[FF] Beautiful Boy (Chapter 3)

Chapter 3: Roomate

beautiful-boy

Author : Rai Sha

Genre : Romance, Comedy (hopefully), School-life, Sci-fi

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Cast : Kim Rommy/Kim Remy (OC), Kim Jongin (EXO), Kim Jongdae (EXO), other casts

Inspired by : Detective Conan and Kaito fanfiction by Nine-tailed Fox

 

Aku menganga. Aku benar-benar tidak menyangka jika Jongin adalah ketua klub fotografi seram yang diceritakan Lian. Maksudku, memang sih peran ketua klub sadis itu sangat cocok dengan Jongin yang tidak berperasaan, tapi tetap saja aku tidak menduganya. Oke, ini membuatku benar-benar ingin berhenti sekarang juga dari klub fotografi. Bahkan sebelum memulainya. Aku tidak bisa membayangkan hari-hariku akan terus bertemu dengan makhluk yang dinginnya melebihi kutub utara itu.

“Kenapa dia di sini?” kata makhluk itu dengan tampang datar yang membuat darahku mendidih. Benar-benar deh. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa membuat emosiku cepat naik seperti ini.

“Eh, anu… Dia anggota baru kita, Jongin. Kau tahu, semacam penyelamat klub ini dari kehancuran?” jelas Lian dengan nada yang jelas-jelas terdengar bingung. Benar itu! Aku adalah satu-satunya penyelamat klubmu, Jongin. Jika kau mau memohon padaku untuk tetap tinggal di klubmu, aku akan menuruti keinginanmu untuk tetap bergabung.

Jongin memandangku dengan tatapan meremehkan. Aku harus menunjukkan sikap tenang yang kukuasai. Aku tidak mau dia menganggapku sebagai seseorang yang tidak bisa mengatur emosinya. Walaupun sebenarnya wajar jika aku selalu emosi terhadapnya. Dia kan memang sangat, sangat, sangat menyebalkan!

“Memangnya tidak ada orang lain selain dia?”

Aku mendengus keras. Aku benar-benar tidak bisa untuk tidak melakukan itu. Tidak meneriakinya saja sudah bagus. “Maaf, kalau kau tidak mau aku di sini,” ujarku sinis sambil membuang muka.

“Ada apa ini? Apa hubungan kalian tidak baik?” tanya Acha yang terlihat bingung dengan sikapku dan sikap Jongin yang jelas-jelas terlihat saling bermusuhan.

“Wajar saja jika Jongin memiliki banyak musuh.”

Ini kata Dokhwan. Dia masih asyik dengan laptopnya. Tuh! Benar kan. Dokhwan saja tahu jika sikap Jongin sama sekali tidak bersahabat. Kontras sekali dengan wajahnya yang (ehem!) lumayan itu.

“Kalian tahu, sebaiknya aku tidak jadi bergabung saja. Melihat ketua kalian sangat tidak menginginkanku di sini jadi buat apa aku bergabung,” kataku akhirnya sambil menatap seisi ruangan—kecuali Jongin.

“Apa? Tapi jika kau tidak bergabung klub kami akan bubar!” jerit Min panik. Sebenarnya seisi ruangan kaget dengan keputusan yang kubuat mendadak itu. Yaah, kecuali Jongin yang masih terlihat tidak perduli dan Dokhwan yang benar-benar fokus dengan laptopnya.

“Biarkan saja jika dia mau keluar. Aku tidak perduli.” Jongin mengatakannya tanpa nada. Benar-benar datar dan tidak ada emosi. Aku heran kenapa makhluk begini bisa bersahabat dengan Jongdae yang seperti itu. Mereka sangat bertolak belakang.

Ingin rasanya aku meneriakkan kata-kata seperti biarkan saja, aku tidak perduli padamu! Atau dasar kau ketua klub yang menjijikkan! atau semacam itulah, tapi aku tidak bisa. Selain aku akan terlihat sangat bukan diriku, juga yang berteriak seperti itu hanyalah seorang perempuan. Berhubung aku harus menyesuaikan diri dengan tubuh ini, aku hanya menatap Jongin tanpa emosi kemudian pergi setelah mengucapkan, “Baiklah, aku mundur dari klub ini.”

“Tunggu, tunggu…”

Aku sempat mendengar Lian ingin menahanku sebelum aku menutup pintu klub. Aku merasa tidak enak telah melakukan hal seperti ini pada teman pertamaku, tapi karena makhluk itu bersikap kasar seperti itu, aku terpaksa melakukannya. Tenang saja, dia tidak mungkin akan membiarkan klub yang dipimpinnya roboh begitu saja (terlebih, dia sangat mencintai fotografi, kan?). Dan juga, sepertinya tidak ada yang mau bergabung dengan klub fotografi selain aku, kan? Jadi kelihatannya aku adalah satu-satunya harapan klub itu. Aku tidak akan mau bergabung, kecuali jika Jongin mau mendatangiku langsung dan memohon padaku agar aku mau masuk klubnya.

Aku mulai uring-uringan. Biasanya, jika aku mulai seperti ini, artinya aku sedang dalam masa-masa tanggal menstruasiku. Memang, jika diingat-ingat, hari ini adalah tanggal-tanggal dimana tamu bulananku itu datang jadi wajar saja aku merasa tidak enak. Tapi, kupikir itu tidak mungkin, karena aku bahkan tidak punya alat yang membuatku bisa haid. Sepertinya ini hanya aku selalu merasa seperti ini setiap bulan, jadi tanpa sadar otakku sudah bisa menjadwalkannya. Oke, agak tidak masuk akal sih memang.

Sebenarnya, penjelasan paling masuk akal yang membuatku gelisah sejak tadi adalah, aku akan tidur di mana malam ini.

Tentu saja, aku sudah memutuskan untuk tidak tidur di kamar Jongin sengak itu lagi. Sejak kejadian-memalukan-yang-tidak-ingin-kuingat-tapi-terus-terusan-saja-lewat-di-kepalaku-tanpa-kemauanku tadi pagi, aku tidak akan mau lagi sekamar dengan Jongin. Dia benar-benar teman sekamar yang buruk (bukan berarti aku pernah punya teman sekamar sih). Makanya, aku buru-buru membereskan barangku yang sedikit itu dari kamar Jongin begitu aku melangkahkan kaki dari kamar menyesakkan itu. Selain itu, juga gara-gara dia jelas-jelas terlihat tidak menginginkanku di klubnya, aku tidak akan sudi untuk tidur di kamarnya lagi.

“Masalahnya, tidak ada kamar lagi selain kamar Jongin, Remy!” Jongdae mengerang kesal ketika aku bersikeras untuk mencari kamar lain selain kamar Jongin. Sekarang aku sedang sibuk menggotong-gotong tas ranselku yang penuh dan lumayan berat (omong-omong, untung saja tenagaku menjadi dua kali lipat lebih besar daripada dulu). Walaupun aku bilang barang keperluan Kim Remy tidak banyak, tetap saja ini berat!

“Aku tidak mau tahu itu, Jongdae! Pokoknya aku tidak sudi untuk tidur di kamar singa itu lagi,” aku bersungut-sungut, sambil memperbaiki posisi tas ransel berat itu di punggungku. Kurasa aku bakalan sakit pinggang malam ini. “Kenapa aku tidak tidur di rumahmu saja, sih? Kau kan harus lebih bertanggung jawab!”

“Tidak bisa, dong! Apartemenku kecil dan hanya ada dua kamar; kamar ibuku dan kamarku. Kalau kau tidur di sana, kau mau tidur di mana?”

Oke, tidak perlu penjelasan lebih lanjut dari Jongdae aku sudah bisa menangkap maksud dari kata-katanya. Secara logika, tentu saja aku bisa tidur satu kamar dengan Jongdae. Tapi, secara mental itu tidak mungkin karena jiwaku ini kan perempuan! Bagaimanapun, aku masih tidak bisa memikirkan untuk tidur satu ranjang dengan laki-laki.

“Lihat kan, tidak ada pilihan lain selain kamar Jongin. Selain dia hanya sendirian, kamarnya itu cukup luas dibandingkan kamar asrama yang lain,” kata Jongdae kemudian menyeruput kopinya. “Bisakah aku pulang sekarang? Gara-gara mengurusimu, aku sudah dua hari tidak masuk kerja, nih.”

Aku menurunkan tas ransel itu ke bawah. Rasanya punggungku sudah tidak kuat lagi menopang beratnya ransel itu. “Dimanapun selain kamar Jongin, please. Aku tidak keberatan sekamar dengan siapa pun asalkan tidak satu ranjang.” akhirnya aku benar-benar memohon. Aku tidak pernah benar-benar memohon pada seseorang. Paling-paling hanya ketika aku meminta dibuatkan makanan tengah malam pada Bibi Cha. Tapi, sebenarnya itu tidak termasuk memohon karena Bibi Cha selalu menuruti keinginanku, walau dalam keadaan mengantuk sekalipun.

Jongdae terlihat berpikir. Kemudian, aku bisa melihat dari matanya yang berkerling bahwa dia mengingat sesuatu. Dan sekejap kemudian dia terlihat ragu-ragu. Ini membuatku penasaran. Karena, apa sih yang baru saja terlintas di pikiran anak itu?

“Apa? Kau mengingat sesuatu?” tanyaku antusias, walau sebenarnya aku tahu dia meragukan apapun yang ada di otaknya itu.

“Sejujurnya… Aku tahu ada satu orang lagi yang hanya tinggal sendiri,” ucapnya pelan. “Tapi, sepertinya kau harus liat sendiri,” tambahnya kemudian menyeruput kopinya lagi.

Lima belas menit kemudian, aku mengerti kenapa Jongdae sempat terlihat ragu-ragu mengatakannya. Begitu orang yang dimaksud Jongdae membuka pintu, bau keringat langsung menangkap indra penciumanku. Sekilas, aku bisa melihat kamar di dalam itu super duper berantakan. Bahkan aku yakin yang mengantung di ventilasi di atas pintu adalah kaus kaki. Aku sama sekali tidak menemukan bagaimana bisa ada kaus kaki di ventilasi seperti itu. Memangnya orang ini tahan saja bernafas dengan udara yang sudah teracuni oleh bau kaus kaki di dalam sana? Aku bisa mati jika harus tinggal di kamar itu, walau hanya untuk lima menit!

“Oh, Jongdae? Tidak biasanya,” kata orang itu. Dia berbadan besar dan tinggi. Ia memakai kaus kutang warna hijau lumut yang lehernya sudah kedodoran, membuat bulu dadanya yang lebat itu sedikit terlihat. Di tangannya ada segelas coke. “Ada apa?” lanjutnya setelah bersendawa dengan cukup keras di depan kami. Aku mengernyit jijik ketika dia melakukannya.

“Tidak, aku hanya ingin bertanya tentang PR musim panasmu. Apa sudah kau kerjakan?” tanya Jongdae. Diam-diam aku bersyukur dalam hati bahwa Jongdae tidak mengatakan bahwa aku berniat untuk tinggal di kamar jorok ini.

“Kenapa? Apa kau mau membagi PR-mu denganku?” tanya cowok jorok itu balik sambil menggoyang-goyangkan gelas di tangannya.

“Tidak, justru aku yang ingin melihatnya darimu.”

Si cowok jorok mendengus keras. Aku berharap aku salah lihat karena sepertinya aku melihat kotoran hidungnya keluar semua. Eww.

“Kalau begitu, kau tidak memiliki urusan lagi di sini.”

Blam! Pintu tertutup tepat di depan hidung kami. Gila! Cowok jorok ini benar-benar parah.
Jongdae menoleh padaku kemudian tersenyum, seolah mengatakan bahwa kamar Jongin adalah satu-satunya kamar layak huni.

“Kau tahu, aku masih belum merubah pikiranku soal tidur di kamar Jongin,” kataku singkat kemudian nyelonong pergi begitu saja. Secepatnya, aku harus bisa menemukan tempat tinggal darurat.

Pada akhirnya, aku tidur di rumah Jongdae. Tapi, Jongdae tidak mengijinkanku untuk tinggal terus di rumahnya. Dia bilang, ini hanya sampai aku mendapatkan tempat tinggal. Terkadang dia masih memaksaku untuk tinggal saja bersama Jongin di asrama, tapi aku tetap keras kepala. Tentu saja, aku dan Jongdae tidak tidur di ranjang yang sama. Aku terpaksa tidur di sofa yang kekecilan di kamar Jongdae, membuat kakiku selalu menggantung ketika aku berbaring di situ. Akibatnya, setiap pagi badanku serasa mau remuk.

Dan ini sudah tiga malam!

Oh aku tidak pernah benar-benar bisa tidur di rumah Jongdae. Kapan tidur nyenyakku akan kembali?

“Ada apa? Kau terlihat seperti zombie.” Lian duduk dihadapanku setelah menaruh nampannya di meja. Untunglah, walau aku membatalkan niatku untuk bergabung dengan klub fotografi, Lian masih mau berteman denganku.

Aku menghela nafas. Kepalaku rasanya berat sekali dan aku benar-benar mengantuk. Daripada makan siang, aku lebih memilih untuk tidur. “Sudah tiga malam aku tidak bisa tidur nyenyak,” jawabku sambil menelungkupkan kepalaku di meja, dengan tangan sebagai alasnya.

“Kenapa?” Lian menggigit sepotong sandwich yang ada di tangannya dengan satu gigitan besar. Aku terkadang heran dengan sikap Lian yang sama sekali tidak jaga imej sama sekali di depan cowok sepertiku. Tunggu, apa dia tahu jika sebenarnya aku seorang perempuan?

“Aku kehabisan kamar asrama. Jadi, aku harus tidur di rumah temanku di atas sofa yang terlalu kecil untukku.”

“Kau tahu… Aku baru ingat hal ini,” katanya sambil mengunyah. Tak ayal, ucapannya tadi sedikit tersendat dan lumayan tidak jelas. Lalu, ia meminum air mineral di hadapanya sebelum melanjutkan, “sebenarnya kau ini siapanya Kim Rommy?”

Dor! Apa dia benar-benar sudah tahu rahasiaku? Apa itu mungkin? Dia tahu darimana? Jongin? Ah, ternyata dia punya mulut ember!

Aku meneguk liurku kasar. Oke, tenang. Pertama-tama pastikan dulu. “Kau tahu Kim Rommy?” tanyaku hati-hati.

“Dia seharusnya menjadi teman sekamarku, tapi katanya Rommy melakukan pertukaran pelajar.” Itu pasti Jongdae yang mengatakan pada Lian ketika dia mengambil beberapa barang pentingku. “Saat mendengar namamu untuk pertama kali, aku merasa familiar. Ternyata kau memiliki nama keluarga yang sama dengan teman sekamarku itu. Oh, kalian juga memiliki nama depan yang mirip. Kupikir, mungkin kalian adalah saudara kembar atau semacamnya,” jelas Lian, kembali menggigit sandwichnya.

Untunglah. Ternyata dia tidak mengetahui kenyataannya. Tapi aku tidak menduga bahwa Lian-lah roomate asliku. Lian sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi teman pertamaku.

“Hmm sebenarnya aku sepupu Rommy. Memang banyak yang mengatakan kami mirip seperti saudara kembar.” Aku mencomot kentang goreng dari nampan Lian kemudian memakannya. Entah kenapa aku tidak begitu selera makan, jadinya aku hanya duduk-duduk di kantin sampai Lian mendatangiku tadi. “Bagaimana klubmu? Apa ada anggota baru?”

Lian menggeleng loyo. “Seluruh murid yang aku ajak bergabung sudah tergabung dengan klub lain. Sepertinya hanya kau satu-satunya harapan yang tersisa,” sahutnya lemas.

“Tch. Ketuamu saja sangat tidak ingin melihatku, bagaimana aku bisa bergabung.”

Ia menghela nafas berat. Sepertinya tidak berselera lagi untuk menghabiskan sandiwchnya yang sisa dua gigitan itu lagi. “Kau benar. Aku heran dengan Jongin. Tidak biasanya dia agak kekanakan begini.”

Aku mengangkat kedua bahuku tanda tidak terlalu memperdulikan Jongin yang aneh. Toh menurutku dia itu selalu aneh. Dan omong-omong, tiba-tiba aku merasa lapar, jadinya aku mengambil sisa sandwich di piring Lian dan menghabiskannya.

“Menurutku, daripada kau terus pusing-pusing seperti itu, lebih baik kau ajak saja Remy untuk gabung di klubmu,” kata Jongdae setengah tidak peduli saat Jongin menyambanginya di Lab Kimia. Jongin bermaksud mengeluh di hadapan Jongdae karena hanya Jongdae yang biasa dia jadikan tempat curhat.

Jongin menatap Jongdae dengan mata tidak percaya, kemudian mendengus keras. Mengajak Remy—atau siapapun nama lelaki jadi-jadian itu—untuk bergabung dengan klubnya adalah pilihan terakhir. Entah kenapa, sejak pertama kali melihat wajahnya, Jongin selalu merasa kesal. Mungkin karena Remy memiliki wajah yang cukup cantik untuk ukuran laki-laki (walau pada kenyataanya Remy aslinya memang seorang perempuan). Pada dasarnya, dia tidak suka laki-laki yang tidak terlihat seperti laki-laki—dalam artian mempunyai kebiasaan, kesukaan, atau fisik yang terlihat seperti perempuan. Apalagi jika dia harus hidup sekamar dengan Remy—laki-laki jadi-jadian—itu! Dia akan terlihat seperti seorang gay! Itulah mengapa, dia menolak keras berdekatan dengan Remy.

“Kau tidak bisa pilih-pilih anggota kalau klubmu di ambang kehancuran begitu,” kata Jongdae lagi sambil mencampur dua cairan dalam satu tabung. Asap muncul, tanda terjadinya reaksi kimia di tabung itu. Lalu, Jongdae mengambil satu botol spiritus kemudian menyalakannya sebelum menaruhnya di bawah cairan yang baru saja dicampurnya itu. Jongdae melepaskan kecamata beningnya sambil menatap Jongin.

“Aku tidak perduli. Yang jelas aku sama sekali tidak mau cowok jadi-jadian itu berada di sekitarku.”

“Remy, namanya itu Remy dan dia bukan cowok jadi-jadian. Dia adalah salah satu hasil percobaanku yang hasilnya sempurna, jadi seharusnya kau menghormatinya.”

Jongin memutar bola matanya malas, kelakuan Jongdae cukup membuatnya kesal. Di keadaan genting begini kok bisa-bisanya anak itu memuji diri sendiri? Eh, ini hanya keadaan genting bagi Jongin sendiri sih.

“Aku tidak perduli namanya itu siapa. Mau Remy kek, Rommy kek, Rima kek, Roro kek, aku tidak urus sama sekali! Yang aku urusi hanya klubku yang berada di ujung tanduk,” Jongin berteriak geram. Mengacak-ngacak rambutnya kemudian membanting dirinya di kursi terdekat.
Sebenarnya, Jongin sempat senang sekali ketika Lian menghubunginya bahwa ada anggota penyelamat klub mereka. Tapi, saat dia melihat bahwa anggota yang di maksud Lian adalah laki-laki banci itu, entah kenapa Jongin langsung merasa bahwa klub fotografi tidak pantas untuk orang itu. Jongin memang agak terlalu kasar dan kekanakan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi kalau tidak suka ya tidak suka.

“Kalau kau tidak mau klubmu hancur begini, kenapa kau harus kasar sekali pada anggota-anggota baru itu? Bahkan klubku saja jadi lebih populer dari klubmu,” kata Jongdae sambil mengambil tabung lain dari lemari kaca dan menaruhnya di atas meja. Ia mematikan spiritus tadi kemudian duduk di hadapan Jongin. Jelas sekali Jongin ini sedang stres, lihat saja kantung mata dan lingkaran hitam yang menghiasi matanya itu.

“Kau itu terlalu keras kepala, Jongin. Apa sih yang membuatmu tidak suka pada Remy? Apa dia berbuat sesuatu yang tidak kau sukai? Atau dia mengingatkanmu pada seseorang?”

Jongin menghela nafas. “Aku hanya tidak suka penampilan fisiknya. Perempuan yang terjebak di fisik laki-laki. Melihatnya saja membuatku jijik.”

“Oh, maaf, maaf saja ya kalau aku membuatmu jijik, Tuan. Tapi, oh ternyata, aku juga terlalu merinding kalau berada di dekatmu.” Remy muncul di ambang pintu dengan tampang datar. Bahkan saat mengatakan kata-kata itu tadi, dia hanya sekilas saja melihat Jongin. Remy menganggapnya sebagai berbicara dengan angin.

Jongin mengernyit ketika orang yang dia dan Jongdae bicarakan sejak tadi muncul. Yaah, tapi dia juga tidak perduli walau Remy mendengar seluruh ucapan jahatnya. Tidak ada rasa tidak enak pada laki-laki aneh itu.

“Remy? Kenapa kau ke sini?” Alih-alih Jongin yang merasa tidak enak melainkan Jongdae. Jongdae sendiri mengakui kalau ucapan Jongin tadi agak keterlaluan. Setiap orang pasti merasa marah jika ada orang lain berkata kejam tentang dirinya. Tapi, sikap Remy yang begitu tenang malah membuat Jongdae semakin tidak enak. Dia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada otak sahabatnya itu. Biasanya Jongin terlihat dingin namun sopan, tapi kesopanan sama sekali tidak membekas jika menyangkut tentang Remy.

“Tidak, aku sepertinya akan menyewa apartemen kecil deh, Jongdae. Tidur di sofamu benar-benar membuatku susah tidur,” ucap Remy tidak memperdulikan Jongin yang duduk di depan mereka.

Jongdae melirik Jongin sekilas, seperti mengatakan bahwa Remy adalah satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan klub fotografi dari keterpurukan. “Kau mau pindah? Kapan?” tanya Jongdae, pura-pura tidak memedulikan Jongin.

“Mungkin malam ini. Lian akan membantuku mencari apartemen kosong di dekat sini.”
Jongdae mengangguk. “Oke, aku akan membantumu pindahan kalau begitu.”

Remy hanya mengangkat kedua alisnya kemudian berbalik badan, bermaksud meninggalkan ruangan itu. Dia tidak bisa di sana lama-lama. Seperti yang tadi dia bilang, berada di dekat Jongin terlalu lama bisa membuat dia merinding sendiri.

“Tunggu!” Jongin membuka suara setelah beberapa saat. Keringat bermunculan di dahinya, akibat berpikir keras dengan cepat. Sebagian dirinya menyuruh untuk sedikit menurunkan harga diri agar klub selamat, namun dirinya yang lain masih berontak dengan keputusan itu. Tapi, mau tidak mau, dia tetap harus menurunkan harga diri. Jabatannya sebagai ketua klub memaksanya untuk tidak bersikap egois dan membawa urusan pribadi ke klub.

Samar, Remy tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya.

“Kubilang tunggu, Remy!” senyum Remy semakin lebar ketika Jongin benar-benar menyebut namanya, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Remy membalikkan badannya setelah menghilangkan senyum kepuasan itu dari wajahnya dan memasang wajah datar.

Remy tidak mengucapkan apapun, hanya menatap Jongin dengan pandangan datar. Ia melipat kedua tangannya di dadanya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tidak sabar, sengaja untuk membuat kesan terburu-buru.

“Bergabunglah dengan klub fotografi.” Jongin meneguk liurnya yang tiba-tiba berubah jadi sekeras batu. Kata-kata yang akan dia ucapkan setelah ini benar-benar menghancurkan harga dirinya. “Kumohon.”

To Be Continued…

(btw maafkan kalo lama banget baru ngepost dan baru muncul lagi huhu T.T tolong maklumi jika di asrama kampus saya tidak ada wifi jadi hanya bisa on saat liburan saja T.T dan juga mohon dimaafkan jika ada salah, dan ceritanya terlalu membosankan. pokoknya buat semua yang sudah baca, terima kasih banyak yaa! Hope you enjoy the story ^-^)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s