan racunnya sempat menyebar sedikit. Kau tidak merasa ada bagian lain yang sakit bukan?” tanya Chen sambil mengoleskan penawar racun itu pada luka di kaki Dio. Luka itu semakin terbuka lebar dan membengkak. Itu semua membuat Dio tidak bisa berjalan untuk sementara.

Dio meringis saat Chen mengoleskan penawar racun itu. “Kurasa tidak. Tapi terkadang kakiku mati rasa. Tidak bisa di gerakkan,” jawab Dio sambil memperhatikan Chen yang terlihat sangat serius.

Chen menghela nafas kecil. “Sepertinya racun itu semakin menyebar. Andai saja ada seseorang yang dapat menyembuhkan penyakit apapun.” Dia lalu menaruh sisa penawar racun itu pada meja kecil yang tidak jauh dari situ.

“Kalau Legend Healing itu ada, dia pasti bisa menyembuhkanku,” celetuk Dio asal sambil kembali memperbaiki posisi duduknya.

“Kau percaya pada hal seperti itu? aku pikir itu hanya mitos planet kita.”

Dio mengedikkan bahunya. “Entahlah, mungkin saja itu ada. Oh ya, aku selalu penasaran dengan hal ini. Kenapa saat itu kau tau bahwa aku sedang tersengat kalajengkingmu?”

“Tidak tau. Aku hanya mendapat feeling tentangmu.”

“Ah, ke…” perkataan Dio terputus saat seseorang tiba-tiba mendobrak pintu kamar Dio. Salah satu pengawal istana. Tapi, ada yang aneh pada dirinya. Wajahnya tidak berwarna dan matanya merah menyala. Seperti iblis.

“Kau kenapa? Apa yang terjadi denganmu?” tanya Dio yang heran dengan sikap pengawal itu.

“Kalian berdua harus mati!” Pengawal berbadan besar itu tidak menghiraukan ucapan Dio dan malah berteriak marah. Suaranya menggema nyaring di ruangan itu. dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya datar. Tapi, entah kenapa mata merahnya itu terlihat sangat menyeramkan.

Pengawal itu melangkahkan kakinya dan mendekati Chen. Tanpa aba-aba, pengawal itu langsung mengangkat tubuh Chen—yang tergolong kecil—dan menghempaskannya secara kasar pada dinding.

“Apa yang dilakukannya? Dia seperti kesurupan,” kata Chen kecil sambil mengelus-elus lehernya yang di cekik kuat oleh pengawal itu. badannya terasa remuk. Dia tidak pernah menyangka bahwa pengawal itu akan melakukan hal seperti ini padanya.

Tiba-tiba saja, pengawal itu mengeluarkan pedang dan mendekati Dio. Dio hanya membelalakkan matanya, tidak dapat bergerak. Dia tidak bisa kabur, kakinya tiba-tiba menjadi mati rasa. Benar-benar tidak tepat!

“Kalian harus mati!” desis pengawal itu lagi dan mulai mengibaskan pedangnya. Dio hampir saja mati kalau saja Chen tidak segera menariknya.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” teriak Chen lantang pada pengawal itu. percuma, pengawal itu bahkan seperti tidak mendengar perkataan Chen. Kelakuannya benar-benar seperti binatang liar.

Pengawal itu kembali mendekati Chen dan Dio—yang berlindung di balik Chen—dengan langkah berat. Suara langkahnya terdengar menggema di seluruh ruangan yang terbuat dari batu marmer ini. di tangannya masih tergenggam pedang.

“Dio, kemana para pengawalmu yang lain? Kenapa tidak ada yang menyadari ini?” tanya Chen sambil berbisik. Sikapnya waspada terhadap pengawal yang bisa menyerang mereka kapan saja. Kemungkinan mereka mati sangat besar, mengingat kaki Dio yang masih terluka dan Chen yang sama sekali tidak bisa berkelahi.

Dio menggeleng kencang. Dia panic dan takut. Tentu saja, siapa yang tidak panic dan takut ketika ada pengawal gila yang ingin membunuhmu? Semua orang pasti begitu. “Aku tidak tau. Aku harus mencari bala bantuan.”

Chen melirik sekilas ke Dio, lalu mengalihkan pandangannya pada kaki Dio yang tidak memakai alas kaki. “Kau yakin? Apa kau bisa berjalan?” nadanya sarat akan kecemasan. Dia tidak terlalu yakin Dio dapat berjalan dengan kaki seperti itu. bahan sepertinya Dio berdiri saja dengan susah payah.

“Aku harus berusaha. Setidaknya kakiku mulai berangsur membaik. Aku tidak mungkin membiarkan pengawal ini membunuh kita.” Selesai mengucapkan itu, Dio langsung melesat pergi. Entah kemana hilangnya rasa sakit itu, dia sendiri tidak mengerti.

Untuk mengalihkan perhatian pengawal gila itu, Chen berteriak sekeras mungkin agar pengawal itu tidak mengejar Dio. “Kau mau apa? Membunuhku? Apa kau yakin bisa membunuhku?” serunya lantang dengan nada mengejek.

Pengawal itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Wajahnya semakin menunjukkan kemarahan. Matanya yang merah itu semakin memerah seiring dengan emosinya yang meluap-luap. “Aku akan menghabisimu!” teriaknya geram. Dan tiba-tiba saja, pengawal itu sudah berada di depan Chen dan kembali mencekik Chen dengan satu tangan. Kaki Chen sudah tidak menyentuh pijakannya lagi karena pengawal itu mengangkat Chen.

Chen berusaha mengambil nafas, walaupun itu sangat susah. Cekikan pengawal itu pada lehernya sangat kuat, membuatnya kesulitan bernafas.

“Sialaaaaaaan!” geram Chen dengan nafas tertahan sambil mencekal kuat tangan yang sedang mencekiknya.

Sekelebat kemudian, pengawal itu terpelanting dan langsung melepaskan cekikannya pada Chen. Tangan Chen—yang mencekal tangan pengawal tadi—terasa panas. Dan tiba-tiba saja terdapat symbol aneh yang ada di telapak tangannya. Symbol scorpio.

“Sejak kapan aku mempunyai tanda ini?”

 

***

Di saat yang sama…

Chanyeol menatap takjub sebuah Kristal batu bersimbol scorpio yang ada di tangannya kini. Dia tidak menyangka akan dapat menemukan semudah ini salah satu Kristal batu EXO Power.

Dia langsung membuka catatan usang yang tersampir di sakunya. Ada symbol scorpio di sana. Kristal batu Legend Lightning telah di temukan.

“Tunggu sebentar. Kalau aku benar-benar dapat menemukan Kristal ini, berarti gerbang neraka akan terbuka. EXO Planet dalam bahaya!” seru Chanyeol tiba-tiba saat menyadari perkataan Baekhyun tempo hari.

“Aku harus bergegas. Tidak ada waktu lagi,” gumamnya dan langsung memasukkan Kristal batu itu ke dalam tas. Dan tanpa dia sadari, symbol pada Kristal batu tersebut berkilat, mengeluarkan cahaya. Seperti tengah menunjukkan kemampuannya.

 

To Be Continued…

 

Advertisements

5 thoughts on “[FF] EXO Planet Era (Chapter 3)

  1. yusfaiswinda December 24, 2013 / 11:50 pm

    ckckckck.., nunggu FF ini udah lama bingit, tp syukur dehh akhirnya di lanjut, weh weh makin jauh makin seru aja nih, semangat trus untuk authornya ye.., kereenn.., my bias di tunggu loh.. 🙂

    • raishaa December 27, 2013 / 10:48 pm

      hahaha sipp (y) ditunggu aja ya bebs. makasih udah baca 😀

      • yusfaiswinda January 14, 2014 / 2:16 pm

        okeh okeh…, sipp 🙂

  2. niza November 9, 2014 / 8:51 am

    kya mkin sru ajah……. Trus brkarya neee!!? D tnggu klanjutan.y

  3. Joe February 18, 2016 / 7:40 pm

    cie~~ d.o jdi putra mahkota. sungguh tak terduga. btw, rada heran juga tuh sama chen. punya hewan peliharaan kok malah kalajengking, gk ada yg lebih kerenan dikit apa?? singa or buaya misal?? (eh?)
    aduhhh,,, knpa chan gk peka amat ya jadi orang?? gk nyadar2 dri dulu! hadeuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s