[FF] 88 (Chapter 2)

88

Title                 : 88 [Chapter 2]

Author             : Rai Sha

Main Cast        : All Member EXO

Support Cast    : other K-Pop Idol and other cast

Genre              : Friendship, Action, Crime, Comedy (maybe)

Length             : Chaptered/Series

Rating              : PG-15

Note                : Nama sekolahnya beneran ada, bukan ngarang. Tapi, kehidupan mereka yang ada di dalamnya ngarang yaps. Jangan di anggap serius karena ini hanya fanfiction, oke? Dan serius, ini ratingnya tinggi karena banyak mengandung kata-kata kasar yang tidak sepantasnya diucapkan. Saya tidak akan bertanggung jawab jika anak-anak yang dibawah 15 tahun membacanya trus jadi dewasa sebelum waktunya, oke? Itu urusan masing-masing.

Oya, ngomong-ngomong, itu baca judulnya tau kan? Bacanya Eighty Eight yaaak, jangan Lapan-Lapan(?) dan emm, seragam sekolahnya kayak yang di MV Growl yang pertama oke? Dan kalian pasti bisa membayangkan versi seragam perempuannya kan? Oke deh, daripada banyak ngebacot mending langsung capcus baca yuk. Happy reading ^^

*) Iljin: mafia atau kelompok penjahat dari sekolah.

 

Seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah berjalan dengan tergesa di gang-gang kecil. Beberapa kali pandangannya menoleh ke belakang, memastikan orang yang mengejarnya tidak dapat menyusulnya. Bulir-bulir keringat menghiasi wajah cantiknya. Rambut coklatnya terlihat acak-acakan. Nafasnya memburu.

“Hey, gadis jalang, aku sudah memberitahumu bahwa kau tidak bisa lari dariku!” suara pengejar kembali terdengar. Nadanya terdengar sedikit membentak dan bosan.

Si gadis tadi menghentikan larinya saat jalan yang dihadapannya berujung buntu. Ia benar-benar menyesal sudah masuk ke gang sempit ini. Dia pikir gang ini akan menembus ke jalan besar dan ia bisa meminta tolong pada orang-orang agar terlepas dari pengejarnya.

“Tch. Dasar anak manja!” hardik si pengejar dengan nada malas yang ternyata juga merupakan seorang gadis seperti dirinya. Pengejar itu juga masih memakai seragam sekolah, namun kemeja putihnya sudah terlihat kusam dan blazer sekolahnya tidak terpasang. Rambutnya pendek, dengan potongan tidak rapi. Singkatnya, gadis yang satu ini merupakan salah satu iljin* di Korea Selatan.

“Ma—mau apa kamu?!” balas si gadis tadi dengan nada membentak yang di paksakan. Sekujur tubuhnya sudah terlihat gemetaran.

Gadis iljin tadi tersenyum licik sambil mendekatkan langkahnya pada gadis tadi. “Hmm, gadis kaya sepertimu pasti mempunyai barang yang menarik kan?” katanya. Dia mendekatkan wajahnya pada si gadis dan menatapnya tajam. Nyali si gadis yang tadi sempat ada langsung menciut begitu disodori tatapan seram seperti itu.

Tatapan si gadis iljin jatuh pada kalung yang ada leher si gadis. Senyumnya kembali tersungging. “Kalung ini bagus juga. Aku ambil, ya.” Ia menarik kalung itu secara paksa kemudian menggantungnya di atas kepalanya, mengamati kalung itu. Kalung itu berwarna perak dengan bandul berbentuk bulat lempeng, tertulis huruf ‘K’ di depannya.

“Ja—jangan! Kalung itu sangat penting!” si gadis melarang masih dengan suara gemetar. Ia mencoba mengambil kalungnya kembali tapi gadis iljin langsung menggulung kalung itu dalam genggamannya.

“Bego! Sudah sana pergi! Jangan menggangguku! Dasar cengeng!” bentak si gadis iljin tadi sambil menunjul keras kepala si gadis yang sudah hampir menangis. Si gadis tadi, dengan langkah berat dan air mata yang mengalir deras di pipinya segera pergi dari sana sambil mengikhlaskan kalungnya yang sudah raib diambil preman perempuan itu.

 

***

 

Terdengar siulan kencang saat Baekhyun dan Luhan memasuki sekolah keesokan harinya. Seperti janji Baekhyun terhadap Chanyeol, ia benar-benar melaksanakan tantangan itu. Sedangkan Luhan, ia sudah berencana kabur dari rumah subuh tadi tapi Baekhyun sudah nangkring di depan rumah Luhan sebelum ia sempat kabur. Baekhyun benar-benar tidak membiarkan Luhan kabur.

Dan Baekhyun menjadi benar-benar cantik. Ia tidak setengah-setengah dalam mendandani dirinya sebagai wanita. Dengan wig panjang yang warnanya senada dengan rambut aslinya yang ujungnya sudah dikeriting, bando dengan pita berwarna pink, stoking hitam yang panjangnya menutupi betisnya, dan sepasang sepatu pumps warna hitam, Baekhyun benar-benar terlihat seperti seorang wanita. Belum lagi riasan eyeliner di sekitar matanya menambah ketajaman matanya yang sipit itu. Saat pertama kali melihat keadaan Baekhyun yang nyaris tidak dikenali, Luhan harus mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali sambil meyakinkan dirinya bahwa yang dihadapannya itu memang Baekhyun.

Sedangkan Luhan berdandan lebih simple. Ia hanya memakai wig sebahu warna coklat terang seperti rambutnya, sepasang sepatu kets, dan seragam sekolah yang dipakainya secara biasa (tidak seperti Baekhyun yang memakainya seperti Krystal, salah satu model di sekolah mereka). Namun, tetap saja, wajahnya yang memang terlalu cantik untuk ukuran anak lelaki seperti dirinya telah benar-benar merubah dirinya secara fisik.

“Wow!” terdengar gumaman kagum dari mulut Chanyeol saat melihat Baekhyun dan Luhan mendatangi mereka di taman sekolah. Pandangannya tidak lepas dari wajah cantik Baekhyun yang terpoles makeup tipis. Oh, bahkan dia sempat memandangi dada Baekhyun yang terlihat seperti dada perempuan kebanyakan.

Sudut bibir Baekhyun tertarik ke atas, tersenyum meremehkan pada Chanyeol. “Lepaskan pandangan pervertmu itu dari dadaku, Park Chanyeol. Memangnya kamu lupa kalau aku adalah lelaki?”

Chanyeol tersadar kemudian memandang Baekhyun dengan pandangan aneh. “Tch. Tentu saja aku masih sadar. Dandananmu itu terlihat menjijikan,” katanya pedas lalu mengalihkan pandangannya pada Luhan yang terlihat menyembunyikan wajahnya di balik wig-nya itu.

“Luhan, kamu terlihat cantik!” ucap Sehun ringan sambil merangkul Luhan dengan senyuman lebar di wajahnya, sisa dari tawa kerasnya tadi bersama Jongin saat melihat Luhan dan Baekhyun dari kejauhan. “Dan Baekhyun, kamu benar-benar terlihat mengagumkan! Kamu bahkan terlihat lebih cantik daripada Krystal!” puji Sehun bersemangat sambil mengamati Baekhyun dari atas sampai bawah. Sehun sempat mengerutkan kening saat melihat sepasang sepatu hak tinggi di kaki Baekhyun. Pantas saja Baekhyun terlihat lebih tinggi daripada biasanya.

“Tentu saja! Aku memanglah orang yang mengagumkan!” balas Baekhyun sambil tersenyum sombong, kemudian memandang Chanyeol dengan pandangan puas. Entah kemana rasa kesalnya kemarin yang benar-benar menolak keras berdandan seperti gadis. Luhan bahkan sampai heran saat melihat Baekhyun bersemangat sekali dalam berdandan. Dalam hati, Luhan jadi berpikir bahwa Baekhyun sebenarnya memiliki sisi perempuan yang tidak pernah ditunjukkanya.

“Aku tidak menyangka jika Baekhyun berdandan habis-habisan,” sahut Jongin yang kedua tangannya terselip di saku celananya. Matanya sibuk memperhatikan Baekhyun dan Luhan bergantian. Sejujurnya, dibanding Baekhyun yang lebih terlihat seperti model, Jongin lebih menyukai dandanan Luhan yang terlihat seperti gadis cantik yang pemalu. Kalau saja Jongin tidak mengetahui bahwa kedua siswa (atau dalam hal ini siswi) yang ada di hadapannya sekarang adalah temannya yang melakukan cross dressing, ia pasti menyangka bahwa mereka adalah siswi pindahan dan jatuh cinta pada salah satunya. Wajah kedua temannya ini benar-benar menyeramkan, dalam artian bisa menjadi tampan dan cantik di saat bersamaan.

Luhan yang sedari tadi membungkam mulutnya, mulai mengangkat wajahnya, menampakkan wajahnya secara jelas tanpa terhalang rambut. “Aku yakin bahwa sebenarnya Baekhyun suka berdandan seperti ini,” kata Luhan dengan nada setengah kesal, masih dongkol dengan kelakuan Baekhyun yang memaksanya cross dressing tadi pagi.

Baekhyun mendelik pada Luhan saat mendengar ucapannya. “Jangan berkata hal yang tidak masuk akal, Luhan!”

“Benar, aku menyetujui ucapan Luhan. Daripada Luhan yang berdandan sangat simple, kenapa kamu berdandan sampai menyaingi Krystal? Apa kamu tidak takut dengan Krystal yang akan melabrakmu karena berdandan melebihi dirinya?” Chanyeol menyetujui ucapan Luhan sambil menyilangkan tangannya di depan dada. “Jujur saja, Krystal yang mengamuk benar-benar terlihat menyeramkan,” ujar Chanyeol lagi, teringat saat dirinya disiram air oleh Krystal saat ketahuan bahwa Chanyeol berjalan dengan gadis lain, yeah khas Chanyeol.

“Ngomong-ngomong soal Krystal, apa kalian tidak tahu jika kemarin dia dirampok oleh seorang siswi iljin sekolah lain?” Sehun berkata sambil mengikuti teman-temannya yang mulai berjalan beriringan di koridor sekolah.

Luhan menoleh, terlihat tertarik dengan topik pembicaraan yang dibawa Sehun. Daripada mengurusi siswa-siswi yang sedang memperhatikannya, lebih baik dia ikut terjun dalam pembicaraan yang dibawa Sehun. Tidak seperti Baekhyun yang memang bukan siswa populer sehingga keberadaan Baekhyun yang tiba-tiba berubah menjadi seorang siswi tidak begitu diperhatikan (terlepas dari siswa-siswa mata keranjang yang langsung terpesona dengan kecantikan Baekhyun dan siswi-siswi yang kagum dengan kecantikan Baekhyun), perubahan Luhan yang berdandan sebagai seorang siswi benar-benar menarik perhatian (walau mereka harus meyakinkan diri mereka dahulu). “Apa? Kenapa?”

“Hey, kenapa kamu bisa mengetahui berita seperti itu? Dapat gosip darimana kamu?” tanya Jongin dengan pandangan heran.

“Itu sudah menjadi hot topic di sekolah sejak tadi. Yaah, mungkin sebentar lagi hot topic itu akan berubah,” jawab Sehun sambil melirik kedua temannya yang sedang melakukan cross dressing yang langsung membuat Luhan melemparkan pandangan tajam pada Sehun.

“Aku tidak menyangka bahwa cewek galak itu bisa juga dirampok sama siswi sekolah lain,” timpal Chanyeol yang berjalan santai sambil sesekali melemparkan senyum—yang menurut Baekhyun menjijikkan—pada gadis-gadis yang menyapanya.

Baekhyun hanya menatap Chanyeol dengan wajah datar yang seolah mengatakan bahwa Chanyeol sangat bodoh.

“Apa? Kenapa menatapku dengan pandangan seperti itu?”

“Itu karena kamu terlalu bodoh! Kamu tidak dengar kalau yang merampoknya adalah seorang iljin, hah? Apalagi aku yakin Krystal sama sekali tidak bisa melawannya,” hardik Baekhyun kesal pada kepolosan—atau kebodohan—Chanyeol yang kelewatan.

Sehun, Jongin, dan Luhan yang mendengarkan percakapan dua orang yang sering bertengkar itu dengan gelengan kepala dan decakan kecil.

 

***

 

“Baiklah, sudah diputuskan untuk tahun ini bahwa sekolah kita akan melakukan karya wisata ke pulau Jeju,” kata Joonmyeon dengan suara tegas dan tenang saat mengakhiri rapat OSIS. Selaku ketua OSIS, Joonmyeon harus bisa bersikap tegas dalam mengambil keputusan. Walau badannya kecil dan banyak siswa yang mengacuhkannya sehingga bisa dibilang ia adalah ketua OSIS yang paling tidak terkenal, namun Joonmyeon memang pantas menyandang jabatan itu. otaknya encer dan para guru banyak yang mengandalakannya untuk mengikuti olimpiade Fisika atau Kimia.

Seluruh anggota OSIS yang mendengar keputusan Joonmyeon menghela nafas lega karena rapat yang sudah berlangsung sejak tadi akhirnya selesai. Beberapa anggota bahkan sudah keluar dari ruangan sebelum Joonmyeon membubarkannya, membuat Joonmyeon hanya menghela nafas kecil. Dia sudah terlampau sering diperlakukan seperti itu.

“Rapat kita kali ini selesai. Sebaiknya kita harus segera mengurus pembukaan Korean High School Basketball League karena kali ini kitalah yang menjadi tuan rumah. Ayo tunjukkan bahwa sekolah kita memang yang terbaik,” ucap Joonmyeon lagi, sedangkan para anggota hanya mengangguk diam tanpa menyahuti ucapan sang ketua. Segera setelah Joonmyeon membereskan kertas-kertas dihadapannya, para anggota langsung keluar dari ruangan.

Joonmyeon membanting dirinya di kursi. Pandangannya terarah pada setumpuk berkas-berkas dihadapannya sambil memijit-mijit keningnya yang berkdeut-kedut. Diperlakukan tidak hormat selayaknya tidak dianggap sebagai ketua sudah didapati Joonmyeon semenjak menjabat sebagai ketua OSIS. Bahkan, sejak sebelum ia menjadi ketua pun, banyak siswa disana yang tidak terlalu menyukai Joonmyeon. Kebanyakan dari mereka iri karena Joonmyeon dikatakan sebagai siswa hampir sempurna. Ia tinggal di kawasan Apgujeong yang berarti bahwa dia berasal dari keluarga kaya. Orangtuanya juga merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi APIS. Ditambah, otaknya yang encer dan wajah tampannya, membuat banyak siswa-siswa yang sering menindasnya. Ia menjadi ketua OSIS pun bukan karena pemilihan para siswa-siswi APIS, tapi karena para guru yang mengaturnya.

“Aah, aku tidak boleh seperti ini. Lebih baik aku mengurus pembukaan kompetisi basket daripada berdiam diri memikirkan hal tidak penting,” gumamnya pada diri sendiri kemudian bangkit dari duduknya. Ia merapikan blazer-nya sebelum melangkah keluar dari ruangan.

 

***

 

“Apa-apaan surat ini?!” Inspektur Chung—kepala kepolisian Korea—berteriak sambil membanting selembar surat di tangannya. Ia hampir saja melempar televisi di hadapannya dengan benda yang ada di mejanya yang sedang menyiarkan pembukaan Korean High School Basketball League yang diadakan di salah satu SMA terkenal kalau saja tidak ditahan oleh salah satu anak buahnya. “Korea Utara keparat!!!” makinya lagi sambil membanting dirinya di kursi.

“Darimana kalian dapat surat ini?” tanya Inspektur Chung yang sedang memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba berkedut kencang dan membuat kepalanya terasa pening. Tensi darahnya bisa dipastikan naik jika begini caranya.

“Anu… Inspektur,” kata salah seorang anak buah Inspektur Chung—Park Jungsoo—dengan gagap. “Surat itu dikirim ke kotak posku tadi pagi,” lanjutnya. Park Jungsoo memang seorang detektif polisi yang baru dipindahkan ke Seoul, jadi dia masih belum beradaptasi dengan Inspektur Chung dan emosinya yang meledak-ledak.

“Bukankah kamu polisi yang dari Busan itu?” ucap Inspektur Chung sambil menatap lekat Jungsoo yang hanya mengangguk mendengar ucapan Inspektur Chung. “Kenapa surat ini malah dikirim padamu yang jelas-jelas masih polisi baru di sini?” gumamnya sambil terlihat berpikir.

“Tunggu apa lagi kalian? Cepat batalkan kompetisi basket itu sekarang! Nyawa orang-orang dalam bahaya jika kompetisi ini terus berlanjut!” perintahnya dengan ledakan emosi yang kembali.

“Ta… tapi, Inspektur, kompetisi ini tidak bisa dibatalkan begitu saja. Korea Utara pasti akan mengambil tindakan yang lebih berbahaya dari ini jika mengetahui kompetisi basket itu kita batalkan. Dan lagi, orang-orang pasti akan panik jika mengetahui hal ini,” jelas Yunho, salah satu Inspektur kepolisian yang berada di bawah satu tingkat dari Inspektur Chung.

“Kalau begitu cepat cari cara untuk melenyapkan bom itu!”

 

***

 

“Changmin!” panggil seorang pria berpostur tegap dan bertubuh tinggi. Kulitnya agak sedikit kecoklatan, wajahnya tampan dengan otot-otot yang membuat setiap gadis yang melihatnya terpesona.

Merasa namanya dipanggil oleh seseorang, Changmin segera menghentikan aktifitasnya—memberikan arahan-arahan pada muridnya yang sebentar lagi akan bertanding. Changmin menampakkan ekspresi tidak suka saat melihat orang yang memanggilnya. “Sudah kubilang, jika sedang berada di sini kamu jangan memanggilku Changmin! Apa kamu lupa jika kita sekarang adalah seorang guru? Pakai bahasa formal! Kita sedang dalam tugas,” bisik Changmin kesal sambil menggiring orang itu menepi ke tempat yang lebih sepi agar mereka mendapat sedikit lebih privasi. Tepatnya di depan toilet pria yang memang sedang kosong, Changmin sudah memastikan hal itu tadi.

“Hehehe maaf, aku lupa,” balas si pria tadi yang bernama Siwon sambil menyengir.

Changmin hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan Siwon. “Jadi apa yang membuatmu kemari sampai lupa bahwa kamu tidak boleh memanggilku Changmin jika berada di sini?”

“Aah, benar. Aku punya kabar bagus.”

“Tolong katakan bahwa kabar yang ingin kau sampaikan ini berhubungan dengan penyidikan kita di sini. Aku sudah cukup frustasi menghadapi siswa-siswa yang susah diatur itu.” Changmin menghela nafas kemudian berjalan mondar-mandir. Memikirkan bagaimana para murid-murid yang dilatihnya tidak terlalu mendengarkannya, membuatnya sedikit jenuh dengan penyidikannya di sini.

“Kode aktivasi nuklir Korea Utara. Aku sudah tau di mana chip itu.” Siwon menarik sebelah sudut bibirnya, merasa puas dengan hasil kerja mereka yang akhirnya membuahkan hasil. Jika mereka sudah mendapatkan chip berisi kode aktivasi nuklir Korea Utara, maka bisa dipastikan Korea Utara tidak akan bisa bergerak sembarangan lagi.

“Serius? Aku akan mencincangmu jika yang kamu katakan tadi hanyalah omong kosong,” kata Changmin yang sudah menghentikan langkahnya yang sedari tadi hanya berjalan bolak-balik persis setrikaan.

“Kamu tahu Jung Corporation yang bergerak di bidang teknologi itu? Aku baru mendapatkan fakta rahasia bahwa pemilik Jung Corporation sekaligus CEO Jung Corporation alias Jung Jaemin adalah orang Korea Utara yang mendirikan perusahaan di sini. Belakangan aku baru mengetahui bahwa dialah yang memegang kode aktivasi nuklir tersebut,” jelas Siwon dengan mimik serius.

Wajah Changmin yang semula tampak frustasi kini berubah cerah. Ini seperti melihat cahaya di terowongan tanpa ujung. Dulu ia dan Siwon sempat bingung bagaimana mencari chip aktivasi yang katanya ada pada anak salah satu pemilik perusahaan besar. Bukan perkara mudah, karena sebagian besar murid-murid APIS adalah anak dari pemilik perusahaan-perusahaan ternama. Ini membuat Changmin dan Siwon harus menelusuri satu per satu data murid-murid APIS kemudian mencari latar belakang orangtua mereka. Sekali lagi, ini bukan pekerjaan mudah karena bisa saja mereka memalsukan identitas mereka.

Dan ini memang terbukti benar karena setelah hampir setengah tahun mereka menyamar sebagai guru di APIS, Siwon baru mendapatkan fakta tersembunyi bahwa Jung Jaemin adalah orang Korea Utara.

“Tunggu apa lagi? anaknya bersekolah di sini, bukan?”

“Yup. Krystal Jung. Hanya tinggal memikirkan dimana chip itu disimpannya.”

Changmin dan Siwon tersenyum puas. Sepertinya pekerjaan mereka di sekolah ini sebentar lagi berakhir dan ini berarti mereka akan terlepas dari murid-murid berprestasi namun tidak bisa diatur itu.

“Ohya, apa kamu sudah mendengar kabar dari pusat?” kata Siwon sambil menyender pada dinding.

“Kabar dari pusat? Soal apa?”

“Pihak Korea Utara berencana menghancurkan kompetisi basket ini,” bisik Siwon sambil mendekatkan dirinya pada Changmin. “Dengan bom.”

“Hah?! Bom?! Mereka gila!” pekik Changmin nyaring yang langsung membuat Siwon memukul kepalanya dengan setumpuk kertas yang ada dipegangan Siwon.

“Jaga suaramu, bodoh! Orang-orang yang mendengarnya bisa panik!”

Tiba-tiba ada sebuah bola basket menggelinding ke arah mereka berdua, membuat dua pria itu langsung terdiam. Changmin yang segera sadar langsung mengambil bola itu dan berbalik, bermaksud melihat siapa gerangan yang membawa bola itu ke sana.

“Bom? Apa maksud kalian?” ucap orang itu dengan nada tidak mengerti. Raut wajahnya yang biasanya lebih sering menampakkan wajah tidak perduli itu mulai menunjukkan keheranan. Yang ada dipikirannya saat ini, kenapa dua guru baru yang dianggap tidak akrab saat ini sedang berbicara serius? Bahkan berbicara tentang bom. Dia tidak mendengar seluruh percakapan dua pria itu, dia hanya mendengarnya dimulai dari Korea Utara yang berniat menghancurkan kompetisi ini. Walau tadi Guru Choi (dia biasa memanggil Siwon dengan sebutan seperti itu) mengatakannya dengan berbisik, tapi di tempat yang sepi ini dia dapat mendengar dengan cukup jelas.

“Hei, Kris, aku bisa menjelaskannya. Kamu jangan panik.”

 

To Be Continued…

 

Miaaaaannn. Lagi-lagi saya baru melanjutkan ff ini sejak terakhir saya memposting chapter 1-nya, tepatnya bulan februari kemaren. Sudah berapa bulan ya? aduh saking lamanya saya sendiri lupa. Saya harap kalian pada masih ingat, walau saya sendiri tidak yakin ff ini ada yang menunggunya.

Hmm… gimana? Konfliknya di sini mulai keluar kan? Entar di chapter-chapter berikut bakal bertambah dan bakal terkuak/? Hehehe. Dan karena genre ini memang bukan genre saya, tapi karena kebetulan saya suka genre ini jadi saya membuat ff dengan genre seperti ini walau tidak ahli. Jadi… maafkan saja yaa kalau kurang ngena. Namanya juga saya baru belajar. Kalau memang ada kritik dan saran, silahkan lempar(?) di kolom komentar oke? ^-^

n.b: saya harus minum kopi hitam dulu baru bisa menyelesaikan chapter ini >.< /gak penting banget -_-/

Advertisements

6 thoughts on “[FF] 88 (Chapter 2)

  1. Yusfa June 17, 2014 / 6:38 pm

    Ya allah tolong aja, ini FF nunggunya ampe belumutan, makasih banyak buat authornya yg udah nerusin nih FF. Kalau gak ada dukungan lebih tepatnya desakan dari aku alias yusfa, nihh FF bisa lumutan di laptop author wkwk :D, sebenarnya belum di baca ini, tp koment duluan gk masalah kan? 😉

    • raishaa June 17, 2014 / 6:56 pm

      ahaha iya sipp, komen aja duluan tidak masalah kok ;D
      bener banget kalau gak di desak sama kamu, mungkin saya bakal setengah-setengah melanjutkannya. tapi, kebetulan tadi dapat pencerahan saat membaca sebuah novel dan saya langsung melanjutkan ff ini dan akhirnyaa… jeng jeng! kelar juga deh ff ini. jujur ini makan waktu banget buatnya 😀

  2. Shin Hyun Young June 20, 2014 / 11:19 am

    Ngeliat nama ‘Kris’ disebut itu rasanya… kangen, sedih, kesel, dan… aaarrrrggghhhh pengen nangis lagi kan aku 😥

    Aku speechless min… mian
    next chap ditunggu ya~ sama chap 11 EXO PLANET ERA juga 😀
    hwaiting! ^^

    • raishaa June 20, 2014 / 11:44 am

      hehehe maaf, sebenernya juga nggak mau nyangkut pautkan si nama tiang listrik itu, cman gimana di sini dia emang diperlukan banget perannya, jd gak bisa di hapus gitu aja u,u dia masih bagian dari exo kok. iya kan? :’)

      iyaa, makasih udah baca yaa. exo planet era dalam proses ^-^

      • Shin Hyun Young June 20, 2014 / 1:28 pm

        Haha aku justru seneng bgt dia masih diperlukan… 😀
        dan marah bgt kalo ada yg bilanh dia udh ngga penting! Sorry eon…

        haha iya dong
        EXO itu 12

  3. Joe February 17, 2016 / 8:39 pm

    jiahahaha,,, gk kebayang kalo baek sama luhan bener nyamar kayak cewek.. pasti gokil banget deh tu 😀
    huwhat?! bom? korut? ada genre action nya ya? aq kira cuma comedy friendship aja, ternyata enggak 😀
    btw, lanjutannya mana kak? udah dipost kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s