[FF] Beautiful Boy (Chapter 1)

beautiful-boy

Author : Rai Sha

Genre : Romance, Comedy (hopefully), School-life, Sci-fi

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Inspired by : Detective Conan and Kaito fanfiction by Nine-tailed Fox

 

Banyak yang mengatakan bahwa Rommy adalah gadis yang terlalu cuek. Gadis itu memang selalu bersikap seenaknya, keras kepala, dan terlalu tidak memedulikan keadaan di sekitarnya. Wajahnya hampir selalu menunjukkan wajah datar, tanpa emosi. Jika badannya bukan seorang gadis, pasti banyak yang akan meragukan keaslian jenis kelaminnya.

Sisi feminine gadis itu sama sekali tidak tampak, kecuali rambut lurus panjangnya yang selalu dibiarkannya tergerai. Mungkin sifatnya yang tidak feminine adalah pengaruh dari namanya sendiri yang memang lebih terdengar seperti nama seorang lelaki daripada nama seorang gadis. Orangtua gadis itu harus lebih pintar memberi nama pada anaknya kelak ketika mereka berencana untuk memberikan gadis itu seorang adik.

Hari ini adalah hari pertama gadis remaja itu masuk SMA. Oleh karena sejak berada di sekolah dasar gadis itu sering ditinggal ke luar negeri oleh orangtuanya, akhirnya ketika meginjak usia SMA ia memilih untuk memasuki sekolah yang memiliki asrama. Ia lelah dengan kesunyian yang selalu menyelimuti harinya.

Rommy berjalan pelan ketika para siswa dan siswi baru SMA Youngjin dibubarkan dari aula. Para siswa dan siswi tingkat pertama baru saja melaksanakan upacara penerimaan siswa-siswi baru sebagai tanda peresmian bahwa mereka sekarang adalah murid-murid resmi SMA Youngjin sekaligus pengenalan terhadap sekolah.

Karena hari ini adalah hari pertama, para siswa-siswi baru hanya akan sibuk memilih klub yang akan mereka ikuti (ini adalah aturan wajib SMA Youngjin) dan dipersilahkan untuk berkeliling sekolah. Bagi yang memilih untuk tinggal di asrama, mereka disibukkan oleh pengaturan kamar dan semacamnya. Berhubung Rommy sudah mengatur barangnya sejak dua hari yang lalu, ia hanya berkeliling di sekitar sekolah sambil mencari ruang kesehatan. Ia sejak tadi menahan sakit perutnya. Sepertinya karena ia melewatkan sarapan pagi ini.

Laboratorium Kimia

Itu yang ditangkap mata Rommy ketika ia berada di lantai 3 sekolah. Lab kimia berada di ujung lorong sebelah tangga. Rommy sepertinya agak tidak sadar karena dia sama sekali tidak berpikir bahwa ruang kesehatan tidak mungkin berada di lantai 3 sekolah.

Sambil meringis menahan perih di perutnya, ia menggeser pintu lab. Ruangan itu berantakan, tapi tidak terlihat seorangpun di ruangan itu. Gadis itu melangkah pelan sambil menyelipkan rambut panjangnya yang menjuntai ke belakang telinga. Meja-meja di penuhi oleh gelas-gelas kimia yang berisi cairan berwarna-warni. Di tengah ruangan, spiritus yang isinya sisa setengah menyala memanasi tabung kimia kecil yang berisi cairan berwarna biru.

Tangan Rommy mengambil salah satu tabung kimia yang berisi cairan bening. Didekatkannya gelas itu ke hidungnya, hanya untuk sekedar mengetahui bau cairan itu. Hidung Rommy mengernyit ketika mengetahui bau dari cairan itu begitu menyengat. Lain kali dia tidak akan sembarangan menghirup-hirup cairan aneh lagi, karena ia yakin paru-parunya bisa copot sebelah jika ia terus menghirup satu per satu cairan yang ada di ruangan itu.

Dengan hati-hati ia meletakkan kembali tabung kimia itu ke tempat asalnya sambil berusaha untuk tidak menyenggol yang lain. Ia bisa mati jika menghancurkan seluruh ruangan ini hanya karena tidak berhati-hati.

Rommy memutar tubuhnya, bermaksud keluar dari sana. Dan ketika itulah matanya menangkap sesuatu di dalam lemari kaca di samping pintu. Stoples bening kecil yang setengah isinya berupa tablet berwarna hijau. Dari jauh itu terlihat seperti obat maag.

Ia membuka lemari itu, tidak berpikir bahwa dia akan kena omel karena sikapnya yang seenaknya membuka lemari di lab kimia. Dibawanya stoples itu ke meja kosong dekat pintu. Dibukanya tutup stoples itu dan diambilnya sebuah tablet warna hijau yang benar-benar terlihat seperti obat maag.

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

Rommy menoleh ke arah pintu. Ia dipergoki sedang membuka-buka obat di lab kimia. Mungkin dia akan terkena masalah di hari pertamanya bersekolah, tapi ia tidak memedulikannya. Sekarang perutnya benar-benar perih dan ia butuh segera meminum obat maag.

Orang yang memergokinya adalah seoarng lelaki. Ia masih memakai seragam sekolah yang artinya dia masih seorang siswa di sini. Namun, yang membuatnya terlihat bahwa dialah yang bertanggungjawab akan ruangan ini adalah jas putih panjang yang melekat di tubuhnya. Mungkin lelaki ini adalah kakak tingkatnya.

Tapi, tunggu sebentar… Lelaki ini seperti tidak asing di matanya.

“Oh! Kau penjaga kasir di swalayan di dekat rumahku. Aku tidak tahu kau akan menjadi kakak tingkatku,” ucap Rommy akhirnya yang benar-benar mengabaikan perkataan lelaki ini sebelumnya. Pikir Rommy, lelaki ini tidak perlu tahu bahwa Rommy baru saja tur singkat di lab kimia.

Lelaki itu hanya mengerutkan kening mendengar ucapan Rommy. Ia memang mengenali gadis itu karena dia sering melihat gadis itu berbelanja di swalayan tempat dia bekerja part-time. Matanya menelusuri Rommy, seketika itu juga tatapannya jatuh pada sebuah tablet yang ada di tangan Rommy dan pada stoples yang tutupnya sudah terbuka. Matanya membelalak.

Sadar bahwa pandangan lelaki itu ke arah tablet di tangannya, Rommy berdeham. “Apa ini?”

“Uh… Itu obat maag,” jawab lelaki itu ragu-ragu. Jelas sekali bahwa kakak tingkatnya itu terlihat gugup.

Rommy mengangkat kedua bahunya, tidak ambil pusing dengan sikap lelaki itu yang aneh. “Ini dia yang kucari,” katanya ringan lalu—

“Jangan!”

—melemparkan tablet hijau itu ke dalam mulutnya. Apapun maksud dari lelaki tadi melarangnya memakan obat itu, yang jelas itu semua sudah terlambat. Tablet hijau itu benar-benar sudah tertelan oleh Rommy.

“Kenapa kau memakannya?!!” pekik lelaki itu sambil mendekat pada Rommy yang hanya memandang heran padanya. Jujur, kali ini Rommy sedikit bingung dengan tingkah kakak tingkatnya itu, tapi karena ini Rommy ia hanya menunjukkan ekspresi datar khas dirinya.

“Karena kau bilang itu obat maag dan aku memang sedang sakit perut,” ucap Rommy datar seolah tidak melakukan kesalahan apapun.

Lelaki itu menepuk jidatnya dengan keras kemudian berjalan mondar-mandir dengan cemas. Jelas, pikir lelaki itu, jelas bahwa dia kini dalam masalah besar. Otaknya harus berpikir cepat.

“Uhuk… Uhuk…” Rommy terbatuk. Awalnya hanya batuk kecil biasa karena tenggorokannya terasa gatal, namun lama-kelamaan tenggorokannya itu terasa panas hingga ia pikir tenggorokannya terbakar.

Rommy mencengkram ujung meja guna untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Ia terbatuk-batuk hebat, tanpa ada sedikitpun waktu untuk berhenti. Namun, setelah beberapa saat Rommy terus begitu dengan lelaki itu yang hanya menatap Rommy dengan cemas, rasa panas di tenggorokannya itu menghilang.

“Sebenarnya obat apa itu?!” bentak Rommy ketika rasa gatal di tenggorokannya sepenuhnya menghilang. Ini adalah bentakan pertamanya terhadap orang asing. Apalagi orang asing itu adalah kakak tingkatnya. Ia tidak perduli, karena ia pikir ia baru saja hampir mati hanya karena obat itu.

“Uh…” Lelaki itu tidak menjawab, hanya menggaruk-garuk belakangnya yang tidak gatal.

“Itu bukan obat maag, kan?!”

Lelaki itu menggeleng pelan dengan kepala menunduk. Jujur, sebenarnya gadis di hadapannya itu sangat tidak sopan. Pertama, ia sudah seenaknya memasuki lab kimia yang tidak boleh dimasuki sembarang orang. Kedua, gadis itu juga semaunya mengambil obat di dalam lemari dan memakannya. Ketiga, yang paling tidak sopan, gadis itu berani membentak seorang kakak tingkat yang seharusnya dia hormati. Tapi, lelaki itu cukup tahu diri, karena ia sendiri sudah salah telah berbohong pada gadis itu. Ini semua juga demi melindungi dirinya sendiri.

“Ugh… Kenapa di sini tiba-tiba terasa panas?”

Rommy mencoba menciptakan sedikit angin segar dengan mengipasi dirinya dengan tangannya. Semakin lama semakin cepat. Wajah putih gadis itu juga perlahan memerah dan terlihat keringat sebesar biji jagung. Agak aneh, karena lelaki itu tidak merasa panas sedikitpun.

Dengan brutal, Rommy melepas blazer sekolahnya dan melemparkannya begitu saja. Badannya mulai berkeringat hebat dan tanpa sadar keringatnya itu membuat baju putih sekolahnya menjadi tembus pandang, memperlihatkan dengan jelas bra hitam yang sedang dipakai gadis itu. Buru-buru lelaki itu memalingkan pandangannya dari Rommy karena ia sungguh merasa tidak sopan sudah melihat hal pribadi milik Rommy.

“Kau… baik-baik saja?” tanya lelaki itu cemas dengan berusaha terus mengalihkan pandangan dari Rommy. Bagaimanapun dia masih pria normal yang tertarik pada sesuatu yang ditunjukkan Rommy sekarang.

BRUK!!!

Saat lelaki itu menolehkan kepalanya ketika mendengar bunyi gedebuk, ia sudah mendapati gadis itu terbaring di lantai dengan tubuh penuh keringat dengan wajah yang merah.

Sungguh, kali ini dia sedang dalam masalah besar.

“Kau baik-baik saja?”

Hal pertama yang Rommy lihat ketika membuka mata adalah punggung yang diselimuti oleh jas lab putih panjang. Lelaki itu sedang melakukan sesuatu di atas meja yang membuatnya membelakangi Rommy sekarang.

Tempat gadis itu berbaring terasa empuk, yang menandakan ia bukan di lantai tempat ia terjatuh tadi. Mungkin ini di sofa dan lelaki itu sudah memindahkannya, pikir Rommy.

“Yeah, aku baik-baik saja.”

Rommy pikir bukan dia yang bersuara dan ada orang yang menjawabkan dengan senang hati untuknya. Tapi, tidak. Suara yang barusan keluar memang suara yang keluar dari mulut Rommy. Sepertinya ini efek dia baru saja pingsan makanya dia merasa suaranya menjadi seperti itu.

Tunggu sebentar, apa yang sebenarnya terjadi dan membuatku pingsan? Batin Rommy, merasa kejanggalan demi kejanggalan muncul sejak ia membuka mata.

“Aah… Aah…” Rommy mengeluarkan suara, mengetes pendengarannya apakah suara serak yang barusan keluar memang berasal dari mulutnya. Dan jawabannya? Iya, suara serak yang asing itu memang dari mulutnya. Apakah ini efek dari dia terbatuk hebat tadi sebelum dia pingsan?

“Apa yang terjadi dengan suaraku? Kenapa suaraku menjadi seperti ini?!” pekik Rommy histeris ketika sadar suaranya sudah berubah total. Ia memang tidak banyak megeluarkan suara selama ini, tapi bukan berarti ia tidak menyukai suaranya. Suaranya setelah bangun ini benar-benar… Aneh. Ia tidak suka karena ini membuat dirinya merasa berbeda.

Lelaki itu berbalik, dengan tampang cemas serta gugup. Stoples berisi tablet obat yang katanya adalah obat maag itu berada di tangan lelaki itu.

Ini dia! Pasti gara-gara obat itu suaraku menjadi aneh begini!

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rommy tajam sambil menurunkan kakinya ke lantai.

“Maafkan aku!” kata lelaki itu cepat sambil membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat. Benar-benar sembilan puluh derajat.

Rommy memicingkan matanya. Seorang senior tidak mungkin begitu saja memberikan bungkukan semi-formal seperti ini pada juniornya. Kesalahannya pasti lebih besar daripada apa yang dipikirkan gadis itu.

“Aku pusing. Aku harus ke toilet,” gumam Rommy kecil lalu bangkit dari duduknya. Dan seingat Rommy, lelaki penjaga kasir di swalayan dekat rumahnya itu memang tidak begitu tinggi dan ia yakin sekali bahwa lelaki itu masih sedikit lebih tinggi daripada dirinya. Namun, Rommy sekarang merasa bahwa tingginya benar-benar sejajar dengan lelaki itu. Lelaki ini yang tiba-tiba berubah menjadi pendek atau memang Rommy bertambah tinggi dalam waktu singkat?

Lelaki itu hanya meringis kecil melihat Rommy yang berjalan menuju toilet di sudut ruangan. Dia tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.

“KYAAAAA!!!”

Tepat seperti dugaannya kan? Selanjutnya tinggal menunggu dia akan dihajar juniornya itu. Tenaganya pasti akan bertambah berkali-kali lipat.

BRAKK!!!

Suara pintu dibanting, dan sosok juniornya itu muncul dari toilet dengan muka yang benar-benar merah saking emosinya.

“Kau…!!! Apa yang sebenarnya kau lakukan dengan tubuhku!!!”

Tuhan, tolong selamatkan aku…

Rommy sudah duduk dengan sebelah kakinya diatas kakinya yang lain. Kakinya bergerak-gerak tidak tenang. Beberapa menit lalu dia baru saja menyelesaikan kegiatan yang baru pertama kalinya dia lakukan, memukuli seseorang habis-habisan. Terlebih orang itu adalah kakak tingkatnya dan dia bahkan belum mengetahui nama lelaki itu!

“Ehem!” Rommy berdeham setelah beberapa saat. Ia menatap lelaki yang keadaannya sudah kacau itu. Terlihat sedikit aneh karena seniornya itu benar-benar tunduk pada Rommy.

“Jadi apa rencanamu untuk membantuku menyelesaikan masalah ini?” tanya Rommy dingin. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya yang sudah rata. Memang sedari dulu dada Rommy memang sudah tidak besar (kata halus dari rata), tapi semenjak tubuhnya bertrasformasi beberapa jam lalu dadanya itu semakin rata saja.

“Kau akan masuk sekolah dengan identitas baru dan mau tidak mau identitas lamamu harus kau tinggalkan untuk sementara. Aku akan mengurus semuanya untukmu, sebagai rasa tanggung jawabku.”

Rommy menyipitkan matanya dan mengamati lelaki itu dari atas ke bawah. Dengan tampilan nerd-nya itu, Rommy tidak yakin lelaki itu mampu membuatkan identitas barunya dan bagaimana caranya membuat alasan tentang hilangnya Rommy yang perempuan. Tapi, Rommy tidak perduli. Yang penting lelaki itu sudah berkata akan mempertanggungjawabkan semuanya dan Rommy tinggal terima beres.

Lelaki itu kembali menatap Rommy intens, kemudian seringai lebar tampak di wajahnya. Jelas, lelaki itu jelas-jelas terlihat sangat senang. “Wow. Penemuanku kali ini benar-benar sukses. Sebelumnya aku tidak tahu apa fungsi dari CHG-103Z”—

“Apa itu CHG-103Z?” potong Rommy cepat.

Seniornya itu memutar bola matanya karena Rommy seenaknya memotong ucapannya. “Obat yang kau makan itu kunamai CHG-103Z.”

“Yaah intinya berkat kau aku sudah mengetahui fungsi obat itu. Aku harus berterima kasih padamu karena mau menjadi kelinci percobaanku dengan sukarela. Mungkin aku bisa menjualnya di Thailand, berhubung di sana banyak Ladyboy. Mereka tidak perlu lagi susah payah operasi ganti kelamin dan hanya perlu meminum obatku. Dan jengjeng! Mereka akan berubah kelamin tanpa efek samping dan aku akan menjadi kaya. HAHAHAHAHAHA.” Lelaki itu terus tertawa ketika memikirkan apa yang baru dia sampaikan, tapi langsung berhenti begitu gadis (mungkin dia bukan seorang gadis lagi) itu melotot padanya.

“Ehem… Ehem… Pokoknya sekarang adalah memperbaiki penampilanmu yang sekarang terlihat sedikit aneh itu. Pertama-tama, kau harus memotong rambut panjang itu.”

“Bukannya pertama-tama aku harus mengetahui namamu dulu?” Rommy menatap lelaki di hadapanya dengan aneh. Mungkin yang dikatakan orang-orang itu memang benar. Bahwa orang jenius tingkah lakunya aneh dan pikirannya tidak bisa ditebak. Well, jika dia bukan seorang jenius, dia tidak mungkin bisa menciptakan obat itu.

“Benar, aku Kim Jongdae. Dan seharusnya kau memanggilku sunbae.”

Rommy hanya berdecak sambil berjalan mendahului Jongdae.

“Jongdae?”

Sebuah kepala muncul dari balik pintu di hadapan Rommy dan Jongdae. Sekarang mereka sedang berada di depan kamar asrama salah satu sahabat Jongdae. Oh, soal urusan penampilan Rommy yang baru sudah beres. Sekarang ia benar-benar terlihat seperti laki-laki. Tidak ada yang bakal mengiranya seorang perempuan.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak bekerja?” tanya sahabat Jongdae, masih belum membukakan pintu sepenuhnya untuk Jongdae dan Rommy agar masuk.

Jongdae mengacuhkan sahabatnya itu dan mendorong pintu sepenuhnya sehingga sahabatnya itu terdorong dan terjepit diantara pintu dan dinding.

“Rommy, masuklah. Dan omong-omong, namanya Jongin.” Jongdae hanya menunjuk temannya asal yang masih terjepit. Cara memperkenalkan yang asal sekali dari Jongdae.

“Siapa dia?” tanya Jongin lagi. Keningnya megerut dalam ketika sahabatnya itu membawa masuk orang yang bahka tidak dikenalnya ke dalam kamarnya.

“Nah, Rommy, untuk sementara kau tinggal di sini.” Jongdae kembali mengacuhkan Jongin dan terus berbicara kepada Rommy yang juga terlihat sama bingungnya dengan Jongin.

“Jangan seenaknya berbicara, Jongdae!” bentak Jongin akhirnya. Ia melotot pada Jongdae dan menyeretnya agak menjauh dari Rommy yang terus menutup mulutnya.

“Hei, hei. Kenapa kau membawa dia kemari? Aku tidak suka berbagi kamar dengan orang asing!” bisik Jongin setelah ia dan Jongdae berada di sudut kamar.

“Aku mohon, ini hanya untuk sementara. Ayolaah, kau kan sahabatku. Aku sekarang benar-benar sedang dalam masalah dan hanya kau yang bisa membantuku.”

“Kau tidak bisa begitu, sobat. Bagaimanapun kamar ini sepenuhnya adalah hakku dan kau tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu,” kata Jongin sama sekali tidak memperdulikan.

“Jongin sekarang aku sedang dalam masalah besar dan gadis itu tidak punya tempat tinggal karena ulahku.”

“Gadis? Jelas-jelas dia seorang lelaki! Dan aku tidak perduli dengan masalahmu itu.”

Jongdae mengerang pelan, kesal dengan sikap Jongin yang benar-bear menyebalkan. Kenapa sih Jongin tidak tinggal mengiyakan saja untuk menolong dirinya yang dalam masalah? Sahabat macam apa itu!

“Dengar, dia adalah seorang siswi baru di sekolah kita dan singkatnya gara-gara kejeniusanku ini dia berubah menjadi lelaki seperti itu.”

Jongin langsung mendengus begitu mendengar Jongdae sempat-sempatnya memuji dirinya sendiri. Dia memang tahu bahwa sahabatnya itu bisa melakukan hal-hal aneh di luar logika, tapi tetap saja dia tidak bisa langsung memercayai bahwa lelaki yang dibawa Jongdae adalah seorang perempuan.

“Pokoknya untuk malam ini biarkan dia tidur di sini dan besok akan kujelaskan secara lengkap. Ini sudah malam dan aku butuh tidur setelah melalui hari yang melelahkan ini,” ucap Jongdae seenaknya kemudian berjalan mendekati Rommy.

“Rommy, kau bisa tidur di sini malam ini. Dan untuk besok, aku yakin semuanya sudah bisa kau mulai dengan identitas baru. Oke, selamat malam dan sampai jumpa besok!”

Sebelum Jongin sempat protes dengan sikap semaunya Jongdae dan Rommy yang masih bingung, Jongdae sudah menghilang di balik pintu. Jongin berjanji akan menjambak rambut Jongdae begitu mereka bertemu besok.

Jongin dan Rommy saling berpandangan, tidak tahu harus bersikap bagaimana dan melakukan apa. Benar-benar canggung.

SITUASI MACAM APA INI???!!! Pikiran Rommy berontak.

“Umm… Kau bisa tidur di lantai atas,” kata Jongin singkat lalu berjalan memasuki kamar mandi. Apa benar dia seorang gadis? batin Jongin.

“Tunggu! Kau tidak bisa meninggalkanku di sana begitu saja!” Rommy berteriak ketika pada akhirnya dia mengejar Jongdae. Rommy tidak bisa langsung menerima perkataan Jongdae yang menyuruhnya untuk tidur di kamar lelaki tadi. Lebih baik dia pulang ke rumahnya dan tidur di sana. Tapi ia tahu itu tidak mungkin, karena sekarang Bibi Cha (orang yang mengurus rumahnya) sama sekali tidak mengenali Rommy dalam tubuh laki-laki.

“Tidak ada pilihan lain, Rommy. Mau tidak mau kau harus tidur di sana, karena hanya itu kamar yang tersisa. Setidaknya untuk malam ini,” kata Jongdae setengah frustasi. Ia pikir ia sudah bisa pulang dan tidur, tapi ternyata Rommy masih mengejarnya.

“Sebaiknya kau cepat cari cara untuk mengembalikan tubuhku menjadi normal!”

“Kau normal, Rommy. Hanya kelaminmu saja yang tiba-tiba berubah,” ucap Jongdae lelah. Seharian ini Rommy terus mengucapkan hal itu, dan ia sudah bosan mendengarnya.

Wajah Rommy memerah mendengar ucapan Jongdae. “Jangan berkata sembarangan!” Rommy kembali berteriak, ia sudah lupa bahwa ini sudah malam dan ia berada di lingkungan asrama sekolah.

Jongdae menutup sebelah telinganya yang berdengung akibat suara Rommy. Tubuhnya sekarang adalah seorang lelaki, dan tidak seharusnya dia berteriak seperti itu. “Mungkin ini kutukan untukmu karena tidak pernah bersikap seperti seorang gadis pada umumnya.”

Mata Rommy membelalak. “Apa kau bilang?!!”

Jongdae hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak perduli. “Good night, Rommy! Sebaiknya kau istirahat, dan siapkan dirimu untuk besok.”

Woww!!!

Saya benar-benar tidak tahu apa yang sedang saya tulis >.<

Oke, btw, bagaimana chapter 1 nya? Cukup menarik nggak? Akhirnya saya buat juga cerita romance-school life yang idenya anti-mainstream ya? (/.\)

Hmm nggak terlalu anti-mainstream tapi kayaknya ya hehehe. Tapi semoga kalian suka lah ya, saya mencoba yang terbaik dalam menyuguhkan ff chapter baru ini.

Dan oh iya, soal ide cerita saya terinspirasi dari detective conan dan ff yang berjudul Kaito, kalo ada adegan lain yang terlihat sama itu hanya kebetulan semata dan saya secara tidak langsung juga terinspirasi dari hal-hal tersebut.

Untuk selanjutnya, kita lihat aja di chpater 2. See you in next chapter, guys!

Bagi yang berminat, silahkan review *bow*

Advertisements

8 thoughts on “[FF] Beautiful Boy (Chapter 1)

  1. Dinda July 28, 2015 / 10:25 am

    Gilakkk! Demen banged dah ama chen. Awalnya ku kira ini crita bakal ga masuk akal + konyol. Tapi trnyata, penjelasanmu ama cara nulismu bikin crita ama alurnya jadi lbh bagus mi, bisa diterima pembaca & ga terkesan maksa. Bravo bravo next!

    • raishaa July 28, 2015 / 4:56 pm

      Hohoho aku juga demen ama chen xD
      Ini mah emanh gak masuk akal, masa ada obat yg bisa bikin gitu yekan? Wkwkwk tp berhubung ini agak sci-fi jadi ya masuk akal lah sedikit
      Btw makasih dah baca plus komen ya, pake acara muji lagi >.<
      Lopyu pul dah pokoknya:* /.\

  2. febridwicahya November 16, 2015 / 11:57 pm

    Aaaakh, mau filmnya dong 😀 aku paling suka sama komedi romance gini 😀

    • raishaa January 21, 2016 / 9:23 am

      duhh nggak nyangka ada yang baca ni ff gaje ini >.< hehehe kirain gak ada yg tertarik, makanya chapter selanjutnya saya tahan 😀 makasih udah baca yaa ^-^

      • febridwicahya January 23, 2016 / 10:34 pm

        Setiap tulisan pasti ada yang baca kok :))

  3. Joe February 6, 2016 / 11:06 am

    annyeon, aq reader baru nih disini. bru nemu n baca nih ff. n i like it! idenya bner2 anti mainstream deh. kkk, i like.
    tpi jongdae pake ramuan apa y kok bisa ngerubah kelamin kyak gitu??

    • raishaa February 6, 2016 / 11:25 am

      well hellooo, selamat datang kalo gitu. semoga enjoy ya ^^
      hehe makasih udah baca yaa, dan lebih-lebih suka. makasih banget >.<
      nah, kalo soal pake ramuan apa, saya juga tidak tahu. namanya jongdae terlalu jenius wkwkw

      • Joe February 6, 2016 / 11:59 am

        hahaha 😀
        iy, sakinv jeniusnya jongdae. apapun bisa terjadi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s