[FF] Beautiful Boy (Chapter 2)

Chapter 2: The Club

beautiful-boy

 

Author : Rai Sha

Genre : Romance, Comedy (hopefully), School-life, Sci-fi

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Cast : Kim Rommy/Kim Remy (OC), Kim Jongin (EXO), Kim Jongdae (EXO), other cast

Inspired by : Detective Conan and Kaito fanfiction by Nine-tailed Fox

 

Suara shower dan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela membuat mata Jongin terbuka. Sejenak, dia sempat bingung siapa yang membuka tirai jendela dan memakai kamar mandinya, sampai ia teringat bahwa Jongdae meninggalkan orang asing di kamarnya semalam. Dan orang asing itu sekarang sedang memakai kamar mandinya. Wow, Jongin tidak menyukai ini.

Tok! Tok! Tok!

Jongin mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Wajahnya benar-benar mendung.

Tok! Tok! T…

“Ya?”

Rommy membuka pintu kamar mandi. Ia hanya memakai selembar handuk putih yang ia dapatkan dari lemari yang berada di dalam kamar mandi. Rambutnya basah, dengan titik-titik air yang masih menetes di ujung rambutnya.

Jongin mengamati Rommy dari atas sampai bawah, masih dengan wajah tidak sukanya.

“Dengar, aku sudah berbaik hati membiarkanmu tidur untuk semalam di kamarku. Tapi, aku tidak suka jika ada orang yang seenaknya menyentuh dan memakai barangku,” kata Jongin tajam. “Itu”—ia menunjuk tirai yang sudah sepenuhnya terbuka—“aku tidak suka jika kau membuka tirai ketika aku belum bangun,” lanjutnya masih dengan nada yang sama tajamnya dengan tatapannya sekarang.

Kening Rommy berkerut. “Maaf, aku tidak tahu kalau kau tidak menyukainya,” ucap Rommy pelan dengan nada ragu-ragu.

Jongin mengibaskan tangannya tanda ia tidak perduli lagi soal masalah tirai. “Yang jadi permasalahanku di sini sekarang adalah kau memakai handukku, sampoku, dan sabunku! Aku benar-benar tidak menyukai jika orang asing seenaknya memakai barangku!”

Oke nada yang diucapkan Jongin kali ini membuat Rommy terkejut. Kenapa dia harus bentak-bentak seperti itu? Dia kan bisa saja memberitahuku secara baik-baik tanpa harus berteriak seperti itu! Batin Rommy kesal. Tapi tetap saja, Rommy hanya menunjukkan wajah datar.

“Sekarang lepaskan handuk itu dari tubuhmu.”

“Hah?”

Seumur hidup, baru kali ini Rommy menampakkan wajah dongonya itu. Baru kali ini Rommy kehilangan pikiran hanya karena perkataan seseorang. Dan baru kali ini juga Rommy disuruh bertelanjang di depan orang lain!

Hell! Rommy bahkan sudah tidak pernah bertelanjang lagi di depan ibunya sejak umur 5 tahun. Yaaah, ini juga karena ibunya tidak pernah lagi berada di rumah.

“Aku bilang, lepaskan handuk itu dari tubuhmu! Cepat!” bentak Jongin lagi. Matanya melotot dan wajahnya benar-benar terlihat seram.

“Tapi aku telanjang!” pekik Rommy.

“Aku tidak perduli kau telanjang atau tidak, yang penting sekarang cepat lepaskan handuk itu atau aku sendiri yang memaksamu melepaskannya.”

Seluruh wajah Rommy memerah. Memikirkan dia akan telanjang di depan orang lain membuatnya benar-benar malu. Dan apa dia tidak tahu kalau Rommy seorang perempuan? Laki-laki ini keterlaluan!

“Tapi aku perempuan!” Rommy akhirnya balas membentak. Tubuhnya gemetaran dan kedua tangannya memegang erat handuk yang melilit tubuhnya.

Jongin memutar bola matanya. “Ah, benar seorang perempuan,” katanya. “Tapi itu dulu! Sekarang kau adalah laki-laki!”

Lelaki itu mendorong tubuh kecil Rommy—oke, walaupun tubuhnya sudah mengalami sedikit pertumbuhan tapi tetap saja di mata Jongin tubuh lelaki (atau gadis) di hadapannya itu tergolong kecil—ke dinding. Mata tajam Jongin menatap lekat sepasang mata Rommy. Jongin mendekatkan bibirnya ke telinga Rommy dan berbisik rendah, “Dengar, aku tidak perduli kau ini siapanya Jongdae tapi kau perlu tahu diri karena ini kamarku. Sebagai tambahan, di dunia ini banyak sekali yang tidak aku sukai dan itu termasuk dirimu.” Jongin menjauhkan bibirnya dan menunjukkan senyum sinis.

Wajah Rommy memerah. Asal tahu saja, walau kini tubuhnya adalah seorang lelaki, namun jiwanya tetaplah seorang gadis. Dan bagaimana reaksi seorang gadis jika ada seorang lelaki yang berbicara sedekat itu? Tentu saja, berdebar-debar tak karuan dengan wajah memerah layaknya kepiting rebus. Reaksi ini sedikit aneh, karena alih-alih Jongin mengatakan hal yang romantis melainkan sesuatu yang kejam. Seharusnya tubuh Rommy tidak bereaksi seperti ini!

“Ma—mau apa kau?!” Ini buruk. Rommy bermaksud untuk mengeluarkan dirinya yang dingin dan tanpa emosi, tapi lelaki di hadapannya kini benar-benar membuat Rommy bertekuk lutut. (dalam arti yang berbeda tentu saja).

Jongin menggelengkan kepalanya kecil dengan senyum miring yang masih terpasang di bibirnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rommy. “Ckckck aku benar-benar tidak menyukaimu,” katanya dengan nada rendah.

Kemudian, Jongin benar-benar melaksanakan ancamannya. Ia memegang handuk yang melingkari tubuh Rommy dan menyentaknya, membuat Rommy benar-benar telanjang di depannya.

“KYAAAAA!!! BISA-BISANYA KAU MELAKUKAN INI PADA GADIS SEPERTIKU!!!!”

Senyum timpang kembali disunggingkan Jongin. “Asal kau tahu saja, aku tidak bernafsu dengan gadis yang memiliki ‘kepunyaan’ sepertiku.” Setelah mengatakan itu, Jongin memasuki kamar mandi, meninggalkan Rommy yang benar-benar syok atas perlakuan teman sejawat Jongdae itu.

“KELUAR KAU, B******N!!!! DASAR LELAKI TIDAK BERMORAL!!!” teriak Rommy lagi sambil menggedor keras pintu kamar mandi. Ia tidak perduli bahwa teriakan-teriakan tadi akan membuatnya menerima sanksi karena mengganggu ketentraman asrama sekolah.

 

 

“Jongdae!! Kau bodoh, bodoh, bodoh, bodoh, bodooooohhh!!!”

Rommy menggeleng-geleng kencang. Ingatan tentang dirinya yang bertelanjang di depan orang yang tidak begitu dikenalnya membuatnya malu setegah mati. Dia benar-benar tidak biasa. Yaah, memang sih tubuhnya sekarang adalah tubuh seorang laki-laki dan bertelanjang di depan Jongin bukan masalah besar karena mereka sekarang sejenis, tapi tetap saja mental Rommy adalah seorang perempuan. Dia bisa saja menggali lubang dan mengubur dirinya di situ tanpa pernah keluar lagi. Rommy sudah tidak punya muka untuk bertemu dengan lelaki tidak bermoral itu.

“Kyaaaa!!! Jongdae bodoh! Jongdae bodoh!” Gadis itu (ah, harus dibiasakan. Dia seorang lelaki sekarang) menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merah di wajahnya bahkan menjalar sampai telinganya. Entah kenapa, dia malah menyalahkan Jogdae atas kejadian tadi.

“Kenapa kau malah menyalahkanku?” gerutu Jongdae yang sedang mengambil sesuatu dari ransel besarnya. Isinya adalah seluruh keperluan Rommy selama menjadi seorang laki-laki. Ah, soal identitas baru Rommy dan urusannya dengan sekolah juga sudah dia selesaikan. Jongdae benar-benar menepati janjinya.

Jongdae menyodorkan selembar berkas ke hadapan Rommy. Berisi data diri baru Rommy.

“Kim Remy?” baca Rommy. “Nama bodoh macam apa ini? Tidak terdengar berbeda dengan nama asliku. Apalagi kau tetap menggunakan nama keluargaku.”

Jongdae mengangguk antusias. “Yap! Karena aku mengatakan kepada mereka bahwa Kim Remy adalah saudara sepupu dari Kim Rommy. Aku benar-benar jenius!” tawa Jongdae kembali menggelegar.
Remy—sambil menepukkan tangan ke jidatnya. “Kau tidak berpikir jika Remy memiliki hubungan yang dekat dengan Rommy malah membuat identitas Remy terbongkar?”

“Sudahlah, percaya saja padaku.” Jongdae mengibaskan tangannya ringan, tidak mencemaskan apa yang dicemaskan oleh Remy. “Dan kurasa kau butuh ini, kan? Aku bersyukur tidak membuangnya.”

Jongdae menunjukkan sebuah seragam. Itu seragam SMA Youngjin miliknya tahun lalu. Yaah pertumbuhan kaki Jongdae begitu cepat hingga celana-celana itu tidak lagi muat. Sebenarnya ini cukup aneh, karena Jongdae juga bukan lelaki yang tidak begitu tinggi sekarang. Memikirkan Jongdae tahun lalu lebih pendek daripada sekarang cukup membuat Remy heran karena ada saja lelaki sekecil itu di dunia.

“Tenang saja, ini akan muat padamu. Asal kau tahu, walau sekarang kau lelaki kau masih lebih pendek dariku.”

Remy mendesah pelan. “Dan kau mengatakan apa pada pihak sekolah tentang hilangnya Rommy?” ucapnya, mengalihkan topik. Dia harus tahu Jongdae tidak mengatakan sesuatu yang bodoh atau sesuatu yang membuatnya malu.

“Rommy sedang melaksanakan pertukaran pelajar ke Prancis dan Remy adalah siswa dari Prancis yang menggantikan,” kata Jongdae sambil membongkar beberapa barang lagi. Kebanyakan adalah pakaian sehari-harinya yang sudah kekecilan di tubuhnya tapi masih cukup bagus di pakai. Tentu saja, karena Rommy tiba-tiba saja berubah menjadi Remy, dia tidak mempunyai baju selain kemeja putih dan celana kain yang sedang dipakainya sekarang.

“Sebaiknya kau segera ganti dengan seragammu itu. Aku yakin Remy tidak mau terlambat di hari pertamanya masuk sekolah, kan?”

Remy kembali memutar bola matanya dan berkata pelan, “Syukurlah aku sedikit mengerti Bahasa Prancis, you fool.”

 

 

“Hey!”

Aku menoleh ketika mendegar suara seorang gadis menegurku. Ia mendekatiku sambil membawa setumpuk buku yang terlihat cukup berat. Rambutnya berwarna dirty blonde dengan mata hazel yang membuatnya tampak menarik. Aturan rambut di sekolahku memang tidak ketat, jadi aku tidak heran banyak siswa-siswi di sini yang mewarnai rambutnya macam-macam. Bibirnya yang diolesi lipgloss tipis menunjukkan senyum ramah.

Aku cukup kaget ketika gadis itu duduk di sebelahku. Maksudku, selama hidupku menjadi seorang gadis, aku tidak pernah ditegur seramah ini oleh seseorang. Mungkin itulah sebabnya kenapa aku tidak punya teman, karena aku juga tidak berniat menegur mereka lebih dulu. Dan sekarang, ketika tubuhku bertransformasi, aku tidak menyangka akan ditegur oleh seseorang. Terlebih dia adalah seorang perempuan. Memangnya dia tidak aneh melihatku? Aku saja masih tidak terbiasa dengan tubuh baruku. Wajah perempuan dengan tubuh laki-laki. Entah kenapa, aku sedikit merasa jijik. Jika aku bertingkah seperti seorang gadis, aku akan terlihat seperti banci dan seorang homo.

“Uh… Hai?” balasku ragu-ragu sambil mengangkat sebelah tanganku, bermaksud sebagai sapaan. Bagaimana sebenarnya seorang lelaki seharusnya bertingkah?

Sebenarnya tidak banyak terjadi perubahan dari diriku. Ini hanya terlihat seperti Kim Rommy versi laki-laki. Tubuhku meninggi—kurasa tinggiku bertambah sekitar 10 cm. Dadaku rata dan bahuku tiba-tiba menjadi lebih bidang seperti bahu seorang lelaki pada umumnya. Suaraku juga berubah menjadi lebih rendah dan serak. Dan juga, aku mendapatkan sesuatu yang bertambah di bawah situ (aku terus mengernyit ketika memikirkan bahwa sekarang aku memiliki sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya). Secara umum, aku masih Kim Rommy yang sama.

Rambut coklatku yang panjang sudah hilang. Aku sedikit menyayangkan hal ini.  Bagaimanapun, seumur hidupku, aku sibuk merawat rambutku yang cukup aku banggakan diam-diam ini—makanya aku selalu mengurainya. Sekarang rambutku pendek dan kemarin Jongdae meminta rambutku untuk dipangkas seperti gaya rambut Zac Efron di film 17 Again. Aku sempat protes kenapa aku harus memakai gaya rambut seperti itu.

Kau memiliki wajah yang feminine, jadi dengan wajah feminine dan tubuh seperti itu kau lebih baik memiliki imej cute boy.”

Aku mendengus ketika mengingat alasan aneh Jongdae. Aku sudah cukup memahami sifat Jongdae yang susah ditebak.

“Aku Cho Lian,” kata gadis itu memperkenalkan diri setelah sibuk menata buku-buku itu di atas mejanya. Ia mengulurkan tangannya dan bibirnya kembali tersenyum.

Uhm mungkin aku harus bersikap lebih ramah daripada Kim Rommy. Aku harus menghabiskan masa-masa SMA-ku dengan lebih baik dibandingkan dengan masa-masa sekolahku yang lebih banyak sendiri. Oke, pertama-tama aku harus tersenyum. Apa senyumku terlihat aneh?

“Ro—maksudku, aku Kim Remy,” aku menjabat tangan Lian dengan pelan. Saat itu, baru kusadari bahwa tanganku juga bertambah besar.

“Jadi, kau sudah memutuskan untuk masuk klub apa?” tanya Lian sambil memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya. Aku agak tidak terbiasa dengan sikap yang seperti ini.

“Uh… Tidak, belum,” kataku. Sejujurnya, sejak peresmian siswa baru kemarin di aula, aku tidak memikirkan untuk mengikuti klub apa karena perih di perutku sangat mengganggu. Haaah gara-gara itu aku jadi mengalami hal aneh seperti ini.

Lian tersenyum semakin lebar. Matanya bekerlip-kelip. Well, dia tiba-tiba saja menjadi semangat seperti itu. “Jadi… Apa kau tertarik mengikuti klub fotografi? Klub kami kekurangan anggota dan akan dibubarkan jika jumlah anggota tidak memenuhi syarat.”

Ah benar, ini jawaban atas sikap ramah Lian padaku. Memangnya aku berharap apa? Persahabatan? Jangan mimpi! Dengan tubuh lamaku saja aku tidak pernah mendapatkan itu, apalagi dengan tubuhku sekarang.

“Uhmm… Well…” Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku akan bergabung dengan klub ilmiah—satu-satunya alasan hanya agar aku bisa mengawasi Jongdae membuat penawarnya—tapi tiba-tiba saja seorang wanita asing paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya memasuki kelas. Lian langsung memperbaiki duduknya dengan rapi. Untunglah. Setidaknya aku bisa menghindar untuk sementara dari ajakan Lian.

Good morning, class! I am Mrs. Whitehead dan saya akan mengajar untuk kelas pra-kalkulus.”

 

 

Aku bermaksud untuk langsung meghindari Lian. Aku belum menemukan cara yang halus untuk menolak ajakannya itu. Tekadku sudah bulat untuk terus menghantui Jongdae di klub ilmiah dan tentu aku tidak bisa mengikuti dua klub sekaligus, kan?

Pandangan Lian terus mengikutiku begitu aku keluar kelas. Aku tahu dia sempat menghela nafas kecewa karena aku jelas-jelas menghindarinya. Jujur saja, jika bukan karena Jongdae aku mungkin akan menerima tawaran Lian. Iya, aku tahu aku selalu menyalahkan Jongdae atas kejadian yang terjadi padaku beberapa waktu belakangan ini.

“Tidak. Aku tidak mau menerimamu. Penerimaan anggota klub sudah penuh.” Jongdae sedang berkutat dengan berkas-berkas di hadapannya ketika aku mendatanginya bermaksud untuk mendaftar menjadi anggota baru. Kebetulan dia menjabat sebagai ketua klub. Dia duduk dengan berlagak sekali. Dia bahkan tidak melihatku sedikitpun!

“Apa? Bukannya klubmu kekurangan anggota?” kataku kaget. Oh kalimat terakhirku tadi hanya asal saja. Biasanya kan klub ilmiah semacam ini memang kekurangan anggota. Tidak banyak bukan yang suka dengan hal-hal seperti ini?

Jongdae mengangkat kepalanya dan menatapku. Ia menyunggingkan senyum sombong sambil menyodoriku kertas-kertas yang ditelusurinya tadi. “Kau bisa melihatnya sendiri.”

Kupikir yang dilihat Jongdae tadi hanyalah semacam surat dari sekolah untuk membubarkan klub ilmiah, tapi ternyata isinya adalah formulir anggota baru. Mungkin ada sekitar 20 orang, jumlah yang cukup banyak untuk klub semacam ini. Dan yang membuatku kaget kebanyakan anggotanya adalah perempuan! Tch. Aku tidak mengerti ini.

“Sepertinya aku cukup populer.”

Hhhh aku harus membiasakan diri dengan sifat sombong Sam yang agak menyebalkan. Memang jika dilihat-lihat, Jongdae memiliki wajah yang manis. Rambut coklat gelapnya yang acak-acakan, mata yang memiliki pandangan yang hangat, dan senyum manisnya. Aku akan mengakui bahwa dia sedikit tampan tapi, tentu saja aku tidak akan mengatakannya langsung. Aku tidak bisa membayangkan bahwa kepedeannya itu akan meningkat drastis hanya karena aku memujinya sedikit.

“Jadi, lupakan saja kalau kau mau menempelku, oke? Itu tidak akan berhasil.” Ugh. Sial! Bocah itu bisa membaca pikiranku rupanya. “Oke, kau bisa pergi sekarang, Remy.”

Aku benar-benar benci dengan sikapnya itu!

Ketika jam makan siang, aku melihat Lian sedang duduk sendirian. Ia tertunduk lesu, mungkin karena belum menemukan anggota baru. Yaah kalau begitu, mungkin bergabung dengan klub fotografi tidak akan seburuk itu kan?

“Uh… Hai,” sapaku sambil menaruh nampan makananku di hadapannya. Ia mendongak dan kembali tersenyum ketika melihatku. “Kenapa nggak makan?”

“Nafsu makanku akan terus hilang jika aku tidak dapat anggota baru,” katanya lesu. Kulirik nampannya. Cheeseburger, kentang tumbuk, susu dan sebuah pisang. Huh aku tidak yakin dia tidak nafsu makan. Porsi makannya saja sebanyak itu!

“Soal itu… Kupikir aku bisa bergabung dengan kalian,” ucapku sambil mencucuk sedotan ke susuku kemudian menyesapnya.

Segera setelah aku mengatakan itu, binar-binar yang kutemukan tadi pagi di mata Lian kembali muncul. “Benarkah?” ia mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Pandangannya terlihat benar-benar bahagia. Dan sepertinya aku melihat setitik air mata di sudut matanya.

Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Woaah terima kasih, Remy. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa.”

Lian tersenyum kemudian melepaskan genggamannya. Ia lalu mulai memakan makan siangnya.

“Kau bisa menghabiskan itu semua?” tanyaku heran. Aku menyendok kentang tumbukku. Aku bersyukur makanan di sekolah kami rasanya benar-benar enak, tidak seperti makanan di rumah sakit.

Kepala Lian mengangguk sambil menggigit burgernya itu. “Aku malah heran denganmu. Kau kan cowok, tapi kenapa makananmu sedikit sekali?” ia melihat ke arah nampanku yang isinya hanya kentang tumbuk, seiris daging, dan sekotak susu. Ini memang porsi makanku yang biasanya.

“Aku tidak begitu selera hari ini.” aku tersenyum canggung. “Ah, aku cukup heran sebenarnya, kenapa klub fotografi bisa kekurangan anggota? Aku pikir klub itu di sekolah lain cukup diminati.”

“Mungkin karena ketua klub kami yang terlalu tegas. Dia tidak suka foto yang diambil sembarangan tanpa tahu unsur fotografi yang sebenarnya,” kata Lian. “Sebenarnya dia tampan dan lumayan populer. Cukup banyak siswi yang mendaftar kemarin. Tapi, karena anggota-anggota baru itu mendaftar hanya karena wajah ketua tanpa mengerti fotografi, mereka banyak dibentak dan akhirnya sebagian besar mengundurkan dirinya kemarin. Siswa angkatan pertama yang berhasil tinggal di klub hanya aku dan dua orang lainnya.” Mendengar cerita Lian agak membuatku bergidik seram. Aku bahkan benar-benar pemula!

“Tapi karena kau cowok, aku rasa kau akan tahan dengan bentakannya, kan?” ucap Lian dengan nada riang. Aku hanya menyengir pada Lian. Tiba-tiba aku benar-benar kehilangan nafsu makanku. Aku harus mencari klub baru.

 

 

Ketika Lian mengatakan bahwa ketua klub fotografi seseram itu, aku berniat untuk menarik kembali kata-kataku dan membatalkannya. Tapi, sampai saat kelas Musik Klasik berakhir—ini hanya kelas pilihan, tapi kebetulan aku sekelas lagi dengan Lian dan ini adalah kelas terakhir hari ini—aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku mengurungkan niatku. Aku tidak tega untuk menghilangkan binar-binar itu dimatanya. Apalagi Lian adalah teman pertamaku. Ngomong-ngomong Jongdae itu tidak termasuk selain serangga kecil perusak hidupku.

“Kau jadi mendaftar kan?” tanya Lian memastikan ketika kami sama-sama keluar kelas bersama.

“Baiklah.”

Aku mengikutinya. Ruang klub fotografi berada di lantai 4, lantai paling atas sekolah kami dan dekat dengan atap. Mungkin maksudnya agar bisa menangkap pemandangan-pemandangan bagus dari sini.

Lian membuka pintu klub dan ada beberapa orang di sana. Dua orang gadis dan dua orang laki-laki.

“Lian! Jadi kau berhasil mendapatkan anggota baru?!” pekik seorang gadis dengan dua cepolan di rambutnya, seperti gaya rambut gadis China. Dia terlihat imut.

Lian tersenyum lebar sambil mengangguk antusias. “Namanya Kim Remy, dan kebetulan dia sekelas denganku di kelas Pra-Kalkulus dan Musik Klasik.”

“Woah. Kau membawa cowok yang cukup imut, Lian,” kata seorang gadis dengan tubuh tinggi bak model. Rambutnya panjang berwarna kemerahan. Menurutku dia agak terlihat seperti seorang penggoda. Mungkin itu karena warna rambutnya. Roknya yang sedikit kependekan juga lumayan memengaruhi.

“Remy, kenalkan, namanya Min. Dia tahun pertama,” Lian menunjuk gadis dengan dua cepolan itu. “Yang barusan mengataimu imut itu bernama Acha. Dia satu angkatan dengan ketua. Kalau yang sedang sibuk dengan kamera itu namanya Daeho. Dia juga satu angkatan dengan kita.” Daeho mengangkat kepalanya ketika mendengar namanya disebut. Dia melambaikan tangannya sambil mengatakan “yo” lalu kembali sibuk. “Dan yang itu namanya Dokhwan. Ini tahun terakhirnya di Youngjin.” Aku memperhatikan Dokhwan yang sedang megutak-atik Laptop.

Aku menatap seluruh ruangan klub yang tidak begitu besar itu. Sejak tadi, aku tidak mendengar Lian menyebut-nyebut soal jabatan ketua. Apa dia tidak ada di sini?

“Ketua di mana?” tanya Lian yang juga menyadari pertanyaan yang ada di pikiranku.

“Dia sedang di kamar gelap,” jawab Dokhwan tanpa mengalihkan perhatiannya.

Cklek.

“Ah itu dia ketua!” semua mata menoleh—kecuali Dokhwan—ke arah pintu lain di dalam ruangan ketika Lian berseru.

“Ketua, kita mendapatkan anggota baru!”

WHAT THE HECK!!!

Itu Jongin! Manusia tidak bermoral yang melihatku telanjang tadi pagi!!!!!

Author note: Ini cerita juga di posting di akun wattpad saya (@mimiraisha) dengan judul sama, inti cerita sama, namun ada perbedaan dengan nama tokoh dan deskripsi fisik tokohnya. Jadi, baik yang di wattpad maupun di sini keduanya adalah karya saya. Bukan plagiat, oke?

Sepertinya kalian harus membiasakan cerita ini karena sudut pandang bakal berubah-ubah tanpa peringatan. Ini cuman karena mood saya yang suka berubah-ubah sudut pandang kok. Hope you enjoy the story! ^-^

Advertisements

8 thoughts on “[FF] Beautiful Boy (Chapter 2)

    • raishaa January 30, 2016 / 10:42 am

      Haha makasih yusfaa~ enggak nyangka dibaca jg sama km ni ff gaje

      • yusfaiswinda January 30, 2016 / 10:51 am

        Wehhh aku nunggu tau….habis di bbm kok kamu ngomong ff.. yaudah langsung ku cek..eh sekalinya yang chanyeol yg end.. ditunggu loh mi yang beautiful boy nya sampe tuntas :*

      • raishaa January 30, 2016 / 5:40 pm

        Okee yusfaa~ kirain sih gak ada yg suka gitu yus, makanya aku lama update nya ternyata udah ada yg nunggu. Makasih yaa :*

  1. Joe February 6, 2016 / 2:26 pm

    huahahaha,,, serangga kecil pengganggu?? jongdae?? hahaha 😀
    aih, jongin gk sopan amat sih. kasian rommy/remy, pasti malu banget tuh :D. ngakak deh 😀
    lanjutannya diwattpad y? knpa disana? tpi gpp lah, aq cari dulu y kak 😉

    • Joe February 6, 2016 / 2:38 pm

      kak, kok susah y cari lanjutannya di wattpad? gimana caranya buat nyari?? aq bingung 😥

      • raishaa February 6, 2016 / 2:45 pm

        Oh kamu coba aja cari akun aku, namanya raisha11. Aku baru ganti nama akun sih soalnya hehe
        Tp yg di wattpad juga baru sampe chpter 3 kok

  2. Joe February 6, 2016 / 4:34 pm

    yehet! udah nemu nih, kak. mkasih kak, atas infonya. tpi gpp kan kalo aq gk komen lagi di chap 1 n 2nya, langsung ke chap 3nya? gpp y?? izin bca dlu y, kak 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s