[FF] Beautiful Boy (Chapter 4: Undercover Under Cover)

beautiful-boy-2

Author : Rai Sha

Genre : Romance, Comedy (hopefully), School-life, Sci-fi

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Cast : Kim Rommy/Kim Remy (OC), Kim Jongin (EXO), Kim Jongdae (EXO), Park Chanyeol (EXO), Lu Han, other casts

Inspired by : Detective Conan and Kaito fanfiction by Nine-tailed Fox

Aku mengerutkan kening ketika merasakan ponselku bergetar. Ponsel yang sudah beberapa waktu ini sudah jarang kupakai, ponsel lamaku—ponsel Rommy. Siapa pun yang menelpon ke ponsel lamaku di tengah jam pelajaran seperti ini bukan pertanda baik. Apalagi, aku sudah bisa menebak siapa sebenarnya yang menghubungiku sekarang (mengingat memang tidak banyak orang yang menghubungiku).

Kuraih ponsel itu dari dalam laci mejaku dan terpaku untuk beberapa saat ketika membaca nama yang tertera di layar.

Mom.

Selama beberapa saat, aku terus membiarkan ponsel itu bergetar, layarnya berkedap-kedip. Ibuku tidak menyerah ketika panggilan pertama tidak kujawab, begitu pun dengan panggilan kedua dan ketiga. Namun, setelah panggilan ketiga, ponselku berhenti bergetar dan aku bisa bernafas lega untuk sementara. Tanpa sadar aku pasti sudah menahan nafas ketika ibu menelponku. Tidak biasanya ibu menelponku di tengah jam pelajaran seperti ini, apalagi tetap menelponku sampai tiga kali. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Ayah?

Beberapa menit kemudian, layar ponselku kembali menyala. Hanya pesan masuk. Aku ragu untuk membuka pesannya, takut ada sesuatu buruk yang terjadi. Namun, aku menyingkirkan pikiran buruk itu sambil mengusap layar ponselku, membuka pesan.

Rommy, ibu dan ayah ada di rumah selama akhir minggu. Ibu harap kau bisa meluangkan waktu untuk pulang. Kami sangat merindukanmu.

 

Isi pesan itu tidak lebih baik dari apa yang aku harapkan. Bukannya aku tidak merindukan mereka sih, tentu saja aku rindu. Namun, dengan keadaanku yang seperti ini, aku tidak yakin bisa menghadapi mereka. Dan yang paling membuatku takut adalah, mereka yang tidak terima jika aku tiba-tiba berubah seperti ini dan malah membuat masalah semakin rumit, menuntut Jongdae misalnya.

Aku menghela nafas berat, gamang dengan keputusan yang akan aku buat. Aku bisa saja menolak permintaan ibu dengan mengatakan aku sibuk dengan kegiatan klub atau apalah, tapi yang membuatku bingung adalah aku tak tahu pasti kapan bisa bertemu dengan orangtuaku lagi. Terakhir kali aku bertemu mereka adalah setengah tahun yang lalu, saat aku berulang tahun ke-16. Jika aku menghabiskan setengah tahun tanpa melihat mereka lagi, aku tak yakin apa mereka bisa mengenalku lagi atau tidak.

Aku harus segera menemui Jongdae.

“Jongdae!” aku berteriak seraya membanting pintu Lab Kimia. Namun, bukannya Jongdae yang kutemukan, melainkan laki-laki berkacamata bulat, dengan wajah kecil, mata hazel terang, dan rambut hitam yang tertata rapi. Lelaki itu tersenyum lebar, menyambutku dengan senang hati.

Sesaat aku hanya diam mematung, saling berpandangan dengan lelaki itu. Tidak ada yang bergerak atau mengeluarkan suara apa pun, sampai-sampai aku berpikir jika aku salah ruangan. Jika ini memang ruangan yang benar, seharusnya aku langsung bisa menemukan Jongdae karena ini kan memang sarangnya.

Laki-laki itu tidak terlihat habis melakukan kegiatan apa pun. Hanya berdiri di sana, di belakang meja, dengan pandangan tepat tertuju padaku. Aku merasa seakan-akan dia memang sudah tahu jika aku akan datang dan sengaja menungguku. Tapi mustahil, karena aku sama sekali tidak mengenal atau tahu tentangnya.

“Uhm…” aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan maluku di bawah tatapan laki-laki itu. “Maaf,” gumamku, sebelum berbalik dan bermaksud kabur secepat yang aku bisa.

“Tunggu!” laki-laki itu berseru, membuatku otomatis menghentikan langkahku. “Ini memang Lab Kimia, hanya saja Jongdae masih memiliki beberapa urusan lain. Aku yakin sebentar lagi dia akan kembali. Kau bisa menunggunya di sini,” lanjutnya seolah bisa membaca pikiranku.

Aku memutar badanku, kembali menghadap laki-laki itu. Aku sempat ragu untuk menunggu Jongdae di sini, tapi kemudian teringat betapa daruratnya masalah yang aku hadapi kali ini. Aku memutuskan untuk menunggu di sini, walau laki-laki itu terus menatapku lekat.

Pandangannya terus menempel padaku seraya aku mengambil tempat duduk di sofa. Aku penasaran jika laki-laki ini adalah anggota baru klub Kimia, melihat dia memakai jas lab putih. Kusimpulkan dia adalah siswa tahun pertama karena wajahnya terlihat begitu muda.

“Kau pasti Remy, kan?” katanya. “Jongdae sudah cerita banyak tentangmu.”

Keningku berkerut, sudah bisa menebak hal apa yang Jongdae ceritakan ke laki-laki ini tentangku.

“Kau sudah tahu tentang—”

“Ya, aku sudah tau jika sejak awal kau sudah banyak merepotkan Jongdae,” potongnya. Dia menyeringai, sengaja menyindirku. Tapi, setidaknya dia tidak tahu apa pun tentang rahasiaku.

Aku hanya tersenyum masam sebagai responku. “Ha… ha…” Dasar laki-laki aneh!

“Kau tidak penasaran siapa aku?” tanyanya lagi dengan pede berlapis-lapis.

“Apa aku harus tahu siapa kamu?” balasku sinis, tidak tertarik dengan laki-laki itu. Semoga saja kata-kataku ini bisa membuatnya bungkam. Aku sama sekali tidak punya minat untuk menanggapi omongannya, karena itu tidak penting. Terlebih, aku punya hal penting lain yang harus dipikirkan.

Laki-laki itu tertawa kecil. Mungkin dia agak gila atau apa. “Benar-benar seperti yang dikatakan Jongdae.”

Aku berusaha mengabaikannya, meski aku tahu dia tetap terus menatapiku layaknya benda langka. Sepertinya agak sedikit mustahil bagiku untuk benar-benar tidak memedulikannya. Pada akhirnya, aku kembali menatap lelaki itu dengan pandangan heran.

“Kenapa?”

“Tidak, kau benar-benar sempurna,” ucapnya ringan. Dan tanpa bisa kucegah, jantungku berdetak lebih cepat dan bisa kurasakan wajahku memanas. Baru kali ini ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku, tentu saja aku jadi bersikap berlebihan seperti ini. Lagipula, seharusnya laki-laki ini mengerti ucapan seperti itu tidak bisa diucapkan dengan wajah penuh senyum seperti itu.

Tunggu, sekarang kan aku laki-laki. Astaga! Apa dia gay?

“Luhan, kau tidak boleh berkata seperti itu ke sembarang orang. Apa kau tidak melihat wajahnya sudah seperti kepiting rebus?” suara Jongdae menginterupsi di tengah keributan degupan jantungku. Apa-apaan Jongdae itu! Dia juga seharusnya mengerti jika tak boleh terlalu blak-blakan, kan?

Lelaki itu—yang ternyata dipanggil Luhan—menoleh pada Jongdae dan tersenyum lebar, seakan tidak mengerti efek ucapannya padaku. Atau mungkin juga dia tidak memperdulikannya. Entah polos, entah cuek.

Jongdae menatapku dengan pandangan campur aduk, antara lelah dan bosan. Sedikit mengerti bahwa dia sudah capek diikutiku. Tapi tetap saja, ini kan masalah darurat. Jika saja ibuku tidak tiba-tiba memintaku pulang, aku pasti tidak akan mengganggu Jongdae dalam waktu dekat kok.

“Ada apa lagi, Remy?” suaranya jelas sudah terdengar lelah karena terus menghadapiku. Tangannya memijat pelan keningnya.

“Aku dalam masalah.”

Jongdae memutar matanya. “Memangnya aku terlihat seperti konsultan masalah?” katanya sembari duduk di single sofa di depanku. Luhan berdiri dengan manis di samping Jongdae, menyimak obrolan kami.

Kupandang Jongdae dengan tajam, mengingatkan bahwa dialah yang awalnya menyeretku dalam masalah terbesarku sekarang. Masalah yang sampai sekarang masih tidak ada solusinya.

Seakan tersadar, Jongdae berdeham berusaha mencoba tenang. “Yaah… jadi sebenarnya apa masalahmu?”

“Orangtuaku akan ada di rumah akhir minggu ini dan mereka ingin bertemu denganku.” Kening Jongdae berkerut, masih tidak paham arah tujuan pembicaraan kami. Aku tidak bisa dengan gamblang berbicara tentang hal ini karena sekarang ada sepasang kuping lain yang sedang mendengarkan. “Kau tau apa artinya itu, kan?”

Sepasang manik hitam Jongdae melebar, akhirnya paham dengan maksudku. “Ya, kurasa kita harus segera mencari solusinya,” ucap Jongdae sok misterius dengan senyum aneh.

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Keningku berkerut dalam, mempertanyakan kenapa Jongdae bisa sampai seperti ini dalam mengubah penampilanku. “Jongdae, ini berlebihan. Ibuku hanya memintaku untuk berdandan rapi untuk dinner, bukan untuk menghadiri pesta dansa atau semacamnya,” gumamku yang masih tidak percaya. Bahkan selama kehidupanku sebagai perempuan, aku tidak pernah berpenampilan seperti ini.

“Bukan berlebihan, ini adalah masterpiece,” katanya sombong sambil menunjuk ke seluruh bagian diriku. Aku hanya memutar bola mata, walau dalam hati mau tidak mau kagum juga dengan hasil kerja Jongdae.

Sekarang aku sedang berdiri dalam balutan lace dress berwarna pink sepanjang lutut di atas sepasang high heels dengan warna senada. Rambut palsu yang persis seperti rambut asliku (yang dulu) tergerai dengan sempurna. Wajahku dipoles Jongdae dengan make up yang tidak terlalu berat. Wow! Bagaimana pun memikirkannya, aku masih tidak tahu bagaimana caranya melakukan semua ini.

“Kau curi darimana ini semua?” ucapku sinis, melirik alat make up dan seluruh benda yang sekarang menempel padaku.

Jongdae mengangkat daguku, kemudian memoleskan lip gloss tipis ke bibirku. “Kau tidak perlu repot-repot memikirkan itu. Yang penting aku tidak akan dituntut orangtuamu karena sudah sembarang menjadikan putrinya sebagai kelinci percobaan.”

Aku hanya diam, teringat dengan ancamanku pada Jongdae. Jika dia tidak serius dalam memecahkan masalah kali ini dan orangtuaku sampai tahu, orangtuaku pasti akan menuntutnya. Tentu saja itu bohong. Aku pun tidak akan sampai membiarkan rahasia ini terbongkar. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika semua ini terungkap.

“Tapi tetap saja ini berlebihan!” Aku menghela nafas dengan berat. Apa yang kulihat sekarang benar-benar bukan diriku, baik sebagai Rommy maupun Remy.

“Tidak berlebihan kok. Aku tahu jika kau sendiri mengakui bahwa kau terlihat cantik sekarang,” puji Jongdae padaku, namun jika mengenalnya lebih dekat, kalian pasti tahu bahwa (lagi-lagi) dia memuji dirinya sendiri. Bagaimana pun yang membuatku terlihat seperti putri kan dia. “Tapi sepertinya masih ada yang kurang deh.” Jongdae terlihat sedang mengelus-ngelus janggut khayalannya.

“Apa lagi?!”

Jongdae menatapku intens, lalu secara kurang ajar dia menyentuh dadaku. “Sepertinya masih kurang padat dan besar ya.” Tangannya meremas-remas dadaku. Wajahnya bahkan terlihat menikmati. Dasar keparat!

PLAKK!!!

“Dasar mesuuuummmm!” aku memekik dengan wajah yang kuyakini sudah memerah sampai telinga.

Belum cukup dengan tamparan yang aku layangkan begitu saja ke pipinya, aku menambahkan tendangan di antara selangkangannya dengan sekuat tenaga.

“AAWWW!”

Jongdae menunduk, terlihat menahan sakit akibat tendanganku di titik vitalnya. Kulit mukanya merah dan aku tahu dia sedang berusaha untuk tidak roboh. Ditambah lagi, sepatu hakku berujung lancip. Aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Tapi, tetap saja yang barusan Jongdae lakukan itu pelecehan seksual!

“Yyaaaaa!! Kau bodoh, apa?!” teriak Jongdae padaku, ketika dia berhasil pulih dari rasa sakitnya. Dia masih menunduk. Mungkin masih nyut-nyutan.

“Kau meremas dadaku, bodoh!” balasku juga sambil berteriak. Aku menutupi dadaku dengan kedua tanganku.

“Kau lupa?! Dadamu itu hanya sumpalan kaos kaki!”

“Tetap saja itu pelecehan seksual!” aku bersikeras. Meski begitu, aku sadar bahwa aku memang bersikap sedikit berlebihan. Berpenampilan sebagai perempuan membuatku lupa bahwa sekarang jenis kelaminku sudah berganti.

Jongdae mendengus keras menyaingi kuda. “Kalau nanti aku sampai mandul, kau yang harus bertanggung jawab!” ia mengambil sepasang kaos kaki kemudian melemparnya padaku. “Tuh! Dadamu itu masih terlalu longgar. Sumpal lagi sana!” perintahnya masih sebal, berlalu ke kamar mandi.

Aku hanya bersungut-sungut sambil menatap kaos kaki yang berada dalam genggamanku. Hih! Jongdae memang menyebalkan.

“Aku hanya bisa membantumu sampai sini, untuk sisanya kau berjuanglah,” kata Jongdae ketika aku turun dari taksi di depan rumahku. Aku hanya memberikan senyum kecil sebagai respon.

Ketika taksi yang ditumpangi Jongdae menghilang di kegelapan malam, aku menghela nafas berat. Ini dia, sebentar lagi aku harus menghadapi orangtuaku. Aku tidak begitu yakin mereka akan sadar atau tidak, tapi aku tetap harus berjuang.

Aku menekan bel rumahku, tidak selang berapa lama Bibi Cha membukakan pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat ketika melihatku.

“Ya ampun, Rommy, kau benar-benar cantik sekali,” katanya sambil memelukku erat. Pujiannya mau tak mau membuatku tersipu malu. Aku membalas pelukan itu sambil tersenyum tak kalah lebar. “Baru seminggu aku tak melihatmu, tapi banyak sekali perubahanmu yaaa. Lihat, aku tak tahu jika kau sudah setinggi ini sekarang.” Bibi Cha melepaskan pelukannya sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah.

“Hehe tentu saja, Bi. Kau tak lihat aku sedang memakai sepatu hak tinggi sekarang,” ucapku memberi alasan sambil tersenyum gugup. Dengan susah payah aku menjaga suaraku agar tidak terdengar berat. Aku lupa jika Bibi Cha juga sangat mengenalku. Semoga saja aku bisa bertahan sampai akhir pekan nanti.

Bibi Cha mengangguk bersemangat. “Benar, benar. Kau sudah semakin dewasa, wajar jika kau mulai tertarik dengan barang-barang wanita. Pokoknya sekarang kau masuk dulu, orangtuamu sudah menunggu di ruang makan,” katanya lagi sambil menuntunku masuk.

“Ngomong-ngomong, apa kau sakit? Kau makan dengan baik kan di sana? Aku mendengar ada yang aneh di suaramu,” komentarnya yang membuat dadaku berdegup semakin cepat. Aku harus cepat mengontrol diri, jika tidak, hanya dalam hitungan menit penyamaranku akan terbongkar.

Aku tersenyum gugup, “Iya Bi. Tidak ada yang seenak makanan Bibi di sana,” kataku membuat alasan. Untungnya Bibi Cha percaya saja yang akhirnya membuatku diomeli karena makan sembarangan.

Aku berjalan sambil terus tertawa kecil untuk menutupi kegelisahanku, sementara Bibi Cha mengomel tentang pelayan baru yang selalu menyusahkannya. Katanya rumah ini semakin sepi saja semenjak kepergianku ke asrama. Mungkin jika penyamaranku kali ini berhasil, aku akan berusaha mengunjungi Bibi Cha. Bagaimana pun dialah yang telah merawatku sejak kecil.

Ketika aku sampai di ruang tengah, orang pertama yang aku lihat bukan ibuku, ayahku, maupun pasangan paruh baya yang sedang asyik bercengkrama dengan kedua orangtuaku. Berdirilah di sana, laki-laki tinggi berambut cokelat kemerahan, mata cokelat besar, yang sedang menatapiku dengan senyum yang membuatku merinding. Meskipun aku mengakui dia adalah salah satu lelaki paling tampan yang pernah kutemui di hidupku, tapi aku merinding bukan karena senyumnya yang menawan atau tatapan intensnya. Dia adalah lelaki yang amat sangat menyebalkan. Meski tingginya telah berubah, aku masih mengingat jelas bagaimana tatapan di bawah mata besarnya dan senyum yang selalu membuatku menjauhinya.

Kupaksa diriku untuk kembali bernafas karena sengatan yang mengejutkan itu. Bagaimana pun, aku harus bisa mengendalikan diriku, terutama di hadapan laki-laki itu. Jangan sampai dia menyadari rahasiaku ini.

“Ayah, Ibu, apa kabar?” kataku, mengalihkan perhatianku dari laki-laki itu sambil menghambur ke pelukan orangtuaku. Tak lupa kupasang senyum lebar guna menghapus sisa-sisa kepanikan di wajahku.

“Astaga, kemana anak ayah yang dulu?” komentar ayahku ketika memperhatikanku dari kepala sampai ujung kaki. Aku tidak mengerti maksud dan tujuan ayahku mengatakan itu, entah kagum entah merasa jijik.

“Kau benar-benar mengagumkan Rommy.” Ketika aku mendengar perkataan ibuku yang jelas-jelas terselip nada bangga, aku yakin jika makeover by Jongdae ini sukses besar. Jika ibuku yang super teliti saja tidak menyadari rahasiaku, aku bisa memastikan bahwa pasangan mata yang lain berhasil dikecoh. Saat itulah aku bisa bersikap dengan lebih rileks.

“Ah, mungkin ini sudah lama, tapi kau pasti masih mengingat Mr. dan Mrs. Park , kan? Saat masih TK kau berteman dekat dengan Chanyeol,” kata ayahku beralih pada Mr. dan Mrs. Park yang sudah tersenyum lebar ketika melihatku. Aku membalas senyum mereka, berusaha menyembunyikan kekecutan dalam senyumku saat mendengar aku berteman baik dengan anak mereka.

Aku? Dan Chanyeol? Berteman baik? Jika dia yang selalu mengerjaiku atau membuatku menangis adalah kata lain dari berteman baik, well oke, aku memang berteman baik dengannya.

Saat aku masih kecil, aku dan Chanyeol pernah berada di satu sekolah yang sama. Sejak aku di taman kanak-kanak, tanpa satu hari pun terlewat, dia selalu menggangguku kapan pun kami bertemu. Hari-hariku saat itu benar-benar tidak bahagia, mengingat Chanyeol entah kenapa selalu ingin mengerjaiku. Untunglah, ketika berada di tingkat kedua sekolah dasar, Chanyeol dan keluarganya pindah ke Jerman. Sejak saat itu, hari-hariku yang bagai neraka pun berakhir. Namun, sayangnya sudah terlambat bagiku untuk menjadi anak yang ceria. Chanyeol-lah yang bertanggung jawab kenapa aku tumbuh menjadi anak yang sangat pendiam dan tidak peduli.

“Hey,” sapa laki-laki tinggi itu dengan nada ramah yang kuyakini hanyalah akting belaka. Walau sudah satu dekade berlalu, aku meyakini sifat laki-laki ini tidak berubah. Dia pasti tidak pernah merasa bersalah atas seluruh sikapnya padaku dulu.

“Hai,” balasku menyapanya dengan senyum kecil yang berhasil kusunggingkan. Dia mengulurkan tangannya yang membuatku mau tidak mau juga menjabat tangannya. Tangan yang besar, jauh lebih besar dari tanganku.

“Sudah delapan tahun ya. Kau berubah banyak. Tidak kusangka kau akan tumbuh menjadi gadis yang penuh pesona seperti ini,” ujarnya penuh dengan pujian palsu. Pasti arti dibalik perkataannya adalah: “Ke mana perginya gadis cengeng yang dulu aku kenal?”

Well, sepertinya kau yang sama sekali tidak ada berubah setelah delapan tahun,” kataku. Masih tetap menyebalkan, sambungku dalam hati. Tapi, kurasa, seperti aku yang dapat memahami makna perkataannya tadi, dia juga mengerti maksud ucapanku karena dia hanya menyunggingkan senyum sebagai balasan.

Namun, sepertinya orangtuaku dan Chanyeol sama sekali tidak menangkap ketidakakraban kami yang kembali berlanjut setelah sekian lama. Alih-alih, mereka malah menganggap kami adalah pasangan serasi jika bersanding yang membuatku ingin muntah diam-diam.

Aku mendudukkan diri di samping ibuku, ketika mereka mulai kembali bercengkrama. Kurasakan tatapan Chanyeol yang menusuk di hadapanku, tapi aku berusaha mengabaikannya dengan memfokuskan diri pada percakapan membosankan para orangtua.

“Ah ya, Rommy, Mr. dan Mrs. Park akan balik ke Jerman awal minggu depan bersama ayah dan ibu,” ucap ayahku.

Aku mengangguk sebagai respon. Apa yang kuharapkan? Orangtuaku sudah berada di rumah selama akhir pekan saja sudah luar biasa. Aku pun akan sangat senang sekali jika Chanyeol dan keluarganya tidak berlama-lama di sini.

“Namun, kami punya kabar gembira,” lanjut ibuku bersemangat.

Saat itulah mataku kembali bertatapan dengan mata Chanyeol. Dia menunggingkan salah satu sudut bibirnya yang membuatku mendapat firasat buruk.

“Aku akan menjadi teman sekolahmu, Nona.”

To Be Continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s