[FF] 88 (Chapter 1)

88

Title                 : 88 [Chapter 1]

Author             : Rai Sha

Main Cast        : All Member EXO

Support Cast    : other K-Pop Idol

Genre              : Friendship, Action, Crime, Comedy (maybe)

Length             : Chaptered/Series

Rating              : PG-15

Note                : Nama sekolahnya beneran ada, bukan ngarang. Tapi, kehidupan mereka yang ada di dalamnya ngarang yaps. Jangan di anggap serius karena ini hanya fanfiction, oke? Dan serius, ini ratingnya tinggi karena banyak mengandung kata-kata kasar yang tidak sepantasnya diucapkan. Saya tidak akan bertanggung jawab jika anak-anak yang dibawah 15 tahun membacanya trus jadi dewasa sebelum waktunya, oke? Itu urusan masing-masing.

Oya, ngomong-ngomong, itu baca judulnya tau kan? Bacanya Eighty Eight yaaak, jangan Lapan-Lapan(?) dan emm, seragam sekolahnya kayak yang di MV Growl yang pertama oke? Dan kalian pasti bisa membayangkan versi seragam perempuannya kan? Oke deh, daripada banyak ngebacot mending langsung capcus baca yuk. Happy reading ^^

 

Angkatan 88 mungkin adalah angkatan paling menghebohkan dan paling buruk dalam sejarah Asia Pacific International School (selanjutnya disingkat APIS). Bayangkan saja, jika sekolah terbaik yang ada di Korea Selatan dengan nilai terbaik memiliki murid-murid yang suka mengacau. Seperti berkelahi dengan sekolah lain, tertangkap karena membawa mobil dengan cara ugal-ugalan, merokok, membawa kaset video porno ke sekolah, dan yang paling parah, mabuk-mabukkan.

Sebenarnya bisa saja pihak sekolah mengeluarkan murid-murid bermasalah seperti itu keluar dari sekolah, mengingat kelakuan mereka yang nakal. Seharusnya anak-anak nakal seperti mereka tidak bersekolah di sini, tapi sayang karena otak-otak mereka dan kemampuan mereka cukup bisa diandalkan (dan tentu saja kebanyakan dari mereka sangat kaya dan orangtua mereka berperan sebagai penyumbang besar bagi sekolah), pihak sekolah harus berpikir berpuluh-puluh kali sebelum mengeluarkan anak-anak nakal itu. Biar bagaimanapun, mereka masih memiliki potensi besar untuk menjadi lebih baik lagi.

Seperti Jongin misalnya. Dia merupakan salah satu murid yang sering melakukan pelanggaran tersebut, apalagi soal membawa kaset video porno. Jongin tidak merokok atau mabuk, namun kelakukannya yang sering membawa kaset video porno ke sekolah dan menontonnya di ruang kelas bersama murid-murid yang lain membuatnya sering dipanggil ke ruang guru.

Sayangnya, para guru seringkali menahan diri untuk menghukum Jongin. Anak itu berbakat, sangat berbakat malah. Setiap kali ada turnamen dance, ia selalu ikut serta dan hampir memenangkan seluruhnya. Bahkan, terakhir kali dia mengikuti turnamen dance antar SMU se-Korea Selatan, dia memenangkannya tanpa kesulitan yang terlalu berarti. Karena alasan itulah, pihak sekolah tidak bisa benar-benar memberikan hukuman berat padanya, membuat Jongin selalu melanggarnya.

“Saya sudah katakan berapa kali, Jongin kalau kamu tidak bisa membawa kaset-kaset seperti ini ke sekolah. Kamu bisa menularkannya pada siswa lain,” ujar seorang guru lelaki dengan keriput yang muncul di sekitar wajahnya pada Jongin yang kini sedang berdiri di hadapannya. Tangannya sibuk memijit-mijit keningnya yang mulai berkedut, pusing terhadap ulah Jongin yang tidak pernah berubah.

Jongin hanya menunjukkan gigi-giginya dengan cengiran kecil, sebelah tangannya sibuk mengusap-usap bagian belakang kepalanya. “Maaf, Pak. Saya tidak akan—”

“Stop, kamu tidak perlu berkata apa-apa lagi. Saya sudah capek mendengar ucapan permintaan maafmu yang sia-sia itu. Lain kali jika kamu melakukan hal seperti ini, saya akan mencari cara agar kamu benar-benar berhenti melakukan hal ini. Sekarang kamu bisa pergi.” Guru lelaki itu meminum kopinya yang ada di atas meja sambil menyuruh Jongin pergi dengan kibasan tangannya. Jongin tersenyum kecil sambil sedikit membungkuk sebelum melangkahkan kaki pergi dari sana.

“Tunggu sebentar,” guru itu memanggil Jongin lagi, membuat Jongin mengurungkan niatnya pergi dari sana. “Cepat rapikan rambut panjangmu itu sebelum saya memotongnya secara asal,” lanjut guru itu lagi kemudian benar-benar mengusir Jongin pergi dari ruang guru. Menghadapi siswa nakal tapi berbakat seperti Jongin benar-benar membuatnya pusing setengah mati.

Sekarang Jongin memang bebas dari hukuman, tapi ke depannya ia pasti akan membuat Jongin jera akan kelakuan memalukannya itu.

***

“Yyaa Jongin! Darimana saja kamu?” seseorang berseru kepada Jongin saat melihat Jongin memasuki lapangan basket indoor sekolah mereka. Jongin tersenyum lebar, kemudian menghampiri teman-temannya dengan setengah berlari.

“Biasa, habis kena omel oleh guru tua itu. Kamu tahu sendiri, kan?” balas Jongin lalu menyalami teman-temannya satu persatu dengan santai. “Kris, berikan bolanya padaku. Aku harus merenggangkan otot-ototku,” Jongin beralih pada salah satu temannya yang sedari tadi masih ada di tengah lapangan sambil memainkan bola basket.

Jongin dengan segera melepaskan blazer sekolahnya dengan asal dan langsung melemparnya pada temannya yang hanya memainkan ponsel di tangannya, membuat temannya itu berdecak kecil. Kemudian Jongin setengah berlari menuju lapangan dan mencoba merebut bola dari tangan Kris yang memang pemain inti sekolah.

“Baekhyun! Ada berita gawat!” teriak seseorang berbadan tinggi yang baru saja memasuki lapangan basket indoor dengan berlari. Wajah tampannya itu terlihat panik dan nafasnya terdengar saling mengejar.

Orang yang dipanggil Baekhyun mengangkat wajahnya dari ponsel dan menatap temannya itu dengan kening berkerut. “Apa? Paling-paling kamu ketahuan selingkuh dari pacar-pacarmu itu, kan?” tebak Baekhyun dengan wajah datar. Lalu, ia kembali memainkan ponsel di tangannya, mengacuhkan temannya yang bertubuh tinggi itu.

“Hey! Kenapa kamu tidak terlihat peduli seperti itu, sih? Apa kamu tidak tahu kalau aku hampir saja di siram air dan ditampar oleh cewek-cewek itu,” sungutnya lagi sambil mendekati Baekhyun dan duduk di sebelahnya.

“Bukankah itu wajar? Kamu saja pernah berkencan dengan 4 cewek sekaligus di waktu dan tempat yang sama,” timpal yang lain yang memiliki kulit paling putih di antara yang lainnya—Sehun.

“Dan lagi, aku yakin pacar-pacarmu masih banyak, Park Chanyeol. Kamu tidak akan kehilangan seluruh pacar-pacarmu walaupun kedua wanita itu mencampakkanmu,” tambah Baekhyun yang matanya bahkan masih terpaku pada layar ponselnya.

Chanyeol hanya bersungut-sungut kecil mendengar seluruh perkataan teman-temannya. Dia ingin membantah semua perkataan itu, tapi apa mau dikata, semua yang keluar dari mulut teman-temannya itu memang benar.

Park Chanyeol, seorang siswa APIS yang memiliki tubuh tinggi dan wajah tampan. Belum lagi kemampuannya dalam bermain musik dan berolahraga, membuat banyak gadis yang memujanya—bahkan sampai mendirikan fan club. Gara-gara itulah, Chanyeol jadi tidak bisa menahan hasratnya untuk mengencani seluruh gadis-gadis itu, membuat nama Park Chanyeol dikenal sebagai seorang playboy. Namun, bukannya mundur, gadis-gadis itu malah semakin gencar mendekati Chanyeol, berharap bisa mendapatkan hati lelaki bertubuh tinggi tersebut.

“Chanyeol, apa kamu tidak ada niat untuk berhenti mengencani gadis-gadis itu? Kulihat semakin hari semakin banyak saja yang mendekatimu,” ucap Sehun. Ia mengambil kotak susunya dan meminumnya sampai habis hingga terdengar bunyi khas.

Chanyeol menatap Sehun dengan pandangan yang membuat Sehun menghentikan aktifitasnya—menyedot-nyedot kotak susu yang isinya sudah habis.

“Setiap kali aku ingin berhenti, mereka langsung mendekatiku kembali dan memaksaku untuk mengencani mereka. Sebenarnya aku capek juga, sih, tapi aku tidak bisa berhenti,” jawab Chanyeol yang diakhiri dengan tawa menggelegar, menciptakan gema di ruangan itu.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan aneh, seolah mengatakan bahwa Chanyeol sudah tidak waras. “Jujur saja, aku lebih bisa memahami jika yang berada di posisimu itu Kris. Dia bahkan jauh lebih tampan dan lebih keren darimu,” dengusnya tepat setelah Kris memasukkan bola ke ring dari luar garis three point.

“Aku tidak pernah berminat untuk menjadi seperti Chanyeol. Hidupku yang tenang bisa hancur,” sahut Kris yang mendekati mereka. Sekujur tubuhnya dihiasi keringat. Jika gadis-gadis melihatnya dalam keadaan seperti ini, pasti mereka akan berteriak heboh dan bisa dipastikan fans Kris akan bertambah banyak dalam waktu singkat. Tapi, tentu saja, itu hanya berlaku jika para gadis itu melihatnya, yang berarti tidak berlaku untuk sekarang. Kris meraih botol minum yang ada di atas meja dan meminumnya.

“Hey, pesonaku dan pesona Kris itu berbeda tau! Kamu saja yang tidak pernah menyadari pesonaku,” balas Chanyeol tidak mau kalah. Ia tidak terima dirinya diremehkan seperti itu oleh Baekhyun. Bagaimanapun, dirinya lebih mempesona daripada Baekhyun yang kerjanya hanya bermain flappy bird di ponselnya itu. “Aku bahkan lebih keren darimu, Baekhyun!” tambahnya dengan kesal.

“Kamu bilang apa? Kalau aku mau, aku bisa menjadi lebih populer darimu!” kata Baekhyun sengit. Ia sudah meninggalkan ponselnya dan sekarang sedang menatap Chanyeol dengan tajam.

“Apa? Hah! Itu tidak pernah benar! Apa kau mau bertaruh denganku?”

“Kamu kira aku takut?!”

“Baiklah, karena kamu bilang kamu lebih keren daripada diriku, bagaimana kalau kita bersaing dalam mengajak kencan sepuluh orang gadis? Yang paling banyak diterima, dialah pemenangnya,” tantang Chanyeol dengan senyum licik di wajahnya. Tentu saja dia bakal menang telak, hampir seluruh gadis di APIS menginginkannya.

“Hey, itu tidak adil! Kamu bisa mengajak fans-fansmu itu yang pasti akan mengiyakan ajakanmu!” protes Baekhyun yang bahkan sudah berdiri dari duduknya.

Chanyeol kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya, apapun jawaban Baekhyun nantinya tetap saja pemenangnya Chanyeol. Jika Baekhyun menolak tantangannya, otomatis Baekhyun tidak bisa membuktikan perkataannya dan Chanyeol menang begitu saja. Dan jika Baekhyun menerima tantangannya, Chanyeol tetap akan menang karena fans Chanyeol akan langsung mengiyakan ajakan Chanyeol tanpa pikir panjang. Dan Baekhyun sama sekali tidak menyadari ‘kekalahan sebelum bertanding’-nya ini. Chanyeol benar-benar menang telak.

“Takut? Kamu bisa menarik seluruh ucapanmu itu dan meminta maaf padaku.” Chanyeol memandang Baekhyun dengan senyum mengejek dan tatapan merendahkan sambil tetap berada dalam posisi duduknya.

Baekhyun membelalak, tidak terima direndahkan secara tidak hormat seperti itu pada orang seperti Chanyeol. “Aku tidak pernah takut untuk menerima tantanganmu, bodoh!”

“Baiklah, kalau begitu kita deal. Yang menang tidak akan mendapatkan hadiah, tapi…” Chanyeol memutuskan omongannya, memberikan efek penasaran pada semuanya. Sehun, Jongin, dan Kris yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pun ikut penasaran. Mereka sama sekali tidak bisa melerai kedua siswa yang sering berdebat tentang hal remeh tersebut.

“Tapi apa? Cepat tuntaskan omonganmu atau kau kutendang!” ancam Baekhyun tidak sabar, terlalu kesal dengan tingkah Chanyeol yang terlalu sok itu.

“Yang kalah akan memakai seragam perempuan selama sehari penuh. Tentu saja harus lengkap dengan wig rambut panjang dan aksesoris perempuan lainnya.”

Oke, ini memalukan. Bagaimana mungkin seorang lelaki seperti mereka berdua harus memakai seragam perempuan? Ini sangat tidak masuk akal! Dan tentu saja ini sangat berbahaya bagi Baekhyun, mengingat posisinya yang sudah tidak bagus dari awal.

Semua yang mendengar ucapan Chanyeol spontan menganga lebar disusul dengan tawa keras. Memikirkan Baekhyun (ya, mereka bahkan sudah menduga dari awal Baekhyun bakal kalah telak) menjadi seorang gadis pasti sangat menarik. Hey, Baekhyun sudah dikenal dengan wajah imutnya dan dia pasti akan menjadi sangat cantik jika menjadi seorang perempuan.

“Apa?! Aku tidak mau melakukan hal memalukan seperti itu!” teriak Baekhyun. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya pergi ke sekolah menjadi seorang siswi. Aah, belum apa-apa saja, semua itu terlihat sangat menyeramkan.

“Kenapa? Kamu takut? Sudah kubilang kamu bisa mundur, tapi kamu harus menarik seluruh ucapanmu itu.”

“Sudah kubilang aku tidak takut padamu, Chanyeol! Dan akan kubuat kamu menyesal dengan seluruh ucapanmu!” bentak Baekhyun kesal kemudian melangkah pergi dari gedung olahraga dengan diikuti oleh tawa tertahan teman-temannya.

Sebenarnya, ini adalah awal masalah besar bagi siswa angkatan 88. Terutama mereka.

***

Tentu saja, tanpa perlawanan yang berarti Chanyeol bisa memenangkan pertaruhan itu dengan mudah. Sebenarnya, kemampuan Baekhyun juga tidak dapat diremehkan. Walaupun sebenarnya ia termasuk salah satu siswa populer (karena bergaul dengan Chanyeol, Kris, dan Luhan yang memiliki banyak fans di APIS), ia bukanlah siswa yang memiliki banyak fans. Mungkin ada sekitar dua atau tiga orang yang lebih memilih Baekhyun daripada 3 siswa populer itu karena wajah imutnya, tapi tetap saja ia tidak bisa mengalahkan banyaknya fans Chanyeol yang tersebar di seluruh APIS.

Dan yaah, memang benar juga, kalau ia ingin maka ia bisa membuktikan bahwa ia bisa sepopuler mereka. Hanya saja, selama ini Baekhyun tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temannya daripada mengurusi siswi-siswi centil itu.

Skor mereka tidak beda jauh. Chanyeol mendapatkan skor penuh, sedangkan Baekhyun mendapatkan jawaban “iya” dari 7 orang gadis. Tentu saja gadis-gadis itu bukanlah fans Chanyeol karena mereka pasti akan lebih memilih Chanyeol daripada dirinya. Baekhyun lebih memilih untuk “mengajak” kencan gadis-gadis yang biasa-biasa saja karena mereka lebih mudah didekati.

“Bagaimana? Sudah kubilang kalau kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku,” kata Chanyeol sombong saat mereka (Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Jongin, Luhan) sedang berkumpul di pinggir lapangan basket. Sedangkan Kris, salah satu saksi yang mendengarkan pertaruhan Chanyeol-Baekhyun sedang berada di tengah lapangan, mendengarkan arahan-arahan sang pelatih. Kebetulan, sebentar lagi turnamen kejuaraan basket senasional akan dimulai dan ini berarti Kris bersama teman-temannya yang lain harus berlatih keras untuk memenangkannya.

Baekhyun mendengus, kesal dengan tingkah Chanyeol yang semakin hari semakin sok saja. Baekhyun tahu bahwa Chanyeol itu tampan dan populer, tapi tetap saja Chanyeol tidak perlu bersikap semenyebalkan itu. Apa Chanyeol tidak menyadari bahwa Baekhyun hampir mengalahkannya? Kalau saja fans Chanyeol tidak sebanyak itu, Baekhyun yakin ia dapat mengalahkan Chanyeol.

“Hahaha kamu jangan sesombong itu, Chanyeol. Kamu bisa menang itu hanya karena fansmu yang terlalu banyak,” sahut Luhan yang mendengar ucapan sombong yang dilontarkan Chanyeol. Mungkin Luhan terdengar membela Baekhyun, tapi sebenarnya dia tidak membela siapapun.

“Benar, Luhan. Kalau seperti ini, penilaiannya tidak adil, bukan?” Baekhyun terdengar senang saat mendengar ucapan Luhan. Akhirnya ada juga yang berpihak padanya, atau paling tidak menyuarakan protes pada Chanyeol.

Chanyeol menatap Luhan dan Baekhyun bergantian. “Aku sudah bilang dari kemarin, kalau kamu memang takut untuk melaksanakan tantangannya kamu bisa mundur,” balas Chanyeol yang tidak memperdulikan protes yang lagi-lagi disuarakan Baekhyun.

“Tapi, sebenarnya aku penasaran bagaimana melihat tampang Baekhyun dalam busana perempuan,” timpal Jongin usil dengan kekehan dibelakang perkataannya.

“Aku yakin dia pasti akan sangat cantik,” tambah Sehun sambil membayangkan Baekhyun yang memakai seragam sekolah mereka dengan rok dan rambut panjang. “Astaga, hanya dengan membayangkannya saja aku bisa tahu dia akan menjadi benar-benar cantik.”

“Hey! Kenapa kalian jadi berpihak pada Chanyeol, sih? Jangan harap aku mau melaksanakan tantangan bodoh itu!” Baekhyun mencibir kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan. Terlihat Kris yang sedang memantulkan bola kemudian mengopernya pada Minho, teman satu timnya.

“Baekhyun, kamu sudah menerima tantangan itu dari awal dan sekarang kamu kalah. Seharusnya kamu menepati janjimu untuk melaksanakan tantangan itu,” kata Luhan dengan senyum yang terlihat mencurigakan. Tuh kan, sudah dibilang Luhan itu bukannya membela Baekhyun, dia hanya merasa heran dengan tantangan Chanyeol yang dari awal sudah ketahuan pemenangnya. Dan sejujurnya, Luhan sendiri penasaran dengan tampang Baekhyun dalam balutan seragam perempuan.

Baekhyun mendengus keras, berusaha memberitahu semua orang bahwa ia sedang kesal setengah mati kepada teman-temannya. Apa sih yang dipikirkan mereka sampai-sampai semuanya ingin melihat Baekhyun versi perempuan? Memangnya salah jika ia memiliki wajah imut? Dan apakah wajah imut itu hanya milik perempuan sampai-sampai Baekhyun harus menjadi perempuan? Oke, cukup sudah. Jika mereka memang ingin melihat Baekhyun dalam busana perempuan, maka Baekhyun akan melakukannya.

“Baiklah, kalau kalian memang ingin melihatku seperti itu, maka akan aku lakukan. Aku harap tidak ada satu pun dari kalian yang jatuh cinta padaku saat melihatku menjadi perempuan untuk sehari,” ucap Baekhyun dengan keyakinan yang luar biasa. Bahkan Chanyeol, Luhan, Sehun, dan Jongin sampai terperangah oleh sikap Baekhyun yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.

“Tapi, dengan satu syarat,” Baekhyun mengeluarkan senyum liciknya dan ini semua mulai terdengar tidak baik. “Salah seorang dari kalian harus menemaniku cross dressing.” Baekhyun memandang Luhan, Sehun, dan Jongin bergantian dengan tatapan yang membuat mereka bergidik.

Chanyeol melongo mendengar syarat Baekhyun yang bahkan tidak terlintas dipikirannya. Mulutnya menggumamkan kata “o’ow” sambil memandang teman-temannya. Ia bahkan melihat Sehun mematung setelah mendengar perkataan Baekhyun.

“Hey! Kenapa kami jadi terlibat? Ini semua kan urusan kalian berdua!” Jongin menatap Baekhyun dengan pandangan tidak percaya.

Baekhyun membalas pandangan Jongin dengan pandangan tidak bersalah. Jika mereka ingin melihat Baekhyun memakai seragam perempuan, maka salah satu dari mereka harus menemani Baekhyun melakukannya.

“Tetapi kalian juga memaksaku untuk memakai seragam perempuan dan sangat ingin melihatku berpakaian seperti itu. Apalagi kalian juga akan menyaksikanku menjadi perempuan.” Oke, alasan Baekhyun terdengar sedikit tidak masuk akal. Dia sendiri harus mencari-cari alasan yang bisa meyakinkan mereka, tapi yang terpikir di otaknya hanyalah alasan setengah tidak jelas seperti itu.

“Benar! Salah satu dari kalian harus menemani Baekhyun melakukannya karena kalian sudah ikut campur urusan kami berdua. Seharusnya hanya aku yang melihat Baekhyun menjadi perempuan, tetapi karena kalian juga ingin melihatnya, maka kalian harus menemaninya,” bela Chanyeol. Otak jahilnya mulai kembali berjalan. Bukankah sangat menarik melihat dua temannya menjadi perempuan selama sehari penuh? Ha-ha bisa dipastikan hari itu akan menjadi salah satu hari yang paling diingat oleh hidupnya.

Baekhyun kembali tersenyum saat mendengar ucapan Chanyeol. Ia melirik Luhan yang terdiam sejak tadi. Sepertinya Luhan sudah mendapatkan firasat buruk karena tahu-tahu saja Baekhyun menyebut namanya. “Kulihat kamu memiliki wajah cantik. Dan sebaiknya wajah cantikmu itu jangan disia-siakan, bukan?”

Luhan merutuk dalam hati. Demi seluruh waria yang ada di dunia! Luhan tahu jika wajah cantiknya ini suatu saat akan melemparkan bom padanya. Demi Tuhan, kenapa juga dia harus memiliki wajah cantik padahal jelas-jelas dia memiliki kepribadian yang benar-benar gentleman.

Sehun dan Jongin seketika menghela nafas lega. Mereka bebas dari permainan gila yang diciptakan makhluk tidak jelas seperti kedua temannya kini.

“Kenapa harus aku? Wajahku sama sekali tidak cantik,” Luhan mencoba protes dengan suara kecil. Sebenarnya, ia tahu apapun yang akan dikatakannya tidak akan berpengaruh pada hasil akhir.

“Sudahlah, Luhan. Nikmati saja harimu menjadi perempuan, oke? Aku akan mendukungmu,” kata Sehun mencoba menyemangati Luhan. Tapi, tentu saja itu sia-sia karena siapa juga laki-laki yang mau menjadi perempuan? Ah, untuk bagian ini, tolong lupakan waria-waria yang rela operasi transgender karena Luhan bukan lelaki seperti itu.

Bagian kedua menuju masalah besar mereka sebentar lagi akan dimulai.

To Be Continued…

Gimana? Saya tahu ini gaje, tapi dari dulu kepingin banget bikin semua member exo jadi anak SMA gitu, habis pastinya keren banget >< di chapter-chapter awal mungkin action sama crime-nya belum kelihatan, tapi semakin lanjut pasti bakal muncul kok itu action-nya. Jadi, saya harap ff ini cukup di gemari oleh readers jadi saya bakal semangat melanjutkannya 😀 see you next time guys ^-^

Advertisements

9 thoughts on “[FF] 88 (Chapter 1)

  1. shavira March 8, 2014 / 9:18 am

    d tunggu kelanjutannya

  2. atikahmartina April 5, 2014 / 12:32 pm

    lanjutannya di tunggu loh. sama [FF] EXO Planet Era (Chapter 10)

    • raishaa April 5, 2014 / 12:42 pm

      Iyaa, makasih yaaah udah baca dan berkunjung ^-^

  3. azziris April 20, 2014 / 11:05 am

    Bagus nih…lucu bnget critanya…
    Jngan lama2 thor…

    • raishaa April 20, 2014 / 11:09 am

      Hehe iyaa makasih. Chapter selanjutnya lagi dlm proses, tunggu yaa ^-^

  4. Shin Hyun Young May 21, 2014 / 11:46 pm

    Ok… aku masih agak ngga ngerti sama ‘awal masalah’nya…
    tapi ini bagus, ditunggu ya next chapnya… 😉
    Hwaiting! ^^v

    • raishaa May 21, 2014 / 11:54 pm

      It’s just the beginning, jadi semuanya masih samar-samar dan belum ada masalah memang 😀 makasih yaaa ^^

  5. Joe February 17, 2016 / 8:06 pm

    hahaha :D,,, ada2 aja sih parkchan n byunbaek itu :D. jail amat jadi orang 😀
    Pake ngajak luhan buat ikut nrima hukuman sgala. hahaha, kenapa gk sekalian hun sama kai juga??? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s