[FF] EXO Planet Era (Chapter 13)

exo planet era

 

Title                 : EXO Planet Era [Chapter 13]

Author             : Rai Sha

Main Cast        : All Member Exo, Wu Yi Fan (Kris), Lu Han

Support Cast    : Other Cast

Genre              : Fantasy, Brothership, AU

Rating              : Parental Guide

Length             : Chaptered

Disclaimer       : member Exo dan Yifan milik dirinya sendiri. Luhan punya saya #slapped alur dan cerita punya saya semua! Beberapa makhluk imaginary berasal dari otak, sisanya dari mitologi-mitologi yang ada.

WARNING        : ini ff GAJE tingkat stadium akhir. Jadi, hati-hati setelah membaca ini perut anda akan merasa mual dan pusing. NO PLAGIAT HERE!

 

Lay tahu ini akhir hidupnya. Makhluk berkepala sembilan dan bertubuh perak itu tidak seperti yang diperkirakannya. Karena makhluk itu bahkan jauh lebih mengerikan dari apa yang ada dipikirannya.

“Aku. Benar. Benar. Akan. Mati.”

Kepala Lay menoleh, menatap pemuda di sebelahnya dengan perasaan campur aduk. Semakin down saja dia setelah mendengar perkataan pemuda itu. Kalau pemuda yang terlihat berbahaya itu berpikir bahwa dia akan binasa, apalagi Lay yang hanya seorang pemuda biasa yang sama sekali tidak bisa membela diri? Yang Lay bisa hanyalah berlari untuk bertahan hidup dari serangan makhluk buas, namun kali ini dia tidak bisa melakukannya. Lay harus mencari penawar racun untuk teman barunya, Kai.

Kai? Bagaimana keadaannya sekarang?

Mungkin ini adalah kesempatan bagus. Monster itu sedang tertidur (tidak dengan tenang, karena beberapa kali monster itu bergerak mengejutkan. Untung saja ke-delapanbelas matanya itu masih terpejam).

“Oke, sebaiknya kau harus menyelesaikan urusanmu di sini sebelum hidra itu bangun,” kata Lay dengan mata yang masih terus mengawasi hidra.

“Tidak bisa. Zanzibar sedang terkena wabah racun Anemonimia, dan sialnya akulah yang harus mengambil tanaman obat di pohon itu,” balas pemuda itu sambil menunjuk sebuah pohon besar di dekat mereka. Sebenarnya itu mudah, pemuda itu hanya tinggal memanjat pohon besar itu dan mengambil daunnya. Namun, yang menjadi masalah adalah bagaimana pohon itu dililit oleh hidra. Pemuda itu tidak bisa memanjat pohon itu tanpa harus membangunkan monster berbahaya itu. Oh, dari seluruh binatang buas yang pernah dipikirkannya untuk menjadi binatang buas pertama yang ditaklukannya, hidra sama sekali tidak pernah terlintas di otaknya. Bagaimana dia bisa memikirkannya kalau selama ini dia hanya percaya bahwa Legenda Danau Lerna hanyalah mitos? Lagipula, selama ini tidak seorangpun pernah melihat hidra walau sudah ribuan kali melewati Danau Lerna.

“Mau bekerja sama, teman? Karena aku juga memiliki hal yang membuatku berurusan dengan hidra,” tawar Lay.

“Tao. Panggil saja aku Tao. Dan maafkan perlakuan burukku terhadapmu tadi.”

Lay hanya mengangkat kedua bahunya, tanda dia tidak mempersalahkan hal tersebut. “Aku Lay. Lalu, apa kau punya rencana? Karena aku pergi kemari tanpa memikirkan rencanaku sebelumnya.”

“Kau membantuku untuk memanjat pohon itu tanpa membangunkan hidra itu kemudian aku akan membantumu melakukan apapun yang kau inginkan?”

Sebuah senyum tipis terpasang di bibir Lay. Menurutnya ide itu tidak terlalu bagus, namun ia tidak memiliki ide lain yang cemerlang. Haha. Otaknya buntu. Yang ada dipikirannya daritadi hanyalah nyawanya akan berakhir sebentar lagi. Menghadapi hidra terlalu mustahil bagi mereka. Walaupun Tao terlihat hebat dan mengagumkan dengan permainan pedangnya itu, tapi jika hanya dengan sebatas pedang dan sebuah tombak yang bahkan hanya terbuat dari bambu, terlalu tidak mungkin mereka bisa menang. Bahkan untuk melukai hidra itu saja sepertinya masih mustahil.

Tapi, sepertinya hari ini bukanlah hari yang baik bagi dua pemuda itu. Baru saja Tao melangkah, salah satu kepala hidra itu bergerak. Tao dan Lay membatu. Keringat dingin meluncur deras dari pelipis mereka. Bagaimana mungkin mereka menjalankan rencana Tao kalau baru melangkahkan kaki saja hidra itu sudah bergerak gelisah?

“Tao, ini tidak akan berhasil. Kita sudah akan mati lebih dulu sebelum menuntaskan keperluan kita.” Lay berbisik dengan nada yang jelas-jelas menyiratkan ketakutan.

Tao tidak menyahuti perkataan Lay dan hanya diam seribu bahasa. Ia menatap hidra di hadapannya dengan bingung. Shit! Kenapa bisa dongeng jaman dulu itu nyata?! Ini sudah beribu-ribu tahun tentang dongeng Danau Lerna dan tidak ada seorang pun yang pernah melihat monster itu! Mereka ini sedang bermimpi atau bagaimana sih?!

“Persetan dengan semua ini! Lebih baik aku pulang ke Zanzibar daripada harus menghadapi makhluk itu!” umpat Tao dengan suara kecil. Lay disebelahnya juga berpikiran sama, hanya saja dia tidak bisa bersikap egois sementara Kai sekarang sedang sekarat. Dia tidak bisa seperti itu. Lay hanya punya firasat jika Kai tidak boleh mati, apa pun yang terjadi.

Baru saja Tao ingin membalikkan badannya dan kabur, Lay menahan pergelangan tangannya. Tao menatap Lay dengan kesal. Dia tidak punya urusan dengan Lay, jadi dia tidak punya kewajiban untuk menolong Lay. Oke, ini terdengar sedikit jahat tapi memang seperti itulah hukum yang berlaku di tempat asalnya.

“Apa?! Aku tidak ada urusan di sini, Lay! Aku lebih menghargai nyawaku daripada orang-orang yang terkena wabah Anemonimia itu!”

“Kau tidak akan bisa kabur, Tao. Karena… Hidra itu baru saja membuka matanya,” kata Lay pelan.

Tao menolehkan kepalanya dan saat itulah kepala utama hidra itu terangkat disusul kepala lainnya. Dan astaga hidra yang tidak tertidur bahkan berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada tadi! Tao menghitung kepala hidra itu dalam hati, berharap bahwa kepala itu tidak berjumlah sembilan. Menghadapi satu kepala saja belum tentu mereka akan selamat!

“Mau bagaimana lagi, Tao. Sepertinya kita memang harus melawan makhluk itu, entah bagaimana caranya.”

Ketika akhirnya hidra itu benar-benar terbangun dan berdiri, Tao merasa perlawanan seperti apa pun tidak akan berpengaruh pada hasil akhir. Gimana mau ngelawan kalau mereka benar-benar seperti kelinci di hadapan seekor gajah?

Tao mengeratkan genggamannya pada pedangnya. Dia perah mendengar jika menebas kepala hidra itu percuma, karena bagai pepatah, mati satu tumbuh seribu. Dan gara-gara kemampuan pertumbuhan kepala hidra yang luar biasa itu, Tao sama sekali tidak dapat memikirkan cara lain untuk membunuh monster Danau Lerna itu.

Tanpa pikir panjang, Tao menyerbu monster itu, meninggalkan Lay yang masih diam mematung, berpikir tentang cara untuk mengalahkan monster itu. Bersama dengan teriakannya, Tao menyabetkan pedang peraknya itu ke tubuh hidra. Dan seperti dugaannya, sisik yang melapisi tubuh hidra itu sangat kuat. Hanya menyabetkan pedang itu, tidak akan membuat perut hidra robek dan mengeluarkan isinya. Hasilnya, hanya sisik yang berhasil terlepas dari tubuhnya.

“RAAAARRRRGGGGGHHHH!!!!”

Monster berkepala sembilan itu mengaum kemudian menghantamkan salah satu kepalanya, membuat Tao terhempas dengan keras ke pohon besar. Kepala-kepala itu terus bergerak, mencari-cari sasarannya. Ketika pandangan itu mengunci Lay yang masih saja diam, makhluk itu menghembuskan udara putih dari mulut besarnya. Lay terpaku, menyadari tentang mitos lain dari hidra. Nafas yang mem-’batu’-kan apa pun.

“Menghindar bodooohhhh!!” Tao berteriak, menyadarkan Lay yang langsung menghindar. Lay sedikit terlambat bergerak, akibatnya bagian ujung dari jaket tipisnya tidak dapat terhindarkan dari nafas itu. Ujung jaket itu perlahan berubah menjadi batu, dan mulai menyebar. Menyadari itu, Lay segera melepaskan jaketnya dan melemparnya jauh-jauh. Nafasnya berderu cepat. Hampir saja dia berubah menjadi batu tanpa perlawanan pada monster itu.

“Dongeng itu benar-benar bukan lelucon,” bisik Tao yang masih terperangah, menatap jaket Lay yang sudah sepenuhnya menjadi batu.

“Kau punya ide?” Lay berteriak dari arah yang berlawanan. Tangannya sibuk meraba-raba kantong bajunya, mencari jarum racun yang sudah ia siapkan tadi.

Kepala hidra itu berputar, ingin kembali menyerang Tao. Tubuh besar hidra itu berdiri, menghancurkan pohon besae yang berada di belakang Tao. Dengan gesit, Tao berguling menghindari pohon yang tumbang.

“Tidak. Aku tidak pernah bertarung melawan makhluk seperti ini sebelumnya,” balas Tao sambil menyeimbangkan pijakannya. Tao berlari, menuju ekor panjang hidra yang dipenuhi sisik tajam di atasnya.

Saat mendapatkan apa yang Lay cari, ia memasukkan jarum itu ke bambu kecil seperti sedotan. Diarahkannya sumpit itu ke salah satu mata hidra yang paling dekat dengan Tao. Pandangannya menyipit, berusaha membidik dengan tepat. Lay mengambil nafas dalam, lalu berkonsentrasi. Matanya terpejam sesaat, berdoa dalam hati jika idenya ini berhasil. Kemudian, dia menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

SYUUUTTTT…

Jarum kecil itu melesat cepat, menembus udar, dan tepat mengenai mata hidra itu.

“GROAAAARRRRR!!!”

“Sekarang Tao!”

Seakan mengerti dengan isyarat yang diberikan Lay, Tao menerjang cepat, berlari diatas tubuh hidra dari ekor, dan melompat ke atas kepala hidra, kemudian mendudukinya. Sambil menyeimbangkan dirinya dari guncangan liar kepala hidra, ia memegang pedangnya erat dengan kedua tangannya.

“HYAAAAAHHH!!” sekuat tenaga Tao menghunuskan mata pedangnya tepat di puncak kepala hidra.

“RAAARRGGHH!!!”

Makhluk itu berontak, membuat Tao semakin menghunuskan lebih dalam pedangnya. Kepala itu berteriak pelan sebelum akhirnya terjatuh lemas ke tanah, mati. Ketika Tao mencabut pedangnya, cipratan darah pucat mengenai tubuhnya.

1 dari 9.

 

***

 

Chanyeol memeriksa bagian dalam kantong mantelnya, berharap setidaknya masih ada benda ajaib yang akan banyak membantunya. Ketika melihat gulungan kertas kusam itu, ia bernafas lega. Beruntung dia menyembunyikan peta ajaib itu dari Luhan. Entah Wendigo itu sadar atau tidak jika dia telah mengambil gulungan peta itu dari dalam tas kumpulan kristal EXO Power sesaat sebelum tidur.

“Kita beruntung.” Chanyeol tersenyum sambil membuka gulungan itu. Cahaya kristal yang berada di pintu keluar gua sudah menghilang, menandakan bahwa Legend apa pun yang awalnya dalam bahaya kini telah aman.

“Peta apa itu?” tanya Chen mendekat, ikut memperhatikan.

“Peta yang menunjukkan kristal batu EXO Power,” jawab Chanyeol. “Letaknya hanya bisa diketahui ketika Legend yang berhubungan sedang dalam bahaya.”

Dio ikut memerhatikan peta itu. Matanya menyipit saat menyadari perkataan Chanyeol. “Kalau begitu, ini bukan kotoran kan?” Ia menunjuk dua daerah di peta itu.

Chanyeol meneguk liurnya, kemudian mengangguk. “Berharap saja jika mereka dapat menyelamatkan diri.”

“Ayo kita lakukan apa yang kita bisa. Segera ambil kristal itu dan buat kekuatan mereka di sana muncul,” lanjut Chanyeol sambil menatap dua teman barunya.

“Aku rasa tidak akan ada masalah yang terjadi, karena salah satu Legend sedang bersama kita sekarang,” kata Dio kalem sambil menatap Chen.

“Kau bisa melawan Medusa kan, Chen?” ucap Chanyeol tersenyum, kemudian berjalan ke arah yang dituju, disusul oleh Dio. Urusan Medusa, yang entah masih menunggunya di pintu keluar gua atau tidak, pasti bisa ditangani.

“HEY! Aku tidak sehebat itu! Jangan limpahkan tugas berat padaku, dong!”

 

***

 

Delapan kepala hidra yang lain tidak tinggal diam ketika melihat satu kepalanya berhasil dikalahkan. Dengan gerakan cepat, salah satu kepala itu berhasil menghantam Tao yang kembali terpelanting.

“Jika aku terus-menerus dihantam seperti ini, seluruh tulang iga-ku akan remuk sebelum berhasil mengalahkan monster itu,” bisiknya pada diri sendiri.

“Tao! Kau baik-baik saja?”

“Aku baik! Lakukan saja seperti yang kau lakukan tadi. Buat seluruh mata hidra itu menjadi buta!”

Hidra itu kembali mengaum, seakan mengerti apa yang dikatakan Tao tadi. Ia menghentakan kakinya di tanah, membuat tanah disekitarnya bergetar.

“Dia tidak mungkin mengerti apa yang aku katakan, kan?” Tao berbicara pada diri sendiri.

Lay keluar dari persembunyiannya, dan dengan kecepatan yang tak dapat ditangkap oleh mata, tiba-tiba Lay sudah berada di atas tubuh hidra. Dengan cepat ia meniup jarum racun itu ke salah satu mata hidra.

“RAARRRGGH!”

Kepala hidra itu bergerak kesakitan, akibatnya mulai menyerang Lay secara acak. Sebelum Lay kehilangan keseimbangan, tangannya menjapai batang pohon diatasnya. Ia memanjat batang itu dan menahan pijakannya di batang besar itu. Ditatapnya air hitam dari danau Lerna. Pohon ini bergerak sedikit saja, bisa dipastikan Lay akan tercebur ke dalam danau itu.

Di saat bersamaan, Tao kembali menerjang hidra itu dari bawah. Beberapa kali dia melompat, berguling, dan menghindari serangan agresif kepala-kepala hidra yang lain. Ketika berhasil mendekati bagian bawah tubuh hidra, dengan sekuat tenaga ia menusukkan pedangnya ke bagian kulit yang sudah tidak terlindung sisik itu.

Naga itu berteriak kesakitan seakan Tao menyerang tepat di titik lemahnya, bergerak tidak terkendali, kembali menghantam Tao yang terpelanting akibat hempasan cakar hidra dan menumbangkan pohon di tempat lay berpijak saat ini.

Tanpa bisa dihindarkan, pohon itu patah, membuat Lay kehilangan keseimbangan dan

BYUURRR!

“LAAAAAAAAAAYYYYYYY!!!”

 

To Be Continued…

(slapped! oke oke oke, jangan pada protes kenapa tiba-tiba ini ff muncul lagi setelah 2 tahun digantung. rencananya, ff ini emang mau di discontinued-kan, berhubung saya kehabisan cara untuk mengatur pertempuran LayTao VS Hidra. sejujurnya, ff macem gini bukan genre atau kemampuan saya, makanya butuh waktu lama buat berhasil bikin ini ff lanjut lagi. alasan tiba-tiba kepengen lanjut ff ini jg gara-gara saya sendiri kepengen sekali meliat ending ff ini, jdnya setelah mencari inspirasi bagaimana cara menulis pertarungan semacam itu, saya mencoba menulis kembali ff ini.dan, tau kokiniterkesan dipaksakan ya? huhu T.T pokoknya sekali lagi saya benar-benar minta maaf, kepada para pembaca yang entah masih ada yg menunggu atau tidak.terima kasih banyak untuk kalian yang sudah membaca ff ini dari awal. sampai ketemulagi entah kapan!^-^)

Advertisements

2 thoughts on “[FF] EXO Planet Era (Chapter 13)

  1. erisa April 2, 2017 / 3:36 pm

    waw 2 tahun ditunggu tunggu akhirnya penantianku terbayar sudah
    di next ya ka

    • raishaa April 3, 2017 / 12:15 pm

      whatt? ternyata masih ada aja yang baca ff ini toh, nggak menyangka wkwk makasih banyak atas penantian ff yang jalannya selambat siput ini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s