[FF/Freelance] Fake (Chapter 1)

PicsArt_1434722564520

Title : Fake

Author : warmlights

Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun

Genre : School-Life, Friendship, Romance

Length : Chaptered

Rate : T

-Fake-

“Dasar tidak normal!”

“Byun Baekhyun anak miskin yang tidak normal! Hahahaha!”

“Sudah miskin, masih sempat-sempatnya kau berpikir untuk menyukai sesama jenis?!”

“Yak! Selain gay, dia juga mempunyai penampilan fisik seperti yeoja!”

“Banci, maksudmu? Dasar menjijikkan!”

“Jangan-jangan dia transgender?”

“Iuh, makhluk sepertimu pantas dimusnahkan dari sekolah elit kami!”

“Ya, benar! Dia hanya akan merusak nama sekolah!”

“Huuu…”

Namja itu tidak bergeming dari tempatnya menumpukan kedua lututnya. Di tengah lapangan utama sekolah, dikelilingi sekitar 87% siswa-siswi kaya raya Whimoon High School. Namja berwajah manis yang menjadi sasaran semua ejekan tersebut tidak menangis, ia hanya menunduk sambil menatap kosong ke bawah.

Sudah biasa. Dia sudah seakan kebal dengan ejekan-ejekan itu, meskipun tentu saja masih terasa menyakitkan.

Namja bernama Byun Baekhyun itu sudah biasa diejek seperti itu. Bahkan hampir setiap hari ia diejek tidak normal-lah, miskin-lah, banci-lah oleh ‘hampir’ seluruh populasi siswa-siswi Whimoon. Bayangkan, betapa banyaknya siswa-siswi yang mengejek Baekhyun hampir setiap hari!

Terutama namja tinggi dengan rambut merah gelapnya yang sedang berdiri sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Namja tinggi itu menatap dengan angkuh Baekhyun yang sedang menunduk pasrah. Bibirnya membentuk senyum sinis. Ia membuka mulutnya, “Hei, kenapa kalian berhenti mengejeknya? Apa ini artinya giliranku, hm?” tanyanya masih dengan smirk pada sudut bibirnya.

“Ya, silahkan saja, Chanyeol.” Salah satu siswa dari gerombolan siswa-siswi di belakang Baekhyun menyahut.

Namja tinggi yang bernama Chanyeol–nama lengkapnya adalah Park Chanyeol– itu berjalan ke tengah lapangan, mendekati Baekhyun. Ia berlutut dengan satu kakinya, lalu menengok wajah Baekhyun dari bawah.

“Wow, daebak! Dia tidak menangis, yeorobun,” kata Chanyeol dengan nada sok takjub. Ia bertepuk tangan dua kali, lalu kembali memasang smirknya.

“Baekhyun-ah, kau sangat menyedihkan. Lihatlah, hidupmu di sekolah ini hanya kau habiskan dengan diejek,” kata Chanyeol. Ia semakin tersenyum menang ketika melihat Baekhyun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Chanyeol kembali membuka suara, “Mengapa?” Chanyeol mengangkat wajah Baekhyun kasar, “Itu karena kau adalah seorang gay!”

“Hentikan, Park Chanyeol!” Seseorang datang lalu mendorong Chanyeol ke belakang dengan cukup kuat. Namja tinggi itu hampir saja terjungkang jika saja kedua temannya yang sama brengseknya itu tidak menahan tubuhnya.

“Jangan ganggu sahabatku lagi!” Jeon Jungkook membentak galak pada Chanyeol, dan juga seluruh siswa-siswi Whimoon yang mengelilingi mereka. Sehun membantu Baekhyun berdiri dari posisi berlututnya.

“Kau tidak apa-apa, Baek?” tanya Jungkook khawatir. Ia menepuk seragam Baekhyun yang berdebu karena terkena sepatu siswa lainnya, dan juga merapikan rambut hitam namja manis itu. “Yach, kau sangat berantakan. Kenapa tidak melawan, eoh?!”

“Nan gwenchana..” bisik Baekhyun. “Kajja, kita pergi dari sini,” ajak Baekhyun buru-buru.

Chanyeol tertawa sinis. “Kau menyuruhku berhenti? Shireo, aku belum puas mengerjai namja tidak normal itu.” Tangan Chanyeol memainkan sebuah bola kasti yang baru saja Yifan lemparkan kepadanya. “Sekarang, lebih baik kau minggir dari sana, jika kau tidak ingin bola ini mengenai tubuhmu, Jeon Jungkook.” Chanyeol berbicara pada Jungkook, tapi matanya menatap tajam Baekhyun.

“Yakk! Dasar gila! Apa yang Baekhyun lakukan padamu, hah? Sial!” Jungkook hendak melayangkan tinjuannya pada Chanyeol, sebelum Baekhyun menahan tangan Jungkook erat. “Jangan memukul siapapun, Jungkook-ya. Jangan membuat masalah dengan mereka,” bisik Baekhyun yang berada di balik tubuh Jungkook dengan suara suara bergetar. Jungkook menurunkan tangannya yang sudah terangkat di udara sambil menghembuskan napas kasar.

“Aku. tidak. peduli.,” kata Chanyeol. Ia mengambil ancang-ancang untuk melempar bola tersebut kepada Baekhyun–yang sudah pasti mengenai Jungkook karena namja berkulit putih susu itu berdiri di depan Baekhyun–, namun kerah seragam sekolahnya ditarik oleh seseorang.

“Jangan pernah mengganggu Baekhyun lagi atau aku akan meremukkanmu, Park Chanyeol,” kata orang itu dengan suara rendah. Ia merebut bola yang ada dalam genggaman Chanyeol lalu melemparnya ke sembarangan arah.

Terdengar bisik-bisik dari kerumunan siswa di belakang mereka. Emosi Chanyeol mulai terpancing.

Chanyeol melepaskan paksa cengkraman Oh Sehun dari kerah seragamnya. “Cih, jadi ceritanya kau mau jadi pahwalan di siang bolong kedua?” tanya Chanyeol. “Memangnya apa urusanmu dengan namja tidak normal itu? Apa pengaruhnya denganmu jika aku mengganggunya, Oh Sehun?”

“Aku menyukai Baekhyun,” kata Sehun dengan penuh penekanan. “Jangan pernah kau, Park Chanyeol, dan juga kalian semua,” Sehun mengedarkan pandangannya kepada seluruh siswa yang ada di sekeliling mereka, lalu melanjutkan, “mengganggu Baekhyun lagi, jika kalian tidak ingin mempunyai masalah denganku.”

Sehun berbalik, lalu berjalan menghampiri Baekhyun dan Jungkook yang masih berdiri di tengah lapangan sambil sedikit tercengo dengan apa yang dilakukan Jongin.

Sehun menatap wajah terkejut Baekhyun yang terlihat kaget dengan ‘pengakuan’nya tadi sambil tersenyum tulus. “Hei, jangan melamun,” kata Sehun sambil melambaikan tangannya di depan wajah Baekhyun.

Baekhyun mengerjap-ngerjap menatap Sehun masih dengan ekspresi kaget. “Ah, ne,” gumamnya.

Sehun terkekeh kecil sebelum mengajak Baekhyun dan Jungkook meninggalkan lapangan sekolah karena bel jam pelajaran sudah hampir berbunyi. Tidak lama kemudian, mereka bertiga-pun berjalan meninggalkan lapangan.

Ditambah tatapan tajam Chanyeol pada sosok Baekhyun yang hanya bisa ia lihat punggungnya dari belakang. Saat sosok Baekhyun menghilang dari pandangannya, Chanyeol menendang apapun yang ada di depannya.

“Arghh, sial!” Chanyeol mengepalkan tangannya kesal.

-Fake-

“Aku tidak apa-apa. Benar, deh,” Baekhyun tersenyum kecut. Ia mengusap pundak Jungkook untuk menenangkan sang sahabat yang masih menggerutu jengkel. Mereka sekarang berada di lapangan indoor sekolah yang terletak tidak terlalu jauh dari kelas mereka. Sedari tadi, Baekhyun hanya terdiam, membiarkan Jungkook mengomel sendiri. Jika Jungkook berhenti berbicara, barulah Baekhyun juga membuka suara. Jongin sudah pergi meninggalkan mereka karena dipanggil oleh Lee songsaenim.

“Anhi, kau apa-apa, Baek!” pekik Jungkook emosi. “Apanya yang tidak apa-apa?! Kau diperlakukan dengan buruk setiap hari oleh si brengsek itu. Apa kau tidak merasa ingin meninju wajah soknya itu, hah?! Aish, jinjja!”

Baekhyun tertunduk dalam tanpa membalas perkataan Jungkook. Rasanya sesak sekali. Dulu saat Baekhyun menerima surat beasiswa dari Whimoon, rasanya ia sangat senang bisa masuk sekolah se-elit ini. Tapi, sekarang? Hah! Baekhyun meremas jari-jarinya, kebiasaannya jika sedang sedih atau gugup. “A-aku sudah terbiasa..”

Jungkook menghela napas. Ia menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. “Ya, pabo! Kenapa kau tidak pernah mau menangis, eoh? Aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang ada–”

Jungkook berhenti berbicara ketika merasakan tubuh Baekhyun bergetar dalam pelukannya serta bajunya yang basah di bagian pundak, menandakan bahwa Baekhyun sedang menangis. Kali ini Jungkook yang benar-benar terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa mengusap punggung Baekhyun. Ini adalah pertama kalinya, setelah empat tahun berteman dengan Baekhyun, ia melihat Baekhyun menangis.

Selama ini Baekhyun kuat. Baekhyun sangat kuat.

“Hiks.. Aku.. aku juga tidak ingin seperti ini..” isak Baekhyun. Ia memukul punggung Jungkook, sambil masih menangis terisak. “Aku juga ingin balas dendam.. Aku.. Hiks..”

Jungkook masih kehilangan kata-kata. Padahal sudah lama sekali dia memang ingin Baekhyun membalas perbuatan Park-sialan-Chanyeol itu. Tapi Jungkook malah sama sekali tidak mencetuskan ide balas dendam yang selama ini memenuhi pikirannya, melihat Baekhyun, sahabatnya, ternyata serapuh ini.

“Aku.. aku ingin mati..”

DEG!

“ANDWAE!” teriak Jungkook marah. “Aku tidak ingin kau mati, Baek! Kau gila!”

“Untuk apa aku hidup jika seperti ini, huh?! Mungkin aku tidak akan pernah bisa bahagia, Jungkook-ah,” tangis Baekhyun.

Tiba-tiba Jungkook mendapatkan ide. Dia mengulum senyum lalu mengusap rambut Baekhyun lembut.

“Baek..”

“Hikss.. Wae?” Baekhyun mendongak menatap Jungkook dengan mata berkaca-kaca.

“Aku punya ide.”

“Jinjja?” Baekhyun mengusap kedua matanya. “Ide apa?”

“Hyorin, kan, pasti punya pakaian yang cocok pada tubuhmu,” kata Jungkook sambil memperhatikan tubuh mungil Baekhyun.

“Lalu?”

“Bagaimana kalau kita….”

-To Be Continued.

Um, hai!^^ Nama aku achan dan ini ff titipan pertama aku di blog ini hehe~ Aku sendiri emang masih author baru dan amatiran jadi ff aku jadinya masih belum terlalu bagus dan gaje. Dan.. pendek banget ya? Iya, mungkin ini efek masih chapter 1 :v Covernya juga astaga banget, aku enggak jago ngedit sih. Buat yang udah jago, ajarin dong kkk~

Seperti kata pepatah, tak ada kpopers yang tak yadong/ngasal woi/, ff buatan aku juga banyak kekurangannya. Mohon diberi kritik dan saran, ya~ Gomapta! :3 /bow/

Oh, ya, aku juga nulis di ffn, loh! Reach me, penname; warmlights

Please looking forward to my updates. Thanks x

©warmlights

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s