[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 8 Love Letter in Time Capsule

a park near you

Title     : a Park near you: Ep. 8 Love Letter in Time Capsule

Author : Rai Sha

Cast     : Park Chanyeol and You

Length : Episode

Genre  : Romance, Hurt/Comfort and other

Rating  : Parental Guide

Ep. 1 Rain Moment | Ep. 2 Memory | Ep. 3 Valentine Chocolate | Ep. 4 the Girl From the Past | Ep. 5 The Reasons I Love You | Ep. 6 Happy Birthday Chanyeol | Ep. 7 Our First Date

Aku pertama kali bertemu Chanyeol kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saat aku masih berumur 7 tahun.

Jujur saja, sejak dulu aku adalah orang yang susah berkomunikasi dengan orang lain. Walaupun aku dan Chanyeol memang sudah bertetangga sejak aku lahir, tapi itu tidak serta merta membuat kami dekat dari masih bayi. Ketika anak-anak lain menghabiskan waktu mereka di luar rumah sambil bermain, aku kecil lebih suka menghabiskan waktuku di dalam rumah sambil membaca buku cerita anak-anak. Beberapa kali aku pernah bertemu dengan eomeoni—ibu Chanyeol sambil membawa Chanyeol ke rumahku. Ibuku dan ibu Chanyeol mengatakan bahwa aku dan Chanyeol seumuran dan kami bisa bermain di luar bersama. Tapi, entah karena apa, aku hanya berdiam diri sambil bersembunyi di dalam kamarku sambil sesekali mengintip ke arah ruang tamu—memperhatikan Chanyeol.

Chanyeol bermata besar dan rambutnya keriting (tapi sekarang rambutnya sudah tidak keriting lagi). saat itu Chanyeol meminum sekotak susu sambil menunggu ibunya yang sedang berbicara dengan ibuku. Dia sempat sekali menangkap basah diriku yang sering memperhatikannya. Dan yang membuatku tertegun saat itu adalah, dia hanya melemparkan senyum lebar padaku tanpa berkomentar apa-apa. Aku yang kaget dengan tingkahnya langsung bersembunyi di sudut kamarku sambil menenangkan dadaku yang tiba-tiba terasa aneh.

Beberapa hari sejak kejadian itu, aku meninggalkan buku-buku ceritaku dan mulai pergi keluar rumah. Beberapa kali aku melewati sekumpulan anak yang seumuran denganku sedang bermain di sekitar komplek, namun aku tidak menemukan Chanyeol dimanapun. Akhirnya, ketika aku lelah berkeliling untuk mencari Chanyeol, aku menuju pohon Sakura yang ada di tengah taman komplek kami.

Senyumku langsung terkembang begitu aku melihat Chanyeol sedang berjongkok di balik pohon sakura itu. Ia tengah sibuk, seperti menggali sesuatu. Kaos tanpa lengannya yang berwarna putih terlihat kotor karena tanah.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku dengan nada ragu sambil memperhatikan Chanyeol yang sibuk menggali tanah dengan sekop kecil.

Ia menoleh dan langsung tersenyum lebar saat melihatku. Rambut keritingnya itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mata besarnya itu masih bercahaya, sama seperti ketika pertama kalinya kami bertatapan. “Oh! kau gadis yang tinggal di sebelah rumahku,” katanya. “ah, aku mau mengubur peti ini. aku baru saja melihat di acara televisi jika kita bisa mengubur suatu benda dan kita bisa membukanya kembali saat dewasa. Namanya terdengar seperti obat. Apa yaa? Kok aku lupa?” Chanyeol terlihat berpikir sambil mengelus-elus janggut khayalannya.

Keningku berkerut sambil menduga-duga apa yang sedang di maksud Chanyeol. Terdengar seperti sebuah obat? Tablet? Sirup? Kapsul?

Oh! Kapsul waktu!

“Maksudmu kapsul waktu?” tebakku lalu berjongkok di sebelah Chanyeol yang kembali sibuk menggali.

“Benar! Kapsul waktu. Menurutku itu menarik jadi aku mengikutinya. Kebetulan di rumahku ada peti kecil tak terpakai,” ucapnya kemudian mengambil peti kecil yang ada di sampingnya. Peti itu berbentuk seperti peti harta karun versi mini, berwarna hijau lumut, dan terkunci rapat oleh gembok yang agak terlalu besar.

“Kalau aku boleh tahu, isi peti itu apa?”

Chanyeol kembali menoleh padaku. Jangan lupakan bahwa senyum lebarnya itu masih terpasang. Aku dulu sempat heran kenapa dia bisa selalu tersenyum selebar itu, sampai-sampai aku berpikir bahwa mulutnya bisa sobek karena selalu tersenyum seperti itu. tapi, setelah terbiasa dengannya, aku tahu senyum Chanyeol itu menenangkan dan membuat orang tersenyum hanya karena melihat senyumnya. “Tidak ada,” jawabnya dengan sebelah tangannya yang kotor itu menggaruk-garuk belakang kepalanya. Tak ayal, rambut keritingnya itu jadi kotor karena tanah.

“Ah! Aku punya ide!” serunya sambil menepukkan tangannya dengan semangat. “Bagaimana kalau kau juga memegang salah satu kunci gembok ini? jadi, kau bisa menyimpan apapun yang kau mau,” tambahnya. Matanya memandangku penuh harap.

Karena tidak tahu harus bersikap bagaimana atas reaksi Chanyeol yang sangat bersemangat, aku hanya menatap Chanyeol heran sambil menerima begitu saja sebuah kunci yang dijejalkan di genggamanku.

Kapsul waktu? Mungkin aku bisa menggunakannya suatu saat.

Ada satu kejadian dimana aku HAMPIR saja menyatakan perasaanku pada Chanyeol. Itu adalah saat-saat dimana aku berada di puncak kegilaanku. Aku tidak memikirkan bagaimana resikonya jika aku benar-benar melakukan itu. Untung saja aku segera sadar dan mengurungkan niatku. Kalau tidak, pasti aku dan Chanyeol tidak akan seperti ini keadaannya.

Ketika itu, aku berada di tingkat kedua sekolah menengah pertama. Ketika keberanianku muncul tiba-tiba di tengah malam dan keinginanku untuk mengungkapkan perasaanku pada Chanyeol begitu besar. Ketika ramalan percintaanku menurut zodiak mengatakan bahwa dalam minggu itu adalah minggu terbaik untuk mengungkapkan perasaan. Ketika Chanyeol baru saja bersikap sangat manis padaku, hingga aku jadi terlalu percaya diri bahwa dia juga menyukaiku dan aku berpikir bahwa sebaiknya aku mengakhiri cinta terpendam ini dan mengungkapkannya.

Aku menulis surat malam itu, ketika aku terbangun tengah malam dan baru saja bermimpi tentang Chanyeol. Aku merasa yakin bahwa semua akan baik-baik saja, hingga aku menulis surat itu dan bertekad akan menyerahkannya ke Chanyeol saat di sekolah keesokkan harinya.

Namun, tiba-tiba aku menyadari sesuatu saat mendengar percakapan Chanyeol dengan salah satu teman Chanyeol.

Chanyeol tidak mungkin menyukaiku.

Chanyeol tidak akan pernah bersamaku.

“Hey, Chanyeol, aku tahu kalian hanya teman semasa kecil, tapi aku penasaran apa kau menyukainya atau tidak?” bisik teman Chanyeol itu. walau saat itu aku tidak melihat mereka karena mereka duduk di belakangku, aku bisa memastikan bahwa yang dimaksud teman kami itu aku. Aku pura-pura menyibukkan diriku mengerjakan soal yang diberikan guru, padahal diam-diam aku menguping. Sejujurnya, dia juga berbicara agak terlalu nyaring.

“Kau berbicara terlalu nyaring bodoh! Dia bisa mendengarnya,” desis Chanyeol (anehnya, walau dia sudah berbicara sepelan mungkin aku masih tetap bisa mendengarnya. Apa pendengaranku terlalu tajam?) dan setelahnya aku mendengar teman kami itu mengaduh. Aku bisa membayangkan bahwa Chanyeol baru saja menyikutnya.

“Jadi, apa kau menyukainya? Aku melihat tingkah lakumu padanya lebih daripada sekedar seorang teman biasa. Lagipula, sepertinya dia juga menyukaimu,” kata teman Chanyeol itu tanpa menurunkan nada suaranya sedikitpun. Sepertinya dia sama sekali tidak memperdulikan sikutan Chanyeol tadi.

Aku mengeratkan genggamanku pada pulpen yang sedang kupegang. Tiba-tiba tubuhku menegang saat mendengar ucapan teman Chanyeol itu. Apakah sebegitu jelasnya bahwa aku menyukai Chanyeol sampai-sampai dia dapat melihatnya?

“Eh… anu… bukan seperti itu. Kami—kami tidak mungkin berpacaran. Kami hanya sebatas sahabat,” ucap Chanyeol gugup yang langsung menusuk ulu hatiku. Aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit yang mulai menjalar di hatiku dan memberikan efek panas pada mataku. Aku terlalu berharap pada Chanyeol. Harusnya aku tahu bahwa kami memang tidak bisa bersama. Dia tidak mungkin menyukaiku.

Aku bangkit dari dudukku secara tiba-tiba membuat dua orang dibelakangku langsung terdiam. “Hentikan omong kosongmu itu. aku dan dia tidak memiliki hubungan spesial. Dan asal tahu saja, aku tidak menyukai Chanyeol seperti yang kau artikan,” kataku datar yang kutujukan pada teman Chanyeol itu. susah payah aku menahan getaran dalam suaraku, susah payah aku menahan agar air mata yang sudah ada di pelupuk mataku tidak turun.

Sepulang sekolah, aku langsung pergi begitu saja meninggalkan Chanyeol. Aku tidak memperdulikan dia memanggil namaku berkali-kali di lorong kelas. Yang aku mau saat itu hanyalah menjauhi Chanyeol untuk sesaat agar aku bisa menenangkan hatiku.

Aku menangis seharian di kamar, tanpa mengganti baju seragamku. Panggilan ibuku untuk menyuruhku makan pun tidak aku hiraukan. Tiba-tiba, terlintas di otakku tentang kunci yang pernah diberikan Chanyeol padaku dulu. Aku segera membongkar laci meja belajarku. Dan begitu aku menemukan apa yang kucari, aku langsung keluar rumah menuju taman dekat rumah sambil membawa sekop yang sebelumnya sudah aku ambil dari pekarangan rumahku, sebuah kunci dan surat yang awalnya ingin aku serahkan pada Chanyeol. Dan saat itu sudah jam 11 malam. Aku harus keluar diam-diam agar orangtuaku tidak menyadari bahwa anak gadisnya pergi diam-diam di tengah malam.

Ketika itu aku sama sekali tidak perduli apapun. Yang ada dibenakku hanyalah menjauhkan surat itu sejauh mungkin dari pandanganku karena setiap melihat surat itu, hatiku menjadi sakit. Tidak, aku tidak akan menyalahkan Chanyeol atas sakit hatiku ini. ini kesalahan diriku sendiri, terlalu berharap pada Chanyeol. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah mau lagi berharap lebih pada Chanyeol. Cukup sekali aku merasakan sakit karena harapan kosong.

Advertisements

8 thoughts on “[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 8 Love Letter in Time Capsule

  1. kimarazhaira December 18, 2014 / 3:12 pm

    kyaaa~ gereget banget bacanya :3
    tkutnya nnti mereka berdua jadi salah paham trus malah jauhan,ah no no no -_-
    nexttttt eonn >< hehe

    • raishaa December 18, 2014 / 4:12 pm

      Hehehe, episode berikutnya udah end kok. Tunggu aja ya mereka bakal jadian atau nggak wkwkwk
      Makasih udah baca yaa ^^

  2. nur July 15, 2015 / 4:38 pm

    thor aku baru baca ff ini seru bangetttt lanjut dong 😦

    • raishaa July 15, 2015 / 4:41 pm

      Iyaa bakal dilanjut kok, tp sabar yaa ^-^

  3. annisa October 22, 2015 / 4:49 pm

    next dong! please unnie…

    • raishaa January 30, 2016 / 1:21 am

      udah di lanjut kok, cek yaa. thank you~ ^^

  4. Joe February 21, 2016 / 9:28 pm

    cie, bikin kapsul waktu berdua segala. co cweeeet banget sih.
    cuma2 gara kesalah pahaman aja udah sampek segitunya. enaknya diapain dih nih sejoli biar cepet jujur satu sama laen?! perlukah diborgol bareng?? ato kalo perlu dikunciin aja digudang bareng seminggu!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s