[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 9 A Park Near You [END]

a park near you

Title     : a Park near you: Ep. 9 A Park Near You [END]

Author : Rai Sha

Cast     : Park Chanyeol and You

Length : Episode

Genre  : Romance, Hurt/Comfort and other

Rating  : Parental Guide

 

Ep. 1 Rain Moment | Ep. 2 Memory | Ep. 3 Valentine Chocolate | Ep. 4 The Girl From the Past | Ep. 5 The Reasons I Love You | Ep. 6 Happy Birthday Chanyeol |Ep. 7 Our First Date | Ep. 8 Love Letter in Time Capsule

 

Telingaku menangkap suara ketukan di jendela kamarku ketika jarum jam sudah menunjuk angka 9. Aku mengalihkan pandanganku dari buku novel yang sedang kubaca pada jendela. Keningku kembali mengerut saat suara itu kembali terdengar. Ditambah dengan suara berat menyebut namaku.

Aku beranjak dari posisi nyamanku di atas tempat tidur dan mendekati jendela yang ada di belakang meja belajarku. Kusibak tirai jendela dan hanya mendapati kegelapan malam dan sedikit cahaya lampu dari arah rumah Chanyeol yang hanya dibatasi oleh pagar setinggi pinggang dengan rumahku.

“Sstt… buka jendelanya…” bisik orang itu, dan dengan perasaan sedikit ragu aku membuka jendelaku. Yang terlihat hanyalah siluet pohon mangga yang ada di sebelah kamarku dan sesosok orang bertubuh tinggi.

“Chanyeol…?” panggilku mencoba mengenali sosok tingggi itu. Well, Chanyeol memang adalah sedikit dari kenalanku yang bertubuh tinggi. Dan yang mungkin mengetuk jendelaku pada jam segini hanyalah Chanyeol. Itu karena dia kurang waras dan yaaah, dia sering melakukan hal ini.

Sosok tinggi itu mendekat dan menyelipkan tubuhnya di antara daun jendela, sehingga aku bisa melihatnya lebih jelas. “Akhirnya kau membuka jendelamu,” katanya sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi putih dan rapinya itu.

“Kenapa? Apa kau mau meminjam buku PR-ku?” tembakku langsung begitu melihat wajah cerah Chanyeol. Apa lagi yang dilakukannya ke rumahku secara diam-diam di jam seperti ini selain melihat PR-ku dan menyalinnya di rumah? Dia sudah biasa melakukannya, jadi aku sendiri sudah terbiasa dengannya yang seperti itu.

Chanyeol menunjukkan wajah masam begitu mendengar perkataanku. “Enak saja. Memangnya jika aku ke sini berarti aku mau meminjam buku PR-mu ya?”

“Iya,” anggukku polos.

“Cih!” Chanyeol mengerutkan hidungnya sambil mengalihkan pandangannya dariku. “Lupakan itu. Ngomong-ngomong aku kemari karena ada satu hal yang ingin aku tunjukkan kepadamu,” ucapnya beberapa detik kemudian, benar-benar melupakan kekesalannya barusan, karena aku sudah tidak melihat lagi raut masam itu di wajahnya. Yang aku lihat hanyalah senyum manis yang lebar seolah ingin pamer kepada dunia bahwa giginya adalah gigi paling bagus sedunia.

Aku menelengkan kepalaku sambil menatap Chanyeol dengan tatapan datar. Aku sudah berlatih sangat keras untuk menampilkan ekspresi wajah seperti ini ketika Chanyeol sedang mengeluarkan pesonanya—seperti sekarang.

“Apa?”

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Chanyeol malah tersenyum semakin lebar (untung saja bibirnya tidak sampai robek) dan menunjuk arah keluar dengan jempolnya. Aku mengernyit saat mengerti maksud Chanyeol.

Setelah itu, sebelum menghilang di kegelapan Chanyeol sempat berkata, “jangan lupa pakai jaketmu. Aku tunggu di depan.”

Masih dengan rasa bingung dan rasa penasaran yang ditimbulkan oleh Chanyeol, aku mengambil jaketku yang berada di gantungan dan memakainya dengan cepat. Aku sempat melirik sekilas ke arah pintu kamar kedua orangtuaku yang sudah tertutup rapat dan melangkah keluar rumah dengan langkah pelan agar mereka tidak menyadari bahwa aku keluar rumah.

Chanyeol sudah berada di depan pagar rumahku dan menyambutku dengan senyuman yang teramat lebar yang biasanya hanya ia tampilkan ketika ia sedang sangat senang. Yah, sebenarnya sejak tadi dia sudah tersenyum selebar itu, hanya saja sekarang aku sudah melihatnya dengan jelas.

Kedua tanganku kumasukkan ke saku jaketku sambil menghampiri Chanyeol. “Kenapa sih kau memanggilku malam-malam seperti ini?” tanyaku sambil memakai tudung jaketku dan mulai berjalan bersisian dengan Chanyeol yang malah mulai bersiul-siul kecil dan mengabaikan pertanyaanku. Sepertinya Chanyeol memang sedang bahagia.

Aku tidak tahu sebenarnya kemana Chanyeol akan membawaku, namun dilihat dari arah jalannya sepertinya kami sedang menuju taman komplek yang pasti sepi disaat jam-jam seperti ini. Wow! Aku bisa membayangkan betapa menyeramkan taman itu dimalam hari, diambah lagi suasana gelap dan pohon Sakura yang sudah berumur berpuluh-puluh tahun menambah suasana tidak mengenakkan. Memang sih, dulu aku pernah kemari saat tengah malam dan tidak takut sama sekali, tapi itu kan gara-gara aku melupakan semuanya dan hanya memikirkan rasa sakit hatiku. Dasar anak ingusan! Masih kecil sudah main sakit hati. -_-

Bunyi kunci menyadarkanku dari lamunan (tahu-tahu saja kami sudah berada di taman) dan menoleh pada Chanyeol yang sedang memainkan kunci di tangannya. Kunci yang terlihat tidak asing bagiku.

“Sebenarnya apa yang mau kautunjukkan padaku? Dan kenapa harus di taman ini? Ini menyeramkan kau tahu!” aku mendelik pada Chanyeol sambil memasukkan kedua tanganku pada saku jaketku sedalam-dalamnya. Sebelumnya aku sudah menarik ritsleting jaketku sampai atas karena tiba-tiba aku cukup merasakan kedinginan. Padahal sekarang sedang musim panas. Oh tidak. Jangan-jangan aku mulai terkena flu musim panas? Itu sama saja dengan neraka!

Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya hingga tercipta satu garis lengkungan yang membuat wajahnya tampak manis. “Ayo, ikut aku!” ia menarik salah satu tanganku dan menggenggam tanganku dengan hangat. Sial. Jika seperti ini, tanpa jaketpun tubuhku sudah menjadi panas dengan sendirinya.

Ia mendudukkanku di salah satu kursi taman yang berada di bawah lampu, sedangkan aku hanya menatapnya dengan pandangan heran sambil menuruti keinginannya. Setelah itu, Chanyeol meninggalkanku sendirian di kursi taman itu sedangkan dia pergi ke arah pohon besar.

Setelah beberapa saat menungguinya di bangku itu dengan keadaan kebingungan dan (sedikit) ketakutan karena bunyi-bunyi suara yang menakutkan, seperti suara burung hantu atau semacanya, siluet Chanyeol akhirnya terlihat. Ia berjalan mendekat dan ketika dia sudah tidak lagi menjadi siluet karena sekarang cahaya lampu cukup meneranginya, aku melihat dia membawa sesuatu.

Dan itu kapsul waktu yang dulu kami tanam!

Dengan perasaan panik aku meremas-remas kaos oblongku. Jika dia ingin membuka kapsul waktu itu berarti surat cintaku untuknya yang kutulis beberapa tahun lalu itu akan terungkap! Dan itu artinya perasaanku kepadanya akan ketahuan dan persahabatan kami akan berakhir malam ini juga! Kacau dunia.

“Chanyeol… Apa kau…?” aku menggigit bibir bawahku, tidak kuat untuk menyelesaikan perkataanku. Aku terlalu takut dengan kenyataan yang akan terjadi jika dia benar-benar membaca surat cinta yang kubuat untuknya beberapa tahun lalu.

Wajah Chanyeol melembut dan senyum tipis yang terlihat sangat bahagia terpasang di bibirnya. Aku jadi bisa menyimpulkan jika dia belum menemukan atau belum membaca suratku. Dia tidak mugkin terlihat sebahagia itu hanya karena membaca suratku. Apa dia menemukan sesuatu yang lain?

“Kenapa kau terlihat sebahagia itu?” tanyaku, mengalihkan pikiran dari segala kemungkinan bahwa dia sudah membaca suratku. Semoga surat itu sudah rusak. Semoga saja surat itu sudah hancur dimakan waktu. Yeaah, aku tahu, itu tidak mungkin sih.

Chanyeol menatapku lembut yang membuatku salah tigkah setengah mati. Ketika akhirnya dia membuka selembar kertas yang sangat kukenal, aku merasa ingin bangkit dan kabur dari sana sekarang juga. Harapanku tidak terkabul karena Chanyeol benar-benar sudah menemukan surat cintaku itu. Oh Tuhan, bisakah seseorang mati gara-gara saking malunya?

“Dear Chanyeol…” Chanyeol mulai membaca kata-kata dalam suratku itu. “Kau pasti kaget ketika mendapati surat ini di lokermu dan menemukan pengirimnya adalah aku. Tapi, aku ingin kau tahu bahwa aku ingin jujur padamu tentang perasaanku padamu.

“Chanyeol, kau pernah mendengar tentang persahabatan diantara laki-laki dan perempuan itu tidak pernah murni kan? Iya, selama ini pertemanan kita tidak murni karena aku terus menyukaimu sejak awal aku melihatmu di rumahku. Maafkan aku karena tidak pernah benar-benar menganggapmu sahabatku. Jujur, aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk benar-benar hanya mejadikanmu sebagai sahabatku, tapi aku tidak bisa.

“Kau pasti sekarang bertanya-tanya kan kenapa tiba-tiba aku menulis surat ini dan jujur padamu? Aku baru saja memimpikanmu berlutut di hadapanku sambil menyematkan cincin di jariku. Konyol ya? Memang sih itu hanya mimpi, tapi perasaanku benar-benar bahagia dan itu membuatku segera menulis surat ini.

“Chanyeol, aku harap jika kau tidak menjauhiku gara-gara perasaanku terhadapmu ya. Aku tidak memaksamu untuk membalas perasaanku kok, karena yang penting kau ada di sisiku saja sudah lebih dari cukup. Terima kasih sudah meluangkan waktumu membaca ini. Semoga kau tetap menjadi Chanyeol yang sama yaa. Love, your bestfriend.”

Chanyeol menutup surat itu dan menaruhnya kembali dalam kapsul. Selama mendengarkan dia membaca surat itu, aku hanya terus dan terus menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajahku saat ini. Bisa-bisanya Chanyeol membaca itu dengan santainya. Arrrggghhhh!!!!!

“Hei, kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?” katanya lembut sambil meraih kedua tanganku. Kucoba beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatapnya. Dan astaga, ya Tuhan, kenapa dia tampan sekali dengan senyumnya yang tanpa mengeluarkan gigi itu?

Aku meneguk liurku, bingung harus mengatakan apa atau bersikap bagaimana. Aku masih tidak habis pikir aku berani menulis surat cinta itu dan menyimpannya di peti tua itu. Yang lebih parah, sekarang Chanyeol menemukanya dan membacakannya tepat di hadapanku! Astaga bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa aku dulu tidak langsung membuangnya sih? Bikin malu saja!

“Perasaanmu masih sama padaku sampai sekarang, kan?”

Aku ingin menggelengkan kepalaku, menyangkal bahwa surat itu hanyalah surat lama dan perasaanku padanya sudah berubah. Tapi, melihatnya tersenyum lembut padaku seperti itu, membuatku tanpa sadar menganggukkan kepalaku secara samar. Aku sudah tidak perduli lagi. Aku sudah capek menyembunyikan perasaan ini, dan kupikir sekarang aku harus mengakhirinya.

Chanyeol tersenyum semakin lebar, membuat rona di wajahku semakin menjadi. Ditambah tatapannya yang betul-betul menatap lembut ke arahku, aku benar-benar merasa bahagia. “Kau tahu, aku sudah sangat lama menunggu momen ini, memastikan bagaimana perasaanmu padaku. Sudah sejak lama aku menyukaimu, tapi aku tidak berani bilang karena itu akan merusak persahabatan kita. Apalagi kau sepertinya tidak tertarik padaku, membuatku semakin melangkah mundur. Tapi, sekarang aku tahu kalau kau membalas perasaanku dan aku benar-benar sangat senang!” katanya bersemangat. Ia menarik kedua tanganku yang berada dalam genggamannya, membuatku seketika berdiri dalam jarak yang sangat dekat darinya. Ini jarak terdekat kami selama 10 tahun terakhir.

Perasaanku sendiri bagaimana? Saking bahagianya, aku bahkan tidak dapat lagi menggambarkan perasaanku. Aku hanya tidak percaya saja bahwa Chanyeol juga menyukaiku. Dan astaga berdiri sedekat ini dengan Chanyeol benar-benar membuat jantungku sangat berisiik.

Chanyeol menempelkan dahinya ke keningku kemudian berbisik, “Jangan pernah merasa sendiri, ya, karena selalu ada aku di dekatmu. Ada seorang Park di dekatmu.” Lalu ia mengecup keningku lama sekali.

Rasanya aku mau pingsan saking senangnya. Jika saja ada orang yang meninggal karena terlalu bahagia, aku pasti sekarang sudah mati.

 

-fin-

 

Finally…. ini akhirnya tamat juga. fiuh.

cukup menguras keringat menulis cerita ini, karena ini aslinya udah di tulis dari tahun 2013 dan baru tamat sekarang :’D iya, lama banget. tapi ini prestasi yang cukup bagus, karena ini adalah ff chapter pertama yang berhasil saya tamatkan! yeaayyy!!!

alay yaa? biarin deh. namanya baru pertama wkwk. by the way, untuk pembaca ff ini makasih sekali yaa udah baca ini dari awal sampai akhir. saya tidak begitu mengharapkan tanggapan sih, karena dibaca aja udah syukur huhuhu. tapi, saya senang banget kalo ada yang mau meluangkan waktunya untuk memberi tanggapan dan mau berkenalan sama saya. wkwkw ge-er banget emang.

yaudah deh yaa, doakan saja semoga saya bisa menamatkan cerita saya lainnya di sini. terima kasih semuanya. sampai bertemu di cerita yang lain yaa ^-^

Advertisements

3 thoughts on “[FF/Ficlet Episode] a Park near you: Ep. 9 A Park Near You [END]

  1. Joe February 21, 2016 / 9:48 pm

    kyaaa!!! akhirnya!! saling jujur juga tuh sejoli! dari dulu gtu napa?! kan jdinya gk bakal serumit tadi. asli, seneng liat mereka saling jujur kyak gtu 😀

  2. Kim Ara April 26, 2016 / 4:41 am

    Akhirnya di post juga thor ni ff..
    Haha channyeol senyum mulu nihh lucu bayangin senyum channyeol tuh..dari dulu coba ngomongnya pasti gakan salah paham..keren2 thor endingnya ^^

    • raishaa May 29, 2016 / 9:58 pm

      hehe terima kasih sudah baca dari awal sampe akhir yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s