[FF] Promise (Chapter 1)

promise

Title : Promise [Prologue]

Author : Rai Sha

Main Cast : Lee Hyunra [OC], Lee Taemin [SHINee]

Support Cast : Park Haeri [OC], Kim Jonghyun [SHINee], Han Jisun [OC], Choi Minho [SHINee], Kim Kibum [SHINee], Lee Jinki [SHINee]

Genre : Romance, Hurt/Comfort, School Life, Drama, a little bit Comedy, other

Length : Chaptered/Series

Rating : Parental Guide

 

Prologue

 

 

 Nine years later…

Hyunra POV

Itu ingatan 9 tahun lalu, saat aku berusia 6 tahun. Memang kenangan yang pahit kalau diingat. Tapi, ingatan itu berhubungan dengan cinta pertamaku. Namanya Taemin, tetangga sebelah rumahku sekaligus teman masa kecilku. Namun ingat, itu 9 tahun yang lalu. Mereka sekeluarga pindah keluar negeri namun rumah itu masih milik mereka. Jadi, selama 9 tahun yang menyedihkan ini aku tinggal disamping rumah kosong.

Hari ini, hari Minggu, aku sedang berjalan-jalan sore disekitar komplek rumahku ketika tiba-tiba ada sebuah mobil melintas dengan pelan di sampingku. Aku memperhatikan mobil itu, namun mobil itu berhenti di depan rumahku. Aku langsung berlari menuju rumahku sambil membuka pagar. Keluar seorang ahjumma yang walaupun sudah berusia sekitar 45 tahunan tapi masih terlihat cantik. Wajah ahjumma ini terlihat tidak asing. Apa aku aku mengenalnya?

“Hyunra? Benarkah ini kau?” ucap ahjumma itu sambil menatapku dengan tidak percaya. Aku juga tidak percaya bahwa ahjumma ini mengenalku.

“Ah, iya,” jawabku kemudian setelah berhasil menetralisir rasa bingungku.

“Kau tidak mengingat eomoni? Ini, eomoni, ibunya Taemin. Kau sudah lupa ternyata.” Tepat ketika itulah tiba-tiba ada seorang lelaki yang bertubuh cukup tinggi sampai membuatku merasa kerdil keluar dari mobil. Aku membelalakkan mata dan langsung memperhatikan lelaki itu. Itu Taemin???

“Hah?” aku hanya melongo sampai lupa untuk mempersilahkan masuk ahjumma itu yang ternyata adalah ibunya Taemin.

“Hyunra, kau sedang apa disitu? Oh, ada tamu rupanya, kenapa kau tidak persilahkan masuk?” ucap Ibu yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah sambil menghampiriku.

“Hayoung? Sejak kapan kau kembali?” tanya ibuku kaget ketika melihat bahwa tamu itu adalah tetangga kita dulu. Dulu, ibuku dengan ibu Taemin sangat akrab. Seingatku sih seperti itu, soalnya aku saja sudah lupa bagaimana wajah ibu Taemin.
“Aku langsung ke sini begitu dari Jepang,” jawab Hayoung ahjumma (aku masih canggung untuk memanggilnya dengan sebutan eomoni, walau saat kecil aku memanggilnya seperti itu) sambil mengikuti ibuku, dibelakangnya seorang ahjussi mengikuti. Aku hanya memberi senyuman yang dibalas oleh si ahjussi. Sepertinya itu adalah ayahnya Taemin.

Aku kembali menghadap belakang, memperhatikan Taemin. Omo! Dia tambah tampan saja setelah 9 tahun tidak bertemu. Apalagi dia tinggi begini.

Taemin menatapku tapi mukanya hanya datar tanpa ada senyum sedikitpun. Dia malah sibuk kembali memainkan ponselnya sambil bersandar di mobil. Apa dia sudah lupa padaku? Benar-benar kejam, aku saja tidak melupakannya. Lagi-lagi dia melanggar janjinya. Padahal dulu katanya dia tidak akan melupakanku. Apa mungkin dia sudah mempunyai pacar makanya dia melupakanku dan bersikap dingin seperti itu?

“Kau… Taemin, kan?” tanyaku memastikan. Siapa tahu dia bukan Taemin. Atau jangan-jangan dia bukan memang bukan Taemin. Taemin kan orangnya periang, bukan dingin seperti ini. Walaupun sudah 9 tahun, aku masih mengingatnya dengan jelas.

“Iya, kenapa?” jawabnya cuek. Dia bahkan tidak memandangku. Serius ini Taemin???

“Apa kau sudah lupa padaku? Aku Hyunra.”

Taemin memandangku dari atas ke bawah. Lalu dia menggeleng. “Maaf, aku tidak mengingatmu,” ucapnya sambil tersenyum tipis. Ugh! Aku bahkan yakin senyum tipis itu tidak dengan ikhlas dia mengeluarkannya.

“Sudahlah, lagian itu sudah 9 tahun. Ayo masuk,” ajakku kemudian dengan suara datar sambil mencoba menahan kekesalanku. Enak saja dia! Sudah membuat janji macam-macam dan tidak ditepati, sekarang dia malah melupakanku!
Taemin hanya mengangguk dan mengikutiku dari belakang.

 

  ***

 

Aku kembali mengingat masa kecilku itu. Dulu kami sangat akrab sampai-sampai Taemin berjanji akan menikahiku saat dewasa nanti. Padahal kami masih kecil tapi kenapa sudah berpikiran begitu ya? Aku tersenyum ketika memikirkan itu. Tapi, dia bahkan tidak mengingatku. Ironis banget ya kan?

Braakk!

Aduh! Sakit. Siapa sih yang jalan nggak liat-liat? Sakit tau! Aku berdiri dan membersihkan baju seragamku yang agak kotor karena terjatuh.

“Yyaaaa! Kalau jalan tuh liat-liat!” bentakku tanpa memperhatikan siapa yang menabrakku. Siapa yang perduli jika itu adalah seorang senior.

“Kau bilang apa? Bukankah jelas-jelas kau yang menabrakku? Kau yang jalan sambil melamun. Orang lagi buru-buru juga,” balasnya. Suara itu, sepertinya suara Taemin. Dan benar saja, memang dia.

“Kenapa kau ada disini?!” pekikku tanpa bisa menahan kekagetanku.

“Kau. Ternyata kau sekolah disini. Aku baru saja pindah ke sini. Kenapa? Tidak boleh?” balasnya sewot.

“Bukankah kau sudah lulus?”

“Apa kau lupa? Kita ini hanya berbeda 2 tahun.” Oh iya, aku dengan dia hanya beda 2 tahun. Kenapa hal kecil seperti itu bisa kulupakan? Ah, buat apa aku mengingatnya? Dia saja sama sekali tidak mengingatku! Memangnya enak apa menunggu selama 9 tahun, dan saat kembali orang yang ditunggu itu malah melupakan kita? Kalau bisa ku tendang, pasti dia akan ku tendang sampai sungai Amazon. Biar saja dia mati gara-gara dimakan sama piranha-piranha ganas itu. Memangnya aku peduli? Dia pantas sekali mendapatkan itu.

Dwaesseo. Itu tidak penting, mau beda berapa tahun kek, itu tidak ada urusannya denganku,” lanjut Taemin dengan datar lalu pergi tanpa permisi, dan dia sepertinya sengaja menyenggolku dengan badannya yang tinggi itu ketika melewatiku. Kenapa sih orang itu? Maunya apa? Bukankah aku sudah terlalu sabar dalam menghadapinya? Lihat saja nanti, aku tidak akan tinggal diam jika dia melakukan hal yang macam-macam lagi padaku. Aku bukanlah seorang gadis lemah yang gampang ditipu lagi. Ingat itu Taemin!!!

Aku sampai di kelas dan seketika aku langsung bisa mendengar beberapa teman sekelasku menyebut-nyebut nama Taemin dan mengucapkan kata tampan. Heran, anak itu baru masuk hari ini, kenapa udah terkenal gitu sih? Oke, dia memang tampan dan pantas saja dia bisa secepat itu populer.

“Kau sudah tahu kalau ada siswa baru di sekolah kita? Kudengar dia anak kelas tiga,” kata Haeri, sahabatku. Belum-belum aku sudah ditanyai yang macam-macam tentang anak tengil yang entah kenapa dulu bisa akrab sekali denganku. Aku tahu yang dulu adalah sebuah kesalahan, dan sekarang aku tidak akan membuat kesalahan yang sama. Kalau aku terjebak dalam jebakan yang sama lagi, kesalahannya bukan pada makhluk tengil yang menyebalkan itu, tapi padaku yang mau-maunya ditipu dua kali. Dan aku tidak ingin ditipu dua kali, oke?

“Aku tidak punya urusan pada siswa baru itu!” sahutku yang tidak kusangka bakal terdengar sejudes itu.
Haeri mengernyit ketika mendengar nada suaraku yang pagi-pagi sudah terlihat kesal. “Aku merasa kau sudah punya hubungan dengan siswa baru itu. Benar bukan?” tebaknya tepat sasaran yang lagi-lagi terus membuatku kesal dengan alasan yang tidak jelas.

“Tau deh!”

 

  ***

 

Hari sudah sore ketika aku berjalan pulang ke rumah. Seragam sekolah masih melekat di badanku sejak sepulang sekolah tadi, membuat badanku agak sedikit lengket dan memutuskan untuk segera mandi begitu tiba di rumah. Aku baru saja dari rumah Haeri hingga bisa pulang saat langit sudah berwarna seperti ini.

Ketika aku melewati lapangan basket komplek rumahku, ada seorang lelaki sedang bermain basket di situ. Eh, itukan Taemin? Memangnya dia bisa main basket? Tiba-tiba dia melempar bola ke ring dan aku berharap lemparannya meleset hingga aku bisa tertawa keras untuk meledeknya. Tapi memang sepertinya dia jago atau hanya beruntung (aku harap pilihan kedua yang lebih benar) sehingga dia bisa memasukkan bola ke ring dari luar garis three point. Tch. Aku tidak boleh kagum karena kehebatannya itu. Masih banyak orang yang lebih hebat darinya.

Tanpa memperdulikan Taemin yang sedang memantul-mantulkan bolanya, aku terus berjalan cuek. Huh! Aku tidak akan sudi menyapanya.

JDUKKK!

Adaw! Apa lagi sih?! Aku mengelus kepalaku yang sakit yang sepertinya gara-gara bola yang dilemparkan taemin.
Kubalikkan badan dan mendapati Taemin sedang berdiri santai dengan tatapan matanya jatuh tepat ke arahku. Hell! Apa-apaan tatapannya itu? sok sekali dia! Dengan menahan kesal, aku mengambil bola basket di kakiku itu.
“Kemarikan bolanya,” ucapnya tanpa rasa bersalah. Bahkan muka soknya itu semakin menjadi. Haruskah aku melempar wajahnya itu dengan bola ini? Sepertinya iya.

“Heh! Kau sudah sengaja melemparkan bola itu padaku dan kau tidak meminta maaf?!” aku melangkah mendekatinya sambil berkata kesal. Memang ya, susah berbicara dengan orang ini tanpa menimbulkan kekesalan.

“Buat apa aku minta maaf? Aku tidak bersalah kok. Tiba-tiba saja bola itu tadi berbelok dan mengenai kepalamu ketika aku ingin mencoba memasukkanya ke ring. Sekarang kemarikan bolanya!”

Ugh! Dengarkan sikap sok memerintahnya itu! aku benar-benar muak. Bisa-bisanya aku dulu bersahabat dengan orang seperti dia. Aku harus menghapus ingatan itu! H-A-R-U-S!

“Kau pikir aku bakal percaya dengan omonganmu yang tidak masuk akal itu? Apa kembali dari Jepang membuatmu jadi bodoh, huh?”

“Terserah kalau kau tidak percaya. Kemarikan bolanya sekarang!” ucapnya mengabaikan ejekanku. Untung saja dia tidak membalasnya, jika dia sampai melakukan itu, aku benar-benar akan melempar bola ini ke wajahnya! Biar saja wajah tampannya itu berubah menjadi bengkak.

“Kalau aku tidak mau bagaimana? Aku tidak akan mengembalikannya sebelum kau meminta maaf padaku.” Kusinggungkan senyum sinis padanya sambil memandangnya dengan penuh keremehan. Memangnya hanya dia yang bisa memandangku dengan tatapn mengesalkan seperti itu? Aku juga bisa!

“Benarkah? Bukan aku yang memaksa melakukannya,” kata Taemin sambil melangkah mendekatiku. Rautnya datar, membuatku sulit menebak apa sebenarnya yang dipikirkan dan dirasakannya.

“Mau apa kau?” desisku panik sambil berjalan mundur. Taemin semakin mempercepat langkahnya dan berhenti ketika jarak kami sangat dekat. Dia mendekatkan wajahnya padaku, hingga terpaan nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Apa dia ingin menciumku? Tuhan, tolong jangan biarkan dia menciumku. Aku benar-benar tidak sanggup. Aduh! Kenapa dadaku mesti berdebar-debar nggak jelas begini? Tolong hentikan semua ini!

Aku memejamkan mataku erat-erat. Tunggu, aku merasa bola di tanganku sudah menghilang. Kubuka mataku dan ternyata dia telah mengambil bola itu dariku disaat aku lengah. Sialan! Dia hanya ingin mengerjaiku rupanya. Terpampang dengan jelas senyum meremehkan di wajahnya.

“Kau pikir aku akan menciummu? Itu tidak akan terjadi, jadi kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Lagipula aku sama sekali tidak tertarik padamu,” ujarnya masih dengan senyum menyebalkan itu dan berbalik badan kemudian melangkah pergi. “Oh ya, satu lagi, seharusnya kau memanggilku sunbae. Atau kalau perlu kau bisa memanggilku oppa.” Ia menghentikanya kemudian berkata seperti itu tanpa memutar badannya, seolah-olah dia tidak ingin melihat wajahku.

Emosiku sudah diubun-ubun. Seenaknya saja dia bersikap seperti itu. Aku tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Aku berlari dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuhnya dari belakang sampai terjatuh. Dan usahaku berhasil.
“Heh! Siapa juga yang mau memanggilmu sunbae ataupun oppa. Dan satu lagi, kau tidak bisa memperlakukan aku seenaknya. Sekarang kita impas!” bentakku sambil berdiri disampingnya yang masih dalam posisi tersungkur. Aku menendang bolanya kemudian pergi. Sempat kulihat dia menatapku dengan marah sambil membersihkan tangannya yang lecet.

 

  ***

 

“Ibu! Kenapa sih taemin jadi gitu? Bikin kesal tau nggak!” Aku langsung mengomel dengan penuh amarah ketika baru menginjakkan kaki di rumah. Gara-gara bocah tengik yang sangat sok itu aku jadi kehilangan mood untuk mandi. Awas saja. Jika malam ini badanku gatal-gatal, aku akan menumpahkan seluruh kesalahan padanya!

“Hush! Kau tidak boleh memanggilnya seperti itu. Seharusnya kau memanggilnya oppa. Dulu saja kau memanggilnya oppa,” balas ibu dengan santai sambil menggonta-ganti channel TV. “Memangnya kau ada masalah apa dengannya?”

“Dia melemparku dengan bola basket,” aduku dengan muka ditekuk, berharap dengan begini ibu akan membelaku dari makhluk-tengik-sok-ganteng-sialan-si-pelupa-janji itu.

“Oh ya? Mungkin dia tidak sengaja,” bela Ibu yang membuat raut wajah tidak enak yang terpasang di mukaku semakin menjadi. Heran, kenapa bocah tengik macam Taemin bisa dibela seperti itu? Menyebalkan!

“Terserah Ibu deh!” aku langsung bangkit dari dudukku dan menghentakkan kakiku ketika menuju lantai atas, tepatnya ke kamarku.

“Hyunra! Apa kau sudah tau kabar tentang Taemin?” Ibu berteriak ketika aku sudah berada di tangga paling atas.

“Aku tidak menginginkan kabar apapun darinya! Siapa peduli!” ujarku sambil masuk ke kamar dan tidak mendengarkan perkataan ibu lagi. Buat apa juga aku mengetahui kabar tentangnya? Nggak penting banget! Mending keselek biji kedondong daripada tahu kabar tentangnya. Sampai kapanpun aku nggak mau tau tentang cowok tengik itu!

 

  ***

 

  TAEMIN POV

Aku kembali memainkan bola basket ditanganku walaupun ketika aku men-dribble bola tanganku agak perih karena bekas lecet yang ditimbulkan gara-gara aku jatuh tadi. sebenarnya aku bukan jatuh sih, tepatnya aku di dorong oleh seorang yang akhir-akhir ini mengisi kepalaku. Itu juga sebabnya aku masuk ke sekolah yang sama dengannya.

Tapi, luka lecet ini tidak berarti karena yang menimbulkannya adalah dia. Sebenarnya, aku bersikap seolah menyebalkan seperti itu punya tujuan. Ya, aku bersikap seperti agar dia memikirkanku. Aku heran, kenapa dia sepertinya benci sekali padaku? Apa dulu saat kita masih kecil aku pernah membuatnya marah? Sebenarnya diriku yang dulu itu bagaimana sih?

“Taemin? Kenapa kau ada di sini?” ucap seorang gadis dengan lembut dari belakangku. Dari langkahnya, sepertinya dia sedang berjalan mendekatiku. Aku berbalik dan tenyata dia adalah seorang gadis cantik yang sekelas denganku. Aku melupakan namanya, omong-omong.

“Kenapa kau ada di sini?” aku melontarkan pertanyaan yang sama dengannya.

Gadis itu tertawa. “Kau ini, bukankah aku duluan yang bertanya.”

“Rumahku ada di sekitar sini. Sedangkan kau, kenapa bisa ada di sini?” kataku berbasa-basi.

“Benarkah? Rumahku juga berada di dekat sini.” Gadis itu tersenyum lebar, menampakkan senyumnya yang mampu menghipnotis para lelaki. Sebenarnya aku juga menganggap senyum itu manis, sih. Tapi, entahlah, aku tidak terlalu tertarik degan kecantikannya. gadis cantik itu sudah terlalu biasa menurutku.

“Rumahmu yang mana?” tanya gadis itu lagi, kepo.

Aku meringis ketika mendengar pertanyaan gadis itu, sedikit takut dia akan menerorku ke rumah setiap harinya. Atau yang lebih parah, dia bisa saja meminta pulang-pergi bareng dengannya ke sekolah dengan alasan bahwa kami adalah tetangga dan teman sekelas.

“Uhm… Apa kau tahu Hyunra?”

Semoga tidak, semoga tidak, semoga tidak.

“Hyunra?” gadis itu mengetuk-ngetuk jarinya di dagu, terlihat berpikir. Aku jadi diam-diam memutar mataku ketika melihatnya bergaya dengan sok imut seperti itu. “Lee Hyunra? Siswa tahun pertama di sekolah kita?”

Aku hanya mengangguk tidak minat mendengar perkataannya. Tunggu, kenapa sepertinya aku begitu sinis terhadapnya?

“Lalu, ada apa dengannya?”

“Rumahku ada di sebelah rumahnya,” kataku singkat kemudian kembali memantulkan bola basket itu, menghilangkan kebosanan dari percakapan ini.

Gadis itu membulatkan matanya, kaget. “Oh! Rumah kita benar-benar berdekatan. Rumahku berada di depan rumahmu. Yang berpagar coklat, kalau-kalau kau tidak tahu.”

Hey, jika seperti itu, berarti apa dia juga merupakan salah seorang teman masa kecilku? Jika memang benar, aku bisa mengorek-ngorek informasi darinya. Dan aku akan memperbaiki sikapku padanya jika dia memang benar-benar teman masa kecilku.

“Apakah kau dulu teman masa kecilku?” tanyaku akhirnya.

“Aku rasa tidak. Aku pindah ke sini sekitar 4 tahun yang lalu. Apa kau tidak ingat masa kecilmu?”

Kalau begitu aku tidak akan merubah sikapku padanya.

Yaah, mungkin aku akan bersikap sedikit lebih baik. Setelah dipikir-pikir, walau dia bersikap menyebalkan (menurutku, gadis yang bersikap sok imut dan terlau banyak tanya itu menyebalkan. Sangat), aku harus bersikap sopan. Walau bagaimanapun dia adalah tetanggaku dan teman sekelasku.

Masih sambil memainkan bola basketku, aku menggeleng. “Tidak. Aku mengalami kecelakaan setahun yang lalu saat aku berkendara motor dan menyebabkan aku lupa ingatan.”

Oke, aku tidak tahu kenapa aku malah mengatakan hal itu pada seseorang yang aku anggap menyebalkan.
“Kau serius? Kau tidak terlihat seperti orang yang kehilangan ingatannya,” katanya sambil menatapku lekat-lekat. “Kau pernah mencoba mengingat masa lalumu?” tanyanya lagi bersikap semakin membuatku risih. Apa ada orang yang lebih kepo daripada dia? Aku rasa tidak.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Jika aku menjawabnya, pertanyaan-pertanyaan gadis-yang-aku-lupa-namanya itu tidak akan selesai. “Hari sudah gelap, sebaiknya kita pulang,” ucapku lalu melangkah pergi, diikuti olehnya yang mensejajarkan langkahnya denganku.

 

 

To Be Continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s