[FF] The Story Never Ends (2 of 3)

the story never ends

 

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

 

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.

 

Part #2. Teenage Dream.

 

Well, I was sixteen when suddenly
I wasn’t that little girl you used to see
But your eyes still shined like pretty lights

 

Aku memeriksa sekali lagi pantulanku di cermin. Setelah sedikit merapikan poni, aku tersenyum. Ini hari pertama aku menjadi siswi SMA, yang artinya aku sudah lebih dewasa dan bisa melihat senior-senior ganteng di sekolah hahahaha.

Tapi yaah bisa ditebak, aku dimasukkan orangtuaku ke sekolah yang sama dengan Chanyeol. Aku masih berteman akrab dengannya, tapi karena berhubung kami berada di tingkat sekolah yang berbeda, waktu untuk bermain bersamanya tidak sebanyak saat kami masih kecil.

Dengar-dengar dari orangtuaku, Chanyeol cukup populer di sekolah. Mereka tidak langsung mengatakannya padaku sih, tapi mereka sengaja bergosip tentang Chanyeol dengan suara nyaring ketika aku di dekat mereka. Aku sama sekali tidak mengerti motif mereka kenapa harus bergosip tentang Chanyeol dengan suara full. Aku bahkan setengah percaya bahwa Chanyeol di sebelah rumahku bisa mendengarnya.

Sejujurnya jika mengingat tingkahnya yang terlalu sering mengeluarkan senyum idiotnya itu, aku tidak percaya jika dia menjadi salah satu most wanted di sekolah. Lihat saja gayanya, tidak ada keren-kerennya sama sekali. Bahkan terkadang, saat teman-temannya menginap di rumah Chanyeol, aku bisa mendengar suara tawanya yang menggelegar.

Chanyeol hanya akan terlihat lebih dewasa saat aku bertingkah kekanakan di depannya. Selain itu? Dia akan menjadi dirinya yang asli, yang suka tertawa tidak jelas pada hal yang tidak jelas pula. Berhubung sekarang aku sudah tidak senakal saat aku masih kecil dan bisa bersikap dewasa, sosok Chanyeol yang bagaikan seorang kakak idaman itu menghilang. Itu tambah membuatku sama sekali tidak mau memanggilnya ‘oppa’. Dan sepertinya dia juga sudah capek menegurku karena hal itu.

Namun masih ada satu hal darinya yang sangat kusukai. Sejak dulu matanya itu masih terlihat bercahaya di mataku. Seperti percikan cahaya-cahaya indah di malam hari. Entah kenapa setiap dia menatapku lekat dengan matanya yang indah itu, aku selalu merasa terhipnotis dan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Namun, momen-yang-sepertinya-sangat-tidak-mungkin-bagi-kami itu jarang terjadi. Chanyeol hampir tidak pernah benar-benar menatapku. Sebenarnya itu cukup baik, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Chanyeol lebih sering menatapku dalam. Mungkin saja, seperti yang sering dikatakan orangtua kami, aku akan jatuh cinta pada Chanyeol.

“Hoii! Kenapa kau lama sekali sih?” Chanyeol setengah berteriak dari depan pagar rumahku ketika aku baru keluar dari pintu rumahku. Rambut coklatnya bersinar tertimpa sinar matahari pagi yang cerah. Jika melihatnya seperti ini, mungkin terlihat wajar jika banyak perempuan yang menggilainya.

“Namanya aku perempuan, persiapannya tentu saja lebih lama,” balasku sewot sambil membuka pagar rumahku.

“Hah? Memangnya kau perempuan?” Chanyeol menatapku aneh yang membuatku langsung mendelik padanya. Maksudnya apa dia berkata seperti itu padaku? Dia pikir aku ini laki-laki? Awas saja kau Chanyeol!

“Kau kan seorang laki-laki. Bwee!” lihat kan kenapa aku tidak percaya dia bisa menjadi salah satu siswa populer? Dia bahkan memeletkan lidahnya padaku kemudian segera berlari sambil tertawa menggelegar karena dia tahu pasti aku akan melemparnya dengan tasku.

“Yyaaaa! Awas saja kau Park Chanyeoooll!!!” aku berteriak kesal kemudian berlari mengejarnya. Hancur sudah dandananku, bahkan ketika aku baru keluar beberapa langkah dari rumahku. Ini semua gara-gara Park Chanyeol!

 

And our daddies used to joke about the two of us
They never believed we’d really fall in love
And our mamas smiled and rolled their eyes

 

Aku suka pada salah satu teman dekat Chanyeol. Kris Wu.

Dia tinggi, lebih tinggi dari Chanyeol. Pemain basket yang hebat. Mahir berbahasa Inggris, China, dan Korea. Memiliki kharisma yang kuat. Dan juga memiliki kumpulan fans yang tidak kalah banyak dari Chanyeol.

Aku pertama kali bertemu dengannya saat aku ke rumah Chanyeol untuk meminjam dvd pada Chanyeol. Kebetulan, Kris ada di sana. Dan kebetulan lagi, Kris yang membukakan pintu untukku karena Chanyeol saat itu sedang di toilet. Aku sudah beberapa kali melihatnya di sekolah, tapi itu pertama kalinya bagiku melihat Kris dalam jarak yang begitu dekat. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menyukai Kris karena dia begitu tampan.

Beberapa kali aku menanyakan tentang Kris pada Chanyeol, tapi Chanyeol selalu menjawab dengan ogah-ogahan. Bahkan, tadi sore saat aku menanyakan tentang Kris lagi, Chanyeol sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dan mengabaikanku, seolah-olah aku tidak ada. Lihat! Dia benar-benar bersikap kasar pada seorang gadis sepertiku!

Chanyeol menghancurkan moodku. Akibatnya, saat keluargaku dan keluarganya sedang melakukan pesta barbekyu di belakang rumah Chanyeol, aku hanya diam dan tidak banyak bicara. Aku tidak berminat untuk menegur Chanyeol.

“Ada apa? Apa kalian bertengkar?” tegur ibuku saat kami semua berkumpul di meja makan besar yang memang ada di halaman belakang rumah Chanyeol. Mungkin ibuku cukup peka karena daritadi aku diam dan hanya mengaduk-aduk kacang polong rebusan di piringku.

“Tidak, Bi. Kami baik-baik saja,” jawab Chanyeol cepat yang langsung mengangkat wajahnya dari piring dan menatap ibuku. Tidak lupa dia menambahkan senyum di akhir kalimatnya. Ternyata dia tidak menganggap kami bertengkar ya? Oke, terserah kau saja Park Chanyeol.

“Lalu, kenapa kalian tidak banyak bicara? Apa anak gadisku ini sedang PMS?” kata ayahku asal yang membuatku langsung menatap ayahku tidak suka.

“Ayah!”

“Hahaha tidak apa-apa. Bertengkar bagi orang yang berpacaran itu wajar.” Ini suara ayah Chanyeol. Aku heran, kenapa sih para ayah senang sekali mengatakan bahwa aku dan Chanyeol berpacaran?

Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak memutar mataku. Ini terlihat tidak sopan, tapi biar sajalah. Aku sudah bilang sedang dalam mood yang buruk kan? “Paman, aku sudah mempunyai orang yang kusukai,” kataku malas sambil menyuap sepotong daging.

“Benarkah? Waah Chanyeol, kau tidak punya kesempatan lagi sepertinya,” ucap ibu Chanyeol dengan nada bercanda. Diam-diam kulirik Chanyeol yang hanya mengeluarkan tawa paksaan.

“Yaah lagipula sepertinya mustahil mereka bisa berpacaran. Mereka kelewat sering bertengkar,” sahut ibuku. Tuh hanya para ibu saja yang memercayai bahwa aku dan Chanyeol tidak bisa berpacaran. Aku dan Chanyeol terlalu berbeda. Hanya para ayah saja yang suka menjodoh-jodohkan kami secara tidak jelas.

“Benar sekali, Bu. Jadi, lelaki yang kusukai ini namanya—”

Ucapanku terpotong saat Chanyeol tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ekspresi wajahnya datar. “Bu, aku mau tambah daging lagi.”

Setelah itu dia pergi dari meja makan setelah seenaknya saja menginterupsi ucapanku. Dia itu kenapa sih? Sedang bertengkar dengan Kris atau apa? Menyebalkan sekali.

 

Take me back to the creek beds we turned up
Two A.M. riding in your truck
And all I need is you next to me

 

Tok! Tok! Tok!

Mataku yang sejak tadi tertutup langsung membuka begitu mendengar suara asing di jendelaku. Tidak, aku bukan terbangun gara-gara suara ketukan itu. Aku sejak tadi memang belum bisa tertidur akibat mood burukku. Chanyeol semakin menyebalkan sejak pesta barbekyu berakhir tadi. Bisa-bisanya dia tidak meminta maaf padaku! Padahal yang salah karena bersikap kasar itu dia! Hah jangankan meminta maaf, melirikku sedikit pun saja tidak.

Tok! Tok! Tok!

Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua malam. aku tidak percaya pada hal semacam hantu dan makhluk halus, jadi dengan malas aku bangkit dari tidurku dan menyingkap selimutku. Apa yang paling mungkin dari bunyi ketukan itu? Chanyeol.

“Apa?” sambutku malas begitu aku membuka jendelaku dengan muka super jutek pada Chanyeol yang berdiri di samping jendelaku.

“Ikut aku,” katanya sambil bersedekap. Wajahnya masih datar seperti saat makan malam tadi dan lagaknya seperti bos.

Aku memicingkan mataku, menolak mentah-mentah ajakannya. Siapa yang sudi ikut dia tengah malam begini? Dia saja tidak ada minta maaf padaku! “Tidak.”

“Ikut. Aku.”

“Ti-dak.”

Chanyeol memelototkan matanya, terlihat kesal dengan tingkahku yang membuatnya darah tinggi. Biar saja, dia saja membuatku seperti itu kok. Dan sekarang apa? Dia seenaknya menyuruhku mengikutinya, tanpa alasan yang jelas pula!

Tanpa kuduga, Chanyeol dalam waktu beberapa detik sudah berdiri di hadapanku. Ia melompati jendelaku seperti maling! Ugh. Jika rumahku benar-benar akan dimasuki maling, aku akan menyalahkan Chanyeol sepenuhnya. Dan omong-omong, untung saja dia melepas alas kakinya sebelum memasuki kamarku, karena kalau tidak aku akan mengamuk padanya karena mengotori kamarku.

“Kenapa kau melompati jendelaku?” bisikku yang sama tajamnya dengan tatapanku pada Chanyeol sekarang. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menjadi semarah ini padanya. Padahal, jujur kok, sebenarnya saat dia mengabaikanku dan tidak menjawab pertanyaanku tadi sore, aku tidak semuak ini padanya. Tapi sikapnya yang menyebalkan itulah yang membuatku tambah muak padanya.

Chanyeol mensejajarkan wajahnya pada wajahku dengan ekspresi datar. “Sudah kubilang kau harus ikut aku,” balasnya tak kalah tajam dari ucapanku.

“Aku mengerti! Sekarang jauhkan wajahmu itu!” bentakku pelan, sambil mengalihkan pandanganku darinya. Selama enambelas tahun mengenal Chanyeol, tak pernah wajah kami sedekat ini.

“Aku tunggu di depan. Dan jangan lupa pakai jaketmu.”

Aku hanya memasang wajah masam sembari melihatnya melompati jendela kamarku lagi. Kuambil sendalku di sudut kamar dan kucomot jaketku di gantungan belakang pintu. Setelah berpikir beberapa saat, aku memilih mengikuti Chanyeol untuk keluar lewat jendela daripada melewati pintu depan. Ini sudah lewat tengah malam (hellow ini sudah jam 2 malam, dude!) dan aku malas orangtuaku mengetahui aku keluar rumah jam segini. Yaah aku tahu pasti orangtuaku akan membolehkanku untuk keluar jam segini jika tahu aku pergi bersama Chanyeol, tapi tidak terima kasih. Aku menghindari orangtuaku untuk mengetahuinya.

Dan apa yang kuliat di depan rumahku sekarang adalah sebuah truk (read: mobil pick up) tua berwarna merah yang selalu terparkir di garasi rumah Chanyeol. Aku menganga. Ada beberapa hal yang membuatku bingung. Satu aku baru tahu bahwa Chanyeol bisa menyetir. Dua aku pikir truk merah itu hanya pajangan di garasi Chanyeol karena aku sama sekali tidak pernah melihat Tuan Park membawa truk itu. Tiga aku bahkan sama sekali tidak yakin bahwa truk itu bisa berjalan.
“Chanyeol?” panggilku tidak yakin dari samping truk itu. Karena cahaya hanya dari lampu redup di pintu pagarku, aku tidak bisa melihat posisi Chanyeol sekarang. Apa dia ada di balik kemudi?

Kemudian secara ajaib pintu truk penumpang di hadapanku terbuka. “Masuklah.” suara Chanyeol. Mungkin dia yang membuka pintu itu dari dalam.

Aku menurutinya. Setelah aku duduk dengan nyaman di kursi penumpang tua yang busanya sudah bolong di beberapa tempat, aku bernafas dengan gugup. Chanyeol dan truk inilah yang membuatku tidak yakin bahwa aku akan aman.

“Kau yakin truk ini bisa jalan?”

Chanyeol hanya bergumam tidak jelas sambil memutar kunci mobil, mencoba menyalakan mesin mobil. Setelah beberapa kali percobaan dan pikiranku mengatakan bahwa truk ini mogok, barulah mesinnya berfungsi dengan benar. Bagaimana jika di tengah jalan nanti kami kemogokan? Astaga ini tengah malam dan kemogokan bersama Chanyeol? Yang benar saja!

“Aku tidak tahu kau bisa menyetir,” kataku membuka suara setelah beberapa saat. Aku perlu menetralkan jantungku dan meyakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja.

“Sejak dua tahun yang lalu,” balasnya singkat. Serius deh, apa yang membuatnya jadi sependiam ini? Apa dia ingin menyaingi Kris yang kulihat hampir tak pernah membuka mulutnya itu?

Aku diam saja, kesal dengan tingkah Chanyeol yang sok. Daripada memperhatikan Chanyeol di kiriku, aku lebih memilih melihat keluar jendela di kananku. Tidak ada apa-apa yang bisa kulihat sih karena ini tengah malam dan jalan yang kami lalui tidak ada penerangannya. Banyak pohon dan jalannya tidak nyaman dan mulus. Chanyeol mau membawaku ke mana sih?

“Serius deh! Kau mau membawaku ke mana sih?!” ucapku pada akhirnya. Mulutku gatal ingin mengeluarkan suara. Saling diam seperti ini adalah pertama kali buat kami, jadi aku agak tidak terbiasa.

“Ke sini,” jawab Chanyeol tepat setelah truk berhenti di tempat yang membuatku terpana. Ini di danau dan tempatnya benar-benar indah. Permukaannya memantulkan cahaya rembulan. Langit terlihat begitu jelas dengan bintang yang bertebaran di langit. Cahaya kuning kecil berterbangan. Kunang-kunang.

“Wow.”

Aku membuka pintu mobil dengan pelan masih dengan tatapan berbinar. Aku keluar dari mobil dan berjalan mendekati pinggiran danau. Hembusan angin musim gugur yang membuatku berantakan tidak aku hiraukan. Aku tidak tahu Chanyeol tahu tempat ini.

“Aku menemukan tempat ini beberapa waktu lalu. Aku sudah ingin mengajakmu ke sini, tapi kau selalu membicarakan Kris. Itu membuatku kesal.”

Apa? Chanyeol bilang apa tadi? Karena terlalu terpesona aku jadi tidak begitu mendengarkannya. Tapi, apa aku memang tidak salah dengar jika dia baru saja bilang cemburu pada Kris?

“Hah?” aku berbalik badan bermaksud untuk menatap Chanyeol yang sedang duduk di kap mobil. Dia benar-benar sedang serius?

“Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku baru menyadarinya baru-baru ini. Sepertinya aku mencintaimu.”

 

Take me back to the time we had our very first fight
The slamming of doors instead of kissing goodnight
You stayed outside till the morning light

 

“Apa yang kau lakukan bersama Kris tadi?”

Chanyeol menodongku begitu aku sampai di depan pagar rumahku. Aku sengaja tidak menunggu Chanyeol untuk pulang sekolah bersama-sama dan pulang duluan karena aku merasa kurang enak badan. Tapi aku tidak menyangka jika ketika tepat aku sampai di depan rumah dia dapat mengejarku dan menanyakan pertanyaan aneh. Padahal ini sudah malam dan aku butuh istirahat.

“Apa? Memangnya aku kenapa dengan Kris?” tanyaku balik dengan bingung. Aku tidak mengerti arah pertanyaan Chanyeol.

“Aku melihatnya bersamamu siang tadi. Apa yang kau lakukan bersamanya?” ah, sekarang aku mengerti maksud Chanyeol. Kejadian siang tadi rupanya.

“Tidak ada, dia hanya mengantarku ke ruang kesehatan,” jawabku santai sambil membuka pintu pagar rumahku.

“Dan kenapa dia melingkarkan tangannya di bahumu?”

Aku memutar bola mataku sambil menatap Chanyeol malas. Ada apa dengannya sih? “Itu karena aku terlalu lemah untuk berjalan sendiri. Dia hanya membantuku, Chanyeol.”

“Uh-huh. Tapi kalian terlalu dekat! Kau kan bisa memanggilku untuk membantumu, bukannya dia!” bentak Chanyeol kesal yang membuatku kaget.

“Serius deh, ada apa denganmu sih? Kau terlalu cemburu!” balasku sambil melipat tangan depan dada, sedangkan Chanyeol sekarang memelototiku yang membuat matanya semakin besar.

“Aku cemburu karena kau pernah bilang menyukai Kris! Aku tidak suka melihatmu dengannya.”

Chanyeol benar-benar menyebalkan. Kenapa sih dia bersikap seperti ini? Apa dia tidak mengerti jika kepalaku sekarang sedang pening dan benar-benar butuh istirahat? Dia mengajakku bertengkar di saat yang tidak tepat.

“Chanyeol, bisakah kita bicarakan ini lain kali? Aku benar-benar ingin tidur,” kataku pelan, terlalu lelah untuk membalas ucapannya.

“Tidak, aku mau meluruskan masalah ini sekarang. Apa kau tidak mengerti jika aku mencintaimu? Apa kau tidak mengerti jika aku cemburu pada Kris? Bisa tidak sih kau menjauhi dia dan tidak membicarakannya lagi? Aku tahu dia teman baikku, tapi aku tidak suka melihatmu dengannya!”

Aku memejamkan mataku, menahan kesabaranku untuk tidak mengeluarkan makianku padanya. Tapi, mendengarnya terus mengomel di hadapanku sekarang benar-benar membuat emosiku naik. Chanyeol berurusan denganku di waktu yang salah.

“Chanyeol! Aku butuh istirahat sekarang dan kau membuat demamku semakin naik!” bentakku kesal dengan nada tinggi.
Chanyeol menghentikan omongannya, tersadar bahwa dia baru saja bersikap salah. Tapi terlambat. Sekarang aku sudah benar-benar kesal padanya. Bahkan aku merasa bahwa mukanya saat ini benar-benar menyebalkan.

Tangan Chanyeol mencoba memegang keningku untuk memeriksa suhu tubuhku, tapi sebelum tangannya berhasil aku sudah menepisnya dengan kasar.

“Tidak perlu! Sekarang kau pergi dari rumahku dan renungkan perbuatanmu tadi!”

Dengan itu, aku memutar tubuhku untuk memasuki rumahku dan berjalan cepat. Begitu aku memasuki rumahku, kubanting pintu sekuat-kuatnya untuk menunjukkan betapa aku marah padanya. Dia benar-benar keterlaluan. Daripada mengucapkan semoga cepat sembuh dan ciuman selamat malam, dia memilih untuk bertengkar. Benar-benar tidak romantis!

Jadi, begitu aku sampai kamar, tanpa melepas pakaian seragamku aku langsung memilih tidur dan mengabaikan pertanyaan ibuku dengan alasan bahwa aku sangat pusing dan segera butuh tidur. Aku yakin dramaku dan Chanyeol tadi diam-diam menjadi tontonan tetangga-tetangga kami.

Namun, keesokan paginya drama itu masih berlanjut karena aku melihat Chanyeol duduk di depan pagar rumahku masih dengan seragam sekolah.

Part #2 end up here.

 

beneran fast update kan? sampai ketemu di part terakhir yaww~~ (o^-^o)

Advertisements

One thought on “[FF] The Story Never Ends (2 of 3)

  1. Joe February 21, 2016 / 4:19 pm

    cie~~~~ Chanyeol lgi cemburu nih ye~~ udah ada benih2 cinta (?) toh buat si oc (aq gk tau namanya). ehem, kris jdi ‘nyamok’nya nih dihubungannya chan n oc? kkkk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s