[FF] EXO Planet Era (Chapter 4)

exo planet era

Title                 : EXO Planet Era [Chapter 4]

Author             : Rai Sha a.k.a. Rini Amini Raisa

Main Cast        : All Member Exo

Support Cast    : Other Cast

Genre              : Fantasy, Brothership

Rating              : Parental Guide

Length             : Chaptered

Disclaimer       : member Exo milik Tuhan, orangtua, dan SME. Kecuali Luhan punya saya XD #plakk seluruh alur dan cerita punya saya!

WARNING        : ini ff GAJE tingkat stadium akhir. Jadi, hati-hati setelah membaca ini perut anda akan merasa mual dan pusing.

 

Hingar bingar pesta terdengar jelas. Suka cita terlihat dimana-mana. Hari ini memang hari istimewa untuk negeri Atlantis. Raja mereka tengah berulang tahun.

“Suho, kau tak pergi ke pusat kota? Raja akan merayakannya di sana.”

Orang yang dipanggil Suho itu hanya tersenyum ketika diajak oleh salah seorang temannya. “Kau duluan saja, nanti aku menyusul. Ada yang harus kukerjakan dulu,” jawabnya.

Temannya itu hanya mengangguk dan berlalu bersama beberapa teman lagi.

Setelah teman-temannya menghilang dari pandangan, senyum Suho yang terkembang di bibirnya langsung hilang dan berubah menjadi sikap waspada. Sedari tadi dia mendapatkan firasat buruk, tapi dia sendiri tidak mengerti tentang firasat buruk itu. itu aneh, memang.

Kreek… (sound effect gagal -_- pokoknya itu suara kaca mau retak)

Suho semakin mengedarkan pandangannya saat mendengar suara yang sebenarnya sangat kecil itu. Mungkin itu karena sikapnya yang peka dan pendengarannya yang tajam.

“Retak? Tabung pelindung Atlantis retak?” gumam Suho kaget saat melihat retakan pada tabung yang melindungi negerinya. “Atlantis akan hancur!”

Suho langsung melesat pergi saat retakan itu semakin menjalar karena tekanan air semakin besar. Retakan itu akan semakin menjalar karena gelombang suara yang ditimbulkan oleh hingar bingar pesta di pusat kota.

“Daniel! Atlantis dalam bahaya! Tabung pelindung Atlantis retak!” seru Suho senyaring mungkin, mencoba mengalahkan kebisingan. Dia langsung mendatangi Daniel—salah seorang temannya yang mengajaknya tadi—dengan wajah panic.

“Apa? Bagaimana mungkin tabungnya retak? Tabung ini dibuat untuk dapat melindungi Atlantis.” Daniel terdengar tidak percaya. Muncul kerutan di sekitar keningnya.

“Aku tidak bohong. Lihat itu!” Suho menunjuk sebuah retakan di dinding tabung.

Daniel membelalakkan matanya, kaget karena ucapan Suho benar. “Kita harus menghentikan pesta ini. Gelombang suara yang diciptakannya bisa mempercepat retakan itu.”

“Baiklah, kau harus memberitau semua orang. aku akan mencari cara untuk menyelamatkan kita semua,” ujar Suho. Daniel mengangguk dan langsung melesat pergi. Orang pertama yang didatanginya tentu saja Raja, selaku pemimpin Atlantis.

Suho kembali mengedarkan pandangannya, mengecek retakan tabung itu. giginya bergemeretak, mencoba menahan rasa panic yang semakin menderanya.

“Suho! Suho!” Suho tersadar dari lamunannya saat suara seseorang memanggilnya. Ibunya mendatangi dengan raut wajah panic dan cemas. Tidak ada lagi aura ketenangan yang dikeluarkan oleh beliau. Wajahnya terlihat mau menangis, berpikir bahwa hidup mereka kini sudah ada di ujung tanduk. Sepertinya seluruh warga Atlantis sudah mendengar hal ini.

“Ibu! Kau baik-baik saja?” tanya Suho cemas sambil memeluk Ibunya.

Ibunya mengangguk pelan lalu membelai wajah Suho dengan kasih sayang, seolah mereka tidak akan bertemu lagi. “Ibu baik-baik saja. Kita harus segera menyelamatkan diri,” seru Ibunya sambil menahan tangis.

“Ya, Ibu harus segera menyelamatkan diri. Ibu cepatlah mendatangi kapal selam itu. ibu akan selamat jika menaikinya,” ujar Suho menenangkan ibunya. Dia tersenyum tenang, berusaha mencoba menyembunyikan rasa panic dan takutnya.

“Tidak, Ibu akan pergi bersamamu. Ayo kita ke sana.” Ibunya langsung menarik tangan Suho untuk mendatangi pelabuhan kapal selam—satu-satunya alat yang dapat menyelamatkan mereka.

Suho menuruti Ibunya, tapi dia tau dia tidak akan pergi memasuki kapal selam itu. dia merasa dia harus bisa menyelamatkan Atlantis. Harus. Entah bagaimana caranya karena dia adalah manusia biasa, bukan superhero seperti di film-film.

“Ibu, kau duluan. aku akan menyusulmu,” kata Suho saat mereka sudah mulai berdesak-desakkan untuk memasuki kapal itu. banyak orang yang berdesakkan untuk memasuki kapal itu terlebih dahulu.

“Tidak, kau harus ikut.” Ibunya memaksa dan semakin mengeratkan pegangannya pada Suho.

Suho kembali tersenyum lalu menggeleng pelan. “Aku akan di sini, Bu. Aku akan mencoba menyelamatkan Atlantis,” ucapnya pelan sambil melepaskan tangannya dari pegangan Ibunya. Senyumnya masih terkembang. Bagaimana bisa dia masih tersenyum pada keadaan seperti ini?

Ibunya menggeleng kencang. Air matanya kembali menetes dengan deras. “Tidak, kau harus ikut bersamaku. Ibu tidak ingin kehilanganmu.”

“Ibu, aku akan baik-baik saja. Aku berjanji. Sekarang, lekaslah masuk. kau harus selamat.” Suho menatap Ibunya lalu mundur perlahan sambil memastikan Ibunya masuk ke kapal selam itu. Ibunya ingin menarik Suho kembali tapi dia sudah keburu ditarik oleh petugas untuk memasuki kapal selam itu.

Setelah memastikan bahwa Ibunya aman, dia pergi. Ingin memastikan retakan itu.

“Fokuskan pikiranmu. Tajamkan penglihatanmu. Kau bisa mengendalikan air sesuka hatimu.”

Sebuah suara membuat Suho tersentak dan langsung memandang sekeliling. Tidak ada siapapun, sekitarnya sudah mulai kosong. Semua orang sudah mengantri di pelabuhan untuk dapat memasuki kapal selam itu.

“Arahkan tanganmu ke air dan fokuskan pikiranmu. Kau bisa mengendalikan air itu.”

Suara itu kembali terdengar, membuat Suho semakin kebingungan. Tapi, karena desakan dari dalam hati, dia mulai mengarahkan tangannya ke air dan mulai mencoba menggerakkan air itu. Ajaib. Air yang ada di hadapannya—tentu saja masih dipisahkan oleh tabung pelindung—kini mulai bergerak sesuai irama tangannya.

Suho mengerutkan keningnya, tidak percaya dengan kemampuannya barusan.

“Kembali fokuskan pikiranmu. Kau bisa menahan air itu untuk tidak menghancurkan Atlantis.”

Suho baru sadar bahwa suara itu berasal dari otaknya sendiri, dorongan hati nurani—mungkin.

Tiba-tiba saja telapak tangan kanannya mengeluarkan cahaya. Dia lalu membuka telapak tangannya dan kaget karena tiba-tiba saja ada sebuah symbol di situ. Sebuah symbol dengan bentuk droplet air.

“Aku adalah seorang Legend Water?” gumamnya tanpa sadar yang membuat dirinya sendiri menganga tidak percaya. Yang diucapkannya bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Jelas sekali bahwa dia memang seorang Legend Water. Ternyata dia memang seorang superhero seperti di film-film.

***

Chanyeol langsung berlari saat melihat sebuah sungai tidak jauh dihadapannya. Senyumnya terkembang saat melihat sungai itu. dia sudah sangat haus dan kebetulan sekali dia bisa menemukan sungai itu. air minumnya telah habis beberapa jam yang lalu.

Dia langsung menangkupkan tangannya dan meminum air itu.

Sudah 2 hari dia berkeliling di Padang Asphodel dan dia baru menemukan Kristal batu Legend Lightning. Kalau seperti ini keadaannya, apa dia bisa menemukan keseluruhan Kristal batu EXO Power?

“Bagaimana jika aku tidak dapat menemukan Kristal-kristal itu?” tanya Chanyeol pada diri sendiri sambil menyandarkan dirinya pada sebuah batu besar di pinggir sungai. Tubuhnya lelah dan hari sudah gelap, mungkin dia bisa beristirahat sejenak.

Sekelebat kemudian, muncul sebuah cahaya dari sungai. Chanyeol yang penasaran langsung mengamati sungai itu. sungai itu secara ajaib memunculkan sebuah gambar. Gambar yang mengenaskan. gambar tentang keadaan EXO Planet. Sama sekali tidak ada tanaman, dan seluruh sungai dan lautan mengering, membuatnya kelihatan gersang. Langitnya berwarna kemerahan dan matahari tampak bersinar terang, membuat keadaan EXO Planet benar-benar panas. Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.

Chanyeol mengerutkan keningnya. “Aku mengerti sekarang. Ini adalah Sungai Akhres, sungai yang dapat melihat masa depan. Dan menunjukkan gambar seperti itu karena aku tanpa sengaja bertanya. Jadi, kalau aku tidak dapat menemukan Kristal-kristal itu, keadaan EXO Planet terlihat seperti yang ditunjukkannya.”

Chanyeol kembali bersandar pada batu besar itu, dan mencoba berpikir jernih. Dia harus tenang untuk dapat menemukan Kristal itu.

Dia lalu memejamkan kedua matanya. Mungkin tidur sebentar dapat membuat semuanya menjadi sedikit lebih baik. Setidaknya, dengan beristirahat sebentar, tubuhnya akan kembali fit.

Setelah beberapa saat, sebuah cahaya terang menusuk mata Chanyeol. Chanyeol yang terganggu dengan cahaya itu, mencoba membuka matanya. Cahaya itu langsung menghunjam penglihatannya, membuatnya menyipitkan mata. Dia lalu mengalihkan pandangannya dan baru menyadari bahwa hari masih gelap.

Karena penasaran, Chanyeol mencoba mendekati cahaya itu. cahaya yang berasal dari dalam sungai, membuatnya mau tidak mau untuk menyeburkan diri pada sungai yang airnya dangkal itu.

Dengan pelan, dia mulai meraih benda yang mengeluarkan cahaya itu. dan dirinya benar-benar kaget saat benda yang di pegangnya adalah sebuah Kristal batu Legend Water. Satu Legend lagi kembali berhasil ditemukan.

 

***

Luhan bergegas melangkahkan kakinya menuju Padang Asphodel. Hampir mustahil dapat menemukan seorang manusia di tengah padang rumput yang sangat luas ini. Apalagi tenaganya habis terkuras gara-gara memaksakan dirinya mengirim telepati pada Legend Water. Dia memang mendapat sedikit penglihatan tentang Atlantis.

Sreek…

Suara gemerisik semak-semak membuat langkah Luhan berhenti. Sikapnya berubah menjadi waspada. Siapa tau itu adalah binatang buas. Siapa tau itu adalah sesuatu yang berbahaya. Siapa tau.

Rasa penasaran membuatnya mendekati semak-semak yang masih bergerak itu. jantungnya berdegup kencang. Mungkin di balik semak-semak itu ada sesuatu yang berbahaya. Ular mungkin. Ah, bukankah dia sama sekali tidak takut pada ular? Seharusnya dia tenang saja. Seharusnya. Tapi, perasaan takut itu tidak bisa dihilangkannya.

Dibukanya semak-semak itu dengan perlahan. Dan tidak ada apa-apa di sana. semak-semak itu kosong. Yang tadi ternyata hanya perasaannya saja. Barangkali hanya angin.

Luhan kembali berjalan, menuntun langkah kakinya sembari mencari keberadaan seseorang yang selalu muncul dalam mimpinya. Dia harus segera menemukan orang itu dan membantunya untuk menemukan Kristal batu EXO Power secepatnya.

“Aku tidak menyangka jika ada manusia yang berani datang kemari,” suara seseorang langsung membuat langkah Luhan berhenti seketika. Tubuhnya membatu. Kenapa ada suara seorang perempuan di tengah-tengah Padang Asphodel—tempat yang sangat berbahaya?

Luhan berbalik dan terkejut ketika melihat seorang perempuan di hadapannya. Kepalanya ditutupi oleh kain berwarna hitam. Sebuah kacamata hitam bertengger di hidungnya. Perempuan—ah, tidak, lebih pantas dikatakan sebagai seorang wanita—wanita itu mengeluarkan sebuah senyuman yang lebih tepat dikatakan sebuah seringaian. Luhan bergidik ngeri saat mengerti siapa wanita misterius di hadapannya kini.

Medusa. Legenda yang ternyata sebuah kenyataan. Hanya saja, agak sedikit meleset. Ternyata Medusa adalah seorang wanita, bukan sebuah makhluk mengerikan yang hanya memiliki kepala.

“Kau cukup tampan. Apa yang membawamu kemari?” bisiknya tepat ditelinga Luhan—agak sedikit intim sebenarnya. Luhan hanya diam membatu, tidak berani bertindak gegabah.

Wanita itu kemudian melepaskan kain yang melilit kepalanya dan melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Dan seperti legenda, rambutnya memang ular.

Untuk sepersekian detik, Luhan terkesiap saat menyadari bahwa Medusa sesungguhnya wanita yang cantik. Tapi, dia kemudian sadar dan langsung menutup rapat kedua matanya.

“Kenapa kau menutup matamu? Tidakkah kau ingin melihat kecantikkanku?” bisiknya lagi. Ular-ular itu menjilat-jilat wajah Luhan yang membuat Luhan bergidik ngeri. Desisannya benar-benar mengerikan.

Aku akan mati. Aku akan mati. Kata-kata itu terus terngiang di kepala Luhan saat Medusa terus-terus menggodanya untuk membuka mata. Di saat seperti ini harusnya dia bisa bersikap lebih berani.

Sesungguhnya dia tidak takut pada ular. Tapi, yang dihadapannya kini bukan ular biasa, melainkan Medusa. Jika dia berani bertindak gegabah, maka bisa dipastikan nyawanya akan melayang saat itu juga. Disaat-saat seperti ini, Luhan harus bisa berpikir jernih dan mencari cara untuk melawan Medusa. Ah, mungkin melawan bukan kata yang pas jika mengingat lawannya saat ini. Mungkin lebih tepat jika dikatakan melarikan diri. Ya, dia harus bisa melarikan diri dari sana secepat mungkin dan berusaha untuk tidak bertemu dengan Medusa lagi.

Perlahan Luhan membuka matanya saat merasakan langkah Medusa menjauhinya. Tapi, saat dia nyaris memperjelas penglihatannya, dia mendengar suara seseorang berteriak. “Jangan buka matamu! Dia masih ada di hadapanmu!”

Seketika itu juga, Luhan langsung merasakan pergelangan tangannya digenggam oleh seseorang dan membawanya kabur, membuatnya terpaksa berlari dengan mata terpejam.

Luhan dapat mendengar dengan jelas Medusa menggeram kesal dan langsung mengejar mereka. Dia bahkan berteriak-teriak seperti monster. Sosok wanita anggun namun keji tadi menghilang, dan sosok yang mengejarnya kini adalah seorang monster.

Jantungnya berdetak sangat cepat, sangat takut jika memikirkan dia mati di sini begitu saja tanpa sempat menyelamatkan dunia dari peperangan melawan Iblis Merah mendatang.

Dapat dirasakannya tangan yang menggenggam pergelangan tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Tapi, genggaman itu begitu kuat, seolah tidak ingin melepaskannya.

“Apapun yang terjadi, jangan pernah membuka matamu sampai aku menyuruhmu membuka matamu. Kau hanya harus berlari dan percaya padaku,” bisiknya diantara nafas yang tersengal. Tentu saja sangat susah berbicara saat sedang berlari kencang.

Luhan mengangguk dan terus berlari dengan susah payah karena matanya terpejam erat. Sesekali dia membuka matanya sedikit untuk melihat keadaan sekitar dan dengan cepat langsung menutupnya kembali. terdengar Medusa seperti melafalkan bahasa yang tidak dimengertinya, dan setelah itu dia dapat merasakan bahwa yang mengejarnya kini bukan hanya Medusa, namun ada beberapa makhluk mengerikan lainnya.

“A, apa itu?” tanya Luhan panic yang hampir membuka matanya.

“Jangan buka matamu!” sahut orang itu dengan nada membentak. Dia juga terdengar panic.

Suara derapan langkah itu semakin mendekati mereka membuat Luhan menahan nafasnya. Inilah akhir hidupnya.

Namun, beberapa saat kemudian, dia merasakan suasana di sekitarnya gelap. Tidak ada cahaya. Mungkin dia sudah mati.

“Buka matamu, kita sudah aman,” bisik orang itu. dapat terdengar nafasnya tersengal.

Dengan perlahan Luhan membuka matanya dan langsung heran ketika mendapati dirinya sudah berada di dalam sebuah gua. Mereka bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Luhan menoleh ke arah orang itu dan langsung membelalakkan matanya kaget karena seseorang yang ada di sampingnya kini adalah orang yang ada di mimpinya!

 

To Be Continued…

Advertisements

10 thoughts on “[FF] EXO Planet Era (Chapter 4)

  1. Yusfa January 9, 2014 / 7:22 am

    Hmmm asyikk bener tuhh luhannya thor, lanjut ye, nunggu my bias ma kawan” wkwkw, bikin penasaran tuhh siapa yg ngebawa lari little deer, rasanya pingin ikut jg..:D

    • raishaa January 9, 2014 / 8:48 am

      Wkwkwk iya dongs XD sipp chapter selanjutnya udah lain adegan lagi kok kkkk~ yg ngebawa lari suami ku yg pasti org ganteng ><

  2. Indahunnie January 11, 2014 / 9:24 pm

    Annyeong, aku reader baru!!
    Mian thor aku coment pas di chap 4,,, soalnya bru nemu wp author n liat ff ini langsung ngebut bacanya dr sinopsis ampe chap 4 ini, tp nnt chap2 selanjutnya pasti aku coment 🙂
    ff nya keren thor aku suka,,,
    itu yg tolong luhan, chanyeol yah *soktau*
    waw,, yeol udah nemu 2 legend,,,
    kira2 my sehunnie kapan yah???
    Aduh,,, bngung mw coment apa, tggu aja deh kelanjutannya, jgn lama2 thor penasaran banget nih 😀

    • raishaa January 11, 2014 / 9:44 pm

      Hehehe makasih loh udah baca, apalagi komen 😀
      Kkkk~ yg nolong luhan itu udah ketahuan banget yaa? Udah diceritain duluan sih :3
      Kalo sehun kyknya masih agak lama deh, tp part nya lumayan bnyk soalnya dia masuk bagian penting/?
      Hehehe oke deh, sekali lagi makasih loh udah mau baca ff abal-abal ini 😀

      • Indahunnie January 12, 2014 / 7:34 pm

        Wah,,, asekk klo partnya sehun banyak,,, i like,,, hehehe 😉

      • raishaa January 12, 2014 / 7:46 pm

        hahaha iya, habis mau tidak mau harus seperti itu sih. soalnya dia punya kekuatan yang penting banget, jd yaah mau tidak mau partnya banyak kkkk~

  3. yulia January 13, 2014 / 8:42 pm

    anyyeong thor next chp ya hwaiting !!!

    • raishaa January 13, 2014 / 8:49 pm

      waah anyeong juga yulia-ssi. sipp next chapter bakal dilanjut lagi (y)

  4. niza November 9, 2014 / 9:03 am

    kya spa tuh chanyeol kha ????? Lnjut trus, hwaiting !!!

  5. Joe February 18, 2016 / 7:51 pm

    wuih, asli tegang waktu scenenya luhan ketemu ama medusa. chan kah yg nolong luhan itu?? ih, kepo deh.
    cie~~ suho jadi supel helo nih ye~~ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s