[FF] The Story Never Ends (1 of 3)

the story never ends

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.”

Part #1. Childhood Memories.

She said, “I was seven and you were nine”
I looked at you like the stars that shined in the sky
The pretty lights

Sewaktu aku kecil, aku pernah berjalan di altar memakai gaun pengantin putih bersama seorang pria.

Kalian bisa menganggapnya sebagai pangeran tampan. Tapi, sampai kapanpun aku tidak mau memanggilnya seperti itu. Bagiku, ia hanyalah seorang bocah berumur sembilan tahun yang selalu memaksaku untuk memanggilnya ‘oppa’ karena umurku berada dua tahun di bawahnya. Kau tahu, wajahnya yang selalu tampak konyol itulah yang membuatku selalu berpikir bahwa ia sama sekali tidak pantas dipanggil ‘oppa’. Satu-satunya yang membuatku suka untuk memandang wajahnya lama-lama adalah mata bulatnya yang selalu tampak bersinar terang. Memercikkan keceriaan dan semangat, membuatku selalu betah menatapi matanya itu.

Bocah umur sembilan tahun itu bernama Park Chanyeol. Aku tidak pernah ingat bagaimana persisnya kami pertama kali bertemu, karena sepertinya kami sudah bertemu sejak aku lahir—dan saat itu Chanyeol berumur dua tahun. Orangtua kami sudah saling mengenal dan bersahabat sejak dulu, dan mungkin karena itulah aku dan Chanyeol jadi dekat seperti sekarang. Kata mereka, Chanyeol senang sekali berkunjung ke rumah saat aku bayi hanya untuk melihatku. Dia bilang aku tampak cantik dan menggemaskan saat aku tertawa dan tersenyum (tch. Dia tidak pernah menyebutku seperti itu sejak aku dewasa dan kami mulai sering beradu mulut).

Kami selalu melakukan hal bersama-sama. Bermain, belajar, bertengkar, berpetualang hingga kami dimarahi karena pulang dengan keadaan super kotor. Bahkan, kami didandani sebagai pasangan pengantin mini di pernikahan salah satu tetanggaku, walaupun kami sering sekali berdebat.

And our daddies use to joke about the two of us
Growing up and falling in love
And our mommas smiled and rolled their eyes

Ayah-ayah kami berdua senang sekali mengatakan bahwa aku dan Chanyeol akan menikah di kemudian hari. Dan reaksi kami berdua setiap mendengar mereka berbicara seperti itu adalah saling berpandangan kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Atau tidak jarang kami hanya saling berpandangan dengan jijik. Yep. Aku dan Chanyeol sama sekali tidak pernah berpikiran untuk tumbuh dan saling jatuh cinta. Itu adalah hal yang mustahil bagi kami.

Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu misalnya:

“Astaga. Darimana kalian mendapatkan mangga-mangga itu?” ayahku yang pertama kali berkomentar ketika melihatku dan Chanyeol membawa banyak mangga yang masih lengkap dengan ranting serta daun yang masih menempel. Ayahku dan ayah Chanyeol sedang berbincang-bincang kecil di halaman depan rumah kami yang hanya dibatasi pagar setinggi pinggang mereka.

Aku menunjukkan senyum lebar sambil menaruh mangga-mangga itu di rumput. “Kakek Kim sedang panen mangga, kemudian ketika melihat kami dia memberikan sebagian mangganya,” kataku sambil membersihkan baju-bajuku dari getah mangga.

“Benarkah? Paman pikir Kakek Kim orang yang pelit,” ujar ayah Chanyeol sambil menatap kami berdua dengan heran. Tapi dia tetap terlihat percaya dengan tampangku yang polos. Hahaha aku memang hebat berakting.

“Ayo Chanyeol, kita habiskan mangga-mangga ini sampai sakit perut,” ajakku kemudian sambil menatap Chanyeol yang sedang memandangku dengan pandangan tidak percaya. Aku mengambil mangga-mangga itu lagi dan berjalan menuju pintu masuk rumahku.

“Wow.”

Aku hanya tersenyum licik–yang akan dilihat orang dewasa sebagai senyum polos anak kecil–pada Chanyeol. Lihat kan, betapa berbakatnya diriku? Seharusnya aku mengambil kelas akting dan mengikuti audisi film. Aku yakin akan lolos audisi itu dan menjadi aktris yang hebat.

“Kau benar-benar licik, gadis kecil,” kata Chanyeol dengan senyum tidak percaya. “Aku benar-benar tidak percaya bahwa kau mengatakan hal yang sebaliknya pada ayah kita. Jelas-jelas kita tadi sempat diteriaki oleh Kakek Kim dan berlari sekuat tenaga. Untungnya Kakek Kim tidak menyadari bahwa itu kita.”

“Sudahlah, Chanyeol. Lupakan saja kejadian tadi, oke? Nikmati saja mangga-mangga ini,” ucapku sambil tersenyum lebar.

Chanyeol hanya menganggkat kedua bahunya sambil menggeleng-geleng heran. Sejujurnya, ide mencuri mangga ini berasal dari otakku. Yaah, aku tahu, aku tahu, aku memang gadis kecil yang super duper licik. Chanyeol saja sempat beberapa kali tidak ingin mengikutiku untuk mengumpulkan mangga-mangga itu, tapi karena aku sudah duluan nekat memanjat pagar dan memutiki mangga-mangga itu, Chanyeol terpaksa mengikuti tingkah nakalku yang di luar batas.

“Hei, kalian. Daripada memakan mangga-mangga itu sampai sakit perut, kenapa kalian tidak mengubahnya menjadi kue dan memberikanya pada Kakek Kim? Sebagai ucapan terima kasih.” Ayahku setengah berteriak dari depan pagar ketika aku dan Chanyeol di pintu masuk rumahku.

“Ya, Paman, kami akan melakukannya,” balas Chanyeol sambil memberikan isyarat oke dengan jari tangannya kepada ayahku dan ayahnya yang terlihat senang sekali.

“Apa? Kau bilang apa? Aku tidak ingin membuat kue dari mangga ini dan memberikannya pada Kakek Kim!” aku berbisik dengan nada yang jelas-jelas menyiratkan pertidaksetujuan. Keningku berkerut dalam sambil menyikut-nyikut Chanyeol yang sama sekali tidak memedulikanku.

“Kalian bisa meminta bantuan para ibu di dapur sana. Mereka sedang sibuk bergosip sepertinya,” sambung ayah Chanyeol yang juga setengah berteriak sambil tertawa.

“Tenang saja, Ayah. Kami akan membuat kue yang enak dengan mangga-mangga ini.”

“Hei, Chanyeol! Kau mendengarku tidak, sih? Aku bilang aku tidak mau membuat kue dengan mangga-mangga ini!” bentakku kesal pada Chanyeol. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Chanyeol. Kenapa sih dia mau bersusah payah membuat kue mangga untuk Kakek Kim yang pelit itu?

“Diam kau gadis kecil yang licik. Aku tidak ingin memakan mangga-mangga hasil curian ini. Itu tidak baik! Lebih baik membuatnya menjadi kue dan mengembalikannya pada Kakek Kim dan meminta maaf,” bisik Chanyeol dengan nada yang tidak bisa aku bantah. Wow! Baru kali itu aku melihatnya bersikap layaknya seorang kakak. Aku tidak pernah menyangka bahwa dia bisa bersikap dewasa juga.

“Baiklah Bapak-Bapak, sepertinya kami berdua harus ke belakang dan mempersiapkan bahan-bahannya,” ucap Chanyeol sambil mengangkat mangga-mangga yang masih berada di tangkainya sebagai bentuk pamit terhadap para ayah di luar sana.

“Kalian tahu tidak? Kami berdua pikir kalian cocok dan suatu hari akan menikah. Hahahaha.”

Oke, perkataan ayahku barusan mau tidak mau membuatku dan Chanyeol saling berpandangan. Dengan pandangan jijik. Menikah? Dengan Chanyeol? Oh aku harap itu tidak akan pernah terjadi!

“Ayah! Sepertinya Ayah jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Kami sama sekali tidak pernah berpikir untuk saling menikah. Itu mengerikan!” aku berteriak. Oh yeah. Aku tidak perduli pada Ayah Chanyeol, karena mereka juga hanya tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataanku barusan.

Take me back to the house in the backyard trees
Said you’d beat me up
You were bigger than me
You never did, you never did

Oke, dengarkan ceritaku dengan seksama.

Aku dan Chanyeol membuat kue dari mangga hasil curian itu. Hasilnya? Mengejutkan sekali, itu adalah kue mangga terenak yang pernah aku makan! well, tentu saja kami tidak membuatnya sendiri. Ibu-ibu kami tentu saja turun tangan untuk membantu, tapi tidak banyak. Mereka hanya memberi tahu kami apa yang harus kami lakukan dan mengawasi kami. Yaah, tapi untuk urusan memanggang kami dengan senang hati menyerahkannya kepada yang lebih bisa. Kami tidak mengambil resiko yang bisa menyakiti diri kami.

Selanjutnya, aku dan Chanyeol mengantarkan kue mangga itu ke tempat Kakek Kim. Aku menyerahkan urusan menjelaskan keseluruhan cerita kepada Chanyeol. Sepanjang Chanyeol mengeluarkan suaranya, aku hanya menunduk dalam sambil menggenggam erat baju kaos belakang Chanyeol. Aku takut Kakek Kim akan mengusir kami dan tidak mau menerima kue mangga kami. Tapi, tidak seperti yang aku pikirkan, ternyata Kakek Kim menghargai kejujuran kami dan menerima permintaan maaf kami. Bahkan ia mengajak kami memakan bersama kue itu dengannya dan juga Nenek Kim. Lalu, sepanjang sore itu aku dan Chanyeol menjadi teman akrab Kakek Kim yang ternyata baik hati. Lagipula, sebenarnya Kakek Kim tidak pelit, ia hanya tidak menyukai anak-anak yang mengambil mangganya tanpa izin (ups. Itu mengingatkanku pada tingkah nakalku). Dan tebak apa yang terjadi? Sepulang dari sana kami mendapat oleh-oleh mangga dari Kakek Kim! Wow. Bukankah itu hebat? Kami sekarang sudah menjadi teman Kakek Kim!

“Lihat kan? Aku lebih suka memakan mangga ini sekarang, daripada memakan mangga curianmu itu tadi,” Chanyeol membuka suara ketika kami berada di halaman belakang rumahku sepulangnya dari rumah Kakek Kim.

Aku memiringkan kepalaku sambil mencomot sepotong mangga yang sudah dikupas dan dipotong-potong oleh ibuku. Setelah melewati hari panjang seperti ini, memang enak sekali menikmati angin sore di belakang rumah sambil memakan mangga. “Yaah, kau benar. Dan aku sudah bosan mendengarmu mengatakan hal itu sepanjang sore ini,” kataku setengah bosan setengah tidak memedulikan Chanyeol.

“Hei! Seharusnya kau lebih sopan kepadaku tau! Aku itu–”

“Ya, ya, ya. Aku juga sudah bosan mendengarmu mengatakan bahwa kau lebih tua 2 tahun dariku. Aku tidak pernah lupa,” potongku dengan nada tidak perduli. Dan sepertinya Chanyeol mulai merasa kesal atas sikapku yang memang kurang ajar. Aku sediri tidak mengerti kenapa aku tumbuh menjadi gadis nakal begini.

“Kau!”

Ups. Ini tidak baik. Chanyeol marah.

Dengan segera aku bangkit dari dudukku dan berlari dengan Chanyeol mengejarku di belakang. Ketika aku melihat wajahnya, bukan wajah marah yang tampak di sana, melainkan wajah tersenyum lebar yang mengatakan bahwa aku harus diberi pelajaran.

“Heeiii! Nona muda! Berhenti kau! Aku akan memberimu pelajaran!”

Aku berlari dan terus berlari dengan tawa yang begitu lepas. Chanyeol mengikutiku di belakang, terus mengatakan bahwa dia akan memberiku pelajaran ketika berhasil menangkapku. Tapi aku tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Chanyeol selalu bilang bahwa dia akan memukulku ketika aku nakal karena dia lebih tua dariku, namun Chanyeol tak pernah melakukannya.

Take me back when our world was one block wide
I dared you to kiss me and ran when you tried
Just two kids, you and I…

Kuhentikan langkahku ketika berpikir bahwa Chanyeol sudah tidak berminat lagi untuk mengejarku. Aku berbalik badan untuk melihat Chanyeol dan mendapati dia sedang membungkuk dengan kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Punggungnya terlihat naik turun dan dari jarak beberapa meter darinya aku bahkan bisa mendengar nafasnya yang berat. Kesimpulannya, Chanyeol sudah lelah.

“Yyaaa! Chanyeol!” teriakku tak berusaha mendekatinya. Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku kenapa masih punya stamina setelah berlari kesana-kemari.

Chanyeol menunjukkan sebelah telapak tangannya. Sepertinya dia masih harus memulihkan tenaga beberapa saat sebelum membalas perkataanku. Wow aku heran kenapa tenaganya lebih kecil dibandingkan dengan diriku yang jenis kelaminnya perempuan dan lebih muda darinya.

“Yyaa Chanyeol! Kau sudah lelah, eoh? Masa begini saja sudah capek sih! Kau lemah sekali. Seperti gadis saja,” olokku semata-mata dengan maksud untuk membakar semangat Chanyeol untuk mengejarku lagi. Aku masih belum puas hari ini. Semangatku masih membara.

“Apa? Kau bilang apa?” pandangan Chanyeol kembali terangkat, menatapku dengan tajam dengan kening mengerut dalam. Wajahnya tampak serius dan sama sekali tidak terlihat bercanda.

“Kau seperti seorang gadis! Bahkan kau lebih lemah dariku. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebagai seorang laki-laki,” pancingku lagi.

“Apa?”

“Iya! Kau itu seorang gadis! Buktinya, kau saja tidak berani menciumku.”

Ups. Aku baru sadar bahwa perkataanku yang barusan agak kelewatan. Bagaimana kalau Chanyeol menanggapi serius perkataanku dan mencoba untuk menciumku? Berbahaya!

“Ohh rupanya kau memintaku untuk menciummu, ya? Baiklah.” Senyum timpang terpasang di wajah Chanyeol. Ia berdiri tegak sambil menghapus keringat di dahinya. Dengan langkah pelan tapi pasti, dia mendekatiku yang mematung setelah mengeluarkan ceplosan yang tidak pakai dipikir dulu. Harusnya aku lebih menjaga kata-kataku tadi! Mampus!

“Eee… Chanyeol? Kau tidak serius menanggapi ucapanku kan?” kataku takut-takut sambil mengambil selangkah mundur menjauhi Chanyeol yang terus berjalan mendekatiku. Sial! Kenapa di saat seperti ini kakiku malah tidak bisa diajak berkompromi untuk kabur sih?!

“Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku ini benar-benar seorang laki-laki.”

Aku menelan ludah. Beberapa langkah lagi Chanyeol akan bisa menangkapku. Chanyeol benar-benar akan menciumku!

Tepat setelah Chanyeol memegang pergelangan tanganku, aku panik. Dengan paksa aku menarik tanganku dan berlari sekuat tenaga.

“AAAAAA TOLONG AKU! AYAAAH CHANYEOL AKAN MENCIUMKU! AAAAAA!!!”

Part #1 end up here.

wowww….

hebat ya, ini ff pertama saya setelah berbulan-bulan hiatus akibat masa-masa kelulusan SMA dan saya lagi sibuk banget ngurus kuliah hehehe. tapi berhubung niat menulis saya lagi tinggi dan kepingin nulis yang ringan-ringan, jadi terciptalah ff ini. hehehe maaf yaa kalo gaje, maklum habis lama gak nulis /.\

saya gak berharap pada suka, tapi kalo suka mind to review? butuh ningkatin motivasi supaya saya bisa fast update. oiya ini langsung ngepost dua part, tapi part terakhir harap tunggu yaa 😉

bbaayy~ loveyouu readersku tercinta:*

Advertisements

One thought on “[FF] The Story Never Ends (1 of 3)

  1. Joe February 21, 2016 / 4:01 pm

    omona!! chanyeol masih kecil gitu udah mau nyosor (?) anaknya orang? gimana gedenya nanti??? ㅋㅋㅋ
    aduh, sweet banget sih persahabatannya mereka. ngiri deh jdinya!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s