[FF] The Story Never Ends (3 of 3)

the story never ends

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

 

Part #1. Childhood Memories & Part #2. Teenage Dream

 

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.

 

Part #3. Old but Still Gold.

A few years had gone and come around
We were sitting at our favorite spot in town
And you looked at me, got down on one knee

Tahun-tahun telah datang dan pergi. Aku masih bersama Chanyeol, dengan hubungan kami yang sering bertengkar namun erat. Tanpa kami sadari, waktu berlalu begitu cepat dan tahu-tahu kami sudah dewasa dan tidak bisa lagi bersikap kekanakan. Namun, Chanyeol adalah Chanyeol. Dia terkadang masih bersikap seperti dirinya yang biasa dengan senyum idiot dan tampang konyol. Dia sama sekali tidak berubah, termasuk sepasang mata indah itu.

“Menurutmu, kita sudah dewasa atau tidak?” Chanyeol membuka suara. Pandangannya lurus ke depan, ke hamparan danau. Kami memang sedang duduk di bawah pohon besar yang sudah tua di pinggir danau. Sejak pertama kali Chanyeol menunjukkan tempat ini beberapa tahun lalu, aku langsung menyatakan bahwa tempat ini milik kami. Danau yang tidak banyak diketahui orang ini adalah spot favorit kami di kota.

“Aku sudah dewasa, kau tidak,” sahutku ringan sambil menggigit rumput panjang yang kucabut di sampingku. Well, sebenarnya tidak ada orang dewasa yang suka menggigiti rumput sepertiku sih.

Chanyeol menolehkan kepalanya padaku dengan kening berkerut. “Aku tidak yakin kau sudah bersikap dewasa walau umurmu sudah cukup tua,” kata Chanyeol yang sepertinya benar-benar aneh melihatku menggigit rumput. Mungkin sebentar lagi dia akan menyamakanku dengan sapi. Aku tidak perduli sih, aku hanya mencontohnya dari film.

“Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu, sih?” kataku sewot setelah membuang rumput yang kugigit-gigit tadi. Pandangan lekat Chanyeol membuatku gerah. Ini bukan menandakan aku tidak menyukainya, hanya saja tahu kan mata Chanyeol adalah mata yang paling aku suka sedunia, jadi tentu aku merasa berdebar-debar ketika ditatap oleh sepasang mata itu.

Chanyeol menghela nafas pelan sambil menggeleng kecil, seakan kecewa dengan tingkahku yang menurutnya kekanakan. Hey! Dia bahkan lebih kekanakan daripada aku, kenapa dia bersikap seperti bahwa dia satu-satunya orang dewasa di sini? Jika aku mau, aku bisa kok bertingkah seperti orang dewasa sesungguhnya!

“Aku tidak habis pikir bagaimana kau akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”

WHAT???

“Hah?”

Aku hanya melongo mendengar perkataannya barusan. Dia barusan bilang apa? Menjadi ibu dari anak-anaknya? Aku tidak salah dengar, kan? Aku yakin pendengaranku masih berfungsi dengan sangat baik. Tapi, apa itu tadi? Kenapa Chanyeol mengatakan hal-hal seperti itu?
Bersamaan dengan diriku yang hanya terpaku mendengar ucapan Chanyeol barusan, lelaki itu bangkit dari duduknya kemudian berdiri di depanku. Selanjutnya yang terjadi adalah hal yang paling mengejutkan yang pernah terjadi di hidupku.

Chanyeol berlutut. Ia tersenyum lembut dan angin sepoi-sepoi menambah efek dramatis. Dia tiba-tiba terlihat sangat tampan. Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Lagi-lagi aku ternganga karena itu adalah cincin berlian!

“Menikahlah denganku.”

 

Take me back to the time when we walked down the aisle
Our whole town came and our mamas cried
You said I do and I did too

 

Hal yang paling aku tidak percayai di dunia ini adalah aku akan menikah dengan Chanyeol.

Sejak dulu aku selalu menyangkal bahwa aku dan Chanyeol akan menjadi pasangan ketika ayah-ayah kami mengatakan hal-hal semacam itu. Tidak jarang aku dan Chanyeol hanya tertawa karena perkataan para ayah, atau bisa saja kami saling mendelik kemudian bergidik seolah menikah dengan satu sama lain adalah hal yang paling menjijikkan dan dihindari. Well, siapa sangka jika ternyata saat menginjak usia remaja aku dan Chanyeol saling jatuh cinta. Aku sepertinya kena karma karena pada akhirnya hal yang paling aku hindari sejak kecil malah berakhir menjadi kenyataan.

“Ayah tidak menyangka jika kau pada akhirnya benar-benar menikah dengan Chanyeol,” ucap ayahku ketika memasuki ruang ganti pengantin. Aku menatap ayahku lewat pantulan cermin karena aku tidak bisa bergerak banyak, tudung pengantinku masih ditata, walau kupikir sebenarnya itu sudah cukup rapi.

Aku memberikan senyum pada si penata rambut ketika ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bermaksud keluar dari ruangan itu. “Aku juga tidak percaya jika perkataan ayah dan Paman Park akan menjadi kenyataan,” sahutku sambil tersenyum puas dengan tampilanku hari ini. Bukan bermaksud sombong, tapi aku merasa sangat cantik hari ini.

“Kau harus membiasakan memanggilnya ayah juga, nak,” kata ayahku. Ia memegang kedua bahuku dari belakang sambil menatap pantulanku di cermin.

Bibirku kembali tersenyum mendengar perkataan ayahku. Entah kenapa hari ini aku selalu saja ingin tersenyum. Mungkin aku terlalu bahagia.

“Sekarang kau sudah dewasa. Sudah mempunyai keluarga sendiri yang harus kau bina. Kau harus bisa mengurus Chanyeol dan anak-anakmu kelak, nak. Kau mungkin jadi tidak punya waktu untuk menemui Ayah dan Ibu lagi. Ayah bahagia kau bisa menikah dengan Chanyeol, tapi Ayah juga sedih karena sekarang kau tidak bisa selalu bersama kami.” Ayah tersenyum, tapi aku bisa menangkap kesedihan di dalam matanya. Sedih karena menurutnya ketika aku menjadi seorang istri, aku tidak mempunyai waktu lagi buat mereka.

Aku memegang lembut tangan ayahku yang berada di pundakku dan memutar badanku, menatap mata ayahku secara langsung. Kusunggingkan senyum pada ayahku yang terlihat khawatir. “Ayah, sampai kapanpun aku akan terus menjadi putri kecilmu,” kataku sambil memeluk ayahku erat.

Setelah beberapa saat berbincang dengan ayahku dan beberapa teman lama yang menyambangiku di ruang ganti pengantin, waktu yang ditunggu telah tiba. Aku memegang karangan bunga mawar putihku terlalu erat ketika pintu belum terbuka. Bisikan ayahku di sampingku untuk menyuruhku tetap tenang membuatku sedikit lebih lega.

Aku berjalan pelan di altar ketika pintu terbuka. Tersenyum gugup kepada orang-orang yang datang ke pernikahan kami. Seluruh mata tertuju padaku yang baru memasuki ruangan. Chanyeol menungguku di ujung sambil memberikan senyum yang paling menenangkan sedunia.

“Park Chanyeol, apa kau bersedia menerima Kim Mary sebagai pasangan sehidup semati sampai maut memisahkan kalian?” penghulu bertanya pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sambil menatapku dalam. “Ya, aku bersedia.”

Sang penghulu beralih kepadaku. “Kim Mary, apa kau bersedia menerima Park Chanyeol sebagai pasangan sehidup semati sampai maut memisahkan kalian?”

Aku mengangguk. “Ya, aku bersedia.”

Dan dengan itu musik pernikahan dan sorak sorai para undangan memenuhi ruangan. Aku menangis terharu sambil memeluk Chanyeol erat. Para ibu di barisan terdepan juga menangis haru melihat kami pada akhirnya menjadi pasangan.

Sewaktu aku kecil, aku pernah berjalan di altar memakai gaun pengantin putih bersama Chanyeol. Dan sekarang, aku benar-benar memakai gaun pengantin putih dan menikah dengan Chanyeol.

 

Take me home where we met so many years before
We’ll rock our babies on that very front porch
After all this time, you and I

 

Setahun setelah pernikahan dengan Chanyeol, aku melahirkan anak pertama. Seorang bayi laki-laki mengisi kehidupan kami. Matanya bulat dan rambutnya keriting, dia terlalu mirip dengan Chanyeol. Kami menamainya Park Chanseol.

Chanseol adalah bayi laki-laki yang lebih sering tertawa daripada menangis ketika matanya terbuka. Memang, seperti bayi pada umumnya, Chanseol setiap malam merepotkan orangtuanya. Ia selalu menangis di tengah malam, membuat kami akhirnya membuat jadwal malam untuk saling bergantian mengurus Chanseol. Chanseol terkadang hanya terbangun karena kepanasan, lapar, atau popoknya sudah penuh. Jika yang terjadi adalah kejadian yang aku sebutkan terakhir, Chanyeol selalu membangunkanku karena ia selalu beralasan tidak bisa memasang popok dengan benar. Ya, dia selalu melakukan hal itu, bahkan ketika saat itu adalah jadwalnya mengurus Chanseol.

“Sayaaaanggg!!!”

Ugh. Not again, Chanyeol.

Aku kembali bersembunyi di balik selimutku dan meringkuk dengan nyaman. Ketika Chanyeol kembali berteriak memanggilku dari sebelah ruangan, aku pura-pura tidak mendengarnya dan menutupi seluruh kepalaku dengan bantal. Biarkan aku tidur nyenyak untuk semalam!

“Sayangg!” Chanyeol membuka pintu kamar. Dan dari suara langkahnya, aku bisa mendengar dia melangkah mendekatiku. Sebentar lagi dia akan menyingkap selimutku dan memaksaku untuk bangun.

“God damnit, Chanyeol! Bisa tidak sih kau membiarkan tidur nyenyak untuk semalam?!” umpatku sambil bangkit dari posisi tidurku. Samar-samar aku bisa mendengar suara tangis Chanseol di sebelah.

“Popok Chanseol penuh dan kau tahu persis bahwa aku tidak bisa memasang popok dengan benar,” kata Chanyeol memelas. Ada tidak sih ayah yang lebih hebat daripada dia? Masa memasang popok saja tidak bisa? Ayolah! Itu pelajaran dasar ketika menjadi orangtua.

“Kau seharusnya belajar!” omelku dengan suara kecil sambil menuju kamar Chanseol.
Dengan asal aku mengikat rambutku yang berantakan. Aku mendekati Chanseol yang sepertinya sudah lelah untuk menangis, tapi ia sama sekali tidak berniat untuk berhenti menangis sebelum aku mengangkat dan menggendongnya.

Setengah mengantuk, aku membawa Chanseol ke toilet untuk membersihkan dan mengganti popoknya. Chanyeol menunggu kami di pintu toilet dan hanya memerhatikan tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Mungkin dia mengerti jika saat ini aku sedang kesal sekali padanya.

Chanseol kembali menangis ketika aku bermaksud untuk menidurkannya kembali di ranjangnya. Wajahnya sampai terlihat memerah dan terlihat keringat sebesar biji jagung di dahinya. Dan kali ini Chanseol tidak berhenti walau aku sudah menggendongnya.

“Eee… Sayaangg… Sepertinya Chanseol kepanasan…” Chanyeol memberanikan diri membuka mulut. Terlihat sekali dia ragu-ragu mengeluarkan pedapatnya. Mungkin dia takut aku akan memakannya jika dia sedikit saja salah bicara.

Aku hanya menatap Chanyeol dengan tajam sambil membawa Chanseol keluar kamar. “Sepertinya Chaseol juga haus karena terlalu banyak menangis. Buatkan susunya,” perintahku pada Chanyeol yang langsung mengangguk patuh. Kenapa jadi terlihat aku yang lebih tegas daripada dia? Hhhhh~

Kubawa Chanseol ke serambi depan rumah sambil menenangkannya. Kuelus-elus kepalanya dengan sayang sembari mendudukkan diri di kursi. Angin musim panas malam ini tidak terlalu kencang, namun tetap terasa sejuk.

“Apa itu?” aku bertanya pada Chanyeol yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Yang kumaksud adalah kembang api yang terlihat dari arah pantai. Oh benar, rumah kami memang tidak terlalu jauh dari pantai.

“Aah iya, aku baru ingat jika malam ini ada perayaan pertengahan musim panas di pantai,” jawab Chanyeol semangat, sedangkan aku sibuk memegangi dot susu milik Chanseol.

“Ini baru jam setengah duabelas, ayo kita pergi ke sana!”

“Apa? Kau serius? Sekarang?”

“Iya, sekarang. Kalian tunggu di sini, aku akan mengambil kunci mobil.”

Dengan itu aku hanya ternganga ditinggal Chanyeol yang begitu semangat untuk pergi ke sana. Apa dia tidak berpikir bahwa kami semua masih memakai piama???

 

I’ll be eighty-seven; you’ll be eighty-nine
I’ll still look at you like the stars that shine
In the sky

 

Tahun ini umurku menginjak 87 tahun. Aku tidak pernah menyangka akan diberikan umur panjang dan masih tetap sehat. Dan yang paling aku syukuri adalah aku masih hidup bersama Chanyeol. Lelaki itu, sampai saat ini, tetap menjadi laki-laki nomor satu di hidupku. Aku benar-benar bahagia bisa berumur panjang dan hidup tua bersama Chanyeol.

Hidupku selama ini terbilang cukup bahagia. Memang, ada beberapa cobaan berat dalam hidupku, tapi aku tetap bisa melaluinya karena Chanyeol terus berada di sampingku dan menyemangatiku. Aku memiliki anak-anak dan cucu-cucu yang sangat menyayangiku. Terlebih, mereka benar-benar membuatku bangga, walau aku saat masih muda tidak begitu hebat dalam hal apapun. Yaah, kecuali dalam soal merebut hati Chanyeol, kurasa aku jagonya. Dengan semua yang aku sebutkan di atas, aku tidak mengerti apa yang aku lakukan di kehidupanku sebelumnya hingga bisa mendapat kebahagiaan sebanyak ini.

“Ini.” Suara Chanyeol menyadarkan lamunanku. Ia menyerahkan secangkir teh chamomile padaku dan kemudian duduk tepat di sebelahku. Angin hangat menampar-nampar wajahku, membuat rambut putihku sedikit berantakan.

Sekarang kami sedang piknik kecil-kecilan, hanya berdua, di tempat dia melamarku dahulu. Sebenarnya ini untuk merayakan hari pernikahan kami yang ke 62 tahun. Aku tidak menyangka pernikahan kami sudah selama itu. Dan bahkan, aku tidak menyangka jika bisa hidup bersama Chanyeol yang sudah hampir menginjak kepala sembilan.

Aku menyesap tehku. “Chanyeol… Sudah berapa lama ya kita saling mengenal?” kataku membuka suara sambil menaruh cangkir yang isinya sisa setengah itu di sampingku.

Laki-laki itu menoleh padaku dan menatapku dengan matanya yang selalu menakjubkan itu. “Aku sudah mengenalmu selama seumur hidupku.” Ia tersenyum lembut sembari menyenderkan kepalaku ke bahunya. Terdengar ritme jantung yang berdetak pelan. Lengan Chanyeol memeluk tubuhku dengan nyaman.

“Kau pernah tidak, sekali saja, menyesali kehadiranku di hidupmu?”

Aku merasakan kepala laki-laki itu menggeleng. “Bagiku, kau adalah bagian terpenting yang hadir di hidupku. Terima kasih.” Chanyeol mengecup puncak kepalaku lembut.
Kurasa satu-satunya laki-laki yang sudah setua ini tapi tetap bersikap romantis pada pasangannya hanya Chanyeol. Dan aku sangat, sangat, sangat bersyukur bahwa laki-laki itulah yang selalu menemaniku.

Aku tersenyum kecil ketika melihat satu-satunya bintang yang paling terang di langit. Ketika melihatnya, aku teringat dengan Chanyeol. Bahkan di umur setua ini aku tetap masih melihatnya seperti bintang di langit. Dan aku akan selalu melihatnya seperti itu.

 

-fin-

 

btw endingnya gaje banget yak? biarin deh ah. namanya writer’s block /.\

by the way, yang udah baca dari part 1 sampe part terakhir ini makasih banget yaa. love you all :*

Advertisements

One thought on “[FF] The Story Never Ends (3 of 3)

  1. Joe February 21, 2016 / 4:29 pm

    uwow!! langgeng banget yak pernikahannya mereka. bahkan sampe 62 taon?? wow. impian aq banget itu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s