[FF] EXO Planet Era (Chapter 8)

exo planet era

Title                 : EXO Planet Era [Chapter 8]

Author             : Rai Sha

Main Cast        : All Member Exo

Support Cast    : Other Cast

Genre                : Fantasy, Brothership, AU

Rating              : Parental Guide

Length             : Chaptered

Disclaimer       : member Exo milik Tuhan, orangtua, dan SME. Kecuali Luhan punya saya XD #plakk seluruh alur dan cerita punya saya!

WARNING        : ini ff GAJE tingkat stadium akhir. Jadi, hati-hati setelah membaca ini perut anda akan merasa mual dan pusing. NO PLAGIAT HERE!

Note                : masih ingat kalau El Dorado deketan dengan Padang Asphodel kan? Dan kalian harus ingat kalau Menara Drakon ada di puncak gunung yaaps.

Oya, ngomong2 maaf kalau saya telat banget ngelanjutin ff ini. habisnya saya kehilangan mood untuk ngelanjutin gara2 tertimpa salah satu musibah paling berat dalam hidup saya huhuhu T.T dan silahkan yang masih ingat sama ni ff, silahkan baca. Happy reading ^-^

 

Brukk…

Baekhyun melirik sekilas pada orang yang baru saja menubruk bahunya. Orang itu cukup tinggi dengan wajah datar yang dingin. Baekhyun hanya merapatkan bibirnya hingga membentuk garis dan mengangkat kedua bahunya, tidak ambil pusing dengan masalah tersebut. Di Bandara Internasional Athena seperti ini pastilah ramai dan padat, wajar jika ada seorang atau dua orang yang bertubtukan dengannya. Lagipula, Baekhyun juga tidak merasa dirugikan. Bahunya tidak sakit, barangnya juga tidak ada yang rusak.

Sekarang ia memang berada di bandara untuk mencari tiket menuju El Dorado dan pergi menemui Chanyeol secepat yang dia bisa. Dia harus segera menemui Chanyeol dan memberitahu dengan kejadian sesungguhnya. Ia yakin Chanyeol sama sekali tidak akan mengira bahwa dirinya yang kecil ini adalah salah satu Legend. Setidaknya, walaupun jika nanti di Padang Asphodel akan ada monster-monster seperti di legenda, Baekhyun bisa melawan mereka dengan kekuatannya.

Merasakan tanganya dicekal kuat oleh seseorang, Baekhyun dengan segera menoleh. Orang yang tadi menubruk bahunya. Orang itu dengan segera menarik Baekhyun ke pinggir untuk mendapatkan sedikit lebih privasi. Apa yang mau dilakukannya terhadap Baekhyun? Apa dia ingin membentak Baekhyun soal tubrukan tadi?

“Ada apa? Apa aku punya masalah denganmu, Tuan?” tanya Baekhyun dengan kerutan di keningnya. Dengan segera dia menarik tangannya karena semakin lama cekalan itu semakin kuat, membuat tangannya agak sedikit perih dan kemerahan.

“Maaf, sepertinya aku terlalu kuat mencekal lenganmu,” ujarnya masih dengan wajah datar yang sama saat melihat Baekhyun mengusap pergelangan tangannnya yang terlihat kemerahan. Tidak terlihat raut penyesalan di wajahnya, mungkin wajahnya memang sudah diatur datar seperti itu. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Kerutan yang sedari tadi ada di kening Baekhyun muncul semakin dalam. Muncul rasa curiga yang besar pada pemuda itu. Bisa saja pemuda itu adalah salah satu kaki tangan Raja Iblis Merah. Sejak ia diserang tempo hari, Baekhyun selalu bersikap waspada dan curiga terhadap sekitarnya. Tidak bisa dipungkiri jika dia menjadi paranoid, namun instingnya terhadap bahaya semakin tajam. Baekhyun bisa merasakan itu.

Tanda EXO Power yang ada di punggung tangannya dengan cepat ia sembunyikan. Jangan sampai ada yang tahu jika dia dia adalah Legend Light. Dunia akan heboh dan panik karena merasa hidup mereka sudah berada di ujung tanduk.

“Tanyakan saja.” Baekhyun balas menatap orang itu dengan yakin dan tenang. Pemuda ini tidak boleh tahu jika sekarang Baekhyun mulai mencari tahu tentang dirinya lewat sikap yang ditunjukkan pemuda itu.

Pemuda itu sedikit memajukan tubuhnya, menatap Baekhyun tajam tepat ke manik matanya. “Apa kau… seorang Legend?” bisiknya.

Baekhyun tersentak dan secara refleks memundurkan langkahnya. Ketenangannya buyar saat itu juga. Bulir-bulir keringat mulai bermunculan di dahinya yang mulus.

“A—apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti maksudmu.” Baekhyun menjawab gugup. Tangannya yang dihiasi simbol EXO Power dimasukkan ke dalam kantong celananya sambil berusaha bergaya sesantai mungkin.

“Katakan saja. Aku tahu kalau kau seorang Legend.”

“Hahaha,” Baekhyun tertawa tapi, malah terdengar aneh dan canggung karena rasa panic yang menderanya. “Legend hanyalah sebuah mitos, Tuan. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang dan tidak punya waktu untuk meladeni omonganmu. Jadwal keberangkatanku sebentar lagi,” lanjut Baekhyun dengan cepat. Ia membalikkan tubuhnya dan bermaksud melangkah pergi dari sana secepat mungkin. Kalau pemuda ini memang benar-benar kaki tangan Raja Iblis Merah, Baekhyun benar-benar akan berada dalam bahaya besar. Pemuda itu bisa saja melukai orang lain untuk menuntaskan tujuannya, yaitu membunuh Baekhyun. Selain itu, identitasnya sebagai Legend akan terungkap di seluruh penjuru EXO Planet.

“Tunggu,” pemuda itu kembali mencegahnya dengan menarik tangan Baekhyun kembali. Baekhyun meneguk liurnya yang tiba-tiba terasa sekeras batu secara paksa, kemudian berbalik lagi menatap pemuda itu sambil berusaha menyembunyikan perasaan takutnya.

“Kau ingin menemui temanmu di Padang Asphodel, bukan? Kalau begitu, aku ikut denganmu.”

***

Kai berjalan dengan tertatih dengan deru nafas yang dapat terdengar jelas. Gara-gara harus berlari diatas kecepatan rata-rata manusia normal tanpa pemanasan, ia harus terus merutuk dalam hati setiap ia melangkahkan kakinya. Sejujurnya, lelaki yang menolong Kai ini terlihat cukup aneh karena ia sama sekali tidak terlihat lelah setelah berlari cepat dengan waktu yang cukup lama. Dan oh! Bahkan Kai tidak melihat luka-luka ringan pada tubuh lelaki itu. Padahal seingatnya tadi, lelaki itu sempat beberapa kali tergores ranting. Sekarang yang terlihat hanyalah sobekan-sobekan kecil pada pakaian lelaki itu.

Embun putih terus terlihat jelas setiap kali Kai bernapas, menandakan bahwa hawa disekitar mereka tanpa keadaan yang jelas terus menjadi semakin dingin. Dengan cepat Kai menutup rapat jaket parasutnya dan menghangatkan dirinya sendiri dengan memeluk kedua lengannya. Kai sempat merasa heran kenapa lelaki yang menolongnya ini sama sekali tidak merasa kedinginan, padahal ia sama sekali tidak terlihat memakai pakaian hangat. Hanya selembar kaos putih lusuh dibalut dengan jaket tipis yang warnanya sudah kusam. Jika Kai, dia pasti sudah akan mati kedinginan jika hanya memakai pakaian seperti itu.

“Lay.” Si lelaki membuka suara tanpa berbalik untuk menatap Kai. Ia terus berjalan sambil menyingkirkan semak-semak besar yang menghalangi jalan mereka dengan Kai terus mengikuti di belakangnya.

“Hah?”

“Namaku Lay. Atau setidaknya kau bisa memanggilku seperti itu,” sahutnya lagi. Kali ini dia berbalik dan menatap Kai sambil menjulurkan tangannya.

“Ah, ooh… Kai.” Kai menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya. Dan ia baru menyadari bahwa tangan lelaki itu terasa hangat, tidak dingin seperti kedua tangannya sekarang. “Apa kau tidak merasa kedinginan? Tanganmu terlalu hangat dalam keadaan cuaca seperti ini.”

Lelaki yang bernama Lay itu hanya menunjukkan senyum tipis kemudian melanjutkan langkah kakinya. Beberapa kali terlihat menyingkirkan ranting-ranting pohon itu dengan pisau kecil yang ada di genggamannnya.

“Dari kecil aku sudah tinggal di sini, jadi aku sudah terbiasa dengan cuaca dingin Obeline. Kau nanti akan terbiasa jika sudah beberapa hari di sini,” kata Lay.

Kemudian ia menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, membuat Kai bertanya-tanya dalam hati. Lay memejamkan matanya rapat, seolah berkonsentrasi pada apapun hal yang dilakukannya sekarang.

“Lay…?”

Lay membuka matanya perlahan, kemudian memberikan senyum kecil pada Kai. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasakan bahwa suhu ini lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya. Mungkin cuacanya memang sedang tidak baik.”

Kai hanya mengangguk-angguk kecil sambil mengucapkan kekaguman dalam hati. Setelah ia menarik kesimpulan dari keanehan-keanehan dalam diri Lay, ia merasa bahwa Lay adalah orang yang hebat dan pemberani. Ia kagum pada Lay yang mampu hidup seorang diri di hutan terlarang seperti ini. Walau, yaah, sebenarnya ia juga hidup sendiri, tapi tetap saja berbeda. Lay hidup di hutan seorang diri sambil bertahan hidup dengan makhluk buas, sedangkan ia hidup sendiri di kota dengan fasilitas lengkap. Dan apa yang hebat dari semua itu? Kai jadi merasa seperti anak manja yang suka merengek-rengek pada orangtuanya sekarang.

Sepesekian detik kemudian, terdengar suara petir disertai kilat, membuat Kai dan Lay menghentikan langkahnya. Kai mendongak menatap langit, sedangkan Lay terdiam memikirkan sesuatu. Awan hitam yang sejak tadi menggantung di langit, baru menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Mungkin inilah penyebab udara dingin yang sejak tadi menusuk tulang. Atau mungkin ada penyebab lain.

“Lay, sebaiknya kita segera berteduh. Di mana tempat tinggalmu?” tanya Kai sambil merangsek mendekati Lay yang mematung.

“Gubukku terlalu jauh dari sini. Kita tidak akan sempat sampai di sana dalam waktu singkat,” jawabnya dengan sorot mata yang terarah kosong pada sesuatu yang ada di hadapannya. Suaranya tadi bahkan lebih terdengar sebagai igauan seseorang ketika tidur.

Kai mengerutkan kening saat mendengar ocehan Lay yang setengah tidak jelas. Ia harus berpikir sebentar sebelum mengerti dengan ucapan Lay. Kai mengalihkan pandangannya dari Lay saat dirasa lelaki itu sedang berpikir keras sampai-sampai terlihat melamun. Langit kembali diterangi oleh cahaya kilat dan saat itulah ia melihat sebuah menara terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Ah, mungkin Tuhan sedang berbaik hati hari ini. Mereka bisa menumpang berteduh barang semalam dari amukan badai yang sebentar lagi berlangsung.

“Lay!” tepukan pada bahunya membuat Lay tersadar dari lamunan. Lay mengerjapkan-ngerjapkan matanya sejenak saat sadar bahwa ia habis melamun gara-gara berpikir terlalu keras.

“Ada menara di sekitar sini. Kita bisa meminta pemiliknya untuk mengijinkan kita berteduh di sana,” ujar Kai. “Lagipula aku sudah terlalu lelah untuk pergi lebih jauh lagi dan aku sudah tidak tahan dengan dingin yang terlalu menusuk ini.”

Dan Kai melangkahkan kakinya pergi begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Lay yang memanggil namanya.

***

Demi badai yang sebentar lagi berlangsung! Kenapa Kai sama sekali tidak mendengarkan panggilan Lay sejak tadi? Tidakkah dia tahu itu adalah salah satu tempat berbahaya yang di Obeline? Jelas saja, itu adalah Menara Drakon alias menara tempat tinggal si Raja Naga!

Tahu-tahu saja, Lay sudah beberapa langkah di belakang Kai yang sibuk mengagumi menara tinggi menjulang yang ada di hadapan mereka. Menara itu tidak indah seperti yang ada di kebanyakan cerita tidur anak-anak, kebalikannya menara itu malah terlihat seperti bangunan yang di asingkan.

Dengan langkah pelan namun pasti, Kai mendekat pada gerbang tinggi di hadapan mereka. Cukup dengan sekali dorongan, dia berhasil masuk ke halaman menara. Halaman itu tidak terawat. Rumput-rumput terlihat kering, pohon-pohon mati dengan batang-batang gundul tanpa daun, jalan setapak yang menuju ke pintu menara terbuat dari batu marmer tersusun tidak rapi. Intinya, menara ini benar-benar tempat yang sangat cocok untuk dijadikan tempat pengasingan.

Walau sebenarnya Lay sama sekali tidak pernah bertemu langsung dengan si Raja Naga, Lay pernah beberapa kali melihat puncak menaranya dan mendengar kabar angin yang tidak sedap di telinganya tentang si Raja Naga itu. Kabarnya, si Raja Naga itu atau yang lebih akrab disapa Kris, merupakan manusia berdarah dingin yang tidak segan membunuh siapapun yang mengusiknya. Katanya ia juga bisa memerintahkan naga-naga utnuk menuruti seluruh perintahnya. Dan yang lebih parah, Kris hampir saja menghancurkan El Dorado karena ada seekor naga yang mendatanginya. Itulah alasan kenapa ia berada di tempat yang lebih terlihat seperti penjara ini.

Ngomong-ngomong soal naga, Lay sama sekali tidak melihat seekorpun di sini. Padahal menurut orang-orang menara ini dikelilingi oleh naga-naga yang melindungi tempat ini.

“Kai!” panggil Lay dengan suara berbisik. Walau ia menolak untuk memasuki tempat berbahaya itu, tetap saja ia mengikuti Kai.

“Lay, ayo cepat kemari. Aku bisa merasakan suasananya semakin hangat di sekitar sini,” ujar Kai yang tidak memperdulikan—atau tidak sadar—dengan kepanikan yang sedang melanda Lay.

“Kau bodoh? Ini tempat tinggal si Raja Naga. Kita akan mati kalau dia menemukan kita!” desis Lay lagi sambil menempel pada bahu Kai. Mata Lay sibuk memperhatikan suasana sekitarnya, mencari-cari apakah ada naga yang akan menyerang mereka.

Sebenarnya Lay bukan seorang penakut. Hidup dan tinggal di Obeline sendirian membuat dia menjadi lelaki yang pemberani dan cerdas melindungi diri. Ia tangguh, sanggup melarikan diri dari terjangan binatang buas seperti jaguar. Ia kuat, sanggup menghidupi dirinya sendiri di wilayah Obeline yang terkenal berbahaya. Hanya saja, mendekati bahaya bukanlah hobi Lay. Bahaya-lah yang selalu mendekatinya, membuatnya pintar bertahan namun juga membuatnya tidak ahli dalam menyerang. Lay orang yang sabar, tabah dalam menghadapi hidupnya yang terlalu rumit dan penuh liku. Dan ketika ia melihat Kai sedang terdesak oleh sekawanan makhluk Likantrof, tanpa pikir panjang Lay langsung menolongnya karena ia mempunyai sifat penolong.

“Benarkah? Mungkin Raja Naga itu adalah orang yang baik yang memperbolehkan kita untuk menumpang berteduh di rumahnya yang besar ini. Lagipula, aku sama sekali tidak melihat seekor naga pun di sini,” kata Kai dengan suara pelan.

Saat mereka berdua sudah berada tepat di hadapan pintu menara, Kai mendorong pelan pintu itu sehingga bunyi krietan pintu terdengar menggema nyaring. Sedangkan Lay, ia hanya berada di bawah tangga sambil memperhatikan dengan cemas punggung Kai yang sedang melongok untuk mengamati keadaan di dalam sana.

Kai menoleh ke belakang, kemudian memberi isyarat ‘oke’ dengan gerakan tangan pada Lay bahwa tempat itu aman.

“Permisi,” Kai setengah berteriak, membuat beberapa gema setelah ia mengucapkan kata itu.

Di belakangnya, Lay sudah gemetar dan ketakutan lantaran seekor naga hitam yang sangat besar sudah ada di hadapannya.

“K—K—Kai!” panggil Lay dengan panic. Kakinya sibuk melangkah mundur menaiki anak-anak tangga dan tangannya sibuk menggapai-gapai belakangnya, bermaksud untuk menepuk bahu Kai yang sama sekali tidak sadar kalau naga itu sudah siap mengeluarkan nafas apinya.

Kai berbalik saat merasakan goncangan tidak wajar pada bahunya dan ia benar-benar tercekat ketika menyadari situasinya. Oke, ia menyesal sudah tidak mendengar teguran Lay sedari tadi. Yang ada dipikirannya hanyalah beristirahat dengan nyaman di balik selimut yang hangat. Namun, ternyata yang menyambutnya bukanlah ranjang yang hangat, melainkan nafas yang kelewat hangat. Oh, sepertinya mereka akan benar-benar mati kali ini.

“Selamat datang di menaraku. Ada perlu apa kalian kemari?” suara dengan nada ramah namun anehnya terdengar sangat menakutkan itu spontan membuat dua lelaki yang sedang ketakutan itu berbalik. Dan mereka melihat seorang lelaki bertubuh tinggi, berwajah tampah, namun bersikap dingin sudah berdiri di salah satu anak tangga di dalam menara dengan angkuhnya.

To Be Continued…

Advertisements

16 thoughts on “[FF] EXO Planet Era (Chapter 8)

  1. HanRin Haniko Hana February 17, 2014 / 3:55 pm

    Helloo…, aku baru baca ff chingu! Keren lho, wkwkwk,
    Mian baru komen di chapter ini
    Aku yang FB nya Rani Natalia, hehehe
    dulu yang suka minta ff ini di lanjutin, soalnya genre fantasy dan terutama EXO ^O^ , aku suka fantasy BANGET xD
    FF nya kecccceeee dan kerreeen, semoga ff dan author nya juga makin keren, hahaha
    ternyata udah punya blog ya? aku baru liat di postingan nya chingu
    di fb gak update ya? ya udah deh, aku baca nya di sini ajaa, >.<
    Makin penasarraan dan kurang pannjangg ff nya xD di panjangin lagi dong
    Mian baru komen, Fighting terus ya!!

    • raishaa February 17, 2014 / 4:19 pm

      Hohoho iya kok iya aku ingat sama chingu 😀 dulu mau ngelanjutin sebenernya di grup cmn takut pada lupa jd saya berhentiin deh hehe dan saya lanjutin di sini aja.
      Iya nih udah punya blog, baru buat jg kok jd masih sepi
      Okee makasih udah baca yaa. Chapter selanjutnya dibikin lebih panjang deh ^-^

  2. feby February 18, 2014 / 8:22 pm

    min kren bgt lnjutan nya jdi tambah pnasran nih…
    Semngat min bkin lanjutan nya ^^

    • raishaa February 18, 2014 / 8:23 pm

      Hehe makasih yaaa atas semangat dan kesediannya membaca ff saya ^-^ secepatnya akan saya lanjutkan kok, pasti 😀

  3. Liuna February 18, 2014 / 11:27 pm

    Kyaaaa!!! *Hug Raisha
    Akhirnya dilanjut juga nih ceritanya. Jadi terharu T^T *Plakk (Abaikan). Nah, loh! Tebakanku bener kan kalo Lay yang nyelametin Kai. (Prok … prok … prok …) Hadiahnya mana? *Duaakk (Dilempar Raisha ke Menara Drakon). Eh, yang ketemu Baekkie di bandara itu siapa, ya? Thehun, kah?

    Hm … cerita part ini lebih singkat dari biasanya. Jadi, mungkin karena terlalu singkat, aku jadi nggak bisa ngerasain feel cerita kayak di chapter sebelumnya. Aku maklum. Mungkin mood Raisha belom balik sepenuhnya. Dan itu ngaruh banget di chapter ini. Aku minta maaf kalau perkataanku menyinggung, tapi part ini nggak sebagus part sebelumnya. Susah emang kalau menulis dalam suasana yang nggak kondusif. Tapi … Raisha nggak boleh putus asa. Ceritanya tetep seru, kok! ^^ Aku bakal tetep nungguin chapter selanjutnya.

    Kalau aku boleh kasih saran, ada baiknya kalau Raisha jangan terlalu banyak mengacak cerita. Contohnya di part ini ceritanya Baekkie, dipotong tengah jalan. Trus cerita part selanjutnya main cast-nya Lay. Diacak terus. Dan begitu balik lagi ke part-nya Baekkie, reader udah terlanjur lupa kisah sebelumnya. Sejujurnya itu bikin puyeng (Hehe). Akan lebih enak kalau Raisha bisa mengelompokan tokoh supaya nggak berpencar dan bikin bingung.

    Misalnya, di part cerita pertama yang jadi main cast Baekkie (aku heran sendiri kenapa dari tadi ngomongin si Baekhyun), Chanyeol, Luhan, Chen ma Dio. Kalau bisa di selesein dulu cerita mereka paling nggak sampai bebera part. Sekiranya udah pas dipotong, baru mulai cerita yang main cast-nya member lain. Ngerti, nggak? Kalau nggak, berarti sama *Plakk. Hehe. Yah, semua itu wajar. Dan emang jadi konsekuensi cerita yang banyak main cast-nya. Yang penting tetep semangat, ya! Go Go Raisha!!!

    Sekian komen dariku ^^. Maaf kalau ada kata yang menyinggung. Jangan lupa chapter setelah ini bikin yang panjang. Kalo perlu sepanjang jemuran tetangga yang nggak kering-kering karena seminggu hujan terus *Plakk. Hehe. Annyeong, Raisha!!!

    • raishaa February 19, 2014 / 7:12 am

      Wohoho *hug balik
      Hehe mian mian ff ini baru di lanjutin. Hbs suntuk tp sedang mencoba ikhlas kok hehehe
      Ciee yg tebakannya benar. Aku gak punya hadiah nih, mau hadiah apa kalo gitu? Wkwk

      Lebih singkat ya? Masa sih? Soalnya panjangnya sama aja kyk chapter lain kok, pasti krn adegan nya cmn sedikit deh makanya kerasa pendek. Aku sendiri jg merasa chapter ini kurang menarik kok, tp biarin deh yg penting ke depannya lebih baik lagi hehehe

      Kalo part baekki emang cuman sampe situ doang deh kyknya, soal nya aku udah gak ada bayangan utk selanjutnya dia kyk apa. Salahkan dia yg suka gaje itu! /nah loh -_-/ hehehe
      Yaah sebenernya aku jg pengen ngelompokin yg kyk km saranin, cmn yah gitu aku kadang gak tega sama yg lain(?) Habisnya ntar yg ini blm muncul tp yg itu sdh bnyk bagian. Tapi oke deh, aku usahain coba saranmu itu dan makasih atas sarannya yaaa ^-^
      Dan ngomong2 soal kebiasaanku yg suka motong cerita di tengah jln itu gk bisa berhenti hehehe

      Hahaaha oke sekian jg deh balasan dariku. Chapter selanjutnya semoga lebih panjang dari jemuran tetangga yg gak kering2 gara2 hujan mulu wkwkwk.
      Annyeong~ *ppyong

      • Liuna February 23, 2014 / 10:22 pm

        Err … Iya, sih. Mungkin karena adegannya nggak begitu banyak, jadinya terkesan pendek. Dan aku maklum kok sama kebiasaan nyebelinmu yang suka motong cerita kayak gitu *Plakk. Dan soal yang ngelompokkin itu … hm, gimana ya? Kayaknya bener kamu deh. Kasian kalo yang satu udah panjang part-nya, yang satu nongol aja belum. Yah, itu enaknya kamu aja dah.

        Eh? Boleh minta hadiah? Mmm … kalo aku dimasukin ke cerita kamu buat jadi pacar Chen bisa nggak? *Jedeeeerr!! *Dibantai Massa. Yah, nggak isa juga nggak kapa kok. Hikz T^T Wah, yang lagi ngarang cerita baru. Cie cie … Nggak masalah sih sebenernya. Asal cerita ini tetep dilanjut! Ara? Bye Raisha! ^^

      • raishaa February 23, 2014 / 10:48 pm

        Wahaha kalo mau hd tokoh di ff ku sih boleh, ntar aku jd kan deh kalo aku ada buat ff nya chenchen hehehe
        Wahaha iya, lg dpt ide bertumpuk sama yg genrenya rada action gitu. Dan ini gk baka berenti dong, soal nya ini salah satu ff favoritku sih wkwkwk

  4. Adilah Mandukhairani (Shin Ji Ae) March 3, 2014 / 12:41 am

    Eonni,masih ingat aku? 😀
    waaah,lanjutannya bener2 keren! Cepetan di publish next chapter nya eon,bener2 penasaran sama Kris 😀
    aku tunggu next chapt nya ^^

    • raishaa March 3, 2014 / 6:31 am

      Hohoho aku masih ingat kok 😀
      Oke deh sipp, pasti bakal secepatnya di lanjutkan. Makasih ya ^-^

  5. kim hyun jae March 7, 2014 / 7:09 pm

    eonni ini bulan maret loh cepet di psot doang mian maksa abis penasaran ama kelanjutannya kalo ide eonni mentok disana kepala eonni aja dijedotin biar ga mentok lagi #bercandawks

    pokoknya daebak eonni

    • raishaa March 7, 2014 / 7:50 pm

      Hohoho saya sendiri baru sadar kalo udh bulan maret dan saya blm ngepost apa2 T.T Oke secepatnya akan dilanjut kok. Makasih udah baca yaa ^-^

  6. shavira March 8, 2014 / 9:16 am

    hai, ak readers baru salam kenal. smpah keren bgt ceritanya. lanjutannya d tunggu

    • raishaa March 9, 2014 / 8:17 am

      Halo. Salam kenal juga yaa.
      Makasih udah mampir dan baca ^-^

  7. niza November 9, 2014 / 9:51 am

    omo kris !!! Kira kris bkal nolongin apa enggak yahhhhh

  8. Joe February 18, 2016 / 10:03 pm

    kmu si kai, jdi orang mbandel banget. dibilang jangan malah trs aja. ckckck…
    yehet! aq bener lagi, itu lay yg nolongin kai.
    tpi sapa yg lgi sama baek itu?? kok dia bisa tau kali baek itu legend? mata merah? sehun? ato malah suho??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s