[FF/Freelance] Spring Heart, I’m Babo (Chapter 1)

Ini bukan ff saya, ini ff freelance. Saya hanya mengedit beberapa kesalahan kata dan typo, dan juga sayalah yang membuat adegan pertemuan kris dan yuri yang ada di depan toilet/eh?/ yang jelas itu saya yang buat soalnya authornya minta bantuin. Sisanya, authornya sendiri yang buat. Oke?

Title                 : Spring Heart, I’m Babo part #01

When I see you

Autor               : sandra (jong yoon hee)

Length             : chapter

Genre              : Romance, Drama, and other

Main cast        : Kris EXO as Kris Wu

Kwon Yuri  as  Lee Yuri

Rating              : PG-13

“,,,,aku benci ayah karena dia menghancurkan mimpi seorang anak untuk hidup bahagia bagai di dongeng-dongeng dimana seorang gadis hidup bahagia bersama ayah ibu di istana yg sederhana,,,,”

~o0o~

Pagi  secerah ini, dengan embun-embun di dedaunan dan tanaman lainnya menandakan pagi yg sejuk juga, diruang makan ada seorang gadis berseragam SMA dengan tagname ”Lee Yuri” di sebelah kiri baju seragamnya, sarapan mie sendirian tanpa seseorang yg menemaninya membuat dirinya diam dan terfokus memakan sarapan paginya. Seorang pria tua berjalan menuju meja dimana lee yuri  sedang makan, mie. Yuri hanya mendengus kesal dan melanjutkan makannya.

“cepat berangkat nanti kau terlambat!” kata pria tua itu

“iya, aku tau itu, appa” jawabnya singkat, lalu tanpa menghabiskan makannya ia langsung mengambil tasnya di kursi sebelahnya dan dengan menundukkan kepala sebagai penghormatannya lalu pergi berangkat, sepanjang perjalanan untuk menuju halte terdekat ia mendengarkan lagu di headsetnya untuk menemaninya berjalan

“apa dia gila, pagi pagi begini tak menyapa tapi langsung mengusir,” gerutu yuri di jalanan, mungkin itu benar karena pagi ini menunjukan baru setengah enam pagi, saat menyebrang yuri  tidak melihat kanan kiri karena lampu rambu menunjukan jalan penyebrangan sudah diaktifkan

Brukkk!!!!

Yuri  tersungkur di jalanan dengan luka di lututnya yg agak parah, dan bagusnya lagi tak ada orang hanya dia dan seseorang berhelm dengan kawasaki merah,  ia melihat lukanya dengan kesal  dan menahan amarah tanpa mempedulikan bahwa dia sangat kesakitan, pria yg masih berhelm itu beranjak dari kendaraanya dan mendekati yuri

“kau tak apa?” tanya pria berhelm itu, yuri mendongkakkan kepalannya ke atas dan melihat betapa tingginya pria itu, dengan tatapan sinisnya ia beranjak berdiri dengan tertatih tatih menahan sakit dan perih yg ia rasakan, walau sudah berdiri tetap saja yuri harus mendongkakkan kepalanya karena pria itu tinggi.

“aniya,” jawab yuri singkat lalu pergi dengan memaksakan kakinya yang sesungguhnya sangat sakit dan harusnya tidak berjalan lagi pria itu masih terdiam mencerna perkataan yang di ucapkan yuri seolah- olah tak  peduli dengan keadaannya yang terluka karenanya dan tanpa sengaja pria itu melihat hp yg masih terpasang headset tergeletak di mana yuri jatuh, rupannya yuri  tak sadar kalau hp dan headsetnya terjatuh, masih dengan alunan lagu yg agak samar samar, pria ber helm itu mengambilnya lalu membuka helmnya dan mendengar lagu yg masih mengalun, lalu dia tersenyum kecil, sambil melihat arah kemana yuri pergi namun ia tak melihatnya lagi,

“babogateun” katanya lalu mengantongi hp dan headset yuri  dan berjalan ke kawasakinya dan melanjutkan perjalannya dengan kawasaki merahnya,

~…~

Masih tertatih tatih menahan sakit ia berhenti di kursi tunggu halte sambil melihat lututnya yg mengalirkan darah, tiba tiba yuri melotot dan memegang telinganya

“ck, dimana hp dan headsetku…” panik yuri yang sudah sadar bahwa ia kehilangan ponsel dan headsetnya

“ahhhhh, sial, apa ada hal yg lebih buruk lagi dari kejadian ini semua!” gerutu yuri kesal.

Yuri  memukul kepalannya sendiri dengan tangan yang sudah terkepal, mencoba mengingat pria yang menabraknya, yuri  memanglah bukan pengingat yang baik akan sesuatu karena ia memanglah gadis yang pelupa

“aishhh, babo- babo- babo!!!”  keluhnya yang masih memukuli kepalanya karena tak bisa mengingatnya, ia lalu menghela nafas kasar, dan beranjak berdiri saat busway yang ia tunggu telah datang , dengan terpincang- pincang ia masuk ke busway dan langsung duduk dekat jendela kaca, dan membiarkan busway melaju membawanya ketujuan yaitu sekolah dan mencoba mengiklaskan ponselnya yang hilang.

***

Terdengar suara vas bunga, buku- buku, karset karset, berjatuhan kelantai dengan disengaja, hingga jaketnya ia buang kesembarang tempat dasinya juga dilepas paksa dan dibuang ke tembok

“hey  apa yg sedang kau lakukan?” teriak suho  dari luar pintu kamar yg ia gedor gedor terus dengan kasar penuh kepanikan

“geumanhae!!!”teriak kris yg matanya sudah berkaca kaca menahan amarah yg sedang duduk dilantai dan bersandar di bibir kasur dan air matanya sudah mulai mengalir

“hyung, jebal,,,” kata suho  yg juga ikut sedih dan mulai berkaca kaca

“enyahlah, tinggalkan aku..” teriak kris lagi di dalam kamar

“anak kurang ajar, keluar kau !!!!” sahut seorang pria separuh baya yang mengetuk pintu dengan keras

“appa, hentikan” pinta suho  pada appanya yg sudah di sampingnya

Belum sempat appanya membalas, pintu kamar kris terbuka kini kris muncul dengan kemeja putih yg lusuh, rambut acak acakan 2 kancing diatas kemeja juga terbuka, tanpa basa basi tangan appanya telah menyambut pipi kiri kris hingga kris menoleh ke kanan.

“appa” kaget suho  karena walau ia sudah tahu ayahnya dan hyungnya selalu bertengkar tapi ia baru kali ini melihat hyungnya ditampar di depannya sendiri karena ia semenjak 3 tahun yg lalu ia pergi belajar di amerika dan baru pulang minggu lalu. Kris hanya menyeringai kecil lalu pergi keluar.

***

Dentuman musik club malam begitu terasa di gendang telinga, terlihat pria yang menabrak yuri tadi siang yang bernama kris tersebut menikmati musik tersebut terbukti dari tingkahnya yang menari di lantai dansa bersama 5 teman lainnya dan tentunya dengan dikelilingi gadis gadis yang memakai rok mini, dan terlihat juga yuri sedang meneliti seluruh pengunjung club malam tersebut,dan membuka setiap pintu ruang V.I.P

“aisshhh, mana sih dia” gerutu yuri sambil mengacak poni panjangnya, karena dari tadi ia tak melihat yoona, sahabatnya.

Di salah satu ruangan V.I.P bercat putih kelabu, sudah banyak tergeletak bir- bir kosong.

“aishhh, hyung hentikan!!!” kata tao pada temannya yang sedang berusaha mengabiskan bir, tapi sepertinya kris tak mempedulikannya ia terus meminum birnya, sayangnya belum habis bir tersebut birnya sudah beralih ke tangan tao

“oh, ayolah, pandaku”rajuk kris yang berusaha menggapai bir yang di jauhkan tao, secepat kilat lay merebutnya sebelum kris

“kau mau sampai mabuk apa eohhh?” tanya lay yang mulai gemas akan tingkah kris jujur saja ia tak pernah melihat kris senafsu itu untuk menghabiskan bir ke 4nya

“ayo pulang, dia sudah cukup mabuk” ajak seorang pria disebelah lay yang bernama chen

Sedangkan2 pria yang bernama xiumin dan luhan mengangguk tegas, seakan setuju dengan ide chen

Dengan susah payah tao dan lay memapah kris yang sudah mabuk berat sedangkan luhan membawa jasnya kris, dan chen mengambil mobil diparkiran sedangkan xiumin pergi untuk memenuh perintah lay untuk membeli susu untuk mengurangi mabuk kris.

Huekkk

“yakkk!!!!, hyung” keluh tao karena melihat kris muntah saat sampai di depan club malam untuk menunggu chen datang dengan mobil yang diparkirkan, tanpa basa- basi lay mengeluarkan sapu tangannya dan secepat kilat juga tao langsung merebut sapu tangan tersebut dan membersihkan sisa muntahan di bibir kris, kris hanya tersenyum

“gomawo” katanya yang setengah berbisik, tapi tao malah menjawab dengan tatapan horornya

“aku, mau ke toilet dulu” kata kris sambil melepas rangkulan tao

“kutemani” jawab tao

“aku bukan bayi ataupun gadis” jawabnya lalu masuk kedalam club lagi

“ternyata dia kuat juga” celetuk lay sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jeans

“maksudmu” tanya tao yang sedikit tak mengerti

“ya si kris hyung , lihatlah dia hampir menghabiskan 4 botol bir tapi nyatanya seperti orang minum 2 botol saja” jelasnya panjang lebar, sedangkan tao masih diam mencerna setiap kata lay, lalu menganguk kecil

***

Kris membasuh wajahnya di wastafel, mencoba menyegarkan pikirannya yang sudah setengah tidak sadar. Gara-gara pertengkaran dengan ayahnya tadi, ia menjadi kalap dan melampiaskan emosinya dengan minum bir sebanyak mungkin. Kalau saja tadi ia tidak ditahan oleh teman-temannya, pastilah ia sanggup menghabiskan lebih banyak lagi.

“ah, kau gadis yang tadi pagi aku tabrak. Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau masih sekolah?” tegur kris saat melihat seorang gadis berambut panjang melintas di hadapannya. Walau matanya kini tak lagi melek, dia bisa memastikan bahwa itu memang gadis tadi pagi.

“Hah? Emangnya kita pernah ketemu?” tanya si gadis alias yuri yang langsung berbalik saat mendengar suara seseorang itu berbicara padanya.

“kau tidak ingat? Handphone dan headsetmu saja ada padaku,” ujar kris.

Yuri terlihat mengingat-ingat kemudian dia menyadarinya. Ya, lelaki itu memang lelaki yang menabraknya tadi pagi. Bagaimana mungkin dia bisa lupa sampai parah seperti itu? ckckck.

“kalau begitu, sekarang kembalikan barang-barangku! Aku memerlukannya!” kata yuri dengan nada memerintah. Dan ia memang memerlukan handphone-nya sekarang untuk menghubungi yoona yang sedari tadi menghilang. Apakah yoona lupa kalau yuri baru saja berencana kabur dari rumahnya karena terlalu bosan dengan sikap ayahnya yang keterlaluan? Ia bahkan sudah membawa sebagian barang-barangnya. Setidaknya untuk malam ini ia bermaksud tidur di rumah yoona, dan barulah esoknya dia bisa mencari tempat tinggalnya.

“apa? Aku tidak membawanya sekarang.”

“aishh, eotteohke? Aku benar-benar membutuhkannya sekarang,” ucap yuri yang terlihat sedang menahan kekesalannya yang hampir meledak.

Tiba-tiba kris menjulurkan handphonenya pada yuri. “kau bisa memakai handphoneku.”

Dengan cepat yuri menyambut uluran handphone itu dan menekan nomor telepon yoona di sana. Terdengar nada sambung sebelum yoona menangkatnya.

“hallo?”

“yoona! Kau dimana? Daritadi aku mencarimu,” teriak yuri, membuat yoona di sebrang sana harus menjauhkan telepon dari telinganya.

“aah, mian, mian. Aku lupa kalau kau mau menginap hari ini. aku sudah di rumah gara-gara ibuku terus mengomeliku untuk segera pulang. Mianhe,” kata yoona dengan penuh penyesalan.

Yuri yang mengerti dengan keadaan yoona hanya menghela nafas dan menutup sambungan telepon setelah mengucapkan kata-kata pengertiannya. buruknya, sekarang ia dalam masalah. Satu, ia tidak mempunyai tempat tinggal untuk tidur malam ini. dua, ia tidak punya kendaraan untuk pulang dan menunda rencana kaburnya. Tiga, ia tidak mempunyai uang.

“wae? Ada masalah?” tanya kris saat melihat wajah lusuh yuri.

Yuri hanya menggeleng kecil sambil mengembalikan handphone kris. Ia kembali menghela nafas dan melangkah pergi dari sana dengan langkah gontai. Ada kemungkinan ia harus tidur di sini malam ini.

“kau perlu tempat tinggal sementara? Kalau mau, kau bisa tidur di rumah kakekku yang kebetulan sudah lama kosong,” tawar kris yang membuat yuri menahan langkah kakinya.

Yuri langsung kembali berbalik dan menatap kris dengan tatapan yang terlihat kaget. Oke, sebenarnya kris agak sedikit menguping pembicaraan mereka walau suara yoona di sebrang telepon tadi hanya terdengar samar-samar. Hey, walau kini kris dalam keadaan mabuk, telinganya masih berfungsi dengan sangat jelas, oke?

“tidak apa-apa. Ambil barang-barangmu. Aku akan tunggu di depan bersama teman-temanku. Tidak mungkin kan aku mengendarai mobil sendirian dalam keadaan seperti ini?” ucap kris lagi saat yuri tidak juga mengeluarkan suara. Kemudian, ia pergi melewati yuri.

“ah, benar, aku bahkan tidak tau namamu.” Kris menghentikan langkahnya saat menyadari ia tidak mengetahui nama yuri.

Yuri mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyadarkan dirinya dari situasi yang berjalan terlalu cepat dan di luar dugaannya. “Lee… Yuri,” katanya sedikit terbata.

“aku Kris. Kalau begitu, sampai bertemu di depan, Yuri,” ujar kris, kemudian memberikan kedipan sebelah mata sebelum pergi. Oke, sepertinya otak kris memang setengah sadar karena dia berani melakukan hal-hal memalukan seperti itu pada gadis yang baru dikenalnya.

“entah ini sebuah anugrah atau bencana,” gumam yuri kecil lalu pergi mengambil barang-barangnya.

***

Pagi yang cerah ini dengan masih terlihat bekas turun hujan semalam yang cukup deras, kini kris sudah siap ke kantor, kris memutuskan untuk tinggal dirumah kakeknya dulu, sebelum kakeknya meninggal.  setelah memakai dasi ia mengambil jam tangannya di brankasnya lalu memakainya dan berjalan untuk pergi kebawah. Langkahnya terhenti saat ia tinggal 4 tangga lagi yang membuatnya sampai di lantai dasar, ia melihat yuri yang masih remaja bagai seorang ibu rumah tangga yang sedang repot menyiapkan makanan, dan yuri tanpa sengaja melihat kris masih diam mempatung di tengah tangga

“sudah bangun?” tanya yuri sedikit kaku

“aigoo, babo, pertanyaan macam apa itu” gerutu kris dalam hati. jujur yuri masih shock, umurnya baru menginjak 18 tahun dan ia sudah berani serumah dengan seorang pria.

“eh, ne” jawab kris yang juga sedikit kaku sambil memijat tengkuknya, dengan langkah pelan ia menuju dapur dimana yuri sedang meracik bumbu

“apa kau tak kerepotan seperti itu, eoh?” tanya kris sambil membuka tutup panci dan melihat apa yang sedang direbus

“sudah biasa, apa lagi ini aku libur sekolah jadi nggak terlalu repot sekali” jawab yuri singkat dan datar, yang terus setia dengan aktivitasnya

“panas!!!” teriak yuri dan dengan cepat ia meletakan jari- jari tangannya di kedua telingnya yang tadi ingin menangkat panci satunya lagi

“babo!” celetuk kris lalu mengambil kain di samping kompor lalu mengantikan yuri untuk mengangkat panci yang ingin diangkat yuri tadi, yuri langsung menatap kris tajam tapi kris tak mempedulikannya ia terus saja menaruh panci tersebut menjauh dari kompor

“hey, aku pergi dulu” kata kris dingin setelah meminum kopi susunya.

“ne.” Jawab yuri yang masih setia memasukan sup buburnya dari sendok ke mulutnya

***

“dasar bodoh!!!” kesal seorang pria separuh baya pada kris, dan bibir krispun juga sudah mengeluarkan darah segar, sudah dipastikan kris dipukul pria separuh baya tersebut

“mianhamnida, appa” kata kris lirih sambil membungkuk, namun tangan kanannya mengepal kuat, menahan amarah

“ahhhhhhhhhhhh!!!!!!” teriak kris frustasi saat sampai diruangannya semua berkas ia buang sembarangan kini ruangan kantor kris sudah tak berbentuk seperti gudang barang- barang tak tertata rapi dan juga kertas kertas  menyebar diseluruh ruangan,

“ahhh” dengusnya dengan darah yang mendidih, sambil melonggarkan dasinya secara paksa, lalu mengacak rambutnya kesal.

Dreet….dreet…dreet

Ponsel kris bergetar saat dilihat terdapat satu pesan untuknya

Sekarang apa kau benar- benar mulai bosan!!!

            Cepat kemari, apa kau lupa hari ini kita makan siang dengan investor!!!

Kris menghela nafas panjang dengan kasar saat mengetahui isi pesan appanya

***

Sore ini begitu cerah dengan matahari yang ingin menghilang untuk digantikan bulan, namun yuri masih setia dengan aktivitasnya memetik bunga dari kebun belakang rumah besar kris lalu ia bawa ke dalam rumah kris dan meletakan bunga- bungannya di vas- vas. Senyumnya terukir saat ia meletakan setangkai bunga warna ungu ke dalam vas kaca

“areumdapta” puji yuri pada bunga tersebut lalu ia mencium bau wangi bunga tersebut dengan rasa suka

Dan tanpa yuri tahu sepasang mata indah menatap yuri lega  lalu bibirnya menciptakan senyum kecil.

“kris-sunbae”kaget yuri saat melihat kris sedang tersenyum padanya, bukan hanya kaget karena mengetahui kris sedang tersenyum padanya tapi penampilannya yang sungguh beracak- acakkan, kancing kemeja yang lepas dari tempatnya, kemeja putih yang lusut, rambut acak- acakkan, dasi melonggar sangat dari kerah kemeja kris dan terlebih wajah kris yang memar- memar

“panggilan apa itu, menjijikan” kata kris sedikit tersinggung karena panggilan yang diberikan yuri,

“mianhae”jawab yuri datar, tanpa ekspresi, lalu ia menghampiri kris

“apa kau..”kata yuri mengantungkan perkataannya sambil meneliti semua memar kris

“berkelahi”sahut kris seolah-olah ia tahu kata apa yang sedang di gantungkan yuri. Yuri menganguk tegas, kris tersenyum mengejek

“apa emosiku selabil itu?”tanya kris sambil menatap yuri intens

“eotcheom (mungkin)” jawab yuri mantap, kris langsung pergi meninggalkan yuri, yuri menghela nafas kasar

“hey, tuan, kau sudah makan belum?” teriak yuri saat kris melangkah ketangga, kris menoleh yuri dengan mengerutkan kening

“iya, kau tuan!” kata yuri meyakinkan bahwa ia sedang bertanya pada kris

“aku minta kimchi”jawab kris singkat lalu melanjutkan melangkahnya, sedangkan yuri masih terdiam melihat punggung kris menaiki tangga hingga tak tampak lagi

***

Jam menunjukan pukul 9 malam dan terlihat kasur kris brantakan tak berbentuk, dan juga buku- buku di rak-rak kecil tersebar dimana-mana, kris mengacak rambutnya kasar, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Pintu terbuka secara perlahan, yuri hanya mematung melihat keadaan kamar kris yang bagai gudang angker dengan perlahan ia meletakan nampan yang berisi makanan kimchi dan air putih, di atas  brankas. Ia lalu mendekati kris yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangaanya dipojok tembok sambil duduk dilantai bersandar ditembok

“are you okey?”tanya yuri lirih, dan juga takut. Takut jika ia bertannya disaat yang tidak tepat, kris langsung melepaskan tangannya dari wajahnya, dan mendongkakkan kepala melihat yuri berdiri didepannya, ia langsung meraih tangan kiri yuri, cukup lama mata mereka bertemu dengan tatapan saling dingin, membuat kris menghela nafas panjang, yang membuat yuri mengerutkan kening. Heran

“katanya ingin kimci, aku sudah membuatkannya”kata yuri lirih

“bawa kemari”jawab kris, yuri langsung melepas genggaman kris dan mengambil  nampannya tadi

“ini,” kata yuri sambil menyerahkan nampan pada kris

“setelah ini kau mau apa?”tanya kris pada yuri, sambil menerima nampan yuri

“aku, belajar dulu, besok ada praktek biologi”jawab yuri, lalu beranjak pergi

“tunggu”cegah kris pada yuri saat yuri memegang knop pintu kamar kris

“mwo?”tanya yuri

“panggil aku, oppa, terlalu menjijikan kau panggil aku sunbae” kata kris dengan sikap dingin dan kentus

“ne, araseo”jawab yuri lalu keluar kamar dari kris.

***

“oppa! oppa! Oppa!” teriak seorang gadis sambil berlari lari mengejar seorang namja yang terus berjalan tanpa mempedulikan gadis yang meneriakkannya, jung soo yeon itulah namanya

“kris oppa!!!!” teriaknya sekencang mungkin, dan seketika juga kris berhenti berjalan dan senyum kemenangan terukir di bibir cantik jung soo yeon

Kris menoleh datar pada gadis tersebut

“kenapa kau  diam seolah-olah tak mendengarku oppa?” tanya soo yeon dengan nada manis

“aku sibuk” jawab kris

“sibuk apa? apa kau tak senang aku kembali dari amerika, eoh?” tanya soo yeon yang makin penasaran pada sikap orang yang dulu pernah menyukainya saat mereka tetanggaan. Kris hanya diam

“oppa, nanti aku kerumahmu ya” kata soo yeon yang sukses membuat kris menatap serius soo yeon

“mau apa?” tanya kris

“aku mau, kita berteman lagi seperti dulu, malah bisa lebih” jawab soo yeon menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah, jujur saja ia sangat malu karena dulu ia menghindari kris tapi sekarang menginginkan kris

“terserah kau” jawab kris singkat lalu melanjutkan berjalannya

“aku akan membalas  cintamu kali ini oppa, mianhae dulu aku mengacuhkanmu, sekarang kutahu betapa berartinya dirimu ” kata soo yeon sambil menatap tubuh kris yang makin menjauh darinya dengan senyum mengembang sempurna

~**~ T.B.C ~**~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s