[FF/Freelance] Tulipe

“Ladies and gentleman, please welcome our singing competition winner, Kim Hwayoung!”

Para penonton serentak berdiri dan bertepuk tangan, menyambut seorang gadis dengan dress putih di atas panggung.

“Terima kasih—“ Gadis itu mengusap air matanya, “—untuk dukungan kalian semua. Untuk Tuhan, untuk ayah dan ibu, untuk semua teman-teman. Dan, untuk pria tulipku, Byun Baekhyun. Ini untuk kalian semua.”

Pidato yang singkat memang, namun itu sangup membuatnya merasa puas. Jerih payahnya selama ini terbayar.

 

Tulipe

Title: Tulipe

Author: P_Hwayoung

Main Cast: Byun Baekhyun, Kim Hwayoung (OC)

Other Cast: Find by Yourself

Genre: Friendship, Sad, Romance

Rate: G

Words: 1.527

 

Facebook: www.facebook.com/christina.nur.aprenti

Twitter: @kristinaprenti << tapi jarang dibuka. hehe

WordPress: kristinaprenti.wordpress.com

 

Musim dingin telah berlalu. Para aves siap beraktifitas kembali. Rumpun-rumpun bunga mulai bermekaran, menawarkan keharuman yang tiada habisnya.

Mengagumi keindahan bunga tulip, sorang gadis bersenandung riang sembari sesekali menyentuh bunga berkelopak indah itu.

“Kau suka tulip?”

Seseorang secara tiba-tiba telah berdiri disampingnya.

“Ha? Aku? Tentu saja.” Jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari bung tulip.

“Hei, tidak baik mengobrol tanpa melihat lawan bicaranya.” Tegur lelaki berperawakan tinggi itu.

Gadis itu serentak tersadar dan menolehkan pandangannya.

“Maaf. Bunga ini terlalu indah untuk tidak dilihat.”

Pria itu mengangguk mengerti, lalu pergi begitu saja.

“Huh? He’s weird!” Omel gadis dengan name tag ‘Kim Hwayoung’ di seragamnya itu.

**

Brak!

Hwayoung membuka pintu rumah dengan kasar. Membuat seisi rumah itu terlonjak.

“Hey.. hey.. ada apa dengan dirimu, gadis manis?” Sapa kakaknya, Kim Jongdae.

Hwayoung mengggeleng, “Tak apa oppa.. hanya saja, tadi ada orang aneh menemuiku.”

“Aneh, bagaimana?” Tanya Jongdae bingung.

“Apakah menurutmu seseorang yang menyapamu, lalu meninggalkanmu tiba-tiba itu aneh?”

“Hmm… mungkin, dia telah ditunggu seseorang sehingga ia terburu-buru.” Terka Jongdae

“Tapi aku tidak melihat seseorang disana! Lagipula dia berjalan dengan amat santai. Mana mungkin disaat ada orang menunggu dia santai seperti itu?!” Sangkal Hwayoung.

Jongdae tersenyum kecil, “Sudahlah, memang dimana kau bertemu dengannya?”

“Di tempat yang sama saat oppa bertemu Hyemi-unnie..”

Jongdae menghela nafas, “Tidak adakah keterangan lain?”

Hwayoung hanya tersenyum kecil dan berlalu menuju kamar.

**

Hangat mulai menyelimuti kota Seoul ketika Hwayoung melihat sebuah poster perlombaan menyanyi. Matanya berbinar-binar ketika membaca tulisan yang tertempel di mading sekolah.

“Wahh..  apa kau ingin mengikutinya Hwayoung?”

Hwayoung menoleh, Ia melihat Naeun, temannya, sedang berdiri disana.

“Mungkin.. ya!” Hwayoung menjawab riang.

“Aku mendukungmu sepenuhnya..” Bisik Naeun.

Hwayoung tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih.”

Tepat pada saat itu, seorang lelaki datang menghampiri mereka, “Hai gadis tulip.”

Hwayoung yang tahu betul siapa pria itu, mendengus, “Kau? Bagaimana kau bisa kesini?”

Pria itu terkekeh, “Aku Baekhyun. Byun Baekhyun.” Katanya lalu pergi begitu saja.

“HEII! JANGAN PERGI DULU! YAAK!” Teriak Hwayoung dengan keras. Tapi Baekhyun hanya menoleh dan tersenyum penuh arti.

“Siapa dia?” Tanya Naeun.

“Entahlah.. aku bertemu dengannya di kebun tulip kemarin. Dan dia juga pergi begitu saja seperti ini.” Jawab Hwayoung sekenanya.

“Baiklah. Aku mau ke kantin. Sukses dengan menyanyimu!” Naeun berlari kecil dan melambaikan tangannya.

Penasaran, Hwayoung segera pergi ke arah lorong yang Baekhyun tuju. Ia mencari-cari sosok Baekhyun disana.

Hwayoung melihat seorang pria sedang duduk dan mendengarkan musik di kursi taman, Baekhyun.

“HEEII!” Hwayoung berteriak memanggil Baekhyun sebelum ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seorang yang sedang menggunakan headset mustahil bisa mendengarmu.

Merasa dihampiri seseorang, Baekhyun menoleh dan melepas headset-nya, “Gadis tulip? Ada apa?”

Hwayoung duduk disamping Baekhyun dengan gusar, “Berhenti memanggilku seperti itu! Aku hanya penasaran, kau ini siapa?”

“Aku Byun Baekhyun.” Jawab Baekhyun santai.

“Apa kau seorang penguntit?” Tanya Hwayoung penuh selidik.

Baekhyun terkekeh, “Bukan.”

“Lalu kau ini apa?”

“Manusia.”

Hwayoung berdiri gusar, “Baiklah aku pergi.”

Sampai akhirnya ia merasakan sebuah tangan hangat melingkari lengannya.

“Tunggu.”

Hwayoung kembali duduk dan menatap Baekhyun dalam-dalam, “Apa?”

Baekhyun mengulurkan sebuah kotak makan berwarna biru, “Aku membawa bekal dan aku malas makan. Bisakah kau menghabiskannya.”

Hwayoung menggeleng, “Bisa saja itu beracun.”

“Tidak—“ Baekhyun membuka kotak itu, sushi. Dan melahapnya, “—ini enak.”

Baekhyun mengambil sepotong sushi dan mengarahkannya ke depan mulut Hwayoung, “Makanlah.”

Ragu-ragu, Hwayoung memakan sushi itu, “Hmm… enak.” Gumamnya.

“Habiskan.” Baekhyun menyerahkan kotak itu.

Mata Hwayoung berbinar, “Terimakasih! Tempatnya aku kembalikan besok.”

Baekhyun mengangguk. Matanya mengikuti punggung Hwayoung yang bergerak menjauh.

Tiba-tiba matanya meredup, ia memegangi perutnya, “Ah.. sakit..”

**

Hwayoung berjalan pelan menuju kelas 11-B, kelas Baekhyun. Ia mengetuk pintu berwarna coklat.

“Permisi.. apakah ada Baekhyun?” Ia melirik seisi ruangan yang hanya berisi 9 orang. Mungkin yang lain sedang ke kantin.

“Dia di taman!” Jawab seseorang yang duduk di depan.

Hwayoung membungkukkan badan dan berkata, “Terimakasih!”

Hwayoung segera berlari menuju taman. Dilihatnya Baekhyun sedang mendengar musik seperti biasa. Dengan senyum jahil, Hwayoung menutup mata Baekhyun menggunakan tangannya.

“Hei.. lepaskan gadis tulip!” Seru Baekhyun membuat Hwayoung terkejut dan membuka ata Baekhyun.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau itu aku?” Tanya Hwayoung bingung.

“Siapa lagi yang mau berteman denganku selain kau?” Jawab Baekhyun santai.

Hwayoung sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya ia duduk di sebelah Baekhyun dan mengulurkan kotak bekal, “Ini kotak makananmu Baekhyun. Yang kemarin enak sekali.”

Baekhyun hanya tersenyum tipis dan mengeluarkan kotak bekal lain.

“Apa ini?” Tanya Hwayoung sembari mengintip isi kotak bekal Baekhyun.

“Hanya roti dan kentang—” Baekhyun mengambil setangkup roti dan menyuapkannya pada Hwayoung, “—untukmu.”

Hwayoung melahap roti itu, “Kenapa kau tidak pernah memakan bekalmu?”

“Aku tidak lapar.”

“Hmm.. ini enak. Kau harus makan Baekhyun..” Hwayoung mengambil roti dengan saus keju itu dan menyuapkannya pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum sebelum memakan roti di tangan Hwayoung.

“Bekalmu enak, siapa yang membuatnya?” Hwayoung mengambil sepotong kentang dan melumurinya dengan saus yang sudah ada.

“Ini buatanku sendiri.”

“Sungguh? Kalau kau tahu kau tidak akan makan disini, kenapa kau susah-susah membuat bekal? Lagipula, pada akhirnya aku yang makan.”

“Aku— hanya ingin berbagi denganmu.” Jawab Baekhyun lirih.

Hwayoung mengangkat sebelah alisnya, “Eoh, memangnya kau ini siapa, hm?”

“Aku temanmu. Sudah, makanlah. Nanti sepulang sekolah kita ke kebun tulip.”

**
Bunga tulip yang bermekaran menjadi sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Baekhyun dan Hwayoung.

“Waah.. indah sekali, Baekhyun!” Hwayoung segera mengagumi keindahan bunga-bunga tulip.

Baekhyun tersenyum kecil dan berbisik, “Mereka sama indahnya denganmu..”

“BAEKHYUN!”

“Ap—“

BUGH!

“Sekali lagi kau mengungguli nilaiku, aku akan membunuhmu!”

“Ahk— aku tidak tahu.. AH!”

“Dasar idiot! Cuh!”

Hwayoung hanya membisu. Melihat Baekhyun dipukuli oleh temannya, Hwayoung tidak tahu har           us berbuat apa.

“B—baekhyun, kau tidak apa?” Hwayoung menghampiri Baekhyun yang sedang terduduk di tanah dengan seragam sekolah kotor.

“A—aku baik-baik saja, ahk!”

Dengan hati-hati, Hwayoung memapah Baekhyun dan membawanya ke gazebo terdekat. Ia membuka sebotol air dan memberikannya pada Baekhyun.

“Minumlah.”

Hwayoung segera mengambil tissue dan obat merah yang selalu ada di dalam tas sekolahnya. Diobatinya luka Baekhyun dengan perlahan.

“Aw.. pelan-pelan.” Rintih Baekhyun.

“Siapa tadi, Baekhyun?”

“Dia teman sekolahku. Rangking satu di kelas.”

“Huh? Seperti itu tidak layak disebut rangking satu, kau tahu! Biarpun aku hanya rangking 8 tapi aku tidak pernah seperti itu!” Omel Hwayoung.

Baekhyun hanya tersenyum manis.

“Sudah, bisa kita pulang sekarang?” Baekhyun menatap rambut Hwayoung yang menunduk di depan sikunya.

“Sebentar, luka di ujung bibirmu belum kuobati.”

Jantung Baekhyun berdetak kencang ketika Hwayoung mendekati wajahnya. Dilihatnya Hwayoung mengambil tissue, meletakkannya pada sudut bibirnya dengan cekatan. Tak sedetikpun pandangan Baekhyun lepas darinya.

“Kau ini ada apa melihatku?” Tanya Hwayoung yang sadar Baekhyun terus memperhatikannya.

“Kau cantik”

BLUSH~

Hwayoung merasakan pipinya memanas akibat ucapan Baekhyun tadi.

“A— ayo kita pulang.”

Hwayoung berjalan cepat. Hendak meninggalkan Baekhyun. Tapi, dilihatnya Baekhyun sedang berjalan tertatih-tatih. Dengan sigap, Hwayoung menghampiri Baekhyun dan mengamit lengan pria manis itu.

“Maaf.”

“Tak apa.”

**

Seminggu sebelum perlombaan menyanyi, Hwayoung bingung. Kini Baekhyun tidak ada lagi di kelas. Sudah berulang kali Hwayoung mencoba memasuki kelas tersebut. Tapi hasilnya nihil. Baekhyun tidak pernah ada lagi disana.

“Baekhyun.. kau dimana?” Hwayoung bergumam dan berjalan menuju loker.

Hwayoung melihat setangkai bunga tulip berwarna putih terletak di dalam lokernya. Sebuah kertas berwarna senada juga ada disana.

Hwayoung mengambil kedua benda tersebut.

Dear Gadis Tulip,

Maaf, aku tidak bisa menemanimu lagi. Tetap semangat dalam lomba ya!

Saranghae.

Hwayoung menyiptkan matanya ketika membaca isi dari kertas putih itu. Ia tahu, ia yakin siapa pengirim bunga ini. Hanya satu orang yang memanggilnya Gadis Tulip. Baekhyun.

Ekor mata Hwayoung menangkap siluet pria di sudut lorong. Kakinya bergerak dengan cepat. Mengejarnya. Dia yakin bahwa itu adalah Baekhyun.

“BAEKHYUN!”

Hwayoung berusaha mengejar Baekhyun yang berjalan cepat. Baekhyun membawanya ke sebuah gedung putih yang familiar di mata Hwayoung, Rumah Sakit Umum Seoul.

Siluet Baekhyun berbelok menuju salah satu ruangan. Hwayoung mengikutinya. Ia melihat ada banyak orang menangis disana. Hwayoung menatap mereka bingung.

Tiba-tiba, seorang anak kecil menghampiri Hwayoung dan menggenggam tangannya.

“Teman Baekhyun-hyung, ya?”

Hwayoung mengangguk.

“Ayo ikut Baeboom.”

Anak kecil itu membawa Hwayoung ke sebuah ruangan. Di sana, Baekhyun terbaring. Matanya terpejam. Hwayoung tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ba— baekhyun kenapa?”

“Baekhyun-oppa sakit maag kronis dan radang usus. Dia selalu telat makan.”

Hwayoung menoleh. Seorang gadis cantik berdiri di belakangnya.

“Ap—apa dia masih hidup?”

Gadis itu menggeleng. Bersamaan dengan pecahnya tangisan Hwayoung.

“Ka— kapan dia meninggal?”

“25 menit yang lalu.”

“TIDAK! Dia bahkan belum tahu namaku! Dia— hiks..”

“Oh ya, dia menitipkan ini untuk seorang teman bernama gadis tulip.” Gadis itu menyerahkan sebuah surat.

Hwayoung membukanya.

Dear Gadis Tulip,

Aku pergi. Kalau kau rindu sushi dan roti buatanku, kau bisa datang ke rumah. Adik perempuanku akan membuatkannya untukmu.

‘Aku rindu padamu Baekhyun, bukan kepada makananmu.’

Maaf jika aku tidak mengabarimu. Aku hanya tidak ingin membuatmu bersedih.

Aku dengar, kau akan ikut lomba menyanyi. Semangat ya! Aku yakin kau bisa.

Jadilah sesuatu yang indah dan menarik, seperti tulip.

Tulip memang indah, tetapi mereka kalah indah denganmu.

Saranghae,

Byun Baekhyun.

“Nado saranghae…”

FIN.

 

A/N: Gaje yaa.. gaje yaa.. /slaped/ mau bikin romance tapi gagal ya begini jadinya. Entah kenapa tiba-tiba kepikiran tulip :3

Annyeong yeorubun,

P_Hwayoung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s