[FF] The Story Never Ends (3 of 3)

the story never ends

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

 

Part #1. Childhood Memories & Part #2. Teenage Dream

 

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.

Continue reading

Advertisements

[FF] The Story Never Ends (2 of 3)

the story never ends

 

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

 

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.

 

Part #2. Teenage Dream.

 

Well, I was sixteen when suddenly
I wasn’t that little girl you used to see
But your eyes still shined like pretty lights

 

Aku memeriksa sekali lagi pantulanku di cermin. Setelah sedikit merapikan poni, aku tersenyum. Ini hari pertama aku menjadi siswi SMA, yang artinya aku sudah lebih dewasa dan bisa melihat senior-senior ganteng di sekolah hahahaha.

Tapi yaah bisa ditebak, aku dimasukkan orangtuaku ke sekolah yang sama dengan Chanyeol. Aku masih berteman akrab dengannya, tapi karena berhubung kami berada di tingkat sekolah yang berbeda, waktu untuk bermain bersamanya tidak sebanyak saat kami masih kecil. Continue reading

[FF] The Story Never Ends (1 of 3)

the story never ends

Title : The Story Never Ends

Author : Rai Sha

Cast : You and Park Chanyeol

Length : Three Shoots

Type : Songfic

Genre : Romance

Inspired by : Taylor Swift – Mary’s Song (Oh My My My)

Disclaimer : Chanyeol is belong to himself. The story and OC is mine.

Aku mengenal dan mencintaimu di sepanjang jalur hidupku.”

Part #1. Childhood Memories.

She said, “I was seven and you were nine”
I looked at you like the stars that shined in the sky
The pretty lights

Sewaktu aku kecil, aku pernah berjalan di altar memakai gaun pengantin putih bersama seorang pria.

Kalian bisa menganggapnya sebagai pangeran tampan. Tapi, sampai kapanpun aku tidak mau memanggilnya seperti itu. Bagiku, ia hanyalah seorang bocah berumur sembilan tahun yang selalu memaksaku untuk memanggilnya ‘oppa’ karena umurku berada dua tahun di bawahnya. Kau tahu, wajahnya yang selalu tampak konyol itulah yang membuatku selalu berpikir bahwa ia sama sekali tidak pantas dipanggil ‘oppa’. Satu-satunya yang membuatku suka untuk memandang wajahnya lama-lama adalah mata bulatnya yang selalu tampak bersinar terang. Memercikkan keceriaan dan semangat, membuatku selalu betah menatapi matanya itu. Continue reading